<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363</id><updated>2012-02-01T14:25:59.024-08:00</updated><category term='Banjar'/><category term='artikel kebahasaan'/><category term='Cerita Anak'/><category term='cerita rakyat'/><category term='artikel sastra anak'/><category term='Pendidikan Umum'/><category term='SD Bertaraf Internasional'/><title type='text'>Oemar Bakrie Banjar</title><subtitle type='html'>Referensi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Dasar</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>55</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-5127993137776033073</id><published>2011-09-18T21:45:00.000-07:00</published><updated>2011-09-18T21:45:14.615-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel kebahasaan'/><title type='text'>TV Berdampak Buruk Terhadap Kemampuan Membaca dan Menulis Anak</title><content type='html'>Beberapa penelitian akhir-akhir ini menunjukkan, menonton TV selama berjam-jam mempunyai efek buruk bagi kesehatan. Namun studi para ilmuwan di Ohio AS mengungkapkan, selain masalah kesehatan, kebiasaan berlama-lama nonton TV pada anak juga bisa mempengaruhi hubungan komunikasi mereka dengan para orang tua.&lt;br /&gt; Penelitian yang diterbitkan dalam &lt;em&gt;Human Communication Research&lt;/em&gt;, memperlihatkan bahwa menonton TV dapat menyebabkan berkurangnya interaksi antara orangtua dan anak. Bahkan juga berdampak buruk pada kemampuan menulis, membaca dan bahasa anak.&lt;br /&gt; Studi yang dilakukan oleh Amy Nathanson dan Eric Rasmussen dari Ohio State University, difokuskan untuk melihat 'respon ibu' ketika berkomunikasi dengan anak-anak mereka yang memiliki kebiasaan membaca buku, bermain mainan, dan menonton TV.&lt;br /&gt; Para penulis mengeksplorasi interaksi&amp;nbsp; 73 pasang ibu dan anak. Sebagian para ibu diketahui berusia 30-an dan memiliki gelar sarjana, sementara setengahnya sebagai ibu rumah tangga. Usia anak-anak berkisar antara 16 bulan sampai 6 tahun.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; Dalam penelitian tersebut, baik ibu dan anak secara acak diberikan satu dari tiga kegiatan selama sepuluh menit. Setelah itu, orang tua diminta untuk mengisi kuesioner terkait perkembangan bahasa dan kemampuan membaca serta menulis anak mereka.&lt;br /&gt; Hasil penelitian menunjukkan, pada kelompok ibu dan anak yang membaca buku bersama-sama, secara signifikan mempunyai komunikasi yang lebih baik dibandingkan pasangan ibu dan anak yang menonton TV.&lt;br /&gt;Walaupun jumlah komunikasi saat membaca buku tidak secara signifikan lebih tinggi daripada kelompok ibu dan anak yang mainan alat (mobil-mobilan atau boneka). Namun, kualitas respon ibu lebih tinggi ketika anak-anak mereka membaca buku dan bermain dibandingkan menonton TV.&lt;br /&gt; Para peneliti menemukan bahwa ketika orang tua dan anak membaca sebuah buku, mereka akan menggunakan gaya komunikasi yang lebih aktif, mengarahkan anak untuk mempelajari setiap huruf dan kata, dengan demikian meningkatkan perbendaharaan kosakata mereka dan pengetahuan tata bahasa. Sebaliknya pada kelompok ibu dan anak yang menonton TV, hanya sedikit komunikasi yang terjalin.&lt;br /&gt; "Hal ini penting bagi kita untuk membatasi waktu menonton TV pada anak. Hilangnya komunikasi anak dengan orang tua akan berdampak buruk bagi perkembangan anak. Kami mendorong agar para orang tua mencari hiburan di luar TV," kata peneliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://health.kompas.com &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-5127993137776033073?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/5127993137776033073/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=5127993137776033073' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/5127993137776033073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/5127993137776033073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2011/09/tv-berdampak-buruk-terhadap-kemampuan.html' title='TV Berdampak Buruk Terhadap Kemampuan Membaca dan Menulis Anak'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-2189985879359915998</id><published>2011-06-17T22:10:00.000-07:00</published><updated>2011-06-17T22:10:10.620-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel kebahasaan'/><title type='text'>Bahasa Indonesia Sebagai Media Pembebas?</title><content type='html'>&lt;span style="color: #cc0000; float: left; font-family: Times,serif,Georgia; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #cc0000; float: left; font-family: Times,serif,Georgia; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #cc0000; float: left; font-family: Times,serif,Georgia; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px;"&gt;S&lt;/span&gt;ebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia (BI) sudah berusia  delapan dekade. Jika dianalogikan dengan usia manusia, BI seharusnya  sudah memasuki masa-masa kematangan dan kearifan hidup. Kenyang  pengalaman dan sudah banyak merasakan pahit getirnya dinamika hidup.  Namun, secara jujur mesti diakui, semakin bertambah usia, BI justru  seperti anak-anak yang kehilangan orang tuanya. BI sering  dibangga-banggakan sebagai bagian jati diri bangsa, tetapi sekaligus  juga sering dinistakan dalam berbagai ranah komunikasi.&lt;br /&gt;Yang lebih menyedihkan, bahasa dinilai sudah menjadi bagian dari sebuah  entitas kekuasaan yang dengan sengaja dimanfaatkan untuk melakukan  politik pencitraan, propaganda, atau tipu muslihat demi&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; melanggengkan  kekuasaan. Penggunaan ragam bahasa eufemisme, misalnya, jelas-jelas  merupakan sebuah bentuk penghalusan terselubung untuk menutupi  tindakan-tindakan kasar, vulgar, dan menindas. Rakyat kecil yang  tertindas dan dikorbankan tak jarang dihibur dengan bahasa yang manis  dan eufemistik, hingga akhirnya rakyat merasa tidak lagi tertindas,  ternistakan, dan dikorbankan. Dalam konteks demikian, bahasa tak hanya  sebatas digunakan sebagai media komunikasi dalam ranah sosial, tetapi  juga telah dimanfaatkan sebagai alat propaganda dan media politik  pencitraan untuk menggapai ambisi dan kepentingan tertentu sesuai dengan  selera penggunanya. Kekuatan bahasa eufemistik memungkinkan fakta yang  busuk dan sarat bopeng tampak menjadi lebih segar, santun, dan manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi, berlarut-larutnya masalah yang tak kunjung terselesaikan  hingga memfosil menjadi akumulasi masalah yang multikompleks dan  multidimensi di negeri ini merupakan dampak sebuah kebijakan kekuasaan  yang abai terhadap perbaikan nasib rakyat. Melalui penggunaaan bahasa  manipulatif, rakyat sekadar dihibur lewat jargon dan slogan-slogan  eufemistik, hingga akhirnya masyarakat jadi kehilangan kontrol terhadap  laju kekuasan yang amburadul dan “semau gue”. Dari sisi ini, agaknya  pemakai bahasa kekuasaan telah kehilangan moralitasnya. Bahasa bukan  lagi menjadi media untuk menyampaikan masalah secara jelas dan nyata,  melainkan justru sengaja dikaburkan dan disamarkan hingga menimbulkan  banyak tafsir. Semakin banyak tafsir, para elite penguasa semakin mudah  mencari celah dalam melakukan pembelaan dan pembenaran terhadap  kebijakan kekuasaan yang diluncurkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kebijakan Visioner&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bahasa memang bersifat arbitrer (manasuka) dan memiliki kekuataan  personal yang tak mudah diganggu gugat oleh pihak lain. Namun, sesuai  dengan hakikatnya sebagai media komunikasi publik, penggunaan bahasa  tutur akan membawa dampak sosial yang begitu luas dan kompleks. Itulah  sebabnya, kita sangat mengapresiasi kebijakan visioner para pendahulu  negeri yang telah menetapkan bahasa Melayu (Indonesia) sebagai bahasa  nasional. Pengakuan dan penetapan bahasa nasional ini jelas memiliki  kekuatan yang mampu mengikat para penuturnya secara emosional, sehingga  bahasa nasional bisa dimanfaatkan secara optimal di ranah publik  berdasarkan kaidah-kaidah yang telah disepakati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan selanjutnya, bahasa Indonesia juga telah ditetapkan  sebagai bahasa negara (resmi), bahkan telah ditinggikan derajatnya  melalui momentum “Bulan Bahasa” yang jatuh setiap bulan Oktober. Melalui  kebijakan politik bahasa semacam ini, setidaknya segenap memori anak  bangsa tergugah dan teringatkan bahwa ternyata kita memiliki warisan  kultural yang telah menyejarah dan benar-benar telah teruji  keberadaannya sebagai media pengokoh kebhinekaan. Dengan kata lain,  bahasa Indonesia telah menjadi pengikat nilai persaudaraan sesama anak  bangsa secara emosional dan afektif. Namun, kebijakan visioner tak  selamanya berjalan mulus. Bahasa Indonesia yang seharusnya mampu  dioptimalkan sebagai media pembebasan, justru telah terperangkap dalam  kubangan hegemoni yang dengan amat leluasa dimodifikasi sebagai alat  kekuasaan oleh para elite-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penyadaran Kolektif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia sesungguhnya bisa menjadi media pembebasan untuk  mengantarkan negeri ini sebagai bangsa yang lebih terhormat dan  bermartabat. Hal ini bisa terwujud apabila kaum elite yang berada dalam  lingkaran kekuasaan mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa rakyat  ketika menyampaikan kebijakan-kebijakan penting dan krusial; bukan  menggunakan bahasa kaum elite yang berbelit-belit dan cenderung  menyesatkan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sungguh prihatin menyaksikan dinamika kehidupan berbangsa dan  bernegara yang terus didera  berbagai masalah besar. Tak hanya deraan  konlfik internal dan eksternal, tetapi juga tikaman bencana yang terus  berdatangan secara bergelombang. Dalam situasi krusial seperti ini,  sungguh disayangkan, bahasa Indonesia belum bisa dimanfaatkan secara  optimal sebagai media pembebasan dalam ikut menyelesaikan  masalah-masalah yang datang menghadang. Bahasa rakyat dan bahasa kaum  elite tak pernah berada dalam satu titik temu, hingga  persoalan-persoalam besar itu gagal tertuntaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, setelah bahasa Indonesia berusia lebih dari delapan dasawarsa,  perlu ada gerakan penyadaran secara kolektif untuk memanfaatkan bahasa  Indonesia sebagai media komunikasi publik yang mencerahkan dan  membebaskan. Bahasa tidak dimanfaatkan lagi untuk memburu kepentingan  kekuasaan, tetapi lebih dioptimalkan untuk membangun kemaslahatan  bersama-sama rakyat, hingga akhirnya persoalan multikompleks dan  multidimensi yang mendera negeri ini secara bertahap dan berkelanjutan  bisa tertangani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirgahayu Bahasa Negeriku! ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;artikel ini ditulis oleh : &lt;a href="http://www.cintabahasa.co.cc/"&gt;http://www.cintabahasa.co.cc&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-2189985879359915998?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='text/html' href='http://cintabahasa.co.cc/2010/11/bahasa-indonesia-sebagai-media.html' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/2189985879359915998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=2189985879359915998' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/2189985879359915998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/2189985879359915998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2011/06/bahasa-indonesia-sebagai-media-pembebas.html' title='Bahasa Indonesia Sebagai Media Pembebas?'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-3922735811257523485</id><published>2011-01-03T04:42:00.000-08:00</published><updated>2011-01-03T08:55:06.952-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Umum'/><title type='text'>TEST CALISTUNG : MELANGGAR HAK ANAK</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mulai Januari ini SD favorit di sudah mulai menjaring calon siswa-siswanya. Dengan berbagai cara promosi sekolah-sekolah ini mencoba menarik minat para orang tua untuk memasukan anaknya. Orang tua sendiri akan berburu sekolah yang cocok sesuai dengan kreteria yang mereka kehendaki. Banyak cara sekolah favorit untuk menjaring calon siswanya. Yaitu dengan mengadakan berbagai macam test masuk. Termasuk &lt;i&gt;test calistung&lt;/i&gt; yang menurut saya sangat tidak kompeten dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Anak –anak di TK pada standar kompetensinya tidak di ajarkan membaca menulis dan berhitung (calistung). Dunia TK bertujuan untuk melepaskan dirinya dari kebiasaan di rumah. Di TK lebih di utamakan kegiatan bermain dari pada belajar. Dengan demikian mereka akan lebih banyak mengenal benda-benda sekitar, bergaul dengan teman sebaya, saling menghargai sesuai dengan perkembangan sosialnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Saya tidak setuju penerimaan siswa baru kita dengan memberikan porsi nilai pada tahap calistung. Adapun yang saya setujui calistung hanya sebagai pemetaan kita kepada calon siswa agar memudahkan kita saat proses belajar mengajar nanti. Adanya ketakutan kita mengenai siswa yang sulit calistung itu tidak mendasar dan kesalahan besar. Belum tentu anak yang tidak bisa calistung merupakan anak yang bermasalah dalam belajar. Bahkan banyak anak yang sudah bisa terlebih dulu kalah bersaing dengan anak yang baru belajar. Sebenarnya yang perlu kita perhatikan adalah kemampuan kita untuk mendidik anak yang belum bisa calistung yang pada faktanya merupakan standar kompetensi materi di sekolah dasar. Dapat kita lihat pernyataan Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Suyanto kepada &lt;i&gt;Kompas.com &lt;/i&gt;di Jakarta, Selasa (29/6/2010), terkait pemberlakuan pembelajaran calistung dan tes masuk SD, baik di sekolah negeri maupun swasta. Apapun bentuknya, kata Suyanto, model pembelajaran dan tes akademik tidak diperkenankan karena aturan main penerimaan calon siswa sudah dituangkan pemerintah melalui PP No 17 tahun 2010 Pasal 66 ayat 2 serta Pasal 69 ayat 4 dan 5.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bahkan Penasehat Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, Seto Mulyadi atau dipanggil akrab Kak Seto meminta saat penerimaan masuk sekolah dasar (SD) tidak diperbolehkan lagi adanya tes membaca, menulis dan berhitung (calistung). Dia menilai memaksakan anak-anak untuk calistung merupakan pelanggaran hak anak. Bahkan dia meminta kepada semua pihak untuk melaporkan sekolah yang melakukan hal tersebut ke Komnas perlindungan anak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Nah bagaimana dengan test psikologi yang kita lakukan, menurut saya test psikolog yang kita lakukan sudah sesuai dengan ketentuan. Selain melakukan pemetaan modalitas belajar (Kinesteti, Auditoral dan Visual) psikolog juga menganalisis perkembangan anak yang memenuhi syarat untuk masuk dalam masa sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Apa sajakah syarat anak yang masuk sekolah ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menurut Drs Zulkifli L dalam bukunya Psikologi Perkembangan : anak-anak yang berumur 6 atau 7 tahun dianggap matang untuk belajar disekolah dasar jika :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;a.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kondisi jasmaninya cukup sehat dan kuat untuk melakukan tugas di sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;b.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Adanya keinginan belajar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;c.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Fantasi tidak lagi leluasa dan liar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;d.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Perkembangan perasaan social telah memadai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kemudian syarat-syarat tambahan yang harus kita analis yaitu: Fungsi jiwa harus sudah berkembang baik karena kematangan fungsi jiwa diperlukan untuk belajar membaca, menulis dan berhitung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Jadi test psikolog ini menilai kematangan siswa untuk dapat masuk ke sekolah dasar. Kematangan yang di dapat berupa :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;1.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Matang untuk mulai belajar menulis. (bukan sudah bisa menulis)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;2.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Matang untuk belajar membaca. (bukan sudah bisa membaca)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;3.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Matang untuk belajar berhitung.(bukan sudah bisa berhitung)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Perlu kita ketahui juga Menurut Robert Y. Havighurst dalam bukunya Human Development and Education,1961 : kemampuan membaca, menulis dan berhitung masih dapat ditingkatkan sampai anak mencapai umur 12 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Satu lagi test&amp;nbsp; (bukan test akademik) yang sangat bagus untuk dikembangkan. Yaitu wawancara dengan orang tua. diadakan wawancara dengan pihak orang tua karena hal ini dijadikan salah satu pertimbangan utama dalam menerima siswa. Dalam hal ini kerja sama orang tua bukanlah semata-mata dalam dukungan dana, tetapi terlebih kerja sama dalam mengasuh dan mendidik anak di rumah, sehingga proses pengasuhan dan pendidikan anak di rumah dan sekolah bisa sejalan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sekolah tentunya memilih wali murid yang &lt;i&gt;care&lt;/i&gt; dan peduli terhadap proses pembelajaran anak, daripada wali murid yang cuek dan menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan anak kepada pihak sekolah.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-3922735811257523485?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/3922735811257523485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=3922735811257523485' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/3922735811257523485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/3922735811257523485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2011/01/test-calistung-melanggar-hak-anak.html' title='TEST CALISTUNG : MELANGGAR HAK ANAK'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-2213124993761672642</id><published>2010-12-22T21:56:00.000-08:00</published><updated>2010-12-22T21:56:29.929-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel sastra anak'/><title type='text'>Anak yang Mendekatkan Dirinya pada Buku</title><content type='html'>Abdul Aziz Rasjid&lt;br /&gt;Jawa Pos, 12 Des 2010&lt;br /&gt;1. Seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun, terbiasa membaca buku-buku untuk menemukan informasi yang tak ia dapat dari lingkungan sosialnya. Ketika ia merasa bosan dengan rutinitas yang diatur oleh keluarganya, bocah itu akan menyusuri laci meja, almari dan rak-rak buku untuk menemukan apapun yang dapat ia baca.&lt;span id="more-14800"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bocah itu bernama Edward, oleh orangtuanya ia sering dicemooh karena membaca buku-buku —dari otobiografi, selebaran, komik, catatan sekolah saudara-saudaranya sampai catatan orangtuanya— yang semestinya tidak/belum boleh dia baca. “Rasa ingin tahu akan membunuh jiwamu”, begitu orang tuanya pernah berkata padanya. Tetapi Edward tak peduli.&lt;br /&gt;2. Di sebuah gudang, seorang bocah yatim, menenteng buku berjudul Les Tribulations d’un Chinois en Chine atau Petualangan seorang Tinghoa di Negeri Tiongkok karya Jules Verne. Bocah itu bernama Sartre, ia duduk di atas ranjang besi, mata mungilnya menyusuri &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;huruf-huruf yang tercetak hitam tanpa melewatkan satu huruf pun. Berlagak seakan dapat membaca, ia mengisahkan sebuah cerita yang ia rangkai sendiri dengan suara lantang. Keributan suaranya lalu membuat ibu, kakek dan neneknya terheran-heran. Mereka lalu berkesimpulan bahwa Sartre sudah waktunya untuk diajari membaca.&lt;br /&gt;Bocah dalam kisah pertama yang mulai mencari segala hal dalam bacaan itu, diceritakan Edward Said dalam memoarnya yang bertajuk Out Of Place. Membaca buku bagi Edward kecil seperti menemukan dunia yang bergejolak namun begitu mandiri. Semisal saat ia membaca kisah gadis sirkus bernama Kalita dalam buku Collins Junior Book of Knowledge, latar belakang kemisteriusan sosok Kalita lalu membuatnya mengembangkan daya khayal untuk memperluas jalan cerita buku itu dengan versi kehidupannya sendiri. Khayalan yang dirancangnya, menghadirkan rasa tenteram, membentengi rasa cemas, melepas belenggu kedisiplinan keluarga dan sekolah yang dianggapnya mengekang.&lt;br /&gt;Sedang dalam kisah kedua, “kegilaan” bocah buta huruf yang menghibur diri sendiri dengan menyusuri huruf-huruf dalam buku, ditulis Jean Paul Sartre dalam memoarnya yang bertajuk Les Mots atau Kata-kata. “Kegilaan” itu pada mulanya timbul karena ketertarikan pada desain sampul-sampul buku karya Jules Verne edisi Hetzel yang berhiaskan jambul emas melambangkan tirai. Bagi Sartre sampul-sampul itu mirip teater kecil yang memberinya pesona keindahan. Tak lama berselang, setelah fasih membaca, Sartre menghabiskan buku Sans Famille atau Sebatang Kara karya Hector Mallot. Tak hanya itu, ia juga menelusuri rak-rak perpustakaan kakeknya dengan sebuah keyakinan bahwa dalam bukulah ia akan menemukan alam semesta, keindahan, dan dunia khayal paling pribadi.&lt;br /&gt;Buku berada dalam posisi yang unik dalam kisah dua bocah kecil itu. Buku menjadi media untuk mengembangkan khayalan seorang anak, menjadi cara untuk menumpahkan emosi, membayangkan dunia tersendiri yang diidamkan sambil membangun apa yang mewakili perasaan dalam menanggapi realitas sehari-hari dengan memfungsikan segala informasi yang dibaca dari buku. Setiap khayalan dalam motif itu —merujuk pada Freud dalam Creative Writers and Day-Dreaming— berpangkal pada keinginan yang belum tercapai, bertujuan untuk melakukan perbaikan dari kenyataan-kenyataan yang dihadapi.&lt;br /&gt;Khayalan tumbuh sebagai reaksi seusai proses membaca buku terjadi. Pangkal reaksi mengada sebab pengaruh buku —kemasan dan isi— memberi rangsangan untuk berpikir kreatif. Dunia khayal sebagai produk berpikir kreatif, menjadi upaya bagi keduanya untuk mulai belajar merumuskan harapan dan membedakannya secara tajam dengan kenyataan. Maka, tak mengherankan memang, ketika keduanya beranjak remaja: gagasan-gagasan dalam buku yang mereka baca lalu dijadikan bahan pembanding untuk melihat lingkungan sekitar mereka tinggal.&lt;br /&gt;Edward Said semisal, memposisikan peran kota besar dan berbagai macam tokoh yang hadir (para penghutang, penjahat dan murid) dalam karya Dostoyvesky dan Balzac sebagai pembanding dengan realita kehidupan orang-orang yang ia kenal di Dhour atau Kairo. Kedetailan cara membaca Edward dalam menandai pola-pola cerita dan menghayati tiap-tiap frasa dalam buku, difungsikannya untuk menganalogikan adegan dan kejadian dalam kehidupannya. Ia lalu menganalisa analoginya itu, guna menemukan kehidupan imajiner untuk menampung sehimpun harapan.&lt;br /&gt;Sedang Sartre, terhanyut dalam ekstase cerita bangsa-bangsa primitif bersenjata lembing, hutan rimba dan seorang penjelajah bertopi putih dalam buku Les Enfant du Capitaine Grant atau Anak-anak Kapen Grant dan Le Dernier des Mohicans atau Mohikan yang terakhir. Cerita-cerita petualangan itu, membuatnya mengerti bahwa bagaimanapun cara kejahatan muncul ia ditakdirkan untuk tunduk pada kebajikan. Dari buku-buku jenis petualangan itulah, Sartre melihat bahwa ada sisi optimisme yang perlu untuk senantiasa dijaga oleh manusia.&lt;br /&gt;Setidaknya, masa kecil Sartre dan Edward yang mendekatkan dirinya pada buku menjadi bukti yang sahih untuk menyatakan, bahwa gagasan-gagasan dalam buku menjadi modal berharga bagi anak untuk mengembangkan daya khayalnya yang kelak dapat difungsikan untuk berpikir kreatif dalam upaya melihat, mengenal, menelaah sebuah dunia dari suatu masa. Dengan mendekatkan diri pada buku, seorang anak mulai mengakrabi bahasa, mengolah dan menyelami fiksi dan fakta sebagai upaya untuk memposisikan diri berjarak dengan macam-macam provokasi lingkungannya demi menemukan kebenaran yang akan mereka gunakan untuk merangkai keesokan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-2213124993761672642?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/2213124993761672642/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=2213124993761672642' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/2213124993761672642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/2213124993761672642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/12/anak-yang-mendekatkan-dirinya-pada-buku.html' title='Anak yang Mendekatkan Dirinya pada Buku'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-973693260849012640</id><published>2010-12-17T19:56:00.000-08:00</published><updated>2010-12-17T19:56:19.026-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Umum'/><title type='text'>Mendorong Era Guru " Go Blog"</title><content type='html'>&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Oleh Yohanes Eko Nugroho&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Bila ada siswa merasa kurang jelas saat mengikuti pelajaran di kelas maka siswa tersebut dapat &lt;br /&gt;mengunduh materi tersebut dari blog guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMBACA berita dan iklan peluncuran ’’Ponsel SM Expresia’’, sebagai upaya lebih mendekatkan diri dengan SM Community (SM, 27/11/10 dan 14/12/10), yang kali pertama muncul dalam benak saya adalah betapa praktisnya mengakses smua informasi yang disuguhkan Suara Merdeka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain blog SM nantinya dapat diakses secara lengkap melalui fitur-fitur ponsel itu sehingga tak berlebihan jika koran ini mempunyai&amp;nbsp; slogan ’’Perekat Komunitas Jawa Tengah’’, bahkan lebih dari itu, tidak hanya terbatas di provinsi ini. Pesatnya perkembangan blog dan inovasi pengakses seperti ponsel yang di-launching itu tentunya menjadi inspirasi baru bagi pegiat pendidikan, di antaranya adalah guru. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog merupakan singkatan dari web log adalah bentuk aplikasi web yang dapat diakses oleh semua pengguna internet. Bagi siswa, blog sangat berguna sebagai sumber informasi untuk melengkapi referensi dari tugas-tugas yang diberikan guru. Sedangkan bagi guru, blog berguna untuk menambah wawasan dalam rangka pengembangan bahan pelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, mayoritas guru masih sebatas memanfaatkan internet untuk mencari informasi atau sebatas sebagai konsumen informasi, belum ke arah pembuat atau penggagas informasi (produsen), yang dicari oleh pengguna internet, termasuk siswanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Ibaratnya adalah perpustakaan sekolah yang hanya berisi buku-buku yang ditulis orang lain bukan oleh gurunya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyusun buku memang tidak mudah, harus ada link dengan penerbit, padahal banyak guru yang punya ide dan kreativitas dalam dunia pendidikan yang layak dipubikasikan. Kendala itu dapat diatasi jika guru mempunyai website atau blog pribadi. Guru yang mempunyai blog&amp;nbsp; inilah yang biasa kita sebut ’’guru go blog’’, dan pasti mereka bukan guru goblok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urgenkah setiap guru mempunyai blog pribadi, dan bagaimanakah mengintegrasikannya dalam proses belajar mengajar? Utamanya pengguna blog guru adalah siswa, namun tidak menutup kemungkinan sesama komunitas guru, insan pendidikan secara umum, juga masyarakat luas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika guru mempunyai blog maka aktivitas proses belajar mengajar tidak dibatasi jarak, ruang, dan waktu. Materi pelajaran yang disampaikan di kelas, dapat di-upload ke blog guru, sehingga bila siswa merasa kurang jelas saat mengikuti pelajaran di kelas maka siswa tersebut dapat mengunduh materi tersebut dari blog guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan lebih menarik jika dilengkapi fasilitas interaksi dengan siswa. Diskusi yang terekam dalam fasilitas komentar dalam blog juga dapat menjadi referensi guru untuk meningkatkan kualitas mengajar dan mengetahui titik kelemahan siswa. Maka komunikasi akan berjalan dua arah dan interaktif, baik dari guru ke siswa, dan juga sebaliknya. &lt;br /&gt;Beri Instruksi Integrasi blog dalam aktivitas proses belajar mengajar seperti itu secara otomatis meningkatkan waktu ’’tatap muka’’ antara guru dan siswa. Komunitas sesama guru dan insan pendidikan lainnya juga terjalin update. Diskusi, sharing, dan silaturahmi dengan sesama guru se-Indonesia pun dapat terjalin, misalnya berbagi regulasi terbaru, karya inovatif media pembelajaran, materi pelajaran, sampai dengan metode mengajar, sehingga kemajuan pendidikan bisa dipercepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain materi pelajaran, guru juga dapat menampilkan kreativitas dalam menulis ataupun karya inovatif lainnya. Karena space media cetak cukup terbatas untuk memuat tulisan-tulisan guru, blog dapat menjadi penyaluran kreativitas menulis, karena bisa langsung di-publish tanpa diedit/ dipotong redakturnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Facebook juga bukan hal asing bagi siswa. Guru dapat menggabungkan facebook dan blog sebagai media pembelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu manfaatnya adalah jika guru tidak hadir mengajar karena ada keperluan maka guru dapat memberikan instruksi kepada siswanya melalui facebook untuk mempelajari dan mengerjakan tugas melalui posting blog yang sudah dipersiapkan sebelumnya. (10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;— Yohanes Eko Nugroho SPd, guru SMP Negeri 2 Ungaran Kabupaten Semarang&lt;br /&gt;Sumber : http://suaramerdeka.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-973693260849012640?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/973693260849012640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=973693260849012640' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/973693260849012640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/973693260849012640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/12/mendorong-era-guru-go-blog.html' title='Mendorong Era Guru &quot; Go Blog&quot;'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-6062335428958200145</id><published>2010-12-06T18:15:00.000-08:00</published><updated>2010-12-06T18:15:57.355-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Umum'/><title type='text'>Secangkir Kopi Minat Baca</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;Sudah satu tahun yang lalu saya rasakan racikan kopi Aceh langsung di Banda Aceh. Kopi dengan aroma yang menggoda ini diracik langsung di depan mata. Segelas kopi ini mampu menghipnotis penggemarnya untuk duduk bersama dikedai kopi sebelum berangkat kerja atau untuk menghilangkan lelah setelah seharian bekerja. Satu kedai kopi di sana dipenuhi puluhan orang dengan tujuan sama minum kopi, tetapi topik pembicaraan berbeda-beda sehingga kedai kopi ini terlihat seperti orang menikmati kopi dengan &lt;i&gt;“egonya”&lt;/i&gt; masing-masing. Saya juga sering rasakan racikan kopi dari &lt;i&gt;acil-acil &lt;/i&gt;di warung-warung pinggir jalan atau racikan &lt;i&gt;djulak-djulak&lt;/i&gt; di pasar dengan rasa yang berbeda-beda&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;Nah, beberapa hari yang lalu saya nikmati kopi yang berbeda. Saya di undang teman kantor untuk menikmati Kopi dari kedai kopi kecil dipinggiran kota Banjarbaru. Sungguhan kopi yang berbeda diracik di &lt;b&gt;kedai komunitas Jempol Merdeka &lt;/b&gt;ini. Apanya yang berbeda? Kopinya sama saja tetapi racikan suasana yang berbeda. Kedai kopi yang kecil dimake up sedemikian rupa menyerupai suasana &lt;i&gt;“ngedeso”&lt;/i&gt; dan ditambah dengan rimbun pepohonan yang menggambarkan ngopi itu &lt;i&gt;back to nature&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;Bukan itu saja yang membuat saya puas menikmati sungguhannya. Mereka menyungguhkan kedai kopi sebagai tempat diskusi. Kedai yang dilengkapi dengan berbagai bahan bacaan ini mengadakan diskusi yang mengangkat permasalahan minat baca. Alfin Mustikawan, M.Pd&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang merupakan dosen Universitas Islam Malang menjadi fasilitator pada diskusi kali ini yang pada akhirnya tertarik dan membeli batu permata khas Kalimantan yang saya miliki. Sambil &lt;i&gt;“ngopi bareng”&lt;/i&gt; beliau memaparkan bahwa h&lt;span lang="IN"&gt;ingga saat ini, berdasarkan survei BPS&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;jumlah persentase masyarakat yang buta huruf tinggal 8%. Data tersebut berbeda dengan data UNESCO yang menyatakan bahwa dari 220 juta penduduk Indonesia, sekitar 34,5% belum bisa membaca, sedangkan sisanya, mereka bisa membaca tetapi memilih untuk tidak menjadikan membaca sebagai kebiasaan. Penelitian yang dilakukan oleh Tim Program of International Student Assessment (PISA) dari Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas yang ditulis dalam &lt;i&gt;Republika&lt;/i&gt; (4/7/2003), kemampuan membaca anak-anak Indonesia yang berusia 15 tahun (SLTP/SMU/SMK) berada di urutan 39 dari 41 negara. Sebesar 37,6% dari jumlah tersebut hanya bisa membaca tanpa bisa menangkap maknanya dan 24,8% hanya bisa mengaitkan teks yang dibaca dengan satu informasi pengetahuan saja. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;Sebuah angka yang sangat memprihatinkan bagi dunia pendidikan di Indonesia. Menurut beliau sebab-sebab yang menimbulkan akibat munculnya rendahnya angka minat baca tersebut dikarenakan metode pengajaran disekolah yang tidak mendukung minat baca anak, fasilitas perpustakaan di sekolah yang kurang memadai, dan gaya hidup remaja sekarang yang hura-hura.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;Saya jadi teringat pertama kali menarik minat baca anak didik. Ketika mereka duduk di kelas 2 diberi tugas membawa buku kesayangan, sebagian besar menunjukan buku favorit mereka adalah komik. Maka mulailah menarik minat baca anak melalui komik. Alhamdulillah sekarang penerbit dan pengarang buku anak mulai menyadarinya dengan menerbitkan komik-komik yang bertemakan sains dan teknologi. Tetapi kita jangan lupa untuk tidak meninggalkan komik-komik, cerita-cerita rakyat yang bernilai moral.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;Program wajib baca perlu dilaksanakan disekolah-sekolah. Kita memulainya sejak dini kepada anak didik. Saya mewajib baca buku ke peserta didik diterapkan satu bulan sekali. Dengan mengevaluasinya pengetahuan anak tentang buku yang dibacanya diperpustakaan kita tidak hanya mengajarkan baca, tetapi juga kemampuan bicara dan menulis mereka. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Kita program ini bergulir satu tahun disekolah, yang saya dapati siswa akhirnya menyenangi buku. Catatan peminjaman buku diperpustakaan meningkat. Bahkan anak yang melahap hampir setiap hari buku di perpustakaan. Sehingga perlu diusulkan lagi penambahan rerferensi buku di sekolah karena semua telah terpinjamkan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;Memang benar pendapat mas Alfi ini tentang perpustakaan. Kebanyakan perpustakan sekolah tidak memiliki pelayanan yang baik. Selain referensi buku yang kurang, perpustakaan sekolah jarang dibuka setiap hari. Karena tidak memiliki pustakawan yang tetap. Gurulah yang merangkap pustakawan tersebut sehingga mempunyai waktu yang terbatas mengelola perpustakaan. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah. Untuk menambah tenaga teknis lainnya di sekolah selain tenaga guru.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;Salah satu solusi menarik minat baca juga dengan menyungguhkan kopi seperti kedai ini. Bahkan perpustakaan Banjarbaru berkomitmen membantu kedai-kedai kopi seperti ini, dengan meminjamkan buku koleksinya untuk dibaca para penikmat kopi. Kopi yang berdampingan dengan buku. Sambil ngopi sambil baca buku dan berdiskusi bersama. Ngopi bareng, baca bareng dan diskusi bareng… Ah, tentunya nikmat sekali. Jadi ingat tradisi budaya masyarakat Banjar. Ngopi atau ngeteh bersama di warung dan membicarakan topik permasalahan yang sama. Tetapi hal seperti ini sudah mulai pudar di daerah perkotaan. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Saya yakin “warung bubuhannya” di TVRI Banjarmasin mencoba meneruskan kembali budaya ini dimasyarakat kita.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-6062335428958200145?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/6062335428958200145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=6062335428958200145' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/6062335428958200145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/6062335428958200145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/12/secangkir-kopi-minat-baca.html' title='Secangkir Kopi Minat Baca'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-2330322858251811151</id><published>2010-11-30T06:53:00.000-08:00</published><updated>2010-11-30T06:56:14.298-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel sastra anak'/><title type='text'>Catatan dari OSI 2010 di Surabaya :Ketika Sastra dan Sains disandingkan</title><content type='html'>&lt;b&gt;Sumber : http://www.analisadaily.com&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;oleh : Saripuddin Lubis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini yang pertama even sastra dan sains disandingkan dalam sebuah acara yang bersamaan. Selama ini harus diakui kalau ilmu sains selalu mendapat tempat nomor satu oleh pemerintah, maupun oleh masyarakat kita sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayembara yang paling banyak dilakukan selalu berkaitan dengan dunia hitung menghitung. Apalagi yang berkaitan dengan olimpiade.&amp;nbsp; Kita masih ingat ketika Sumatera Utara dijadikan sebagai tempat penyelenggaraan olimpiade sains tingkat nasional beberapa waktu lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peserta dari berbagai provinsi, benar-benar.. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;dimanjakan oleh pemerintah. Mereka diinapkan di berbagai hotel berbintang yang ada di Medan, seperti Hotel JW Marriot. Mereka dibawa berkeliling ke tempat-tempat wisata di Sumatera Utara seperti Brastagi, Danau Toba, dan Taman Simalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyambutan terhadap peserta olimpiade sain, sampai membangun tenda khusus di Bandara Polonia Medan. Sebelum sampai di hotel, mereka dimanjakan di sekitar bandara. Sebuah perlakuan yang benar-benar mewah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dinafikan, ilmu sains penting untuk pembangunan manusia dan bangsa ini. Sastra tidak kalah pentingnya, terutama untuk membangun akal pekerti manusianya. Akal pekerti manusia Indonesia yang belakangan kita lihat semakin terdegradasi ke lapisan paling bawah. Degradasi akal pekerti, misalnya kita lihat pada banyak kasus di negeri ini seperti kasus hukum yang tak kunjung selesai dan datang silih berganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan gelagat mendeskriditkan sastra oleh bangsanya sendiri, mulai dihindari.Paling tidak dimulai oleh tingkat pusat dan kita berharap akan diikuti oleh daerah seperti Sumatera Utara dan daerah tingkat dua lainnya. Acapkali kita membaca keluhan para sastrawan daerah ini terhadap pemerintah daerah yang sepertinya tidak peduli dengan perkembangan sastra dan kesenian pada umumnya di daerah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai indikator nyata, lihatlah kondisi Taman Budaya Sumatera Utara yang terhimpit di antara gedung-gedung mewah di tengah kota. Gedung yang sangat jauh dari standar gedung kesenian. Meski begitu para seniman tak pernah berhenti berkreativitas dengan kondisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi di Surabaya? Dengan baliho cukup besar bertuliskan ‘Indonesian Sains Festival dan Olimpiade Sastra Indonesia’, terpampang megah di Royal Plaza, sebuah mal di Surabaya. Acara ini sendiri dibuka dan ditutup oleh pejabat di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Pembukaan acara dilakukan oleh Suyanto, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Penutupan dilakukan oleh Direktur Pembinaan TK dan SD, Mudjito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta dan guru pembimbing pun diinapkan selama lebih kurang seminggu di Garden Palace Hotel, sebuah hotel berbintang lima di Surabaya. Semula diperkirakan acara ini akan dilakukan di Jakarta, namun mungkin dengan berbagai pertimbangan akhirnya dilakukan di kota pahlawan. Acara ini berlangsung tepat dibuka pada hari pahlawan 10 November 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berada di hotel para peserta Olimpiade Sastra Indonesia dan Indonesian Sains Festival diinapkan satu ruangan. Sementara guru pembimbing dipisahkan. Jadi satu kamar untuk anak terdiri dari dari tiga orang, ada peserta OSI dan ada pula peserta ISF-nya. Sastra dan sains benar-benar disandingkan. Sepertinya Direktur Pembinaan TK dan SD di pusat memang sudah merencanakan sampai ke masalah ruangan menginap ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibayangkan selama penyelanggaraan, hotel yang berada di pusat kota Surabaya dipenuhi oleh anak-anak OSI dan ISF. Di mana-mana anak-anak selalu berkeliaran. Jumlah anak OSI dan ISF yang 80 orang, cukup membuat pihak hotel sedikit kewalahan sekaligus geli. Di antara anak-anak itu ada yang senantiasa bermain-main dengan lift hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang acara Olimpiade Sastra Indonesia ini masih diperuntukkan untuk siswa sekolah dasar. Paling tidak kita berharap ini akan jadi tonggak adanya perhatian besar untuk kegiatan sastra, sebab ini memang yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esensi acara ini pun bukan pada kemewahan yang ditawarkan. Bukan pula pada kegiatan yang bertajuk olimpiade itu. Paling tidak kita bisa merasakan euforia sastra yang mulai diberi tempat oleh pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari pertama eforia itu sudah mulai terasa. Sebagai juri utama OSI diketuai oleh guru besar Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Dr. Suminto A. Sayuti yang juga sangat dekat dengan para sastrawan. Sebagai juri dari pakar sastra, beliau didampingi oleh beberapa sastrawan pusat dan daerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama yang mendampingi antara lain Intan Savitri dari Balai Pustaka sekaligus General Manajer penerbitannya. Ada Deknong Keumalawati, M. Syawali dan beberapa nama lain. Mereka hadir memimpin acara pengantar dewan juri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak 38 peserta terpilih dari seluruh Indonesia yang tampil sebagai finalis OSI ini. Usia mereka rata-rata pada kelas empat, lima, dan enam sekolah dasar. Mereka diundang setelah karya mereka yang terdiri dari pantun, cerita pendek anak dan komentar (resensi) buku dinilai oleh panitia pusat (tidak melalui seleksi daerah). Dari Sumatera Utara sendiri terpilih Shalman Al Farisy Lubis dari SD Negeri 020267 Binjai dan Nurul Syahfitri Al Haq dari SD Pelita Kasih School Deli Serdang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dewan juri penilaian terhadap naskah sastra anak-anak ini cukup sulit. Banyak karya-karya yang bagus masuk ke tangan dewan juri. Tidak serta merta karya yang bagus itu lolos. Juri melihat banyak di antara karya yang masuk, tidak sesuai dengan bahasa anak untuk ukuran usia mereka. Jadi mereka yang terpilih memang benar-benar karya yang bahasanya sesuai untuk ukuran anak-anak itu. Bahasa anak-anak, yang polos dan lugu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai kegiatan lomba, kepada finalis OSI 2010 diberikan pula workshop. Workshop yang diberikan tentu saja yang sesuai dengan usia mereka. Panitia sengaja mengundang keluarga penulis Asma Nadia dari Jakarta. Turut bersama Asma Nadia, Adam Putra Firdaus anaknya yang telah menulis banyak buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal usianya masih untuk ukuran kelas V SD. Kepada peserta Asma Nadia dan Adam banyak member tips bagi anak-anak ini, cara menulis yang gampang. Salah satu yang penting disampaikan oleh Asma, menulis itu dapat dilatih dan harus dimulai dari usia dini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Shalman Raih Medali Perunggu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumatera Utara dalam OSI kali ini terwakili oleh dua siswa masing-masing Shalman Al Farisy Lubis dari SD 020267 Kota Binjai dan Nurul Syahfitri Al Haq dari SD Pelita Kasih School Deli Serdang. Mereka terpanggil setelah naskah mereka dinilai layak masuk ke babak final di Surabaya. Secara keseluruhan pulau Sumatera hanya terwakili oleh Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Riau dan Sumatera Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 38 siswa yang bersaing pada babak final di Surabaya ini Shalman Al Farisy Lubis meraih medali perunggu. Sedangkan Fitri yang masih kelas 5 SD ini belum beruntung. Fitri masih memiliki kesempatan untuk ikut lagi tahun depan dalam even yang sama. Shalman tidak, sebab tahun depan Shalman sudah akan masuk SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam prsentasi di hadapan dewan juri Shalman harus mempertahankan naskahnya yang terdiri dari tiga jenis, masing-masing sekitar 15 pantun, sebuah cerita anak dan komentar (resensi) terhadap sebuah buku sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pantun yang dibuat oleh Shalman sebagian besar menggambarkan kebudayaan Sumatera Utara. Pantun yang dibuat antara lain seperti berikut. //Musim kemarau makan buah/ Kalau lapar makan kue/ Pulau samosir sangat indah/ Tempat tarian si gale-gale// Lalu berikutnya. // Kami sering bermain buah para/ Mainnya amatlah mudah/ Mesjid Azizi di Tanjung Pura/ Mesjidnya cantik amatlah megah// Kemudian pantun lainnya // Sungai yang berkelok/ Hutan pinggirannya / Binjai nan elok / Rambutan buah khasnya//.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita anak, Shalman bercerita tentang seorang anak kehilangan bolanya. Tokoh dalam cerita ini menuduh, teman-temannyalah yang mencuri bolanya. Ternyata bola itu ada di rumahnhya sendiri. Cerita yang berjudul ‘Bolaku yang Hilang’ ini diangkat dari kehidupan Shalman yang memang suka bermain bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk komentar buku Shalman meresensi buku terbitan Balai Pustaka Si Doel Anak Jakarta karya Aman Dt. Majoindo. Dituturkan oleh Shalman, buku ini menawarkan banyak hal dan bisa dicontoh. Hal yang dapat diteladani dari si Doel, perjuangan hidupnya yang tidak kenal menyerah. Karena itu Shalman mengangkat judul komentarnya ‘Perjuangan si Doel yang Pantang Menyerah’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja kita harus memberi apresiasi positif terhadap penyelenggaraan kegiatan. Bayangkan, sudah sejak lama kita merindukan sebuah kompetisi untuk kegiatan kesastraan bagi anak-anak kita. Ada kalangan yang kurang sepekat dengan penyelenggaran lomba dalam bidang sastra. Setidaknya olimpiade sastra, akan menambah variasi pembinaan apresiasi sastra di masyarakat, terutama untuk itu anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apresiasi positif kita berikan kepada Direktorat Pembinaan TK dn SD, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Nasional sebagai inisaitor acara ini. Mereka telah mengangkat sastra tegak dalam sebuah even yang besar dan bergengsi. Sebuah kerja keras akan mengangkat sastra dalam kancah pembangunan bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya OSI 2010 yang ditawarkan pemerintah pusat akan menjadi tantangan pula bagi pemerintah daerah Provinsi Sumatera Utara dan daerah tingkat 2 lainnya. Tantangan untuk membuka mata, sastra dan kesenian juga aset penting, segera diselamatkan sejak dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada lembaga legislatif kita berharap ada komisi khusus, segera mulai meperbincangkan masalah ini. Kita merindukan sebuah komplek sastra dan kesenian yang representatif di daerah ini. Jika itu terpenuhi, yakinlah juga akan mengundang banyak devisa dan wisatawan.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Penulis; sedang mengikuti Program Magister Bahasa Indonesia PPs UMN 2010&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;    &lt;span class="article_separator"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-2330322858251811151?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/2330322858251811151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=2330322858251811151' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/2330322858251811151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/2330322858251811151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/11/catatan-dari-osi-2010-di-surabaya.html' title='Catatan dari OSI 2010 di Surabaya :Ketika Sastra dan Sains disandingkan'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-3983710620921893988</id><published>2010-11-29T08:20:00.000-08:00</published><updated>2010-11-29T08:23:58.549-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel sastra anak'/><title type='text'>Dilema Guru untuk Mengembangkan Sastra di Sekolah Dasar</title><content type='html'>&amp;nbsp;oleh :D. Dudu AR&lt;br /&gt;Guru SDN. Perumnas 1 Cisalak Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya Jawa Barat  Pimpinan Pondok Media (Citizen Journalism Forum)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak salah, jika para kritisi sastra mempertanyakan peranan guru terhadap perkembangan sastra di sekolah. Hal ini dibuktikan, kurangnya kompetensi guru dalam kesusastraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khususnya guru di sekolah dasar, yang memiliki bejubel peranan sebagai : administrator, pengajar semua mata pelajaran, ekstrakurikuler, dlsb. Jangankan memikirkan sastra, banyak hal yang membuat mereka sering tidak fokus mengelola pembelajaran. Oleh sebab itu, sastra di sekolah dasar kurang berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, untuk memupuk generasi masa depan yang sadar dan menjadi pelaku sastra di negeri tercinta ini adalah siswa-siswi sekolah dasar. Pada kenyataannya, mereka disuguhi pembelajaran yang kaku; membaca puisi, menulis puisi, mendengarkan prosa, tanpa larung berdiskusi atau mengajak menela’ah secara baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga dalam prosesnya, mereka gampang jenuh dan cenderung tidak berminat mengikuti pembelajaran sastra. Meskipun kurikulum tingkat satuan pendidikan sudah dirancang sedemikian rupa – sebagai petunjuk bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar – tetap saja kurang memberikan kontribusi yang cukup – untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sastra di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan sikap siswa-siswi di sekolah dasar merupakan suatu masa yang tepat untuk memberikan bekal kesusasteraan sejak dini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sesuai dengan teori tabularasa (kertas kosong) yang dikemukakan Jhon Locke seorang tokoh empirisme, dalam buku pedagogik (2007 ; 74), diibaratkan sebagai ”tabularasa”, yaitu sebuah meja yang dilapisi lilin, yang digunakan di sekolah dalam rangka belajar menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, anak ibarat kertas putih yang bisa dicorat-coret oleh pengaruh lingkungan dan manusia dewasa. Sebetulnya, bagi guru sekolah dasar, merupakan waktu yang pas untuk memberikan pemahaman dan pengalaman kepada siswa tentang sastra – yang mampu membentuk karakter siswa – berbudaya dan beretika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaitan dengan kemampuan guru sekolah dasar dalam kesusastraan, memang sangat menyedihkan. Betapa tidak, mereka harus memberikan pembelajaran sastra, sementara kemampuan sastra itu sendiri tidak dimiliki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, guru sekolah dasar bukan ahli sastra atau sastrawan, setidaknya mereka perlu diberikan seminar atau workshop tentang sastra. Banyaknya peran ganda mereka, membuat konsentrasi dalam memberikan pengajaran terbagi-bagi, ini juga menjadi salah satu faktor penghambat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah dengan begini, lalu pembelajaran dan pengajaran sastra di sekolah dasar akan kreatif, efektif, dan menyenangkan? Selain kurangnnya seminar atau workshop sastra untuk guru, pihak-pihak terkait juga terkesan kurang respect terhadap perkembangan sastra di sekolah dasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, sastra merupakan cara ampuh membentuk karakter siswa sebagai penerus bangsa yang berbudaya dan beretika. Ironisnya, kenyataan di lapangan – paradoks –dengan tujuan pendidikan nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, disebutkan “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah pendidikan seperti ini, mungkin tidak akan pernah jelita sepanjang guru itu sendiri tidak dibekali kemampuan sastra. Setidaknya, mengadakan seminar ataupun mengadakan bengkel sastra yang direkomendasikan dinas pendidikan ke sekolah-sekolah, kemudian mengundang sastrawan-sastrawan untuk memberikan pengarahan sastra kepada guru-guru sebagai bekal di kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan seperti itu merupakan langkah yang lebih baik dan aplikatif. Ketimbang berretorika setiap rapat-rapat ataupun berapriori dalam ritus pendidikan selama ini, yang mengharapkan pembelajaran sastra di sekolah berkembang dan maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, guru sekolah dasar kurang diberdayakan dalam pengembangan sastra di sekolah. Intensitas pengadaan seminar yang minim diikuti oleh guru, juga merupakan alasan guru sekolah dasar gagap terhadap pengajaran sastra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan perkara mudah, tugas yang diemban guru sekolah dasar, apalagi mengembangkan sastra yang seharusnya dipegang oleh guru ahli bahasa dan sastra. Ini menjadi tugas dinas pendidikan untuk memikirkan solusi yang tepat, dalam kaitan pengembangan sastra di sekolah dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pihak-pihak terkait sadar akan pentingnnya perkembangan sastra di sekolah dasar, mungkin para kritisi sastra tidak lagi mengkambing hitamkan dunia pendidikan, khususnya kepada guru sekolah dasar atas ”kegagalan sastra” selama ini. Betul, sudah seharusnya perkembangan sastra di sekolah dasar merupakan tanggung jawab bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan mencari-cari kesalahan yang tidak sepatutnya disematkan kepada guru. Harus dipikirkan oleh kita semua, baik pemerintah, guru dan sastrawan di negeri ini. Jangan hanya menyalahkan salah satu pihak, agar perkembangannya itu sendiri selaras sesuai dengan tumbuh-kembang generasi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pembagian tugas guru di sekolah dasar harus dikelola oleh pihak-pihak terkait dengan baik, agar tugas mengajar guru tidak tumpang tindih dengan administrasi yang pada kenyataannya mengganggu proses belajar-mengajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya, mengangkat tenaga kerja seluas-luasnya untuk dijadikan pegawai negeri sipil disetiap sekolah dasar, yang barang tentu harus sesuai dengan kompetensi dan bidangnya masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar fungsi guru sekolah dasar di kelas, tidak bekerja ke sana ke mari atau harus mempersiapkan berbagai macam persiapan yang bukan kompetensinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, menggalakan program guru bidang di sekolah dasar, yang harus segera direalisasikan. Bagaimana tidak, satu kelas yang dikelola oleh satu orang guru, merupakan pekerjaan yang sangat muskil menghasilkan murid berkualitas, terutama dalam pembelajaran sastra. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : http://www.tribunnews.com/2010/09/01/dilema-guru-mengembangkan-sastra-di-sekolah-dasar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-3983710620921893988?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/3983710620921893988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=3983710620921893988' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/3983710620921893988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/3983710620921893988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/11/dilema-guru-untuk-mengembangkan-sastra.html' title='Dilema Guru untuk Mengembangkan Sastra di Sekolah Dasar'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-5830933488044569499</id><published>2010-11-25T22:56:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T23:06:15.469-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Banjar'/><title type='text'>Surat Wasiat Sultan Adam untuk Pangeran Hidayatullah</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;Terjemahan Surat Wasiat Sultan Adam untuk Pangeran Hidayatullah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Bismillahirrahmannirrohim&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Asyhadualla ilaha ilalloh naik saksi aku tiada Tuhan lain yang di sembah dengan se-benar2nya hanya Allah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Wa asyhaduanna Muhammadarasululloh naik saksi aku Nabi Muhammad itu se-benar2nya pesuruh Allah Ta’ala&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Dan kemudian dari pada itu aku menyaksikan kepada dua orang baik2 yang memegang hukum agama Islam yang pertama Mufti Haji Jamaludin yang kedua pengulu Haji Mahmut serta aku adalah didalam tetap ibadahku dan sempurna ingatanku. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Maka adalah aku memberi kepada cucuku Andarun bernama Pangeran Hidayatullah suatu desa namanya Riyam Kanan maka adalah perwatasan tersebut dibawah ini ;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Mulai di Muha Bincau terus di Teluk Sanggar dan Pamandian Walanda dan Jawa dan terus di Gunung Rungging terus di Gunung Kupang terus di Gunung Rundan dan terus di Kepalamandin dan Padang Basar terus di Pasiraman Gunung Pamaton terus di Gunung Damar terus di Junggur dari Junggur terus di Kala’an terus di Gunung Hakung dari Hakung terus di Gunung Baratus, itulah perwatasan yang didarat.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Adapun perwatasan yang di pinggir sungai besar maka adalah yang tersebut dibawah ini;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Mulai di Teluk Simarak terus diseberang Pakan Jati terus seberang Lok Tunggul terus Seberang Danau Salak naik kedaratnya Batu Tiris terus Abirau terus di Padang Kancur dan Mandiwarah menyebelah Gunung Tunggul Buta terus kepada pahalatan Riyam Kanan dan Riyam Kiwa dan Pahalatan Riyam Kanan  dengan tamunih yaitu Kusan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Kemudian aku memberi Keris namanya Abu Gagang kepada cucuku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Kemudian lagi aku memberi pula suatu desa namanya Margasari dan Muhara Marampiyau dan terus di Pabaungan kaulunya Muhara Papandayan terus kepada desa Batang Kulur dan desa Balimau dan desa Rantau dan desa Banua Padang terus kaulunya Banua Tapin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Demikianlah yang berikan kepada cucuku adanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Syahdan maka adalah pemberianku yang tersebut didalam ini surat kepada cucuku andarun Hidayatullah hingga turun temurun anak cucunya cucuku andarun Hidayatullah serta barang siapa ada yang maharu biru maka yaitu aku tiada ridho dunia akhirat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Kemudian aku memberi tahu kepada sekalian anak cucuku dan sekalian Raja-raja yang lain dan sekalian hamba rakyatku semuanya mesti me-Rajakan kepada cucuku andarun Hidayatullah ini buat ganti anakku Abdur Rahman adanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 8pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tertulis kepada hari Isnain tanggal 12 bulan Shofar 1259&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;sumber : http://kerajaanbanjar.wordpress.com&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-5830933488044569499?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/5830933488044569499/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=5830933488044569499' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/5830933488044569499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/5830933488044569499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/11/surat-wasiat-sultan-adam-untuk-pangeran.html' title='Surat Wasiat Sultan Adam untuk Pangeran Hidayatullah'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-1190143577717901104</id><published>2010-11-20T04:21:00.000-08:00</published><updated>2010-11-30T07:12:29.899-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel sastra anak'/><title type='text'>Hakikat Sastra Anak</title><content type='html'>&lt;div class="content"&gt;oleh wahidin (http://makalahkumakalahmu.wordpress.com)&lt;br /&gt;Disekolah Dasar, Pembelajaran Sastra dimaksudkan Untuk meningkatkan kemampuan siswa mengapresiasikan karya sastra. Menurut Huck (1987 : 630-623) bahwa pembelajaran sastra di SD harus memberi pengalaman pada siswa yang akan berkontribusi pada 4 tujuan, yakni :&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt; &lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0pt; margin-top: 0.19in;"&gt;Pencarian kesenangan Pada buku&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0pt;"&gt;Menginterprestasikan  bacaan sastra&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0pt;"&gt;Mengembangkan  kesadaran bersastra&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in;"&gt;Mengembangkan  apresiasi&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div align="justify" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Pembelajaran sastra di SD adalah Pembelajaran sastra anak. Sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak, yaitu anak yang berusia antara 6-13 tahun. Sifat sastra anak adalah imajinasi semata, bukan berdasarkan pada fakta. Unsur imajinasi ini sangat menonjol dalam sastra anak. Hakikat sastra anak harus sesuai dengan dunia dan alam kehidupan anak-anak yang khas milik mereka dan bukan milik orang dewasa. Sastra anak bertumpu dan bermula pada penyajian nilai dan imbauan tertentu yang dianggap sebagai pedoman tingkah laku dalam kehidupan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="margin-bottom: 0.19in; margin-top: 0.19in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Jenis sastra anak meliputi prosa, puisi, dan drama. Jenis prosa dan puisi dalam sastra anak sangat menonjol. Berdasarkan kehadiran tokoh utamanya, sastra anak dapat dibedakan atas tiga hal, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="margin-bottom: 0.19in; margin-top: 0.19in;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;(1) sastra anak yang mengetengahkan tokoh utama benda mati,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-top: 0.19in;"&gt;(2) sastra anak yang mengetengahkan tokoh utamanya makhluk hidup selain manusia,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-top: 0.19in;"&gt;(3) sastra anak yang menghadirkan tokoh utama yang berasal dari manusia itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-top: 0.19in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span id="more-683"&gt;&lt;/span&gt;Seperti pada jenis karya sastra umumnya, sastra anak juga berfungsi sebagai media pendidikan dan hiburan, membentuk kepribadian anak, serta menuntun kecerdasan emosi anak. Pendidikan dalam sastra anak memuat amanat tentang moral, pembentukan kepribadian anak, mengembangkan imajinasi dan kreativitas, serta memberi pengetahuan keterampilan praktis bagi anak. Fungsi hiburan dalam sastra anak dapat membuat anak merasa bahagia atau senang membaca, senang dan gembira mendengarkan cerita ketika dibacakan atau dideklamasikan, dan mendapatkan kenikmatan atau kepuasan batin sehingga menuntun kecerdasan emosinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-top: 0.19in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-top: 0.19in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-top: 0.19in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0.19in; margin-top: 0.19in;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kegiatan Belajar 2&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apresiasi Sastra Anak&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt; &lt;div align="justify" style="margin-bottom: 0.19in; margin-top: 0.19in;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Apresiasi berarti :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(a) kesadaran terhadap nilai-nilai seni dan budaya;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(b) penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu; dan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(c) kenaikan nilai barang karena harga pasarnya naik atau permintaan akan barang itu bertambah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in; text-indent: 0.25in;"&gt;Sehubungan dengan materi pembelajaran sastra anak ini, pengertian apresiasi yang kita maksudkan di sini adalah pengertian pertama dan kedua, yaitu (a) kesadaran kita terhadap nilai-nilai seni dan budaya (sastra anak), dan (b) penilaian atau penghargaan kita terhadap sesuatu (sastra anak).&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt; &lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-top: 0.19in;"&gt;Ada tiga batasan apresiasi sastra anak, yaitu&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(a) Apresiasi sastra anak adalah penghargaan (terhadap karya sastra anak) yang didasarkan pada pemahaman;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(b) Apresiasi sastra anak adalah penghargaan atas karya sastra anak sebagai hasil pengenalan, pemahaman, penafsiran, penghayatan, dan penikmatan yang didukung oleh kepekaan batin terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra anak; dan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(c) Apresiasi sastra anak adalah kegiatan menggauli cipta sastra anak dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra anak.&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt; &lt;div align="justify" style="margin-bottom: 0.19in; margin-top: 0.19in;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dalam melaksanakan apresiasi sastra anak itu kita  dapat melakukan beberapa kegiatan, antara lain :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(a) kegiatan apresiasi langsung, yaitu membaca sastra anak, mendengar sastra anak ketika dibacakan atau dideklamasikan, dan menonton pertunjukan sastra anak dipentaskan;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(b) kegiatan apresiasi tidak langsung, yaitu mempelajari teiri sastra, mempelajari kritik dan esai sastra, dan mempelajari sejarah sastra;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(c) pendokumentasian sastra anak, dan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(d) melatih kegiatan kreatif mencipta sastra atau rekreatif dengan mengungkapkan kembali karya sastra yang dibaca, didengar atau ditontonnya.&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt; &lt;div align="justify" style="margin-bottom: 0.19in; margin-top: 0.19in;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Ada tiga tingkatan atau langkah dalam apresiasi  sastra anak, yaitu : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(a) seseorang mengalami pengalaman yang ada dalam cipta sastra anak, ia terlibat secara emosional, intelektual, dan imajinatif;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(b) setelah mengalami hal seperti itu, kemudian daya intelektual seseorang itu bekerja lebih giat menjelajahi medan makna karya sastra yang diapresiasinya; dan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(c) seseorang itu menyadari hubungan sastra dengan dunia di luarnya sehingga pemahaman dan penikmatannya dapat dilakukan lebih luas dan mendalam.&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt; &lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-top: 0.19in;"&gt;Setidaknya terdapat lima manfaat bagi kehidupan ketika mengapresiasi  sastra anak, yaitu&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(a) manfaat estetis,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(b) manfaat pendidikan,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(c) manfaat kepekaan batin atau sosial,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(d) manfaat menambah wawasan, dan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(e) manfaat pengembangan kejiwaan atau kepribadian.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0.19in; margin-top: 0.19in;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kegiatan Belajar 3&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pembelajaran Apresiasi Sastra Anak&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt; &lt;div align="justify" style="margin-bottom: 0.19in; margin-top: 0.19in;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Pembelajaran apresiasi sastra anak di sekolah  dasar meliputi tiga tahapan yang harus dilalui seorang guru, yaitu : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(a) persiapan pembelajaran,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(b) pelaksanaan pembelajaran, dan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(c) evaluasi pembelajaran.&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt; &lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-top: 0.19in;"&gt;Tahap persiapan pembelajaran apresiasi sastra anak di sekolah dasar  bagi seorang guru dapat menyangkut dengan dirinya, yaitu&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(a) persiapan fisik, dan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(b) persiapan mental.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;Fisik seorang guru harus sehat jasmaninya, tidak sakit-sakitan. Mentalnya pun harus sehat jiwanya, tidak sakit ingatan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sementara itu, hal-hal teknis yang perlu dipersiapkan adalah: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(a) memilih bahan ajar,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(b) menentukan metode pembelajaran, dan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(c) menuliskan persiapan mengajar harian.&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt; &lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0pt; margin-top: 0.19in;"&gt;Bahan ajar harus sesuai dengan anak didik sehingga pertimbangan usia anak didik menjadi pilihan utama. Keberagaman tema, keberagaman pengarang, dan bobot atau mutu karya sastra yang akan dijadikan bahan ajar juga menjadi pertimbangan yang matang. Menentukan metode harus disesuaikan dengan kemampuan guru dan kebutuhan serta kesesuaian dengan keadaan siswa. Menuliskan persiapan mengajar harian merupakan salah satu bentuk keprofesionalan seorang guru. Penulisan PMH itu juga menunjukkan bahwa guru siap secara lahir batin hendak menyampaikan pembelajaran apresiasi sastra anak di sekolah dasar.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;div align="justify" style="margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra anak di sekolah dasar dapat dimulai dari kegiatan pra-KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) hingga KBM di kelas. Kegiatan pra-KBM dapat dilakukan dengan memberi salinan atau kopi teks sastra, diberi tugas membaca, menghafalkan, meringkas atau mencatat dan menemukan arti kata-kata sukar yang terdapat dalam teks sastra. KBM di kelas dapat dilakukan dengan memberi tugas membaca sajak, membaca cerita, berdeklamasi atau mendongeng di depan kelas, Setelah itu baru diadakan tanya jawab, menuliskan pendapat, dan berdiskusi bersama merumuskan isi, tema, dan amanat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;div align="justify" style="margin-bottom: 0.19in;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Evaluasi  pembelajaran apresiasi sastra itu hendaknya mengandung tiga komponen  dasar evaluasi, yaitu : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(a) kognisi,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(b) afeksi, dan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(c) keterampilan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Pada umumnya dikenal dua bentuk penilaian, yaitu : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(a) penilaian prosedur, yang meliputi penilaian proses belajar dan penilaian hasil belajar, dan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="id-ID" style="margin-bottom: 0.19in; margin-left: 0.25in; margin-top: 0.19in;"&gt;(b) instrumen atau alat penilaian, yang meliputi tanya jawab, penugasan, esai tes dan pilihan ganda.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-1190143577717901104?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/1190143577717901104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=1190143577717901104' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/1190143577717901104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/1190143577717901104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/11/hakikat-sastra-anak.html' title='Hakikat Sastra Anak'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-3255987878333224180</id><published>2010-11-13T14:45:00.000-08:00</published><updated>2010-11-30T07:13:49.673-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel kebahasaan'/><title type='text'>Membaca Bahasa dan Membaca Indah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Oleh Esther Kartika&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Membaca Bahasa&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Membaca memindai, dalam kurikulum 2004, dapat digolong dalam membaca bahasa.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Tujuan yang hendak dicapai dengan membaca bahasa ialah untuk menambah keterampilan siswa dalam menggunakan makna bahasa, makna kalimat/kata yang digunakan dalam konteks kalimat tertentu, penggunaan suatu kata dalam konteks yang berbeda-beda, ketepatan penggunaan imbuhan, tanda baca, dan susunan kata/kalimat. Membaca bahasa sudah dapat diajarkan kepada siswa kelas III sekolah dasar, sebab pada tahap ini siswa sudah mulai lancar membaca.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Mula-mula bahan yang dibaca adalah bacaan yang pernah diajarkan kepada siswa, kelas IV, V, dan VI&amp;nbsp; guru perlu mencari bacaan lain yang belum pernah diajarkan.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Dalam kegiatan membaca bahasa, guru perlu menanyakan&amp;nbsp; :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;arti kata yang digunakan dalam      pelajaran dan penggunaan kata tersebut dalam kalimat lain;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;tepat atau tidaknya pemakaian kata      dalam situasi yang digambarkan dalam suatu pelajaran;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;penggunaan awalan, akhiran, dan      sisipan;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;penggunaan tanda baca seperti koma,      tanda seru, tanda tanya, titik dua, dan sebagainya.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Penyusunan kata/kalimat baru yang      lain&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dalam pelaksanaan membaca bahasa, dilakukan langkah-langkah berikut :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Para siswa diberi kesempatan membaca      dalam hati&amp;nbsp; ±&amp;nbsp; 5&amp;nbsp;      menit.Kesempatan ini boleh diberikan lebih dari satu kali.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Guru bertanya tentang kata, ungkapan,      atau kalimat yang dianggap baru oleh siswa. Sebenarnya langkah ini hanya      untuk mencocokkan apakah hal yang dianggap baru oleh siswa dan hal yang      diperkirakan baru oleh guru itu sama.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pembahasan kata, ungkapan atau      struktur kalimat disesuaikan dengan indikator yang akan dicapai.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Latihan-latihan bahasa dikaitkan      dengan hal yang dibahas. Latihan ini dapat berupa penggunaan kata atau      ungkapan dalam kalimat, &amp;nbsp;berupa      latihan membuat kalimat dengan struktur baru menggunakan kata yang dibahas      tersebut.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Membaca Indah (Estetis)&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pokok masalah dalam membaca indah ialah cara membaca yang menggambarkan penghayatan keindahan dan keharuan yang terdapat pada bacaan. Dengan membaca indah siswa digugah rasa estetiknya, untuk terus diasah. Dalam kurikulum 2004 membaca indah dikaitkan dengan apresiasi sastra. Di Sekolah Dasar biasanya membaca indah bersuara, misalnya membaca puisi.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Langkah-langkah yang dilakukan dalam membaca indah.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;a. Diberi tugas membaca dalam hati suatu bacaan; untuk dapat memahami isi bacaan dan siswa menghayati isi bacaan dan memiliki persiapan pengungkapan diri pada waktu membaca bersuara.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;b. Pertanyaan ringan diajukan untuk mengetahui atau menyeragamkan pemahaman siswa terhadap bacaan yang disajikan.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;c. Bersama siswa dibahas kesukaran bahasa yang ada agar tidak mengganggu pemahaman.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;d. Guru memberikan contoh membaca yang baik, siswa ditugaskan menandai bacaan/ wacana yang perlu dibaca dengan suara lemah, kuat, atau cepat dan lambat.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;e. Siswa diberi kesempatan untuk membaca bacaan tersebut dengan ekspresi yang tepat.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" type="a"&gt;&amp;nbsp;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-3255987878333224180?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/3255987878333224180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=3255987878333224180' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/3255987878333224180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/3255987878333224180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/11/membaca-bahasa.html' title='Membaca Bahasa dan Membaca Indah'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-8335995176283293253</id><published>2010-11-13T14:38:00.000-08:00</published><updated>2010-11-30T07:15:07.123-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel kebahasaan'/><title type='text'>Membaca Cepat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Oleh : Esther Kartika&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Dalam kurikulum 2004 tertulis membaca intensif, membaca sekilas, dan membaca ekstensif. Semuanya itu dapat masuk ke dalam jenis membaca cepat. Tujuan yang hendak dicapai melalui membaca cepat ialah melatih kecepatan gerakan mata para siswa pada saat membaca. Membaca cepat perlu diajarkan kepada para siswa, karena pada saatnya kelak siswa harus dapat membaca suatu pengumuman, pemberitahuan, berita, dan tulisan-tulisan lain dalam waktu yang cepat.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Dalam kehidupan sehari-hari membaca cepat sangat dibutuhkan karena pada abad informasi ini kita dihadapkan pada berbagai sumber informasi yang sangat banyak jumlahnya dan tentunya kita tidak ingin tertinggal informasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Pada tahap permulaan mengenalkan membaca cepat kepada siswa kelas III dan&amp;nbsp; IV&amp;nbsp; sekolah dasar, bahan bacaan hendaknya yang pernah dibaca siswa supaya tidak terhambat oleh istilah yang belum dikenal. Pada kelas ini para siswa sudah mampu membaca dengan baik dan lancar.&amp;nbsp; Sedangkan pada kelas V dan VI dapat dilakukan 3 (tiga) kali dalam sebulan karena mustahil seseorang dapat membaca cepat tanpa latihan yang intensif dan berkesinambungan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Langkah-langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan membaca cepat adalah&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;sebagai berikut:&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Untuk&amp;nbsp; menghindari&amp;nbsp; pemusatan&amp;nbsp; perhatian&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; melangkah&amp;nbsp;&amp;nbsp; mundur (mengulang bagian yang sudah dibaca sebelumnya), guru membicarakan bagian yang diperkirakan sulit.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Siswa diberi kesempatan membaca suatu bacaan dengan cepat dalam waktu telah ditentukan dengan aba-aba guru pada&amp;nbsp; waktu memulai dan mengakhirinya. Kemudian memberikan siswa batas mengenai bahan yang sudah dibaca dan menghitung jumlah kata yang telah dibacanya.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Siswa diberi tugas menyebutkan/menuliskan bagian bacaan yang penting, mungkin berupa kata kunci, kalimat, atau paragraf.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pada bagian akhir membaca cepat, guru memberikan tes untuk mengetahui sejauh mana siswa dapat menangkap isi bacaan yang telah dibacanya.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kalau seorang siswa dapat membaca cepat namun tidak memahami isi&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;bacaan tersebut, maka tujuan membaca cepat tidak tercapai.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Catatan :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;- Untuk mengetahui kecepatan rata-rata membaca siswa hitunglah dengan&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;rumus:&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp; J&lt;u&gt;umlah kata yang dibaca x 60&lt;/u&gt; =&amp;nbsp;&amp;nbsp; kata / menit&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp; Jumlah detik waktu membaca&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;- Untuk menghitung kecepatan efektif :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;u&gt;Jumlah kata yang dibaca x % pemahaman isi bacaan&lt;/u&gt; = kata/menit&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Waktu tempuh baca&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;ontoh :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Siswa yang berhasil membaca&amp;nbsp; ±&amp;nbsp; 600 kata dalam&amp;nbsp; tempo 2 menit&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; berhasil menjawab 3 buah&amp;nbsp; pertanyaan bacaan dengan benar dari 5 soal yang tersedia,artinya kecepatan efektif siswa tersebut = 300 kata x 60% = 180 kata permenit&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Sumber : &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Jurnal Pendidikan Penabur - No.03 / Th.III / Desember 2004&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt; &lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-8335995176283293253?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/8335995176283293253/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=8335995176283293253' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/8335995176283293253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/8335995176283293253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/11/membaca-cepat.html' title='Membaca Cepat'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-5729673120386929158</id><published>2010-11-13T14:29:00.000-08:00</published><updated>2010-11-30T07:16:08.736-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel kebahasaan'/><title type='text'>Membaca dalam Hati</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;oleh&amp;nbsp; Esther Kartika&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Membaca dalam hati ialah cara atau teknik membaca tanpa suara. Jenis membaca ini perlu lebih ditekankan kepada pemahaman isi bacaan. Dalam kurikulum 2004 tertera membaca sekilas, membaca memindai, membaca intensif, dan membaca ekstensif. Membaca jenis ini dapat digolongkan ke dalam membaca dalam hati. Membaca dalam hati berbeda dengan membaca teknis.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Membaca dalam hati lebih banyak menggunakan kecepatan gerak mata, sedangkan membaca teknis lebih banyak menggunakan gerakan mulut. Mengingat gerakan mata lebih cepat menanggapi apa yang dibaca, maka membaca dalam hati lebih cepat prosesnya daripada membaca teknis.&amp;nbsp; Karena itu dalam kehidupan sehari-hari kita lebih banyak menggunakan membaca dalam hati dalam kegiatan membaca / wacana apapun. Jangan biarkan siswa membaca menggunakan ujung jari atau mulut yang berkomat Ò kamit, karena kegiatan ini akan menghambat kecepatan siswa dalam membaca.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Membaca dalam hati dapat diperkenalkan sejak siswa berada di kelas II sekolah dasar, tapi secara intensif diberikan pada siswa kelas III dengan tujuan membaca dalam hati ialah melatih kemampuan siswa dalam memahami isi wacana /bacaan. Membaca dalam hati cocok untuk keperluan studi dan menambah ilmu pengetahuan / informasi. Setelah siswa membaca diberi tugas untuk menjawab pertanyaan, bacaan ditutup. Pertanyaan yang diberikan berupa pertanyaan ingatan dan pertanyaan pikiran. Guru hendaknya tidak hanya memberi pertanyaan ingatan, atau sebaliknya hanya memberi pertanyaan pikiran saja. Pertanyaan&amp;nbsp; ingatan menanyakan tentang isi bacaan, sedangkan pertanyaan pikiran untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami /menanggapi seluruh isi bacaan.&amp;nbsp; Pada saat awal siswa dikenalkan dengan membaca dalam hati, pertanyaan yang diberikan berupa pertanyaan ingatan. pertanyaan pikiran harus mendapat perhatian guru, sebab dengan cara ini akan lebih mendorong siswa untuk giat membaca. Langkah-langkah yang dilakukan dalam melaksanakan membaca dalam hati adalah sebagai berikut:&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Guru menerangkan kata-kata yang      diperkirakan sulit atau baru bagi siswa. Sebagai variasi dan&amp;nbsp; menghindarkan ketergantungan siswa      terhadap penjelasan guru, dapat ditempuh dengan jalan memberikan daftar      kata-kata sulit atau kata-kata baru dan siswa dilatih mempergunakan kamus      untuk mencari kata- kata tersebut.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Guru memberi waktu&amp;nbsp; ± 15&amp;nbsp;      menit&amp;nbsp; untuk membaca dalam      hati suatu bacaan yang disajikan, sebaiknya bacaan yang berisi masalah      baru. Waktu yang disediakan tergantung pada panjang pendeknya bacaan      tersebut.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Setelah waktu yang ditentukan habis,      siswa disuruh untuk menutup bacaan yang sudah dibaca, untuk menghindarkan      siswa&amp;nbsp; membaca kembali bacaan tersebut      pada waktu ia menjawab pertanyaan&amp;nbsp;      bacaan.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Guru memberikan pertanyaan mengenai      bacaan, baik pertanyaan ingatan maupun pertanyaan pikiran. Jawaban&amp;nbsp; dapat disampaikan secara lisan untuk      melatih keberanian siswa berbicara. Dapat pula secara tertulis untuk      melatih kecermatan siswa dalam menulis.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Dalam praktek sehari-hari setelah      langkah-langkah di atas dilakukan, biasanya dilanjutkan dengan membaca      teknis atau membaca bahasa.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Catatan :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Merupakan cacat membaca dalam hati bila :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;1. membaca dengan suara berbisik / bergumam.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;2. bibir bergerak-gerak (komat-kamit)&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;3. kepala bergerak ke kiri dan kanan mengikuti baris-baris bacaan, atau&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;4. menunjuk dengan jari, pensil, dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;sumber : Jurnal Pendidikan Penabur - No.03 / Th.III / Desember 2004&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-5729673120386929158?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/5729673120386929158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=5729673120386929158' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/5729673120386929158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/5729673120386929158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/11/oleh-esther-kartika-membaca-dalam-hati.html' title='Membaca dalam Hati'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-2843921360057400424</id><published>2010-11-13T14:20:00.000-08:00</published><updated>2010-11-30T07:17:16.633-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel kebahasaan'/><title type='text'>Membaca Bersuara</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;oleh : Esther Kartika (kepala SDK 4 BPK Penambur Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kurikulum 2004 tertera membaca teks bersuara, teks agak pendek, teks agakp anjang, atau teks panjang (dilihat dari kompetensi yang ingin dicapai).&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Membaca teknis bertujuan untuk menambah kelancaran siswa mengubah &lt;span lang="PT"&gt;lambang-lambang tertulis menjadi suara atau ucapan yang mengandung makna.Membaca teknis menekankan pada segi Ïmenyuarakan&amp;nbsp; yang dibaca Ï.&amp;nbsp;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Pada tahap ini guru harus hati-hati dan mengawasi bagaimana menyuarakan lambang tertulis itu. Membaca teknis masih merupakan bagian terbesar dari kegiatan membaca di kelas I dan II&amp;nbsp;&amp;nbsp; sekolah dasar. Kegiatan membaca teknis makin menurun frekuensinya pada kelas tinggi sekolah dasar dan kegiatan membaca ini lebih ditujukan untuk memelihara dan melatih kemampuan membaca.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;Contoh membaca teknis ialah orang membacakan berita di televisi atau radio, membacakan puisi atau membacakan dongeng. Semua itu membutuhkan teknik membaca.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Dalam membaca teknis yang perlu diperhatikan adalah pelafalan vokal maupun konsonan, nada/lagu ucapan, penguasaan tanda-tanda baca, pengelompokan kata/frase ke dalam satuan-satuan ide, kecepatan mata, dan&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;ekspresi.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Langkah-langkah&amp;nbsp; yang ditempuh dalam pelaksanaan membaca teknis adalah&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;sebagai berikut:&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;a. Siswa diberi waktu&amp;nbsp; ±&amp;nbsp; 5 menit untuk membaca bacaan yang disajikan dengan caranya sendiri. Tujuan kegiatan ini agar siswa mempunyai gambaran umum tentang bacaan yang akan dibaca, siswa juga dapat mempersiapkan cara mengucapkan kata-kata tertentu atau menentukan pemenggalan kalimat.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;b. Siswa diberi kesempatan menanyakan kata-kata yang dianggap baru atau sulit, yang belum diketahui maknanya supaya siswa terbantu dalam menghayati maksud bacaan.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ada dua kemungkinan jika siswa tidak mengerti arti/makna kata&amp;nbsp; :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;1. belum mengenal kata-kata yang dimaksud.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;2. tidak mengenal konsep/makna sebuah kata.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Jika siswa tidak mengenal/tidak mengerti kata-kata yang dimaksud, guru menjelaskan dengan mengganti kata lain yang sama artinya. Tetapi jika disebabkan oleh kemungkinan yang kedua, guru diharapkan menunjukkan&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;benda, gambar, atau memperagakan dengan perbuatan.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;c. Melakukan tanya jawab dan guru menjelaskan struktur kalimat yang dianggap baru atau sulit, termasuk cara memenggal dan mengucapkan kalimat.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;d. Guru memberikan contoh membaca yang baik dengan menonjolkan lafal kata, pemenggalan, lagu kalimat dan ekspresi. Contoh ini dapat pula dilaksanakan dengan jalan menunjuk dua atau tiga orang siswa yang dianggap cakap dalam membaca. Guru hendaknya memberikan penjelasan&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;tentang&amp;nbsp; :&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;1. perkataan mana&amp;nbsp; yang penting dan harus dibaca dengan tekanan.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;2. berhenti dan bernafas pada tempatnya.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;3. tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="PT"&gt;e. Mengadakan tanya jawab ringan tentang isi wacana, berurutan dari paragraf pertama sampai dengan terakhir. Cara ini bermanfaat untuk menolong siswa dalam menghayati maksud wacana yang disajikan, sebelum siswa mendapat giliran membaca.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;f. Setelah itu guru memberikan giliran membaca kepada beberapa siswa, sambil memperbaiki kesalahan yang dilakukan siswa.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Pelajaran membaca teknis&amp;nbsp; merupakan bagian dari pelajaran bahasa Indonesia dalam keterampilan membaca, karena itu tidak dibenarkan menggunakan satu pertemuan hanya untuk membaca teknis. Untuk mengindari kebosanan setelah memberikan giliran kepada sekitar 5 atau 6 orang siswa, di lanjutkan dengan keterampilan bahasa yang lain, misalnya keterampilan berbicara atau keterampilan menulis, dengan menuliskan kesimpulan bacaan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; color: yellow; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;sumber : Jurnal Pendidikan Penabur - No.03 / Th.III / Desember 2004 hal 116-118&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-2843921360057400424?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/2843921360057400424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=2843921360057400424' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/2843921360057400424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/2843921360057400424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/11/membaca-bersuara.html' title='Membaca Bersuara'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-8771379855771691167</id><published>2010-11-06T19:54:00.000-07:00</published><updated>2010-11-30T07:18:14.535-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Banjar'/><title type='text'>Fungsi sosial cerita rakyat "Nisan Berlumur Darah"</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;oleh : M. Jazuli Rahman, S.Pd&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Cerita rakyat “Nisan Berlumur Darah” tidak hanya milik masyarakat Martapura, tetapi sudh menjadi milik masyarakat Kalimantan Selatan. Cerita ini berkembang mulut ke mulut dari masa kemasa sesuai dengan perkembangan jaman. Dahulu sering dilakukan penampilan drama tradisional yang menceritakan cerita ini. &amp;nbsp;Terakhir pada tahun 1980-an TVRI Banjarmasin pernah membuat dan menayangkan film tentang cerita rakyat ini. Selain sebagai cerita hiburan di warung-warung dan keluarga dalam bentuk lisan, drama dan film. Cerita ini juga berfungsi sebagai bahan pelajaran muatan local di sekolah dasar khususnya di daerah Martapura.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebagian masyarakat Martapura percaya cerita ini benar-benar terjadi, sehingga menjadi legenda yang berkembang. Melegenda cerita tersebut menimbulkan sedikit mitos di masyarakat. Beberapa mitos yang berkembang seperti yang diceritakan H. Syahran yaitu haur kuning yang tumbuh di kuburan Mashor. Ada masyarakat yang percaya jika menemukan kuburan Mashor dan mengambil &lt;i&gt;haur&lt;/i&gt;nya untuk digunakan sebagai pemikat wanita. Tetapi masyarakat kesulitan menemukan kuburan Mashor yang mereka percayai. walaupun letaknya dipastikan di Tungkaran, tetapi tidak dapat ditemukan kecuali dengan menggunakan pawang. Menurut cerita yang mereka dapat kuburan Mashor telah diganti nisannya menjadi tanpa nama dan disamakan seluruhnya dengan kuburun lainnya. Hal ini disebabkan oleh banyaknya masyarakat yang mengambil sedikit demi sedikit nisan Mashor untuk dijadikan jimat pemikat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Cerita ini juga mendapat tanggapan yang berbeda di masyarakat. Baik respon positif atau negative. Ada sebagian masyarakat yang menyambut negative cerita ini. Seperti yang diungkapkan penduduk Kampung Keramat , cerita ini pernah ditentang oleh masyarakat yang merasa terpojokkan&amp;nbsp; adanya permasalahan dan konflik yang ada dalam cerita tersebut. Bahkan menurut mereka penampilan drama yang mengangkat cerita tersebut dilarang tampil lagi., karena ada hal-hal yang bertentangan dengan adat dan budaya mereka.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Respon positif dari masyarakat dapat dilihat dengan kesadaran masyarakat mengambil nilai-nilai yang ada dalam cerita, dan menjadikannya norma di masyarakat. Misalnya nilai kepatuhan dan ketaatan kepada orang tua. Atau menyadarkan orang tua agar bersikap&amp;nbsp; demokratif kepada anaknya sehingga terjadi keselarasan kehendak antara orang tua dan anak. Selain itu nilai yang dapat diambil yaitu kesamaan hak dan kedudukan. Menurut mereka perkawinan yang hanya didasari kedudukan dan kekayaan tidak akan bahagia. Kebahagian didapat hanya dengan cinta, tanpa memandang harkat, derajat dan martabat seseorang. Siapapun orangnya biar mereka miskin atau kaya, terhormat atau tidak terhormat, majikan atau pembantu mereka berhak menyatukannya dalam bentuk perkawinan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Memang masih ada sebagian masyarakat bangsawan yang memegang adat mereka. Perkawinan dan perjodohan hanya dilakukan sesama kerabat atau keturunan masih berlaku. Hal ini atas dasar tertentu, terutama sekali untuk menjaga harta kekayaan. Tetapi ada beberapa dari mereka yang sudah meninggalkannya dengan menikah dengan orang di luar lingkungan sosialnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Latar belakang masa lalu berupa stratafikasi social yang sudah ada sejak zaman kesultanan &lt;i&gt;Tutus&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;jaba. &lt;/i&gt;Setelah kesultanan tidak berkuasa lagi, budaya ini diteruskan oleh kaum bangsawan yaitu para pedagang besar yang mempunyai kehormatan dan kedudukan yang tinggi. Mereka membatasi perkara perkawinan anak-anak dengan mengutamakan perjodohan terhadap sesama keturunan dan kerabat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Gambaran social seperti itulah yang tergambar dalam cerita Nisan Berlumur Darah. Misalnya keluarga Fatimah dan H. Muhdar merupaan seorang pedagang besar yang mempunyai hubungan dagang sampai ke Singapura. Fakta &amp;nbsp;yang sama pada sejarah di Martapura banyak para pedagang besar dahulu berdagang keluar negeri seperti Malaysia, Singapura, Pakistan dan daerah lainnya. Selain itu dalam cerita terdapat budaya perjodohan dan perkawinan terhadap sesame keturunan dan kerabat, permasalahan yangs sama juga terjadi pada social budaya masyarakat pada jaman pedagang besar di Martapura.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jadi &amp;nbsp;cerita &lt;i&gt;Nisan Berlumur Darah&lt;/i&gt; berfungsi sebagai &lt;b&gt;&lt;i&gt;cerminan masyarakat&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;,dimana masyarakat pada waktu itu, bahkan sampai&amp;nbsp; sekarang memiliki konflik social budaya berupa masalah kedudukan social, perjodohan dan perkawinan. Permasalahan di atas merupakan pusat pesan nilai dalam cerita ini. Selain itu cerita ini juga berfungsi sebagai &lt;b&gt;&lt;i&gt;protes sosial&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; atau pertentangan antara kaum muda dan kaum tua dalam masyarakat mengenai budaya perjodohan sehingga menimbulkan kawin paksa.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-8771379855771691167?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2009/04/cerita-rakyat-martapura-kabupaten.html' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/8771379855771691167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=8771379855771691167' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/8771379855771691167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/8771379855771691167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/11/fungsi-sosial-cerita-rakyat-nisan.html' title='Fungsi sosial cerita rakyat &quot;Nisan Berlumur Darah&quot;'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-374944815178779453</id><published>2010-11-06T07:54:00.000-07:00</published><updated>2010-11-30T07:19:43.380-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel kebahasaan'/><title type='text'>Membaca Sekilas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Membaca sekilas adalah suatu tipe membaca dangan cara meliputi atau menjelajah bahan bacaan secara cepat agar dapat memetik ide-ide utama. (Tarigan, 1994 : 30).&amp;nbsp; Membaca&amp;nbsp; dengan tipe ini biasanya digunakan pembaca yang bertujuan untuk memperoleh gambaran atau kesan umum suatu bacaan. Membaca sekilas caranya adalah dengan memetik ide-ide, frase penting dan kalimat –kalimat inti pada bacaan.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Berbagai alasan pembaca menggunakan tipe ini menurut Tarigan yaitu :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span style="font-size: small;"&gt;1. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menemukan sepenggal informasi khusus dalam suatu alenea, paragraf, kutipan atau acuan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Memetik secara cepat ide pokok dan utir-butir yang amat penting dari bacaan tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;3.Memeriksa apakah bahan itu dapat diloncati atau dilampaui saja, atau memang harus dipetik karena sangat&amp;nbsp;&amp;nbsp; penting.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;4&lt;span style="font-size: small;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4&lt;/span&gt;.  &lt;/span&gt;Memanfaatkan waktu setepat mungkin , karena pembaca sangat sibuk dan kekurangan waktu. Dengan kata lain karena paksaan waktu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Judul dan sub judul sangat berperan dalam kegiatan membaca sekilas. &amp;nbsp;Karena&amp;nbsp; pembaca ini sering menggunakan daftar isi untuk mencari bahan yang diperlukannya. Setelah mendapatkan kata kunci dijudul dan subjudul pembaca&amp;nbsp; hanya membaca dengan menaruh perhatian pada bagian-bagian dan butir-butir yang diperlukan saja. Sehingga diperolehlah kesan umum bacaan tersebut. Sedangkan yang lainnya diabaikan begitu saja.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam pembelajaran bahasa Indonesia Sekolah Dasar keterampilan membaca sekilas dapat diasah dengan kegiatan anak mencari pokok pikiran (pikiran pokok) suatu paragraph dengan dilanjutkan merangkumnya menjadi kesan umum suatu bacaan. Atau dalam apresiasi sastra, anak dibimbing membaca sekilas dan mencatat urutan peristiwa dalam cerita sehingga anak dapat menceritakan kembali cerita secara ringkas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tugas guru adalah mendorong murid untuk dapat mempraktekan membaca sekilas dengan tepat dan efektif. Caranya adalah dengan penyajian yang jelas. Contohnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;1. Bacalah sekilas cerita ini, kemudian ceritakan kembali dengan kata-kata sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;2. Bacalah sekilas cerita ini, lalu ceritakan kembali ke temanmu secara urut.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-374944815178779453?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/374944815178779453/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=374944815178779453' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/374944815178779453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/374944815178779453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/11/membaca-sekilas.html' title='Membaca Sekilas'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-3942091400286366766</id><published>2010-11-02T02:23:00.000-07:00</published><updated>2010-11-30T07:20:41.955-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Umum'/><title type='text'>Quantum learning</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Quantum learning&lt;/i&gt;  ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat  mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai  suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat. Beberapa teknik yang  dikemukakan merupakan teknik meningkatkan kemampuan diri yang sudah  populer dan umum digunakan. Namun, Bobbi DePorter mengembangkan  teknik-teknik yang sasaran akhirnya ditujukan untuk membantu para siswa  menjadi responsif dan bergairah dalam menghadapi tantangan dan perubahan  realitas (yang terkait dengan sifat jurnalisme).&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Quantum learning&lt;/i&gt; berakar dari upaya Georgi Lozanov, pendidik berkebangsaan Bulgaria.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; &lt;span id="more-560"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia melakukan eksperimen yang disebutnya &lt;i&gt;suggestology&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;suggestopedia&lt;/i&gt;).  Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil  situasi belajar, dan setiap detil apa pun memberikan sugesti positif  atau negatif. Untuk mendapatkan sugesti positif, beberapa teknik  digunakan. Para murid di dalam kelas dibuat menjadi nyaman. Musik  dipasang, partisipasi mereka didorong lebih jauh. Poster-poster besar,  yang menonjolkan informasi, ditempel. Guru-guru yang terampil dalam seni  pengajaran sugestif bermunculan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Prinsip &lt;i&gt;suggestology&lt;/i&gt; hampir mirip dengan proses &lt;i&gt;accelerated learning&lt;/i&gt;,  pemercepatan belajar: yakni, proses belajar yang memungkinkan siswa  belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal, dan  dibarengi kegembiraan. Suasana belajar yang efektif diciptakan melalui  campuran antara lain unsur-unsur hiburan, permainan, cara berpikir  positif, dan emosi yang sehat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;i&gt;Quantum learning&lt;/i&gt; mencakup  aspek-aspek penting dalam program neurolinguistik (NLP), yaitu suatu  penelitian tentang bagaimana otak mengatur informasi. Program ini  meneliti hubungan antara bahasa dan perilaku dan dapat digunakan untuk  menciptakan jalinan pengertian siswa dan guru. Para pendidik dengan  pengetahuan NLP mengetahui bagaimana menggunakan bahasa yang positif  untuk meningkatkan tindakan-tindakan posistif – faktor penting untuk  merangsang fungsi otak yang paling efektif. Semua ini dapat pula  menunjukkan dan menciptakan gaya belajar terbaik dari setiap orang  (Bobby De Porter dan Hernacki, 1992)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya Porter dkk mendefinisikan &lt;i&gt;quantum learning&lt;/i&gt;  sebagai “interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya.”  Mereka mengamsalkan kekuatan energi sebagai bagian penting dari tiap  interaksi manusia. Dengan mengutip rumus klasik E = mc&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;,  mereka alihkan ihwal energi itu ke dalam analogi tubuh manusia yang  “secara fisik adalah materi”. “Sebagai pelajar, tujuan kita adalah  meraih sebanyak mungkin cahaya: interaksi, hubungan, inspirasi agar  menghasilkan energi cahaya”. Pada kaitan inilah, &lt;i&gt;quantum learning &lt;/i&gt;menggabungkan  sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan NLP dengan teori,  keyakinan, dan metode tertentu. Termasuk konsep-konsep kunci dari teori  dan strategi belajar, seperti: teori otak kanan/kiri, teori otak &lt;i&gt;triune&lt;/i&gt; (3&lt;i&gt; in &lt;/i&gt;1),  pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestik), teori kecerdasan  ganda, pendidikan holistik, belajar berdasarkan pengalaman, belajar  dengan simbol (&lt;i&gt;metaphoric learning&lt;/i&gt;), simulasi/permainan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa hal yang penting dicatat dalam &lt;i&gt;quantum learning&lt;/i&gt;  adalah sebagai berikut. Para siswa dikenali tentang “kekuatan pikiran”  yang tak terbatas. Ditegaskan bahwa otak manusia mempunyai potensi yang  sama dengan yang dimilliki oleh Albert Einstein. Selain itu, dipaparkan  tentang bukti fisik dan ilmiah yang memerikan bagaimana proses otak itu  bekerja. Melalui hasil penelitian &lt;i&gt;Global Learning&lt;/i&gt;, dikenalkan  bahwa proses belajar itu mirip bekerjanya otak seorang anak 6-7 tahun  yang seperti spons menyerap berbagai fakta, sifat-sifat fisik, dan  kerumitan bahasa yang kacau dengan “cara yang menyenangkan dan bebas  stres”. Bagaimana faktor-faktor umpan balik dan rangsangan dari  lingkungan telah menciptakan kondisi yang sempurna untuk belajar apa  saja. Hal ini menegaskan bahwa kegagalan, dalam belajar, bukan merupakan  rintangan. Keyakinan untuk terus berusaha merupakan alat pendamping dan  pendorong bagi keberhasilan dalam proses belajar. Setiap keberhasilan  perlu diakhiri dengan “kegembiraan dan tepukan.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan penjelasan mengenai apa dan  bagaimana unsur-unsur dan struktur otak manusia bekerja, dibuat model  pembelajaran yang dapat mendorong peningkatan kecerdasan linguistik,  matematika, visual/spasial, kinestetik/perasa, musikal, interpersonal,  intarpersonal, dan intuisi. Bagaimana mengembangkan fungsi motor  sensorik (melalui kontak langsung dengan lingkungan), sistem  emosional-kognitif (melalui bermain, meniru, dan pembacaan cerita), dan  kecerdasan yang lebih tinggi (melalui perawatan yang benar dan  pengondisian emosional yang sehat). Bagaimana memanfaatkan cara berpikir  dua belahan otak “kiri dan kanan”. Proses berpikir otak kiri (yang  bersifat logis, sekuensial, linear dan rasional), misalnya, dikenakan  dengan proses pembelajaran melalui tugas-tugas teratur yang bersifat  ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, menempatkan  detil dan fakta, fonetik, serta simbolisme. Proses berpikir otak kanan  (yang bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik), dikenakan  dengan proses pembelajaran yang terkait dengan pengetahuan nonverbal  (seperti perasaan dan emosi), kesadaran akan perasaan tertentu  (merasakan kehadiran orang atau suatu benda), kesadaran spasial,  pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreatifitas dan  visualisasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua itu, pada akhirnya, tertuju pada  proses belajar yang menargetkan tumbuhnya “emosi positif, kekuatan otak,  keberhasilan, dan kehormatan diri.” Keempat unsur ini bila digambarkan  saling terkait. Dari kehormatan diri, misalnya, terdorong emosi positif  yang mengembangkan kekuatan otak, dan menghasilkan keberhasilan, lalu  (balik lagi) kepada penciptaan kehormatan diri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari proses inilah, &lt;i&gt;quantum learning &lt;/i&gt;menciptakan  konsep motivasi, langkah-langkah menumbuhkan minat, dan belajar aktif.  Membuat simulasi konsep belajar aktif dengan gambaran kegiatan seperti:  “belajar apa saja dari setiap situasi, menggunakan apa yang Anda  pelajari untuk keuntungan Anda, mengupayakan agar segalanya terlaksana,  bersandar pada kehidupan.” Gambaran ini disandingkan dengan konsep  belajar pasif yang terdiri dari: “tidak dapat melihat adanya potensi  belajar, mengabaikan kesempatan untuk berkembang dari suatu pengalaman  belajar, membiarkan segalanya terjadi, menarik diri dari kehidupan.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kaitan itu pula, antara lain, &lt;i&gt;quantum learning &lt;/i&gt;mengonsep  tentang “menata pentas: lingkungan belajar yang tepat.” Penataan  lingkungan ditujukan kepada upaya membangun dan mempertahankan sikap  positif. Sikap positif merupakan aset penting untuk belajar. Peserta  didik &lt;i&gt;quantum&lt;/i&gt; dikondisikan ke dalam lingkungan belajar yang  optimal baik secara fisik maupun mental. Dengan mengatur lingkungan  belajar demikian rupa, para pelajar diharapkan mendapat langkah pertama  yang efektif untuk mengatur pengalaman belajar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penataan lingkungan belajar ini dibagi  dua yaitu: lingkungan mikro dan lingkungan makro. Lingkungan mikro ialah  tempat peserta didik melakukan proses belajar (bekerja dan berkreasi). &lt;i&gt;Quantum learning &lt;/i&gt;menekankan  penataan cahaya, musik, dan desain ruang, karena semua itu dinilai  mempengaruhi peserta didik dalam menerima, menyerap, dan mengolah  informasi. Ini tampaknya yang menjadi kekuatan orisinalitas &lt;i&gt;quantum learning&lt;/i&gt;.  Akan tetapi, dalam kaitan pengajaran umumnya di ruang-ruang pendidikan  di Indonesia, lebih baik memfokuskan perhatian kepada penataan  lingkungan formal dan terstruktur seperti: meja, kursi, tempat khusus,  dan tempat belajar yang teratur. Target penataannya ialah menciptakan  suasana yang menimbulkan kenyamanan dan rasa santai. Keadaan santai  mendorong siswa untuk dapat berkonsentrasi dengan sangat baik dan mampu  belajar dengan sangat mudah. Keadaan tegang menghambat aliran darah dan  proses otak bekerja serta akhirnya konsentrasi siswa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lingkungan makro ialah “dunia yang  luas.” Peserta didik diminta untuk menciptakan ruang belajar di  masyarakat. Mereka diminta untuk memperluas lingkup pengaruh dan  kekuatan pribadi, berinteraksi sosial ke lingkungan masyarakat yang  diminatinya. “Semakin siswa berinteraksi dengan lingkungan, semakin  mahir mengatasi sistuasi-situasi yang menantang dan semakin mudah Anda  mempelajari informasi baru,” tulis Porter. Setiap siswa diminta  berhubungan secara aktif dan mendapat rangsangan baru dalam lingkungan  masyarakat, agar mereka mendapat pengalaman membangun gudang penyimpanan  pengertahuan pribadi. Selain itu, berinteraksi dengan masyarakat juga  berarti mengambil peluang-peluang yang akan datang, dan menciptakan  peluang jika tidak ada, dengan catatan terlibat aktif di dalam tiap  proses interaksi tersebut (untuk belajar lebih banyak mengenai sesuatu).  Pada akhirnya, interaksi ini diperlukan untuk mengenalkan siswa kepada  kesiapan diri dalam melakukan perubahan. Mereka tidak boleh terbenam  dengan situasi &lt;i&gt;status quo &lt;/i&gt;yang diciptakan di dalam lingkungan  mikro. Mereka diminta untuk melebarkan lingkungan belajar ke arah  sesuatu yang baru. Pengalaman mendapatkan sesuatu yang baru akan  memperluas “zona aman, nyaman dan merasa dihargai” dari siswa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber : &lt;b&gt;&lt;span style="color: maroon;"&gt;Septiawan Santana Kurnia, &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #004080;"&gt;Quantum Learning&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: #004080;"&gt; bagi Pendidikan Jurnalistik: &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #004080;"&gt;(Studi pembelajaran jurnalistik yang berorientasi pada &lt;i&gt;life skill&lt;/i&gt;); on line : Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan www.depdiknas.go.id&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-3942091400286366766?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/3942091400286366766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=3942091400286366766' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/3942091400286366766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/3942091400286366766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/11/quantum-learning.html' title='Quantum learning'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-1158791414080463950</id><published>2010-10-29T19:54:00.000-07:00</published><updated>2010-11-30T07:21:58.940-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel sastra anak'/><title type='text'>SASTRA ANAK DALAM KURIKULUM SEKOLAH DASAR: MENEGOSIASIKAN IDENTITAS NASIONAL INDONESIA</title><content type='html'>&lt;div class="view-content" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="views-row views-row-1 views-row-odd views-row-first views-row-last"&gt;&lt;div class="views-field-field-artikel-pengarang-value"&gt;&lt;label class="views-label-field-artikel-pengarang-value"&gt;         Pengarang:       &lt;/label&gt;                 &lt;span class="field-content"&gt;Clara Evi Citraningtyas&lt;/span&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="views-field-field-artikel-isi-value"&gt;&lt;div class="field-content"&gt;ABSTRAKDipilihnya suatu cerita untuk dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, mencerminkan sebuah restu yang diberikan bagi cerita tersebut, untuk bisa mewakili menegosiasikan sebuah identitas bangsa kepada anak bangsa.  Sebuah cerita, terutama cerita yang dipilih untuk kurikulum sekolah, tidak pernah murni merupakan penceritaan kembali dari cerita aslinya.  Cerita versi buku sekolah adalah subjek dari metanaratif pada kurun waktu tertentu, rezim, dan kekuasaan tertentu yang telah disesuaikan isinya untuk menyuarakan ideologi bangsa. Makalah ini membahas cerita naratif yang terpilih untuk dimasukkan ke dalam buku pegangan Sekolah Dasar di Indonesia.  Nilai-nilai bangsa apa yang dinegosiasikan lewat cerita-cerita tersebut? Kata Kunci:  Peraturan Pemerintah tentang buku pelajaran, buku pelajaran Bahasa Indonesia, cerita anak, identitas nasional.&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan&lt;/b&gt;Pantaleo (2001) dan Johnston (2000, 2001) mengemukakan bahwa karya sastra merupakan medium utama untuk menegosiasikan identitas sebuah bangsa.  Oleh karenanya, lewat cerita anak pula identitas nasional dan budaya suatu bangsa dinegosiasikan.  Mottier (1999) juga menyebutkan bahwa sejak 150 tahun yang lalu di Swiss, cerita naratif berperan dalam pembentukan kesatuan dan identitas nasional. Bagi anak-anak, ruang kelas adalah tempat dimana negosiasi akan identitas ini dimulai.  Dalam &lt;i&gt;History of Ideas Vol. 1&lt;/i&gt; disebutkan bahwa pembentukan identitas Amerika juga dimulai dari kurikulum sekolah. Sebelum dimulainya gerakan ”Amerikanisasi” pada tahun 1915, para pendidik telah mulai memikirkan mengadopsi kurikulum tertentu yang ditujukan untuk meng- ”Amerikanisasi” para imigran. Sepanjang sejarah, identitas dibentuk dan direkonstruksi serta ditransformasikan melalui institusi-institusi semacam sekolah.  Berkaitan dengan pemilihan cerita bagi kurikulum sekolah,  Apple (1986) menegaskan bahwa budaya dan agenda penguasa atau pemerintah yang menentukan cerita apa yang dianggap penting untuk disampaikan dalam setting sekolah.  Pensosialisasian budaya dan agenda tersebut terjadi di sekolah.  Sekolah telah menjadi sebuah tempat yang diinstutisionalkan, yang didesain khusus untuk mendidik anak.  Salah satu tujuan pendidikan adalah untuk mengajarkan sikap dan pandangan tertentu yang dianggap penting bagi masyarakat, budaya, dan bangsa.  Citraningtyas (2004) menemukan sedikitnya tiga perbedaan yang mendasar pada cerita rakyat Malin Kundang yang dikemas untuk buku pegangan Sekolah Dasar kurikulum 1994, bila dibandingkan dengan cerita rakyat yang sama yang beredar di pasaran.  Versi Malin Kundang yang digunakan dalam buku Sekolah Dasar diberi judul Malin Kundang Si Anak Durhaka.  Modifikasi judul ini mempunyai dampak yang kuat, karena akan mengkatifkan schemata yang berbeda.  Dengan didasarkan pada berbagai macam skemata, seseorang bisa melakukan penilaian terhadap seseorang, dalam hal ini si Malin.  Namun dengan penambahan ”Si Anak Durhaka”,  kebebasan untuk memberi penilaian ini menjadi hilang karena telah diambil alih oleh teks itu sendiri.  Siswa tidak lagi mendapat kesempatan lain kecuali untuk mengaktifkan schemata bahwa Malin adalah anak durhaka.  Versi Malin Kundang yang dikemas untuk Sekolah Dasar juga melibatkan Tuhan dalam mengutuk Malin.  Bahkan ibu Malin tidak menyebutkan bahwa ia mengutuk Malin menjadi batu.  Melainkan, sang ibu hanya memohon kepada Tuhan agar menghukum Malin, dan Malin menjadi batu.  Hukuman seolah-olah berasal langsung dari Tuhan, dan ini memperkuat fungsi cerita ini dalam mengontrol tingkah laku anak.  Selanjutnya, versi Malin Kundang dalam buku Sekolah Dasar menampilkan sang ibu yang tidak berdaya.  Sebelum merantau,  Malin adalah tulang punggung keluarga yang merawat sang ibu yang selalu sakit-sakitan.  Perubahan peran Malin dan sang ibu pada versi ini mencerminkan pengakuan peran gender pada bangsa ini.  Meskipun harus tetap dihormati, sang ibu tidak dalam posisi sebagai pencari nafkah utama.Perbedaan mendasar ini menegaskan bahwa cerita yang diberikan di sekolah, berbeda dengan cerita yang tersedia secara bebas di luar sekolah. Cerita versi sekolah digunakan untuk menegosiasikan dan membentuk siswa menjadi warga negara Indonesia sejati.  Siswa belajar untuk menerima nilai-nilai tersebut dan kemudian membawa nilai-nilai tersebut ketika mereka menjadi anggota masyarakat.  Seperti yang terjadi di banyak negara lain, pemakaian buku pelajaran sekolah di Indonesia juga diatur oleh pemerintah.  Dalam hal ini, peraturan terbaru yang mengatur tentang pemakaian dan pengadaan buku pelajaran sekolah adalah Peraturan Mendiknas Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2005 tentang Buku Teks Pelajaran. Pada pasal 1 peraturan tersebut dikatakan:Buku teks pelajaran adalah buku acuan wajib untuk digunakan di sekolah yang memuat materi pembelajaran dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan, budi pekerti dan kepribadian, kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teologi, kepekaan dan kemampuan estetis, potensi fisik dan kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan.Dengan adanya peraturan Mendiknas seperti tersebut di atas, jelaslah bahwa buku pelajaran sekolah di Indonesia bukanlah buku yang kebetulan dipilih oleh sekolah maupun guru.  Buku pelajaran sekolah adalah buku yang telah dirancang sedemikian rupa sehingga materi, isi, pesan serta formatnya telah memenuhi persyaratan yang dicanangkan oleh pemerintah.Buku apa yang dipergunakan pada pelajaran Bahasa Indonesia di tingkat Sekolah Dasar di Indonesia, dan cerita apa yang disediakan untuk dibaca oleh anak Indonesia di sekolah mencerminkan nilai-nilai yang direstui oleh bangsa dan negara Indonesia.  Oleh karena itu, pemilihan buku pelajaran dan cerita yang tercantum di dalamnya tidak pernah merupakan suatu kebetulan.  Perlu diteliti agenda apa yang dicanangkan pemerintah sehingga menyetujui penggunaan buku-buku dan cerita-cerita tersebut.Makalah ini bertujuan untuk mendata jenis cerita yang direstui oleh negara untuk dimasukkan ke dalam buku acuan pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar dalam kurikulum nasional yang terbaru.  Kemudian dilakukan analisis terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam cerita-cerita terpilih tersebut.  Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut dianalisis untuk menentukan kaitannya dalam pembentukan identitas bangsa Indonesia.    Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar kelas 1 – 6 yang beredar di pasaran.  Buku yang dipilih adalah yang sesuai dengan Peraturan Mendiknas Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2005 tentang Buku Teks Pelajaran, dan yang isinya sesuai dengan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan 2006.  Buku-buku tersebut ditandai dengan label ”KTSP 2006”, merupakan buku teks, dan bukan buku kumpulan soal.  Buku-buku yang dipakai dalam penelitian ini adalah buku-buku terbitan Tiga Serangkai, Yudhistira, Erlangga, Grasindo, dan ESIS.Dari hasil pengamatan peneliti, tercatat ada 505 cerita, puisi dan drama yang terdapat dalam buku pegangan Bahasa Indonesia yang diteliti. Jumlah ini termasuk cukup besar jika dibandingkan dengan jumlah cerita dalam program kurikulum sebelumnya.  Hal ini menggembirakan, karena setidaknya, siswa Sekolah Dasar di Indonesia, mendapat eksposisi yang baik terhadap cerita, puisi dan drama.  Namun kita tidak boleh terlalu bergembira sehingga kita terlena olehnya.  Meskipun dari segi jumlah, eksposisi terhadap cerita anak sudah cukup menggembirakan,  perlakuan terhadap cerita tersebut, masih tidak mendorong anak untuk mencintai sastra.  Misalnya saja, siswa kelas 1 SD diminta untuk mengisi titik-titik dalam puisi; dan siswa kelas 5 SD diminta untuk menulis puisi sesuai contoh.&lt;b&gt;Genre Cerita Anak dalam Kurikulum&lt;/b&gt;Seperti juga karya sastra untuk kaum dewasa, karya sastra untuk anak juga dibagi dalam berbagai genre.   Genre sastra anak antara lain adalah:  fantasi, cerita tradisional, cerita realisme, fiksi ilmiah (&lt;i&gt;science fiction&lt;/i&gt;), cerita non-fiksi, puisi.  Cerita-cerita anak yang terdapat dalam buku teks sekolah yang diteliti, dapat dibagi dalam lima genre.  Cerita-cerita tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut:1.    Cerita Tradisional (Fabel dan Cerita Rakyat)2.    Cerita Rekaan Anak3.    Cerita Real4.    Puisi5.    DramaJenis cerita tradisional yang terdapat dalam buku teks sekolah dasar yang diteliti adalah jenis Fabel dan Cerita Rakyat.  Kedua jenis cerita ini memiliki banyak kemiripan dalam hal  penokohan, latar dan tema.  Pada uimumnya penokohan dalam fabel dan cerita rakyat bersifat ‘datar (&lt;i&gt;flat)&lt;/i&gt;’ atau memiliki satu sifat atau karakteristik yang datar dan tidak berubah sampai akhir cerita.  Tokoh yang baik dan tokoh yang jahat sangat mudah diidentifikasi.  Dari fabel dan cerita rakyat, kita juga mengenal berbagai stereotipe tokoh.  Misalnya, tokoh ibu tiri yang selalu jahat dan buruk rupa, kancil yang senantiasa cerdik,  putri raja yang cantik jelita, dan pangeran yang gagah perkasa.Latar cerita rakyat dan fabel merupakan latar ’&lt;i&gt;backdrop’,&lt;/i&gt; yang artinya bahwa alur cerita ini tidak akan berubah seandainya latar cerita berubah.  Oleh karena itu, suatu cerita berlatar &lt;i&gt;backdrop&lt;/i&gt; bersifat fleksibel, luwes, tidak terpaku pada satu masa dan tempat.   Baik latar waktu maupun latar tempat dalam fabel dan cerita rakyat biasanya berupa latar &lt;i&gt;backdrop&lt;/i&gt;:  ”Pada suatu hari.......”, ”Pada suatu masa......”, ”&lt;i&gt;Once upon a time&lt;/i&gt;......”.  Cerita yang berlatar &lt;i&gt;backdrop&lt;/i&gt; seperti ini bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.Tema dalam fabel dan cerita rakyat, sama-sama bersifat didaktis. Fabel, yang menggunakan tokoh binatang, merupakan cerita yang secara jelas mengajarkan moral.   Moral cerita tersebut biasanya dinyatakan secara jelas, seperti misalnya dalam fabel berjudul Bangau yang Serakah, atau Tidak Membalas Budi ditulis ”siapa bersalah harus mendapat hukuman” pada akhir cerita.  Pesan moral sangat jelas terbaca dari judul  dan akhir cerita.  Unsur didaktis ini juga jelas terlihat dalam cerita rakyat, baik secara implisit maupun eksplisit.  Apabila pesan moral dalam cerita rakyat tidak secara ekspilisit tertulis, penulis seringkali mencantumkan pesan moral cerita di akhir cerita.Selain cerita tradisional, jenis cerita yang terdapat dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar adalah cerita rekaan. Meskipun cerita rekaan seharusnya lebih bervariasi dalam hal penokohan, latar dan tema dibandingkan dalam fabel dan cerita rakyat, namun cerita rekaan yang dimuat dalam buku pegangan siswa Sekolah Dasar di Indonesia, adalah cerita-cerita yang sarat memuat pesan moral.  Cerita anak memang sarat dengan pesan moral.  Riris K. Sarumpaet (2002) yang mengamati cerita anak yang terbit di Indonesia pada tahun 1998 menemukan bahwa hampir semua buku cerita anak tersebut memuat pesan moral yang mengarah pada pembentukan manusia Pancasilais sesuai yang digariskan dalam P4.   Cerita-cerita tersebut sangat kentara memuat tema-tema yang dicanangkan pemerintah seperti tema anti komunisme seperti yang dicanangkan pada Sila Pertama Pancasila;  atau pentingnya transmigrasi supaya seluruh daerah di Indonesia mencapai keadilan sosial yang merata seperti yang dinyatakan pada Sila Kelima Pancasila.  Contoh-contoh ini membuktikan betapa cerita anak sangat rawan digunakan sebagai kendaraan moral.  Maman S. Mahayana (2005) juga mengamati dan mengkhawatirkan kecenderungan sastra yang terbawa hasrat terlalu besar untuk mendidik dan mengabaikan nilai estetika kesastraan.  Alison Halliday (1996) menyebutkan hal yang menarik tentang kontrol terhadap anak.   ”Anak-anak memang dilahirkan, namun masa kanak-kanak dikonstruksikan.”  Peristiwa kelahiran seorang anak memang terjadi secara alamiah, namun masa kanak-kanak selalu merupakan produk dari tuntutan sosial yang kompleks.  Biasanya orang tua yang berusaha mengkonstruksikan kembali pengalaman masa lalu mereka sendiri dan menempanya bersama dengan ekspektansi ideal mereka bagi anak-anak, kemudian membentuk konsep ideal mereka tentang masa kanak-kanak.  Seorang anak yang baru terlahir ke dunia tanpa daya akan otomatis mendapatkan paket yang disodorkan oleh orang dewasa itu, dan tidak bisa menolaknya.Sebagai kelompok marginal dalam masyarakat kita, anak-anak tidak pernah diletakkan pada posisi sentral.  Seringkali, menurut Patricia Holland, anak-anak adalah objek kekuasaan dan kepuasan.   Dalam bukunya &lt;i&gt;What is A Child&lt;/i&gt; (1992), Holland menulis ”tatapan kita mematrikan anak-anak dalam posisinya, menyesuaikan gambaran mereka untuk memenuhi pola yang diinginkan” (hal. 16).  Memang benar bahwa posisi anak-anak selalu ditentukan oleh orang dewasa.  Anak-anak dibentuk dan sering didikte untuk menjadi individu sesuai keinginan orang tua.  Dengan justifikasi bahwa anak-anak masih membutuhkan bimbingan, berbagai macam kontrol terhadap anak dianggap lumrah.  Kontrol terhadap anak ini tercermin pada kentalnya nilai didaktis pada narasi yang disediakan bagi anak Sekolah Dasar di Indonesia, lewat buku pegangan wajib mereka.  Nilai didaktis apa saja yang diajarkan melalui cerita yang dimuat dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar di Indonesia?  Nilai-nilai didaktis umum seperti ajakan untuk menabung, nasihat untuk membantu orang tua, imbauan untuk menghormati sesama, ajaran untuk makan makanan bergizi, dan didikan untuk berbudi pekerti memang terdapat dalam cerita-cerita yang dimuat.  Namun makalah ini ingin menyoroti dua tema utama penting yang diajarkan di sana, yakni murka golongan yang kuat dan kebersihan. &lt;b&gt;Murka Golongan yang Kuat&lt;/b&gt;Cerita bertemakan murka seseorang yang kuat banyak terdapat pada cerita yang dikemas dalam buku pegangan Sekolah Dasar.  Dalam "Air Mata Kasih Sang Putri" (&lt;i&gt;Ayo Belajar Bahasa Indonesia &lt;/i&gt;Kelas 5, hal. 71), diceritakan tentang seorang raja yang mengutuk tujuh anak lelakinya karena tidak mematuhi perintah sang ayah.  ”Mereka terlalu banyak bermain dan tidak disiplin”, alasan sang raja.  Dalam "Asal Mula Pohon Kelapa" (&lt;i&gt;Bahasa Indonesia&lt;/i&gt; kelas 3, hal 106) diceritakan tentang seorang laki-laki yang dikutuk menjadi pohon kelapa oleh petapa sakti karena tidak mematuhi pesan petapa sakti untuk tidak membuka kotak hijau. Cerita-cerita semacam ini berpusat pada persoalan kewajiban dan ketaatan pada figur otoritas.  Dalam masyarakat Indonesia, kutukan adalah tindakan disipliner yang sering dilakukan, dan sering dimanifestasikan dalam banyak cerita rakyat asal Indonesia.  Kita tentu mengenal cerita &lt;i&gt;Malin Kundang, Tangkuban Perahu, Roro Jonggrang &lt;/i&gt;yang berakhir dengan kutukan.  Selain kutukan yang banyak terdapat pada cerita wayang, Citraningtyas (2004) juga mencatat ada 12 cerita rakyat Indonesia yang bertema kutukan seperti yang terjadi pada &lt;i&gt;Malin Kundang&lt;/i&gt;.  Dampak kutukan Malin Kundang ini sangat kuat terasa di Indonesia, sampai-sampai seorang ibu muda pernah menulis dalam kolom Psikologi Kompas bahwa ia telah dikutuk oleh ibunya.  Dan sejak itu, hidupnya merana.Kutukan sangat erat berhubungan dengan kekuasaan.  Meskipun setiap orang bisa saja mengutuk, namun kekuatan sebuah kutukan ditentukan oleh hirarki superioritas.  Hanya mereka yang memiliki kekuatan, baik spiritual, fisik, militer, jurisdikal ataupun parental yang dianggap mampu memberikan kutukan.  Oleh karenanya, sosok ayah yang juga raja dan juga sosok petapa sakti dalam kedua cerita di atas, sangat memenuhi syarat sebagai sosok yang bisa mengutuk karena mereka adalah representasi dari figur otoritas.Dalam "Gunung Kelud Meletus" (&lt;i&gt;Aku Cinta Bahasa Indonesia &lt;/i&gt;1B), diceritakan bahwa apabila Gunung Kelud meletus, itu berarti Lembusura sedang murka.  Tujuan utama cerita ini juga untuk menekankan kepatuhan pada sosok otoritas.  Lembusura adalah representasi dari figur otoritas tersebut, yang tidak boleh dibuat murka agar Gunung Kelud tidak meletus.  Diana Mitchell (2003)  mengatakan bahwa anak-anak menganggap serius apa yang tertulis dalam buku.  Mereka percaya bahwa buku berisikan kebenaran.  Apabila mereka membaca tentang anjing dan kucing yang menjadi binatang piaraan, mereka akan menerima kedua binatang tersebut sebagai binatang yang normal dijadikan binatang piaraan.  Apabila mereka hanya membaca tentang ibu tiri yang jahat, maka mereka akan percaya bahwa semua ibu tiri adalah jahat.  Apabila mereka membaca bahwa hanya orang kulit putih yang menjadi tokoh penting, anak-anak akan menginternalisasi hal tersebut.  Oleh karenanya, dari cerita narasi, anak-anak mempelajari tingkah laku dan konsep yang dianggap benar dalam masyarakat.  Terutama apabila cerita tersebut diajarkan di sekolah.  Cerita tentang murka golongan kuat ini mengajarkan kepada anak-anak Indonesia untuk secara total patuh dan tunduk pada otoritas, apabila tidak ingin mendapat kutukan dan hukuman yang setimpal.  Figur otoritas juga perlu dijaga supaya tidak murka agar tidak terjadi bencana besar, bak gunung yang meletus.  Anak-anak Indonesia tumbuh dengan pemahaman bahwa sah apabila penguasa dan golongan yang kuat melancarkan kutukan kepada golongan yang lemah.&lt;b&gt;Kebersihan&lt;/b&gt;Dalam cerita yang dimuat pada buku Bahasa Indonesia Sekolah Dasar, tema kebersihan rupanya menjadi perhatian serius.  Tema kebersihan juga menjadi tema wajib bagi tiap jenjang kelas.Dalam cerita berjudul Lingkungan Rumah Rima, misalnya, ditulis tentang pentingnya memiliki lingkungan yang bersih Selokan mereka bersihkan.  Jalan pun tak lupa mereka bersihkan.  Rima senang melihat lingkungan rumahnya.  Rima betah tinggal di sana.(&lt;i&gt;Ayo Belajar Berbahasa Indonesia&lt;/i&gt; 1B, hal 49).Dalam sebuah cerita rekaan lain, yang berjudul "Ulang Tahun Bu Guru", yang panjangnya hanya tiga paragraf, diselipkan pula pesan moral tentang kebersihan sebagai berikut:Tak berapa lama kemudian, kelas tampak indah dan bersih.  Sungguh sedap dipandang mata.  Anak-anak merasa puas.  (&lt;i&gt;Bahasa Kita Bahasa Indonesia&lt;/i&gt; 3A, hal. 124).Masih banyak cerita yang mendidik anak untuk hidup bersih.  Dalam buku &lt;i&gt;Bahasa Indonesia Untuk SD dan MI&lt;/i&gt; Kelas 2 terbitan Grasindo saja, terdapat sedikitnya delapan cerita yang menekankan pentingnya kebersihan:1. Judul: Rumahku yang Nyaman     Pesan Kebersihan: Lingkungan di dalam rumahku yang tertata rapi     dan bersih, ….. Aku membersihkannya setiap hari.2. Judul: Hidup yang Bersih    Pesan Kebersihan: Keseluruhan tema.3. Judul: Kerja Bakti    Pesan Kebersihan: Hari ini seluruh warga membersihkan lingkungan. 4. Judul: Tempat Umum    Pesan Kebersihan: Di tempat umum kita juga harus menjaga kebersihan. 5. Judul: Kerja Bakti    Pesan Kebersihan: Kami sekeluarga sangat senang melihat rumah dan lingkungan bersih, indah, dan rapi. 6. Judul: Kerja Bakti    Pesan Kebersihan: Got di depan rumah dibersihkan agar air mengalir.... Setelah got bersih, mereka  membersihkan halaman..... dalam rumah juga dibersihkan. 7. Judul: Pergi Memancing    Pesan Kebersihan: Sungai yang sekarang airnya kotor oleh sampah dan limbah yang dibuang di sungai.8. Judul: Makanan yang Menyehatkan    Pesan Kebersihan: Minggu pagi yang cerah, Pak Mardi, Bu Sri, Yanto, dan Tita sudah selesai membersihkan rumah dan halamannya.  Setelah itu, mereka mencuci kaki dan tangan, lalu mereka makan bersama.Kebersihan tampaknya menjadi fokus penting bagi identitas kita sebagai bangsa.  Kita ingin menjadi bangsa yang bersih secara lahiriah, maupun batiniah.  Kebersihan lahiriah sering diartikan sebagai pencerminan dari kebersihan batiniah sehingga sangat perlu diusahakan.Konstruksi identitas bangsa melalui diskursus kebersihan bukanlah hal yang asing.   Banyak negara juga menerapkan hal serupa.  Pada abad 19 Romania, diskursus kebersihan  dipakai untuk merekonstruksi identitas wanita Romania.  Pada zaman perbudakan, bangsa Amerika juga mengidentifikasikan warganya melalui konsep kebersihan.  Warga kulit hitam dengan kekotoran dan kejorokan;  ketidakbersihan.  Sedangkan warga kulit putih diidentifikasikan dengan segala hal yang bersih dan indah.  Di Indonesia, menjadi bangsa yang bersih adalah merupakan cita-cita bersama:  bersih dari narkoba; bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme; bersih dari terorisme; bersih dari tindakan-tindakan asusila.Dalam cerita-cerita bertemakan kebersihan dalam buku sekolah dasar ini, ruang privat diletakkan berhadap-hadapan langsung dengan kontrol publik.  Hari ini seluruh warga membersihkan lingkungan.  Got di depan rumah dibersihkan..... setelah got bersih, mereka membersihkan halaman....... dalam rumah juga dibersihkan.Kerja bakti adalah kegiatan publik bersama.  Seluruh warga terlibat di dalamnya.  Dalam cerita tersebut di atas, tampak bahwa kegiatan bersama membersihkan ruang publik ini kemudian bergeser ke ruang privat, yakni membersihkan halaman, dan kemudian dalam rumah.  Kontrol publik dalam kegiatan kerja bakti ini merambah pula wilayah privat.  Hal ini bisa diartikan sebagai restu yang diberikan kepada publik untuk mengontrol wilayah privat warga masyarakat.  Publik diperbolehkan, bahkan didorong untuk ikut bersama-sama membersihkan ruang privat warga masyarakat yang dianggap tidak bersih.   Sehingga seorang warga yang didapati melakukan tindakan asusila, misalnya, perlu mendapat perhatian dan kontrol dari publik.  Akibatnya, pelaku tindak asusila pun bisa mendapat sanksi publik.Sebagai kegiatan publik bersama, kerja bakti sudah mulai ditinggalkan oleh bangsa Indonesia, terutama yang tinggal di kota besar.  Dari eksposisi topik Kerja Bakti ini, tampaknya pemerintah ingin menggalakkan kembali kegiatan bekerja bakti.  Hal ini tampak pada penekanan topik kerja bakti: dalam buku pelajaran kelas 2 di atas kita catat ada tiga cerita berjudul "Kerja Bakti" dalam satu buku dan tema pembahasan; dalam buku pelajaran kelas 3 tercatat ada dua cerita berjudul Kerja Bakti dalam satu buku.  Dengan menggalakkan kembali kegiatan bekerja bakti, terselip imbauan akan kembalinya kontrol dari publik kedalam ruang-ruang privat keluarga Indonesia. &lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;Penelitian ini menemukan bahwa cerita-cerita yang disajikan dalam &lt;i&gt;Buku Pegangan Bahasa Indonesia&lt;/i&gt;, sarat dengan agenda didaktis.  Agenda didaktis yang terlalu mencengkeram ini sangat disayangkan, karena akan menjauhkan generasi muda dari menikmati sastra.  Bagi orang dewasa, sastra adalah untuk dinikmati.  Kita tidak akan melanjutkan membaca sebuah karya apabila kita tidak bisa menikmatinya.  Namun mengapa kita abaikan perasaan ini ketika menyuruh anak membaca sastra?  Padahal, Hancock (2000) mendefinisikan sastra anak sebagai karya sastra yang  ”&lt;i&gt;appeals to the interests, needs, reading preferences of children, and that captures children as its major audience”&lt;/i&gt; (hal. 5).  Mengapa kita rampas hak ini dari anak?  Beberapa agenda didaktis yang penting adalah topik murka golongan yang kuat dan topik tentang kebersihan menjadi topik penting yang dimanifestasikan lewat cerita-cerita sekolah.  Topik murka golongan yang kuat seolah hendak mewariskan nilai bahwa murka dan kutuk adalah hak bagi golongan yang kuat.  Bahwa golongan  lemah, yang diwakili oleh anak-anak,  perlu mematuhi segala perintah golongan yang kuat untuk menghindarkan diri dari kutukan tersebut.  Bahwa golongan lemah perlu menjaga sikap sedemikian rupa, sehingga golongan yang kuat tidak murka dan mengakibatkan bencana.  Topik kebersihan seolah hendak menghimbau kembali untuk menggalakkan kerja bakti, yang memberikan kemungkinan bagi publik untuk mengontrol ruang privat warga negara.Pertanyaannya untuk kita adalah, benarkah kita sependapat bahwa kedua topik tersebut masih tepat untuk diwariskan kepada generasi muda bangsa ini? Menurut Mitchell (2003), cerita memvalidasi anak-anak bahwa hidup mereka normal dan bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat dan budaya mereka.  Melalui sastra, anak-anak diajarkan pada nilai-nilai luhur budaya mereka.  Inikah nilai-nilai luhur yang ingin kita wariskan?  Daftar Pustaka Apple, M. 1986. &lt;i&gt;Teachers and Texts:  A Political Economy of Class and Gender  Relations in Education. &lt;/i&gt; New  York:  Routledge &amp;amp; Kegan Paul.Bottingheimer, R., ed. 1987. &lt;i&gt;Grimm’s Bad Girls and Bold Boys:  The Moral and Social Vision of the Tales&lt;/i&gt;. New Haven:  Yale University Press.Butts, D. (ed). 1992. &lt;i&gt;Stories and Society:  Children’s Literature in ITs Social Context.&lt;/i&gt; London:  Macmillan.Citraningtyas, C. E. 2004 &lt;i&gt;Breaking a Curse Silence:  Malin Kundang and Transactional Approaches to Reading in Indonesian Classrooms – an Empirical Study. Unpublished thesis.&lt;/i&gt; Sydney: Macquarie University. Sydney.Hancock, M. R. 2000. &lt;i&gt;A Celebration of Literature and Response:  Children, Books, and Teachers in K-8 Classrooms.&lt;/i&gt; New Jersey:  Prentice Hall, Inc.Halliday, A. 1996. “Parallel Ideologies:  An Exploration of the Ideologies of Childhood and Poetry”, Papers:  Explorations into Children’s Literature. . 6,1, 20-30.Holland, P.  1992. &lt;i&gt;What is a Child?&lt;/i&gt;  London:  Virago.Johnston, I. 2000. “Literature and School Studies:  Exploring the Hyphenated Spaces of Canadian Identity.”  Canadian Social Studies  35.1.Mahayana, Maman. 2005. &lt;i&gt; 9 Jawaban Sastra Indonesia:  Sebuah Orientasi Kritik.&lt;/i&gt; Bening Publishing, Jakarta.Meek, M. ed. 2001. &lt;i&gt;Children’s Literature and National Identity.&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Stoke on Trent.  &lt;/i&gt;Trentham Books.Mitchell, D. 2003. &lt;i&gt;Children’s Literature:  An Invitation to the World. &lt;/i&gt;Boston:  Pearson Education.Pantaleo, S. 2001. “Exploring Canadian Identity through Canadian Children’s Literature”.  Reading Online 5.2.Sarumpaet, R.K. 2002. “Sastra dan anak:  Penjajah dan Taklukannya.”  &lt;i&gt;Bahasastra:  Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra&lt;/i&gt;. 17.1 :  47 – 62.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-1158791414080463950?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/1158791414080463950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=1158791414080463950' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/1158791414080463950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/1158791414080463950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/10/sastra-anak-dalam-kurikulum-sekolah.html' title='SASTRA ANAK DALAM KURIKULUM SEKOLAH DASAR: MENEGOSIASIKAN IDENTITAS NASIONAL INDONESIA'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-8272436097660037208</id><published>2010-10-28T20:54:00.000-07:00</published><updated>2010-11-30T07:23:31.276-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Umum'/><title type='text'>Kecerdasan dan Gaya Belajar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sharing pendapat teman-teman pada rapat rutin di ruang rapat SD Bertaraf internasional kemarin sangat bermamfaat sekali terhadap kemajuan belajar murid. Kami saling tukar pendapat dan solusi permasalahan pembelajaran pada murid di kelasnya masing-masing. Ketika dewan guru membahas tentang gaya belajar anak, ini mengingatkan saya pada buku yang saya beli di Gramedia beberapa bulan yang lalu. Buku tersebut menjelaskan kecerdasan anak dengan bermacam-macam kecerdasan yang disebut Multiple Intelegensi (MI).&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya belajar peserta didik berbeda setiap individunya. kecerdasan sangat mempengaruhi gaya belajar tersebut. Hendaknya guru mensurvei kecerdasan anak untuk pembelajaran yang cocok di kelasnya. Survei seperti ini sudah kami lakukan setiap proses Penerimaan Murid Baru di sekolah dengan melibatkan tim Psikolog yang profesional. mereka bertugas memetakan Gaya belajar anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut 8 kecerdasan menurut DR. Howard Gardner :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Kecerdasan Linguistik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Komponen inti : kepekaan pada bunyi, struktur, makna, fungsi  kata dan bahasa. Berkaitan   dengan kemampuan membaca, menulis, berdiskusi, berargumentasi dan berdebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Kecerdasan Matematis –logis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Komponen inti : kepekaan pada memahami pola-pola logis atau numeris, dan kemampuan mengolah alur pemikiran yang panjang. Berkaitan dengan kemampuan berhitung, menalar dan berpikir logis, memecahkan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Kecerdasan Visual-Spasial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Komponen inti :kepekaan merasakan dan membayangkan dunia gambar dan ruang secara akurat. Berkaitan dengan kemampuan menggambar, memotret, membuat patung, mendasain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Kecerdasan musical &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Komponen inti : kepekaan dan kemampuan menciptakan dan mengapresiasikan iama, pola titik nada dan warna nada serta apresiasi bentuk-bentuk ekpresi emosi musical. Berkaitan dengan kemampuan menciptakan lagu, mendengarkan nada dari sumber bunyi atau alat music.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Kecerdasan Kinestetis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Komponen inti kemampuan mengontrol gerak tubuh dan kemahiran mengelola objek, respon, dan reflex. Berkaitan dengan kemampuan gerak motorik dan keseimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Kecerdasan interpersonal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Komponen inti : kepekaan mencerna dan merespon secara tepat suasana hati, temperammen, motivasi dan keinginan orang lain. Berkaitan dengan kemampuan bergaul dengan orang lain, memimpin, kepekaan social yang tinggi, negosiasi, bekerja sama, mempunyai empati yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. Kecerdasan Intrapersonal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;komponen inti : memahami perasaan sendiri dan kemampuan membedakan emosi, pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri. Berkaitan dengan kemampuan mengenal diri sendiri secara mendalam, kemampuan intuitif dan motivasi diri, penyendiri, sensitive terhadap nilai diri dan tujuan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8. Kecerdasan Naturalis :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Komponen inti : keahlian membedakan anggoya-anggota spesies, mengenali eksi stensi spesies lainnya, dan memetakan hubungan antara beberapa spesies baik secara format maupun Non-format. Berkaitan dengan kemampuan meneliti gejala-gejala alam, mengklafikasi, identifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Sekolahnya Manusia : sekolah berbasis multiple Intelegensi di Indonesia, hal 56, penulis Munif Chatib&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-8272436097660037208?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/8272436097660037208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=8272436097660037208' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/8272436097660037208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/8272436097660037208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/10/kecerdasan-dan-gaya-belajar.html' title='Kecerdasan dan Gaya Belajar'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-7890426153117980566</id><published>2010-10-27T01:13:00.000-07:00</published><updated>2010-11-30T07:24:52.008-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Umum'/><title type='text'>Team Teaching</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Makalah ini saya dapatkan dari file-file bapak Nur Saadi yang sering browsing. setelah saya baca, sepertinya cocok untuk pembelajaran Bapak/Ibu pengajar di sekolah saya. SD Bertaraf Internasional Kabupaten Banjar sudah menerapkan pembelajaran dengan Team Teaching seperti ini. berikut ini isi dari makalah tersebut :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Team Teaching&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;oleh : Yeni Artiningsih*))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang penyelenggaraan pendidikan di sekolah, tentu tidak terlepas dari peran serta guru dalam melaksanakan proses pembelajaran siswa, yang diwujudkan dalam bentuk interaksi belajar mengajar, baik antara pendidik dengan pendidik lainnya, pendidik dengan peserta didik, maupun peserta didik dengan peserta didik dan lingkungannya.  Dalam menyelenggarakan&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; pembelajaran formal, pendidik berpedoman pada rencana dan pengaturan tentang pendidikan, yang keseluruhannya dikemas dalam bentuk kurikulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang saat ini sedang dikembangkan di Indonesia, peran guru untuk dapat mengimplementasikan dan mengembangkan kurikulum tampaknya bukan hal yang sederhana. Guru dituntut untuk dapat memenuhi sejumlah prinsip pembelajaran tertentu, diantaranya guru harus memperhatikan kebutuhan dan perbedaan individual, mengembangkan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa aktif, kreatif dan menyenangkan, serta menilai proses dan hasil pembelajaran siswa secara akurat dan komperhensif.&lt;br /&gt;Untuk dapat mengimplementasikan kurikulum dengan baik tampaknya masih ditemukan berbagai kendala, seperti persoalan rendahnya motivasi dan kemampuan guru itu sendiri, ratio antara guru dengan siswa yang tidak seimbang, dan keterbatasan sarana. Semua itu menuntut guru untuk dapat mengelola pembelajaran dan mengembangkan bentuk-bentuk strategi pembelajaran yang lebih tepat dan sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini pada umumnya strategi pembelajaran yang dikembangkan di sekolah cenderung dilakukan secara soliter. Dalam arti, pengelolaan pembelajaran&lt;br /&gt;menjadi tanggung jawab guru yang bersangkutan secara individual, baik dalam merencanakan, melaksanakan, maupun menilai pembelajaran siswa. Ketika dihadapkan dengan tuntutan kurikulum yang sangat kompleks dan kondisi nyata yang kurang kondusif, guru seringkali menjadi tidak berdaya dan memiliki keterbatasan untuk dapat mengimplementasikan kurikulum sesuai dengan apa yang diharapkan dan digariskan dalam ketentuan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, strategi Team Teaching tampaknya bisa dijadikan sebagai alternatif untuk mengatasi permasalahan yang ada. Team Teaching merupakan salah satu bentuk strategi pembelajaran yang melibatkan dua orang guru atau lebih dalam proses pembelajaran siswa, dengan pembagian peran dan tanggung jawab secara jelas dan seimbang. Melalui strategi Team Teaching, diharapkan antar mitra dapat bekerja sama dan saling melengkapi dalam mengelola proses pembelajaran. Setiap permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran dapat diatasi secara bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui tulisan ini akan dipaparkan tentang konsep dasar microteaching dan tahapan-tahapan dalam pembelajaran microteaching,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=====================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Konsep Dasar Team Teaching&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, seiring dengan semakin modernnya sistem pendidikan dan tuntutan yang semakin berkembang, tak jarang sekolah-sekolah yang masih menggunakan strategi pembelajaran konvensional dalam melaksanakan proses pembelajarannya. Dalam proses pembelajaran dengan strategi konvensional ini, proses pembelajaran dilakukan secara soliter, artinya proses pembelajaran yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai kepada evaluasi pembelajaran siswa dilakukan oleh satu orang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sebenarnya, sekarang ini kurikulum pendidikan di Indonesia sudah makin berkembang. Telah banyak tuntutan-tuntutan yang ditujukan kepada guru. Saat ini, guru dituntut untuk lebih inovatif dan kreatif dalam menentukan/ memilih metode pembelajaran yang digunakan, yang tentunya harus disesuaikan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Selain itu, guru di era sekarang juga dituntut untuk lebih mengenal setiap individu dari diri siswa. Dan melihat ratio antara jumlah guru dan siswa yang tidak seimbang, tentu seorang guru tidak mungkin bisa menangani jumlah siswa yang banyak itu. Satu hal yang juga penting, bahwa yang namanya guru bukan berarti orang yang tahu akan segala hal. Dalam hal ini, setiap manusia tentulah memiliki kekurangan pengetahuan. Ini menunjukkan bahwa guru pun membutuhkan sosok lain yang bisa diajak kerja sama dalam menghadapi segala kesulitan yang ada pada saat melaksanakan proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika melihat beberapa masalah yang terjadi dalam dunia pendidikan, dalam hal ini pihak sekolah dan guru-guru dituntut daya kreatifitasnya dalam memilih strategi yang tepat agar segala tuntutan yang ditujukan terhadap guru khususnya itu dapat terpenuhi dengan maksimal. Dan tampaknya strategi Team Teaching merupakan cara tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Team Teaching merupakan strategi pembelajaran yang kegiatan proses pembelajarannya dilakukan oleh lebih dari satu orang guru dengan pembagian peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Definisi ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Martiningsih (2007) bahwa “Metode pembelajaran team teaching adalah suatu metode mengajar dimana pendidiknya lebih dari satu orang yang masing-masing mempunyai tugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Ahmadi dan Prasetya (2005) menyatakan bahwa Team teaching (pengajaran beregu) adalah suatu pengajaran yang dilaksanakan bersama oleh beberapa orang. Tim pengajar atau guru yang menyajikan bahan pelajaran dengan metode mengajar beregu ini menyajikan bahan pengajaran yang sama dalam waktu dan tujuan yang sama pula. Para guru tersebut bersama-sama mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasil belajar siswa. Pelaksanaan belajarnya dapat dilakukan secara bergilir dengan metode ceramah atau bersama-sama dengan metode diskusi panel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ada beberapa jenis dari strategi Team Teaching, sesuai yang dijelaskan oleh Soewalni S (2007), yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Semi Team Teaching :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe 1 = sejumlah guru mengajar mata pelajaran yang sama di kelas yang berbeda. Perencanaan materi dan metode disepakati bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe 2a = satu mata pelajaran disajikan oleh sejumlah guru secara bergantian dengan pembagian tugas, materi dan evaluasi oleh guru masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe 2b = satu mata pelajaran disajikan oleh sejumlah guru dengan mendesain siswa secara berkelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Team Teaching Penuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe 3 = satu tim terdiri dari dua orang guru atau lebih, waktu kelas sama, pembelajaran mata pelajaran / materi tertentu. Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi secara bersama dan sepakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun variasi Team Teaching Penuh menurut Soewalni S (2007) ialah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pelaksanaan bersama, seorang guru sebagai penyaji atau menyampaikan informasi, seorang guru membimbing diskusi kelompok atau membimbing latihan individual.&lt;br /&gt;* Anggota tim secara bergantian menyajikan topik/materi. Diskusi / tanya jawab dibimbing secara bersama dan saling melengkapi jawaban dari anggota tim.&lt;br /&gt;* Seorang guru (senior) menyajikan langkah latihan, observasi, praktek dan informasi seperlunya. Kelas dibagi dalam kelompok, setiap kelompok dipandu seorang guru (tutor, fasilitator, mediator). Akhir pembelajaran masing-masing kelompok menyajikan laporan (lisan/tertulis) dan ditanggapi bersama serta disimpulkan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dari beberapa jenis Team Teaching yang dikemukakan oleh Soewalni S, penulis lebih condong ke jenis Team Teaching penuh, karena disana lebih terlihat nyata strategi Team Teaching-nya. Guru yang mengajar lebih dari satu orang, mereka mengajar di kelas yang sama dengan materi yang sama dan pada waktu yang sama, serta setiap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya pun dilakukan atas kesepakatan bersama. Hal ini sangat sesuai dengan prinsip pembentukan team dalam sebuah pelaksanaan tugas, bahwa segala sesuatunya yang berkaitan dengan misi pencapaian tujuan dilakukan secara bersama-sama, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai kepada evaluasi terhadap apa yang telah dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tahapan Pembelajaran dengan Strategi Team Teaching&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tahap Awal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Perencanaan Pembelajaran Disusun secara Bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan pembelajaran atau yang saat ini lebih populer dengan istilah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) harus disusun secara bersama-sama oleh setiap guru yang tergabung dalam Team Teaching. Agar setiap guru yang tergabung dalam team teaching memahami tentang apa-apa yang tercantum dalam isi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tersebut, mulai dari standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator yang harus diraih oleh siswa dari proses pembelajaran, sampai kepada sistem penilaian hasil evaluasi siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Metode Pembelajaran Disusun Bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang harus disusun bersama oleh team, metode yang akan digunakan oleh mereka dalam proses pembelajaran Team Teaching pun harus direncanakan bersama-sama oleh anggota Team Teaching. Perencanaan metode secara bersama ini dilakukan agar setiap guru Team Teaching mengetahui alur proses pembelajaran dan tidak kehilangan arah pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Partner Team Teaching Memahami Materi dan Isi Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru sebagai partner dalam Team Teaching bukan hanya harus mengetahui tema dari materi yang akan disampaikan kepada siswa saja, lebih jauh dari itu, mereka juga harus sama-sama mengetahui dan memahami isi dari materi pelajaran tersebut. Hal ini agar keduanya bisa saling melengkapi kekurangan pengetahuan yang ada di dalam diri masing-masing. Terutama ini dapat dirasakan manfaatnya dalam penyampaian materi pada siswa dan menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa atas penjelasan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Pembagian Peran dan Tanggung Jawab Secara Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Team Teaching, pembagian peran dan tanggung jawab masing-masing guru harus dibicarakan secara jelas ketika merencanakan proses pembelajaran yang akan dilaksanakan, agar ketika proses pembelajaran berlangsung di dalam kelas, mereka tahu peran dan tugasnya masing-masing. Tidak ada lagi yang namanya ketidakjelasan peran dan tanggung jawab dalam hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tahap Inti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Satu guru sebagai pemateri dalam dua jam mata pelajaran penuh, dan satu orang sebagai pengawas dan pembantu team.&lt;br /&gt;* Dua orang guru bergantian sebagai pemateri dalam dua jam pelajaran, dalam hal ini berarti tugas sebagai pemateri dibagi dua dalam dua jam pelajaran yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tahap Evaluasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Evaluasi Guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi guru selama proses pembelajaran dilakukan oleh partner team setelah jam pelajaran berakhir. Evaluasi dilakukan oleh masing-masing partner dengan cara memberi kritikan-kritikan dan saran yang membangun untuk perbaikan proses pembelajaran selanjutnya. Dalam hal ini setiap guru yang diberi saran harus menerima dengan baik saran-saran tersebut, karena hakekatnya itulah kelebihan dari team teaching. Setiap guru harus merasa bahwa mereka banyak mengalami kekurangan dalam diri mereka, tidak merasa diri paling benar dan paling pintar. Evaluasi ini dilakukan di luar ruang kelas, ini dilakukan untuk menjaga image masing-masing guru dihadapan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Evaluasi Siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi siswa dalam hal ini mencakup pembuatan soal evaluasi dan merencanakan metode evaluasi, yang semuanya dilakukan secara bersama-sama oleh guru Team Teaching. Atas kesepakatan bersama guru harus membuat soal-soal evaluasi yang akan diberikan kepada siswa, disini guru Team Teaching harus secara bersama-sama menentukan bentuk soal evaluasi, baik lisan ataupun tulisan, baik pilihan ganda, uraian, atau kombinasi antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang tak kalah pentingnya adalah dalam evaluasi siswa, guru juga diharuskan merencanakan metode evaluasi. Perencanaan metode evaluasi siswa ini di dalamnya mencakup pembagian peran dan tanggung jawab setiap guru Team Teaching dalam pelaksanaan evaluasi, serta pembagian pos-pos pengawasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Kesimpulan dan Saran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin berkembangnya kurikulum pengajaran, menuntut guru untuk semakin kreatif dalam melaksanakan proses pembelajaran di dalam kelas. Berbagai tuntutan yang ditujukan kepada guru pun semakin kompleks, diantaranya ialah guru dituntut untuk mampu memperhatikan perbedaan individual siswa, guru harus kreatif mendesain strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa aktif dan nyaman belajar, serta guru pun dituntut untuk mampu melakukan penilaian terhadap proses dan hasil belajar siswa secara menyeluruh. Berbagai hal yang harus dipenuhi guru tersebut, tentu merupakan hal yang sulit jika semua itu dilakukan seorang diri, untuk itu membutuhkan partner agar semua hal tersebut dapat dilakukan secara maksimal. Maka salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan strategi Team Teaching dalam melaksanakan proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Team Teaching merupakan suatu strategi pembelajaran yang dilakukan oleh lebih dari satu orang guru dengan pembagian tugasnya secara jelas. Dilihat dari jenisnya, strategi Team Teaching ada dua jenis, yaitu semi Team Teaching dan Team Teaching penuh. Dalam strategi Team Teaching, seluruh aktivitas proses pembelajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai kepada evaluasi dilakukan secara bersama oleh guru Team Teaching. Hal ini sangat sesuai dengan prinsip kerja sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Saran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pihak sekolah, hendaknya kreatif dalam memilih metode pembelajaran yang akan digunakan dalam Proses Belajar Mengajar, agar proses pembelajaran berjalan dengan baik dan hasil yang dicapai oleh siswa pun relatif baik. Dan bagi sekolah-sekolah yang sudah menggunakan strategi Team Teaching dalam proses pembelajaran, pelaksanaan Team Teaching harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang benar agar tidak terjadi penyimpangan dalam sistem pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=====================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmadi, A. dan Prasetya. (2005). Strategi Belajar Mengajar. Bandung : CV Pustaka Setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martiningsih. (2007). Team Teaching. (http://martiningsih.blogspot.com).(Diakses tgl 8 April 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soewalni, S. (2007). Team Teaching. Makalah Program Pelatihan Applied Approach 2007 di Lembaga Pengembangan Pendidikan UNAS. (Diakses tgl 8 April 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)) Yeni Artiningsih, adalah mahasiswa tingkat IV pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas Kuningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah seminar Ilmu Manajemen, yang disampaikan oleh Bapak Dr. Uhar Suharsaputra, M.Pd. dan Bapak Akhmad Sudrajat, M.Pd&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-7890426153117980566?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/7890426153117980566/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=7890426153117980566' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/7890426153117980566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/7890426153117980566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/10/team-teaching.html' title='Team Teaching'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-1475569390185134912</id><published>2010-10-27T01:07:00.000-07:00</published><updated>2010-11-30T07:27:02.322-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Umum'/><title type='text'>Media Pembelajaran Berbasis Komputer</title><content type='html'>oleh AKHMAD SUDRAJAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini teknologi komputer tidak lagi hanya digunakan sebagai sarana komputasi dan pengolahan kata (word processor) tetapi juga sebagai sarana belajar multi media yang memungkinkan peserta didik membuat desain dan rekayasa suatu konsep dan ilmu pengetahuan. Sajian multimedia berbasis komputer dapat diartikan sebagai teknologi yang mengoptimalkan peran komputer sebagai sarana untuk menampilkan dan merekayasa teks, grafik, dan suara dalam sebuah tampilan yang terintegrasi. Dengan tampilan yang dapat mengkombinasikan berbagai unsur penyampaian informasi dan pesan, komputer dapat dirancang dan digunakan sebagai media teknologi yang efektif untuk mempelajari dan mengajarkan materi pembelajaran yang relevan misalnya rancangan grafis dan animasi.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Multimedia berbasis komputer dapat pula dimanfaatkan sebagai sarana dalam melakukan simulasi untuk melatih keterampilan dan kompetensi tertentu. Misalnya, penggunaan simulator kokpit pesawat terbang yang memungkinkan peserta didik dalam akademi penerbangan dapat berlatih tanpa menghadapi risiko jatuh. Contoh lain dari penggunaan multimedia berbasis komputer adalah tampilan multimedia dalam bentuk animasi yang memungkinkan mahasiswa pada jurusan eksakta, biologi, kimia, dan fisika melakukan percobaan tanpa harus berada di laboratorium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi komputer saat ini telah membentuk suatu jaringan (network) yang dapat memberi kemungkinan bagi siswa untuk berinteraksi dengan sumber belajar secara luas. Jaringan komputer berupa internet dan web telah membuka akses bagi setiap orang untuk memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan terkini dalam bidang akademik tertentu. Diskusi dan interaksi keilmuan dapat terselenggara melalui tersedianya fasilitas internet dan web di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan internet dan web tidak hanya dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap kegiatan akademik siswa tapi juga bagi guru. Internet dan web dapat memberi kemungkinan bagi guru untuk menggali informasi dan ilmu pengetahuan dalam mata pelajaran yang menjadi bidang ampuannya. Melalui penggunaan internet dan web, guru akan selalu siap mengajarkan ilmu pengetahuan yang mutakhir kepada siswa. Hal ini tentu saja menuntut kemampuan guru itu sendiri untuk selalu giat mengakses website dalam bidang yang menjadi keahliannya. Hal ini sejalan dengan definisi Pannen (2003) mengenai media dan teknologi pembelajaran di sekolah dalam arti luas yang mencakup perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan sumberdaya manusia (humanware) yang dapat digunakan untuk memperkaya pengalaman belajar siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media dalam pembelajaran memiliki fungsi sebagai alat bantu untuk memperjelas pesan yang disampaikan guru. Media juga berfungsi untuk pembelajaran individual dimana kedudukan media sepenuhnya melayani kebutuhan belajar siswa (pola bermedia). Beberapa bentuk penggunaan komputer media yang dapat digunakan dalam pembelajaran meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Penggunaan Multimedia Presentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Multimedia presentasi digunakan untuk menjelaskan materi-materi yang sifatnya teoretis, digunakan dalam pembelajaran klasikal dengan group belajar yang cukup banyak di atas 50 orang. Media ini cukup efektif sebab menggunakan multimedia projector yang memiliki jangkauan pancar cukup besar. Kelebihan media ini adalah menggabungkan semua unsur media seperti teks, video, animasi, image, grafik dan sound menjadi satu kesatuan penyajian, sehingga mengakomodasi sesuai dengan modalitas belajar siswa. Program ini dapat mengakomodasi siswa yang memiliki tipe visual, auditif maupun kinestetik. Hal ini didukung oleh teknologi perangkat keras yang berkembang  cukup lama, telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam kegiatan presentasi. Saat ini teknologi pada bidang rekayasa komputer menggantikan peranan alat presentasi pada masa sebelumnya. Penggunaan perangkat lunak perancang presentasi seperti Microsoft power point yang dikembangkan oleh Microsoft inc” Corel presentation yang dikembangkan oleh Coral inc” hingga perkembangan terbaru perangkat lunak yang dikembangkan Macromedia inc, yang mengembangkan banyak sekali jenis perangkat lunak untuk mendukung kepentingan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai perangkat lunak yang memungkinkan presentasi dikemas dalam bentuk multimedia yang dinamis dan sangat menarik. Perkembangan perangkat lunak tersebut didukung oleh perkembangan sejumlah  perangkat keras penunjangnya. Salah satu produk yang paling banyak memberikan pengaruh dalam penyajian bahan presentasi digital saat ini adalah perkembangan monitor, kartu video, kartu audio serta perkembangan proyektor digital (digital image projector) yang memungkinkan bahan presentasi dapat disajikan secara digital untuk bermacam-macam  kepentingan dalam berbagai kondisi dan situasi, serta ukuran ruang dan  berbagai karakteristik audience. Tentu saja hal ini menyebabkan perubahan besar pada trend metode presentasi saat ini, dan dapat dimanfaatkan untuk mengajarkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengolahan bahan presentasi dengan menggunakan komputer tidak hanya untuk dipresentasikan dengan menggunakan alat presentasi digital dalam bentuk Multimedia projector (seperti LCD, In-Focus dan sejenisnya), melainkan juga dapat dipresentasikan melalui peralatan proyeksi lainnya, seperti over head projector (OHP) dan film slides projector yang sudah lebih dahulu diproduksi. Sehingga lembaga atau instansi yang belum memiliki perangkat alat presentasi digital akan tetapi telah memiliki kedua alat tersebut, dapat memanfaatkan pengolahan bahan presentasi melalui komputer secara maksimal. Dalam sudut pandang proses pembelajaran, presentasi merupakan salah satu metode pernbelajaran. Penggunaannya yang menempati frekuensi paling tinggi dibandingkan dengan metode lainnya. Berbagai alat yang dikembangkan, telah memberikan pengaruh yang sangat basar bukan hanya pada pengembangan kegiatan praktis dalam kegiatan presentasi pembelajaran akan tetapi juga pada teori-teori yang mendasarinya. Perkembangan terakhir pada bidang presentasi dengan alat bantu komputer telah menyebabkan perubahan tuntutan penyelenggaraan pembelajaran. Di antaranya tuntutan terhadap peningkatan kemampuan dan keterampilan para guru dalam mengolah bahan-bahan pembelajaran ke dalam media presentasi yang berbasis komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. CD Multimedia Interaktif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CD interaktif dapat digunakan pada pembelajaran di sekolah sebab cukup efektif meningkatkan hasil belajar siswa terutama komputer. Terdapat dua istilah dalam perkembangan CD interaktif ini yaitu Computer Based Instructuion (CBI) dan Computer Assisted Instructuion (CAI) Sifat media ini selain interaktif juga bersifat multi media terdapat unsur-unsur media secara lengkap yang meliputi sound, animasi, video, teks dan grafis. Beberapa model multimedia interaktif di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Model Drill: Model drills dalam CBI pada dasarnya merupakan salah satu starategi pembelajaran yang bertujuan memberikan pengalaman belajar yang lebih kongkrit melalui penciptan tiruan-tiruan bentuk pengalaman yang mendekati suasana yang sebenarnya.&lt;br /&gt;* Model Tutorial: Program CBI tutorial dalam merupakan program pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan perangkat lunak berupa program komputer yang berisi materi pelajaran. Metode Tutorial dalam CAI pola dasarnya mengikuti pengajaran Berprograma tipe Branching yaitu informasi/mata pelajaran disajikan dalam unit – unit kecil, lalu disusul dengan pertanyaan. Respon siswa dianalisis oleh komputer (Diperbandingkan dengan jawaban yang diintegrasikan oleh penulis program) dan umpan baliknya yang benar diberikan. (Nana Sudjana &amp;amp; Ahmad Rivai:139). Program ini juga menuntut siswa untuk mengaplikasikan ide dan pengetahuan yang dimilikinya secara langsung dalam kegiatan pembelajaran.&lt;br /&gt;* Model Simulasi: Model simulasi dalam CBI pada dasarnya merupakan salah satu starategi pembelajaran yang bertujuan memberikan pengalaman belajar yang lebih kongkrit melalui penciptan tiruan-tiruan bentuk pengalaman yang mendekati suasana yang sebenarnya.&lt;br /&gt;* Model Games: Model permainan ini dikembangkan berdasarkan atas “pembelajaran menyenangkan”, di mana peserta didik akan dihadapkan pada beberapa petunjuk dan aturan permainan. Dalam konteks pembelajaran sering disebut dengan Instructional Games (Eleanor.L Criswell, 1989: 20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya tipe penyajian yang banyak digunakan adalah “tutorial”. Tutorial ini membimbing siswa secara tuntas menguasai materi dengan cepat dan menarik. Setiap siswa cenderung memiliki perbedaan penguasaan materi tergantung dari kemampuan yang dimilikinya. Penggunaan tutorial melalui CD interaktif lebih efektif untuk mengajarkan penguasaan Software kepada siswa dibandingkan dengan mengajarkan hardware. Misalnya tutorial Microsoft Office Word, Access, Excel, dan Power Point. Kelebihan lain dari CD interaktif ini adalah siswa dapat belajar secara mandiri, tidak harus tergantung kepada guru/instruktur. Siswa dapat memulai belajar kapan saja dan dapat mengakhiri sesuai dengan keinginannya. Selain itu, materi-materi yang diajarkan dalam CD tersebut dapat langsung dipraktekkan oleh siswa terhadap siftware tersebut. Terdapat juga fungsi repeat, bermanfaat untuk mengulangi materi secara berulang-ulang untuk penguasaan secara menyeluruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Video Pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain CD interaktif, video termasuk media yang dapat digunakan untuk pembelajaran di SD. Video ini bersifat interaktif-tutorial membimbing siswa untuk memahami sebuah materi melalui visualisasi. Siswa juga dapat secara interaktif mengikuti kegiatan praktek sesuai yang diajarkan dalam video. Penggunaan CD interaktif di SD cocok untuk mengajarkan suatu proses. Misalnya cara penyerbukan pada tumbukan, teknik okulasi, pembelahan sel, proses respirasi dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Internet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet, singkatan dari interconection and networking, adalah jaringan informasi global, yaitu,“the largest global network of computers, that enables people throughout the world to connect with each other¨. Internet diluncurkan pertama kali oleh J.C.R. Licklider dari MIT (Massachusetts Institute Technology) pada bulan Agustus 1962.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanfaatan internet sebagai media pembelajaran mengkondisikan siswa untuk belajar secara mandiri. “Through independent study, students become doers, as well as thinkers” (Cobine, 1997). Para siswa dapat mengakses secara online dari berbagai perpustakaan, museum, database, dan mendapatkan sumber primer tentang berbagai peristiwa sejarah, biografi, rekaman, laporan, data statistik, (Gordin et. al., 1995). Informasi yang diberikan server-computers itu dapat berasal dari commercial businesses (.com), goverment services (.gov), nonprofit organizations (.org), educational institutions (.edu), atau artistic and cultural groups (.arts)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa dapat berperan sebagai seorang peneliti, menjadi seorang analis, tidak hanya konsumen informasi saja. Mereka menganalisis informasi yang relevan dengan pembelajaran dan melakukan pencarian yang sesuai dengan kehidupan nyatanya (real life). Siswa dan guru tidak perlu hadir secara fisik di kelas (classroom meeting), karena siswa dapat mempelajari bahan ajar dan mengerjakan tugas-tugas pembelajaran serta ujian dengan cara mengakses jaringan komputer yang telah ditetapkan secara online. Siswa dapat belajar bekerjasama (collaborative) satu sama lain. Mereka dapat saling berkirim e-mail (electronic mail) untuk mendiskusikan bahan ajar. Selain mengerjakan tugas-tugas pembelajaran dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru siswa dapat berkomunikasi dengan teman sekelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanfaatan internet sebagai media pembelajaran memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dimungkinkan terjadinya distribusi pendidikan ke semua penjuru tanah air dan kapasitas daya tampung yang tidak terbatas karena tidak memerlukan ruang kelas.&lt;br /&gt;2. Proses pembelajaran tidak terbatas oleh waktu seperti halnya tatap muka biasa.&lt;br /&gt;3. Pembelajaran dapat memilih topik atau bahan ajar yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masing-masing.&lt;br /&gt;4. Lama waktu belajar juga tergantung pada kemampuan masing-masing pembelajar/siswa.&lt;br /&gt;5. Adanya keakuratan dan kekinian materi pembelajaran.&lt;br /&gt;6. Pembelajaran dapat dilakukan secara interaktif, sehingga menarik pembelajar/siswa; dan memungkinkan pihak berkepentingan (orang tua siswa maupun guru) dapat turut serta menyukseskan proses pembelajaran, dengan cara mengecek tugas-tugas yang dikerjakan siswa secara on-line.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan/kemajuan teknologi internet yang sangat pesat dan merambah ke seluruh penjuru dunia telah dimanfaatkan oleh berbagai negara, institusi, dan ahli untuk berbagai kepentingan termasuk di dalamnya untuk pendidikan/pembelajaran. Berbagai percobaan untuk mengembangkan perangkat lunak (program aplikasi) yang dapat menunjang upaya peningkatan mutu pendidikan/pembelajaran terus dilakukan. Perangkat lunak yang telah dihasilkan akan memungkinkan para pengembang pembelajaran (instructional developers) bekerjasama dengan ahli materi (content specialists) mengemas materi pembelajaran elektronik (online learning material).  Pembelajaran melalui internet di Sekolah Dasar dapat diberikan dalam beberapa format (Wulf, 1996), di antaranya adalah: (1) Electronic mail (delivery of course materials, sending in assignments, getting and giving feedback, using a course listserv., i.e., electronic discussion group, (2) Bulletin boards/newsgroups for discussion of special group, (3) Downloading of course materials or tutorials, (4) Interactive tutorials on the Web, dan (5) Real time, interactive conferencing using MOO (Multiuser Object Oriented) systems or Internet Relay Chat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bahan pembelajaran elektronik dikemas dan dimasukkan ke dalam jaringan sehingga dapat diakses melalui internet, maka kegiatan berikutnya yang perlu dilakukan adalah mensosialisasikan ketersediaan program pembelajaran tersebut agar dapat diketahui oleh masyarakat luas khususnya para calon peserta didik. Para guru juga perlu diberikan pelatihan agar mereka mampu mengelola dengan baik penyelenggaraan kegiatan pembelajaran melalui intenet. Karakteristik/potensi internet sebagaimana yang telah diuraikan di atas tentunya masih dapat diperkaya lagi dengan yang lainnya.  Namun, setidak-tidaknya ketiga karakteristik/potensi internet tersebut dipandang sudah memadai sebagai dasar pertimbangan untuk penyelenggaraan kegiatan pembelajaran melalui internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adaptasi dan disarikan dari : Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional.2008. Media Pembelajaran dan Sumber Belajar. Materi Diklat Calon Pengawas Sekolah/Pengawas Sekolah. Jakarta&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-1475569390185134912?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/1475569390185134912/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=1475569390185134912' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/1475569390185134912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/1475569390185134912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/10/media-pembelajaran-berbasis-komputer.html' title='Media Pembelajaran Berbasis Komputer'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-916727906779540155</id><published>2010-10-12T22:14:00.000-07:00</published><updated>2010-11-30T07:28:10.735-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel sastra anak'/><title type='text'>MENGEKSPLOITASI SUMBER CERITA KOMIK</title><content type='html'>Oleh :Maman S. Mahayana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra adalah karya seni yang memanfaatkan bahasa sebagai mediumnya. Peristiwa dalam sastra disajikan dalam bentuk deskripsi narasi. Bahasa dalam karya sastra dimaksudkan untuk menggambarkan rangkaian peristiwa yang keseluruhannya membangun cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan karya sastra, komik adalah karya seni yang memanfaatkan gambar sebagai mediumnya. Gambar menjadi sarana kreator (komikus) untuk menyampaikan ide atau gagasan, kegelisahan, kritik sosial atau bahkan potret zamannya. Oleh karena itu, &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;tokoh komik seyogianya merepresentasikan harapan dan idealisasi yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Di sinilah, keberhasilan sebuah komik tidak hanya sangat ditentukan oleh kepiawaian komikus dalam menyajikan serangkaian peristiwa melalui gambar-gambar yang secara keseluruhan membangun cerita, tetapi juga dalam hal pemenuhan harapan dan idealisasi tadi terwakili oleh tokoh-tokoh komik yang ditampilkannya. Dalam hal itu, komikus mesti secara sadar menempatkan tokoh komiknya sebagai sosok makhluk superior atau superhero dengan karakter yang superlatif atau tokoh biasa yang mampu menghadirkan kejadian-kejadian luar biasa. Dengan demikian, pemaknaan gambar-gambar penting artinya dalam usaha komikus menempatkan gambar sebagai alat untuk mendeskripsikan peristiwa demi peristiwa dalam rangkaian membangun sebuah cerita. Dengan perkataan lain, gambar-gambar itu digunakan untuk menyajikan sebuah cerita melalui rangkaian peristiwa yang diangkat ke dalam bentuk gambar-gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun komik menggunakan medium gambar, tak berarti ia meniadakan deskripsi narasi.yang memanfaatkan bahasa. Bagaimanapun juga, ada banyak hal yang mustahil dapat direpresentasikan melalui gambar-gambar. Suasana hati atau perasaan, seperti kegamangan, kecemasan, ketakutan atau kekalutan dan kekacauan pikiran, misalnya, terlalu sulit untuk diangkat ke dalam gambar. Oleh karena itu, mesti ada keterangan yang menyatakan tokoh tertentu dalam gambar sedang mengalami suasana hati tertentu. Jadi, bisa saja keterangan itu berupa monolog tokoh berangkutan atau keterangan yang langsung diberikan komikusnya. Begitu pula, dalam soal dialog antartokoh, komikus terpaksa menggunakan bahasa. Dengan demikian, bahasa dalam komik berfungsi sebagai pendukung untuk memperkuat efek gambar dalam mengangkat peristiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaitannya dengan gambar sebagai medium komik, maka kepiawaian komikus dalam mengangkat peristiwa ke dalam gambar-gambar, tentu saja merupakan hal yang mutlak perlu dan tidak dapat ditawar-tawar lagi. Dilihat dari aspek itu, komikus Indonesia sebagian besar sudah memenuhi tuntutan tersebut. Ganesh Th., Teguh Santosa, Wids, Hans, dan sederetan nama lain, sudah memperlihatkan kecerdasannya dalam mengangkat berbagai peristiwa ke dalam gambar-gambar. Lalu, hal apa saja yang perlu diperhatikan dan dilakukan komikus, agar karyanya tak lekang ditelan zaman? Tema cerita apa saja yang sebaiknya digarap, agar karyanya tetap aktual dan menarik perhatian pembacanya? Langkah apa saja yang dicermati, agar komikus tak kehabisan gagasan dan sumber cerita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawab beberapa pertanyaan itu, patutlah kiranya kita mencoba menyimak sejumlah unsur komik yang –sadar atau tidak sadar– seringkali diabaikan para komikus kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, penciptaan tokoh. Seperti telah disinggung di awal pembicaraan ini, gambar merupakan media komik yang berbeda dengan sastra yang menggunakan bahasa sebagai medianya. Mengingat perbedaan itu, gambaran fisik tokoh komik hadir ke hadapan pembaca sudah dalam bentuk yang lengkap. Pembaca tidak perlu lagi membayangkan gambaran fisik tokoh yang bersangkutan. Komikus juga tidak perlu mendeskripsikannya lagi lewat bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi atas hadirnya tokoh komik yang sudah dalam bentuk yang lengkap itu adalah kemungkinan hilangnya daya pikat tokoh yang bersangkutan jika ia tampil sebagai tokoh yang sudah dikenal. Tokoh wayang dan para punakawannya, misalnya, adalah tokoh yang sama sekali tidak mengundang daya pikat. Siasat pertama yang perlu dilakukan adalah pemanfaatan cerita. Membaca Mahabarata R.A. Kosasih misalnya, orang lebih tertarik pada kuatnya jalan cerita ketimbang gambaran fisik tokoh-tokohnya. Oleh karena itu, kehadiran tokoh yang sudah dikenal, harus didukung oleh kekuatan cerita. Tanpa itu, pembaca akan segera bosan dan tinggal menunggu waktu saja pembaca mencampakkan komik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya berbeda dengan penciptaan tokoh-tokoh khas yang lalu menjadi trade mark komikus yang bersangkutan. Si Buta dari Goa Hantu, Panji Tengkorak, Jaka Sembung, Godam, Bezita, Donald Bebek, Doraemon sampai Shinchan adalah tokoh-tokoh rekaan yang mulanya tidak dikenal. Ketika tokoh-tokoh itu sudah mulai dikenal dan makin akrab dengan pembaca, tokoh-tokoh itu kemudian menjadi ciri khas karya komikus yang bersangkutan. Jika tokoh-tokoh yang sudah dikenal itu, dihadirkan dalam cerita yang sederhana atau cerita biasanya, pembaca tinggal menunggu kebosanannya saja. Oleh karena itu, penekanan pada kekuatan cerita menjadi sangat penting. Di sinilah, komikus harus selalu menampilkan cerita-cerita yang tak lazim, luar biasa aneh, dan selalu tak terduga jalan ceritanya. Hanya dengan itu, kehadiran tokoh-tokoh itu akan tetap menarik, dan komik itupun tidak bakal gampang ditinggalkan pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang juga peting diperhatikan dalam menampilkan tokoh-tokoh komik adalah selain bentuk fisiknya yang khas, unik, dan nyeleneh, juga karakterisasinya mesti superlatif. Ia mesti tampil sebagai superhero dengan kekuatan mendekati dewa. Mengapa begitu? Ada sejumlah alasan yang dapat dikemukakan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengingat komik menggunakan medium gambar, maka gambar harus memberi ruang yang seluas-luasnya kepada pembaca untuk berimajinasi. Komik-komik percintaan karya Rizal atau Jan Mintaraga, misalnya, hadir tanpa sesuatu yang khas. Tokoh-tokohnya tak lebih sebagai gambaran sosok manusia kebanyakaan. Jadi, tak ada sesuatu yang istimewa. Jika saja gambarnya buruk, ia akan tetap terpajang rapi lantaran tak ada yang mau membaca. Sebaliknya, jika gambarnya bagus, ia juga tinggal menunggu saatnya ditinggalkan pembacanya. Oleh karena itu, jika tokoh-tokoh itu sangat khas, unik, dan nyeleneh, ia akan segera menarik perhatian. Persoalan berikutnya tinggal bagaimana ceritanya juga khas, unik, dan nyeleneh dengan serangkaian peristiwa yang dahsyat dan sangat luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penghadiran tokoh-tokoh yang superlatif seperti itu, berkaitan pula dengan selera pembaca. Perlu diperhatikan, bahwa pembaca komik adalah mereka yang sebagian besar berusia di bawah dewasa. Jadi, psikologi anak mestinya menjadi titik perhatian. Penghadiran tokoh-tokoh yang mendekati dewa, penting artinya untuk merangsang imajinasi pembaca. Dalam hal ini, pembaca akan mengidealisasikan dirinya ke dalam karakterisasi tokoh-tokoh seperti itu. Sebaliknya, jika yang tampil adalah tokoh-tokoh yang tidak luar biasa, seperti Donald Bebek atau Shinchan, misalnya, harus ada tokoh antagonis yang karakternya luar biasa jahatnya, luar biasa jeleknya, luar biasa sialnya, dan segala kelakuan yang superlatif. Di samping itu, ceritanya harus menampilkan segala yang tak terduga, penuh kejutan, dan aneh. Jadi, tokoh apapun yang hendak dihadirkan, ia mesti sangat khas, unik, dan nyeleneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pemanfaatan fakta sejarah. Pemanfaatan fakta sejarah untuk kepentingan komik, tidaklah serta-merta mewajibkan komikusnya menampilkan tokoh-tokoh sejarah. Fakta sejarah hanya sekadar latar peristiwa. Oleh karena itu, komikus bisa saja menampilkan tokoh rekaannya sendiri yang boleh saja lebih hebat dari tokoh sejarah itu sendiri. Perang Diponegoro, Perang Aceh, dan kisah-kisah peperangan lainnya yang begitu banyak tercecer di berbagai daerah, sesungguhnya merupakan lahan yang tak bakal habis untuk kepentingan cerita komik. Jadi, komikus dituntut untuk mempelajari sejarah, jika ia hendak mengangkat cerita komiknya dengan memanfaatkan fakta sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika komikus menampilkan tokoh-tokoh sejarah itu sendiri, seperti Diponegoro, Nyut Nya Dien atau para pahlawan nasional, ia tidak hanya membelenggu dirinya sendiri pada fakta sejarah yang tidak boleh diselewengkan, tetapi juga terikat pada bentuk klise keharusan menyampaikan nilai-nilai kejuangan. Sebagai usaha menyampaikan fakta sejarah dalam bentuk komik, tentu saja cara demikian memberi kontribusinya sendiri. Tetapi, jika komikus secara sadar hendak menciptakaan tokoh dan ceritanya sendiri dengan memanfaatkan fakta sejarah, ia mesti menampilkan sesuatu yang lain, meskipun tetap dengan memanfaatkan fakta sejarah itu sendiri. Jadi, fakta sejarah sekadar latar cerita. Yang muncul adalah peristiwa dan tokoh lain. Cerita silat SH Mintardja, Api di Bukit Manoreh atau serial cerita silat karya Arswendo Atmowiloto, Senopati Pamungkas, misalnya, merupakan contoh, bagaimana latar sejarah dimanfaatkan untuk kepentingan ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertengahan tahun 1960-an, misalnya, banyak sekali muncul komik-komik yang mengambil latar perang kemerdekaan. Tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam komik-komik itu sama sekali tidak dikenal dalam catatan sejarah. Tetapi, dalam komik itu, mereka hadir dengan semangat kejuangan yang luar biasa. Si Jampang karya Ganesh Th, Jaka Sembung karya Djair, termasuk jenis komik yang seperti itu. Sejauh ini, pemanfaatan fakta sejarah dalam komik Indonesia, belumlah banyak dilakukan para komikus kita. Di sinilah sesungguh-nya komikus kita punya lahan garapan yang masih berlimpah. Persoalannya tinggal, bagaima-na mereka mau memanfaatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, penggalian cerita rakyat. Sama halnya dengan pemanfaatan fakta sejarah, komikus kita, masih belum maksimal melakukan penggalian terhadap cerita-cerita rakyat yang tersebar di pelosok Nusantara. Komik Sangkuriang, Ciung Wanara, Lutung Kasarung, Timun Emas, dan entah cerita rakyat lain, merupakan contoh kasus, bagaimana cerita rakyat diangkat ke dalam bentuk komik. Dari sejumlah komik itu, kesan kuat yang segera muncul adalah kesetiaan komikus pada cerita aslinya. Dengan demikian, tak ada sesuatu yang baru dalam komik itu, selain bentuk naratif-bahasa, disajikan ke dalam bentuk gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, cerita rakyat yang diangkat dalam bentuk komik, termasuk ke dalam apa yang disebut transformasi. Komik yang bersangkutan sudah merupakan penafsiran kedua sebagaimana yang ditangkap komikusnya. Oleh karena itu, sangat mungkin terjadi perubahan di sana-sini, meski ia tidak menyimpang dari alur utamanya. Selain itu, ketika cerita rakyat itu ditumpahkan dalam bentuk gambar, ia sudah mengalami pemaknaan berikutnya. Dengan begitu, ia sudah akan bermakna lain lagi. Adanya pergeseran pemaknaan yang dilakukan komikus tentu saja bukanlah hal yang tabu, jangan pula dimaknai sebagai penyimpangan yang tidak boleh dilakukan. Komikus tentu saja punya hak melakukan itu, bahkan boleh pula mengumbar kreativitasnya sendiri, sejauh tidak meleset jauh dari alur utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan hak melakukan penyimpangan dan mengumbar kreativitas tersebut, dalam banyak komik Indonesia, jarang terlihat keberanian komikus untuk mengolah kembali cerita rakyat secara kreatif. Misalnya, dalam komik Sangkuriang. Peristiwa kejar-mengejar antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi, sesungguhnya menyimpan potensi yang memungkin-kan komikus mengumbar kreativitasnya. Peristiwa itu akan menjadi sangat menegangkan jika komikus pandai mengulur-ulur jalannya cerita. Sebut saja misalnya, manakala selendang Dayang Sumbi dikibaskan ke arah Sangkuriang sebagai usaha menghambat laju lari anaknya itu, Sangkuriang berkelit sedikit. Maka, torelap! Selendang itu pun meluncur deras bagai jilitan halilintar. Jeleleger! Selendang itu menghantam dinding bukit. Seketika, runtuhlah dinding bukit itu. Guluduk-guluduk-guluduk! Ribuan bongkahan bebatuan, menggelinding, menggilas dan menghancurkan apa saja. Sambil berkelit dan menghantami bebatuan yang menerjang ke arahnya, Sangkuriang terus berlari, mengejar Dayang Sumbi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi tadi, hanyalah sekadar contoh, betapa dalam banyak peristiwa yang terdapat dalam cerita-cerita rakyat, tersimpan begitu banyak potensi yang membuka peluang bagi komikus untuk mengumbar kreativitasnya. Dalam hal ini, sekaligus juga sebagai alat untuk mempertontonkan kepiawaian komikus dalam menyajikan gambar-gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, transformasi karya sastra. Selain cerita rakyat yang bisa ditransformasikan ke dalam komik, komikus juga dapat melakukannya pada sejumlah karya sastra yang sudah dikenal secara baik oleh masyarakat pembacanya. Katakalah, novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli. Ada banyak keuntungan melakukan transformasi karya sastra ke dalam komik, seperti misalnya, selain ceritanya sudah dikenal pembaca, juga komikus sekaligus “numpang” popularitas. Tetapi apakah dengan begitu, dapat dianggap merendahkan martabat komikus sendiri? Tentu saja hal itu bergantung pada kemampuan komikus sendiri memanfaatkan berbagai kekosongan yang terdapat dalam novel bersangkutan. Dalam hal itulah, komikus dapat mengumbar imajinasinya dan kreativitasnya secara lebih leluasa. Dalam hal tersebut, tentu saja itu merupakan tantangan bagi komikus untuk menghasilkan karya yang baik. Paling sedikit, penyajian gambarnya harus betul-betul mempesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali novel yang baik yang potensial diangkat dalam bentuk komik. Sayang sekali lahan garapan ini hampir tak pernah disentuh para komikus kita. Apakah ada larangan melakukan itu? Tentu saja itu dibolehkan sejauh kita minta izin kepada pengarangnya sendiri atau kepada ahli warisnya, jika pengarangnya sudah meninggal dunia. Jika sejumlah novel atau komik banyak yang diangkat ke dalam film, mengapa novel ke dalam komik, tidak? Jika itu dilakukan oleh para komikus kita, maka cerita-cerita komik Indonesia akan makin beragam dan kaya. Persoalannya tinggal bergantung pada sikap komikus itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, potret sosial zamannya. Selama ini, peranan dan kontribusi komik dalam kehidupan sosial kita sering kali ditempatkan secara tidak proporsional. Bahkan, tidak jarang pula dipandang dengan nada yang melecehkan. Padahal, komik atau karya seni lainnya, mempunyai kedudukan dan fungsi yang sama. Komik atau karya seni apapun, mempunyai kotak dan kedudukannya sendiri. Oleh karena itu, tak relevan membandingkan kontribusi komik dengan karya seni lainnya, karena masing-masing mempunyai kotaknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, ada kesan bahwa komikus sendiri sering menempatkan dirinya sebagai seniman marjinal, meminggirkan diri dalam kehidupan kesenimanan. Sikap itu tentu saja akan sangat merugikan posisi komikus sendiri dan tempat komik dalam deretan karya seni lainnya. Lalu langkah apa yang perlu dilakukan komikus berkaitan dengan masalah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, kita melihat bahwa komik-komik Indonesia dijadikan sebagai konsumsi hiburan semata. Sasaran pembacanya sebagian besar usia di bawah dewasa. Apakah mungkin ada komik untuk orang dewasa? Apapun tentu saja mungkin. Salah satu yang menjadikan itu mungkin adalah dengan mencoba mengangkat potret sosial zamannya. Potret yang seperti itu selama ini seringkali direpresentasikan oleh karikatur. Tetapi, karikatur sekadar menyajikan fragmen-fragmen dan tidak membangun sebuah wacana yang lengkap. Oleh karena itu, kinilah saatnya, para komikus memikirkan, bagaimana komik dapat menjadi potret semangat zamannya. Untuk sampai ke arah itu, komikus perlu mengangkat berbagai peristiwa aktual, kontemporer yang menjadi isu nasional. Sebagai contoh, adakah terpikirkan oleh para komikus kita untuk mengangkat peristiwa reformasi yang menumbangkan rezim Soeharto? Peristiwa lain yang tidak kalah dahsyatnya, sebenarnya bertebaran, seperti kerusuhan Sambas dan Sampit, peristiwa Semanggi I dan II, penembakan mahasiswa Trisaksi, peristiwa Mei dan sederetan peristiwa lain yang semuanya sah-sah saja diangkat ke dalam komik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, penciptaan cerita-cerita dahsyat. Dalam sejarah komik Indonesia, memang banyak terdapat usaha komikus untuk menciptakan cerita-cerita dahsyat, peristiwa-peristiwa  yang melampaui batas-batas logika. Sayangnya, ada kecenderungan dari komikus sendiri untuk tak menampilkan cerita yang terlalu jauh melampaui batas-batas logika. Justru dalam hal itulah, komik Indonesia selalu kalah bersaing dengan komik asing. Apa hebatnya Kungfu Boy, Rai Thunder Jet atau Dragon Ball? Hakikatnya, cerita dalam komik-komik itu tak jauh berbeda dengan komik lain yang menampilkan peristiwa-peristiwa menakjubkan. Bedanya, komikus Takeshi Maekawa, Johji Manabe atau komiskus Jepang lainnya sangat berani dalam menampilkan tokoh-tokoh supernatural dan dunia entah-berantah. Lalu apa yang menarik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada begitu banyak tokoh bermunculan dalam komik-komik tersebut. Tokoh utama dengan kekuatan dewa, kadangkala dalam beberapa perkelahian harus kalah dahulu melawan berbagai makhluk yang fisiknya luar biasa anehnya. Tak terpikirkan adanya tokoh iblis yang fisiknya menyerupai ular dengan tubuh raksasa, kepada plontos, mata sebesar bola tenis, dan punggung bersisik duri, dan entah apalagi keanehan luar biasa yang terdapat dalam anggota tubuhnya. Tetapi, dengan begitu, ia menjadi sangat khas. Tampilnya makhluk-makhluk aneh itu juga sekaligus merangsang pembaca untuk terpancing mengumbar imajinasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara demikian, komik-komik seperti itu tidak cepat membosankan, lantaran selalu ada kekhasan dan kejutan-kejutan. Bahwa cerita-cerita seperti itu sangat disukai anak-anak, karena memang itulah dunianya, dunia yang penuh dengan hayalan dan imajinasi. Oleh sebab itu, komikus mestilah mempunyai keberanian untuk menciptakan cerita-cerita yang mahadahsyat, peristiwa-peristiwa yang melampauai batas-batas logika, dan tokoh-tokoh dengan fisik tak lazim dan tokoh yang hanya ada dalam komik itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal penciptaan cerita-cerita dahsyat, komikus Indonesia agaknya masih perlu belajar dari para penulis skenario sinetron yang menampilkan cerita-cerita heroisme anak-anak. Lihat saja sinetron Saras, Gerhana, atau Panji. Kisah-kisah semacam itulah yang justru mengundang daya pikat bagi anak-anak. Dengan cara itu, anak-anak juga dirangsang untuk mengumbar imajinasinya, karena mereka berusaha untuk mengidentifikasikan dirinya dan sekaligus mengidealisasikan tokoh-tokoh itu sebagai superhero.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, gagasan untuk mengeksploitasi cerita-cerita komik ini, persoalannya terpulang kembali kepada para komikusnya sendiri. Jika mereka tak mempunyai keberanian untuk nyeleneh, untuk melakukan eksperimentasi, maka mereka akan tetap terpuruk dan komik Indonesia akan tetap berada di bawah bayang-bayang komik asing. Jika saja para komikus itu menyadari, betapa kekayaan cerita Indonesia begitu berlimpah, mestinya komik-komik Indonesia  tidak hanya menjadi primadona di negerinya sendiri, tetapi juga menjadi sumber ilham bagi para komikus asing. Komik Indonesia tidak mustahil menjadi komoditas anak-anak warganegara asing. “Nah! Selamat menyeleneh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: MAHAYANA-MAHADEWA.COM http://mahayana-mahadewa.com/2010/10/08/mengeksploitasi-sumber-cerita-komik/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-916727906779540155?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/916727906779540155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=916727906779540155' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/916727906779540155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/916727906779540155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/10/mengeksploitasi-sumber-cerita-komik.html' title='MENGEKSPLOITASI SUMBER CERITA KOMIK'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-1956854760369277730</id><published>2010-10-05T01:40:00.000-07:00</published><updated>2010-10-05T01:41:34.221-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Anak'/><title type='text'>Balas Budi Burung Bangau</title><content type='html'>Dahulu kala di suatu tempat di Jepang, hidup seorang pemuda bernama Yosaku. Kerjanya mengambil kayu bakar di gunung dan menjualnya ke kota. Uang hasil penjualan dibelikannya makanan. Terus seperti itu setiap harinya. Hingga pada suatu hari ketika ia berjalan pulang dari kota ia melihat sesuatu yang menggelepar di atas salju. Setelah di dekatinya ternyata seekor burung bangau yang terjerat diperangkap sedang meronta-ronta. Yosaku segera melepaskan perangkat itu. Bangau itu sangat gembira, ia berputar-putar di atas kepala Yosaku beberapa kali sebelum terbang ke angkasa. Karena cuaca yang sangat dingin, sesampainya dirumah, Yosaku segera menyalakan tungku api dan menyiapkan makan malam. Saat itu terdengar suara ketukan pintu di luar rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketika pintu dibuka, tampak seorang gadis yang cantik sedang berdiri di depan pintu. Kepalanya dipenuhi dengan salju. "Masuklah, nona pasti kedinginan, silahkan hangatkan badanmu dekat tungku," ujar Yosaku. "Nona mau pergi kemana sebenarnya ?", Tanya Yosaku. "Aku bermaksud mengunjungi temanku, tetapi karena salju turun dengan lebat, aku jadi tersesat." "Bolehkah aku menginap disini malam ini ?". "Boleh saja Nona, tapi aku ini orang miskin, tak punya kasur dan makanan." ,kata Yosaku. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin diperbolehkan menginap". Kemudian gadis itu merapikan kamarnya dan memasak makanan yang enak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terbangun keesokan harinya, gadis itu sudah menyiapkan nasi. Yosaku berpikir bahwa gadis itu akan segera pergi, ia merasa kesepian. Salju masih turun dengan lebatnya. "Tinggallah disini sampai salju reda." Setelah lima hari berlalu salju mereda. Gadis itu berkata kepada Yosaku, "Jadikan aku sebagai istrimu, dan biarkan aku tinggal terus di rumah ini." Yosaku merasa bahagia menerima permintaan itu. "Mulai hari ini panggillah aku Otsuru", ujar si gadis. Setelah menjadi Istri Yosaku, Otsuru mengerjakan pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh. Suatu hari, Otsuru meminta suaminya, Yosaku, membelikannya benang karena ia ingin menenun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Otsuru mulai menenun. Ia berpesan kepada suaminya agar jangan sekali-kali mengintip ke dalam penyekat tempat Otsuru menenun. Setelah tiga hari berturut-turut menenun tanpa makan dan minum, Otsuru keluar. Kain tenunannya sudah selesai. "Ini tenunan ayanishiki. Kalau dibawa ke kota pasti akan terjual dengan harga mahal. Yosaku sangat senang karena kain tenunannya dibeli orang dengan harga yang cukup mahal. Sebelum pulang ia membeli bermacam-macam barang untuk dibawa pulang. "Berkat kamu, aku mendapatkan uang sebanyak ini, terima kasih istriku. Tetapi sebenarnya para saudagar di kota menginginkan kain seperti itu lebih banyak lagi. "Baiklah akan aku buatkan", ujar Otsuru. Kain itu selesai pada hari keempat setelah Otsuru menenun. Tetapi tampak Otsuru tidak sehat, dan tubuhnya menjadi kurus. Otsuru meminta suaminya untuk tidak memintanya menenun lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota, Sang Saudagar minta dibuatkan kain satu lagi untuk Kimono tuan Putri. Jika tidak ada maka Yosaku akan dipenggal lehernya. Hal itu diceritakan Yosaku pada istrinya. "Baiklah akan ku buatkan lagi, tetapi hanya satu helai ya", kata Otsuru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Karena cemas dengan kondisi istrinya yang makin lemah dan kurus setiap habis menenun, Yosaku berkeinginan melihat ke dalam ruangan tenun. Tetapi ia sangat terkejut ketika yang dilihatnya di dalam ruang menenun, ternyata seekor bangau sedang mencabuti bulunya untuk ditenun menjadi kain. Sehingga badan bangau itu hampir gundul kehabisan bulu. Bangau itu akhirnya sadar dirinya sedang diperhatikan oleh Yosaku, bangau itu pun berubah wujud kembali menjadi Otsuru. "Akhirnya kau melihatnya juga", ujar Otsuru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Sebenarnya aku adalah seekor bangau yang dahulu pernah Kau tolong", untuk membalas budi aku berubah wujud menjadi manusia dan melakukan hal ini," ujar Otsuru. "Berarti sudah saatnya aku berpisah denganmu", lanjut Otsuru. "Maafkan aku, ku mohon jangan pergi," kata Yosaku. Otsuru akhirnya berubah kembali menjadi seekor bangau. Kemudian  ia segera mengepakkan sayapnya terabng keluar dari rumah ke angkasa. Tinggallah Yosaku sendiri yang menyesali perbuatannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-1956854760369277730?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/1956854760369277730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=1956854760369277730' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/1956854760369277730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/1956854760369277730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/10/balas-budi-burung-bangau.html' title='Balas Budi Burung Bangau'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-1417142097623671694</id><published>2010-10-05T01:38:00.000-07:00</published><updated>2010-10-05T01:40:32.559-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita rakyat'/><title type='text'>Sungai Jodoh</title><content type='html'>Pada suatu masa di pedalaman pulau Batam, ada sebuah desa yang didiami seorang gadis yatim piatu bernama Mah Bongsu. Ia menjadi pembantu rumah tangga dari seorang majikan bernama Mak Piah. Mak Piah mempunyai seorang putri bernama Siti Mayang. Pada suatu hari, Mah Bongsu mencuci pakaian majikannya di sebuah sungai. “Ular…!” teriak Mah Bongsu ketakutan ketika melihat seekor ulat mendekat. Ternyata ular itu tidak ganas, ia berenang ke sana ke mari sambil menunjukkan luka di punggungnya. Mah Bongsu memberanikan diri mengambil ular yang kesakitan itu dan membawanya pulang ke rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mah Bongsu merawat ular tersebut hingga sembuh. Tubuh ular tersebut menjadi sehat dan bertambah besar. Kulit luarnya mengelupas sedikit demi sedikit. Mah Bongsu memungut kulit ular yang terkelupas itu, kemudian dibakarnya. Ajaib… setiap Mah Bongsu membakar kulit ular, timbul asap besar. Jika asap mengarah ke Negeri Singapura, maka tiba-tiba terdapat tumpukan emas berlian dan uang. Jika asapnya mengarah ke negeri Jepang, mengalirlah berbagai alat elektronik buatan Jepang. Dan bila asapnya mengarah ke kota Bandar Lampung, datang berkodi-kodi kain tapis Lampung. Dalam tempo dua, tiga bulan, Mah Bongsu menjadi kaya raya jauh melebih Mak Piah Majikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan Mah Bongsu membuat orang bertanya-tanya.. “Pasti Mah Bongsu memelihara tuyul,” kata Mak Piah. Pak Buntal pun menggarisbawahi pernyataan istrinya itu. “Bukan memelihara tuyul! Tetapi ia telah mencuri hartaku! Banyak orang menjadi penasaran dan berusaha menyelidiki asal usul harta Mah Bongsu. Untuk menyelidiki asal usul harta Mah Bongsu ternyata tidak mudah. Beberapa hari orang dusun yang penasaran telah menyelidiki berhari-hari namun tidak dapat menemukan rahasianya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Yang penting sekarang ini, kita tidak dirugikan,” kata Mak Ungkai kepada tetangganya. Bahkan Mak Ungkai dan para tetangganya mengucapkan terima kasih kepada Mah Bongsu, sebab Mah Bongsu selalu memberi bantuan mencukupi kehidupan mereka sehari-hari. Selain mereka, Mah Bongsu juga membantu para anak yatim piatu, orang yang sakit dan orang lain yang memang membutuhkan bantuan. “Mah Bongsu seorang yang dermawati,” sebut mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena merasa tersaingi, Mak Piah dan Siti Mayang, anak gadisnya merasa tersaingi. Hampir setiap malam mereka mengintip ke rumah Mah Bongsu. “Wah, ada ular sebesar betis?” gumam Mak Piah. “Dari kulitnya yang terkelupas dan dibakar bisa mendatangkan harta karun?” gumamnya lagi. “Hmm, kalau begitu aku juga akan mencari ular sebesar itu,” ujar Mak Piah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mak Piah pun berjalan ke hutan mencari seekor ular. Tak lama, ia pun mendapatkan seekor ular berbisa. “Dari ular berbisa ini pasti akan mendatangkan harta karun lebih banyak daripada yang didapat oleh Mah Bongsu,” pikir Mak Piah. Ular itu lalu di bawa pulang. Malam harinya ular berbisa itu ditidurkan bersama Siti Mayang. “Saya takut! Ular melilit dan menggigitku!” teriak Siti Mayang ketakutan. “Anakku, jangan takut. Bertahanlah, ular itu akan mendatangkan harta karun,” ucap Mak Piah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, luka ular milik Mah Bongsu sudah sembuh. Mah Bongsu semakin menyayangi ularnya. Saat Mah Bongsu menghidangkan makanan dan minuman untuk ularnya, ia tiba-tiba terkejut. “Jangan terkejut. Malam ini antarkan aku ke sungai, tempat pertemuan kita dulu,” kata ular yang ternyata pandai berbicara seperti manusia. Mah Bongsu mengantar ular itu ke sungai. Sesampainya di sungai, ular mengutarakan isi hatinya. “Mah Bongsu, Aku ingin membalas budi yang setimpal dengan yang telah kau berikan padaku,” ungkap ular itu. “Aku ingin melamarmu dan menjadi istriku,” lanjutnya. Mah Bongsu semakin terkejut, ia tidak bisa menjawab sepatah katapun. Bahkan ia menjadi bingung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ular segera menanggalkan kulitnya dan seketika itu juga berubah wujud menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa. Kulit ular sakti itu pun berubah wujud menjadi sebuah gedung yang megah yang terletak di halaman depan pondok Mah bongsu. Selanjutnya tempat itu diberi nam desa “Tiban” asal dari kata ketiban, yang artinya kejatuhan keberuntungan atau mendapat kebahagiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akhirnya, Mah Bongsu melangsungkan pernikahan dengan pemuda tampan tersbut. Pesta pun dilangsungkan tiga hari tiga malam. Berbagai macam hiburan ditampilkan. Tamu yang datang tiada henti-hentinya memberikan ucapan selamat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibalik kebahagian Mah Bongsu, keadaan keluarga Mak Piah yang tamak dan loba sedang dirundung duka, karena Siti Mayang, anak gadisnya meninggal dipatok ular berbisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, sungai pertemuan Mah Bongsu dengan ular sakti yang berubah wujud menjadi pemuda tampan itu dipercaya sebagai tempat jodoh. Sehingga sungai itu disebut “Sungai Jodoh”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moral : Sikap tamak, serakah akan mengakibatkan kerugian pada diri sendiri. Sedang sikap menerima apa adanya, mau menghargai orang lain dan rela berkorban demi sesama yang membutuhkan, akan berbuah kebahagiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Elexmedia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-1417142097623671694?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/1417142097623671694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=1417142097623671694' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/1417142097623671694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/1417142097623671694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/10/sungai-jodoh.html' title='Sungai Jodoh'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-1177643915637324112</id><published>2010-10-05T01:37:00.000-07:00</published><updated>2010-10-05T01:38:23.948-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Anak'/><title type='text'>"Landi landak yang kesepian"</title><content type='html'>Di hutan yang rindang, hidup seekor anak landak yang merasa kesepian. Landi namanya. Landi tidak mempunyai teman karena teman-temannya takut tertusuk duri tajam yang ada di badannya. "Maaf Landi, kami ingin bermain denganmu, tapi durimu sangat tajam," kata Cici dan teman-temannya. Tinggallah Landi sendirian. Ia hanya bisa bersedih. "Mengapa mereka tidak mau berteman dan bermain denganku?, padahal tidak ada seekor binatang pun yang pernah tertusuk duriku," gumam Landi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari berikutnya Landi hanya melamun di tepi sungai. "Ah, andai saja semua duriku ini hilang, aku bisa bebas bermain dengan teman-temanku", kata Landi dalam hati. Landi merasa tidaklah adil hidupnya ini, selalu dijauhi teman-temannya. Ketika sedang asyik dengan lamunannya, muncullah Kuku Kura-kura. "Apa yang sedang kau lamunkan, Landi?" sapa kuku mengejutkan. "Ah, tidak ada," jawab Landi malu. "Jika kau mempunyai masalah, aku siap mendengarkannya," kata Kuku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuku kura-kura kemudian duduk di sebelah Landi. Lalu Landi mulai bercerita tentang masalahnya. "Kau tak perlu khawatir. Aku bersedia menjadi sahabatmu. Percayalah!" kata kuku sambil menjabat tangan Landi. Betapa girangnya hati Landi. Kini ia mempunyai teman. "Tempurungmu tampak begitu berat. Apa kau tidak merasa tersiksa?" tanya Landi. "Oh, sama sekali tidak. Justru tempurung ini sangat berguna. Tempurung ini bisa melindungiku. Jika ada bahaya, aku hanya perlu menarik kaki dan kepalaku ke dalam. Hebat kan ? Selain itu aku tak perlu repot mencari tempat tinggal. "Rumahku ini bisa berpindah-pindah sesuai keinginanku", kata Kuku kura-kura sambil mempraktekkan apa yang dikatakannya. Landi landak merasa terhibur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, teman Landi yang bernama Sam Kodok berulang tahun. Semua diundang, termasuk Landi Landak."Ayo Landi, kau harus datang ke pesta itu," bujuk Kuku kura-kura. "Aku tidak mau karena nanti teman-teman yang lain pasti akan menjauhiku karena takut tertusuk duri," kata Landi dengan sedih. "Jangan khawatir, kau kan tidak sendirian. Aku akan menemanimu. Di sana banyak kue yang lezat dam tentu saja buah apel loh!" Mendengar kata apel, Landi menjadi tergoda. Ia memang sangat menyukai apel. Akhirnya Landi mau juga berangkat bersama Kuku kura-kura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta Sam kodok sangat meriah. Wangi aneka bunga tercium disetiap sudut ruangan. Ada dua meja panjang diletakkan di sisi kiri dan kanan halaman Sam kodok. Di atasnya tersedia berbagai macam kue dan buah-buahan. "Lihat! Di dekat meja ada satu tong sirup apel !, kata Landi". Landi dan Kuku kura-kura memberikan selamat pada Sam kodok. Setelah meniup lilin. Semua bertepuk tangan sambil bernyanyi "Selamat Ulang Tahun". Pada saat berdansa, semua yang diundang menghindar dari Landi landak. Mereka takut tertusuk duri Landi landak. Akhirnya, Kuku kura-kura lah yang menemani Landi berdansa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, pesta yang mengasyikkan itu terhenti dengan teriakan Tito. Ia datang sambil berlari ketakutan. "Awas! Serigala jahat datang! Tolong...! Tolong...! Teriaknya dengan napas tersengal-sengal. Semua menjadi ketakutan. Mereka berlarian menyelamatkan diri. Karena tidak bisa berlari, Kuku kura-kura langsung memasukkan kepala dan kakinya ke tempurung rumahnya. Sedangkan Landi Landak segera menggulung tubuhnya menjadi seperti bola. Serigala jahat yang mengejar teman-teman Landi tidak melihat tubuh Landi. Tiba-tiba, "Brukk, aduhhh..." teriak serigala jahat. Ia tertusuk duri tajam Landi Landak. Sambil menahan sakit, Serigala jahat langsung lari tunggang langgang. Maka selamatlah Landi dan teman-temannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hore..! Hore...! Hidup Landi Landak!" semua binatang mengelukan Landi. Landi menjadi tersipu malu karenanya. "Maafkan aku Landi, selama ini aku menjauhimu. Padahal kau tidak pernah menyakitiku. Ternyata duri tajammu itu telah menyelamatkan kita semua," sesal Cici Kelinci. Akhirnya semua yang datang ke pesta Sam Kodok meminta maaf pada Landi Landak karena telah menjauhinya kemudian mereka pun berterima kasih pada Landi Landak karena telah melindungi mereka dari serigala jahat. Kini, Landi Landak tidak merasa kesepian lagi. Teman-temannya tidak takut lagi akan durinya yang tajam. Bahkan mereka merasa aman jika Landi berada didekat mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-1177643915637324112?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/1177643915637324112/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=1177643915637324112' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/1177643915637324112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/1177643915637324112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/10/landi-landak-yang-kesepian.html' title='&quot;Landi landak yang kesepian&quot;'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-5461339049843752381</id><published>2010-10-05T01:36:00.000-07:00</published><updated>2010-10-05T01:37:37.181-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Anak'/><title type='text'>Paman Alfred dan 3 ekor Rakun</title><content type='html'>Di sebuah peternakan yang luas, tinggal seorang peternak yang bernama Alfred. Ia lebih sering di panggil Paman Alfred oleh tetangga di sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari pekerjaannya memerah susu sapi dan memberi sapi-sapinya makan, membabat rumput-rumputan untuk makanan sapi, kemudian memberi makan ternak-ternaknya yang lain. Selain itu juga membersihkan ladang jagung dan gandumnya. Setelah semuanya selesai, Paman Alfred berkeliling ladang dan peternakannya, melihat apakah ada pagar-pagar yang rusak atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sore menjelang malam hari, Paman Alfred merasa punggungnya sakit dan pegal semua. Setelah makan malam, ia segera tidur karena badannya sudah sangat lelah. Ia menghempaskan badannya di tempat tidurnya yang besar dan empuk. "Saya sangat lelah," keluhnya. Tidak lama kemudian, Paman Alfred tertidur. Di tengah tidurnya, ia tiba-tiba terbangun mendengar ada suara sesuatu dari atap loteng rumahnya. Paman Alfred merasa terganggu tidurnya. Ia segera mengenakan sendal dan mengambil senter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Paman Alfred berjalan menaiki tangga menuju atap lotengnya. Setelah membuka pintu lotengnya, paman Alfred sangat terkejut sampai hampir terjatuh ke belakang. Ia melihat 3 ekor rakun yang sedang bernyanyi. Karena kesalnya, ia berteriak, "Diam..!", 3 rakun tersebut tetap bernyanyi, walaupun sudah diusir. Akhirnya, paman Alfred kembali ke kamarnya. Ia mencoba untuk melanjutkan tidurnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya, ia mengalami hal yang sama dengan kemarin. Paman Alfred akhirnya membeli racun pengusir rakun. Ketika malam hari, Paman Alfred kembali mendengar rakun-rakun tersebut bernyanyi. Rakun-rakun tersebut tidak mau menyentuh makanan yang diberikan Paman Alfred. Mereka tahu kalau makanan tersebut sudah diberi racun. Paman Alfred naik ke loteng. Ia berteriak-teriak menyuruh rakun-rakun itu berhenti menyanyi. Ia juga melempar rakun-rakun itu dengan sendalnya. Rakun-rakun itu mengelak sambil terus bernyanyi mengejek Paman Alfred. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya. Paman Alfred pergi ke perpustakaan. Ia mencari buku cara mengusir rakun. Setelah hampir satu jam, buku yang dicarinya berhasil ditemukan. Di buku tersebut tertulis cara mengusir rakun adalah dengan membunyikan suara yang bising, misalnya dengan radio dan lainnya. Setelah sampai di rumah, Paman Alfred menyiapkan radio tuanya. Ia memasukkan kaset lagu rock ke dalam radiotapenya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Malam harinya, ia memasang radio tersebut di loteng. Ia mencoba untuk tidur tetapi rasa penasaran membuat Paman Alfred ingin melihat keadaan di loteng. Ia kembali terkejut melihat rakun-rakun tersebut masih ada di loteng. Mereka bahkan tidak hanya menyanyi. Mereka juga menari-nari mengikuti musik. Habis sudah kesabaran Paman George. Mukanya menjadi merah karena kesal, setelah mematikan radio ia berteriak sekeras-kerasnya. "Diaammmm…!", teriak Paman Alfred. Setelah agak reda kekesalannya, Paman Alfred berkata,"Aku punya tawaran untuk kalian, bagaimana kalau kita tukar tempat ?, kalian boleh menempati kamarku sebagai tempat kalian", ujar Paman Alfred kepada rakun-rakun itu. Rakun-rakun itu setuju. Esok malam mereka menempati kamar Paman Alfred, sedang Paman Alfred tidur di loteng. Setelah menyanyi dan menari akhirnya rakun-rakun itu tertidur di kamar Paman Alfred. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paman Alfred yang sudah sangat lelah tidak memikirkan lagi tempat tidurnya. Ia tertidur lelap di loteng. Saking lelapnya, Paman Alfred bermimpi tentang rakun, ia bernyanyi dalam mimpinya, persis seperti nyanyian yang di nyanyikan oleh 3 rakun. Tiga rakun yang tidur di kamar Paman Alfred terbangun, mereka merasa terganggu dan takut mendengar suara yang berasal dari loteng. Mereka segera berlarian keluar rumah dan akhirnya mereka tidak pernah datang lagi ke rumah Paman Alfred. Akhirnya sejak saat itu, Paman Alfred bisa tidur dengan nyenyak setelah bekerja seharian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-5461339049843752381?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/5461339049843752381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=5461339049843752381' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/5461339049843752381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/5461339049843752381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/10/paman-alfred-dan-3-ekor-rakun.html' title='Paman Alfred dan 3 ekor Rakun'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-5653913653690819442</id><published>2010-10-05T01:23:00.000-07:00</published><updated>2010-10-05T01:24:36.898-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita rakyat'/><title type='text'>Hikayat Bunga Kemuning</title><content type='html'>Dahulu kala, ada seorang raja yang memiliki sepuluh orang puteri yang cantik-cantik. Sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana. Tetapi ia terlalu sibuk dengan kepemimpinannya, karena itu ia tidak mampu untuk mendidik anak-anaknya. Istri sang raja sudah meninggal dunia ketika melahirkan anaknya yang bungsu, sehingga anak sang raja diasuh oleh inang pengasuh. Puteri-puteri Raja menjadi manja dan nakal. Mereka hanya suka bermain di danau. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah mereka. Pertengkaran sering terjadi diantara mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesepuluh puteri itu dinamai dengan nama-nama warna. Puteri Sulung bernama Puteri Jambon. Adik-adiknya dinamai Puteri Jingga, Puteri Nila, Puteri Hijau, Puteri Kelabu, Puteri Oranye, Puteri Merah Merona dan Puteri Kuning, Baju yang mereka pun berwarna sama dengan nama mereka. Dengan begitu, sang raja yang sudah tua dapat mengenali mereka dari jauh. Meskipun kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Puteri Kuning sedikit berbeda, Ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum ramah kepada siapapun. Ia lebih suka bebergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, raja hendak pergi jauh. Ia mengumpulkan semua puteri-puterinya. "Aku hendak pergi jauh dan lama. Oleh-oleh apakah yang kalian inginkan?" tanya raja. "Aku ingin perhiasan yang mahal," kata Puteri Jambon. "Aku mau kain sutra yang berkilau-kilau," kata Puteri Jingga. 9 anak raja meminta hadiah yang mahal-mahal pada ayahanda mereka. Tetapi lain halnya dengan Puteri Kuning. Ia berpikir sejenak, lalu memegang lengan ayahnya. "Ayah, aku hanya ingin ayah kembali dengan selamat," katanya. Kakak-kakaknya tertawa dan mencemoohkannya. "Anakku, sungguh baik perkataanmu. Tentu saja aku akan kembali dengan selamat dan kubawakan hadiah indah buatmu," kata sang raja. Tak lama kemudian, raja pun pergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama sang raja pergi, para puteri semakin nakal dan malas. Mereka sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka. Karena sibuk menuruti permintaan para puteri yang rewel itu, pelayan tak sempat membersihkan taman istana. Puteri Kuning sangat sedih melihatnya karena taman adalah tempat kesayangan ayahnya. Tanpa ragu, Puteri Kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu. Daun-daun kering dirontokkannya, rumput liar dicabutnya, dan dahan-dahan pohon dipangkasnya hingga rapi. Semula inang pengasuh melarangnya, namun Puteri Kuning tetap berkeras mengerjakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kakak-kakak Puteri Kuning yang melihat adiknya menyapu, tertawa keras-keras. "Lihat tampaknya kita punya pelayan baru,"kata seorang diantaranya. "Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!" ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. Puteri Kuning diam saja dan menyapu sampah-sampah itu. Kejadian tersebut terjadi berulang-ulang sampai Puteri Kuning kelelahan. Dalam hati ia bisa merasakan penderitaan para pelayan yang dipaksa mematuhi berbagai perintah kakak-kakaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalian ini sungguh keterlaluan. Mestinya ayah tak perlu membawakan apa-apa untuk kalian. Bisanya hanya mengganggu saja!" Kata Puteri Kuning dengan marah. "Sudah ah, aku bosan. Kita mandi di danau saja!" ajak Puteri Nila. Mereka meninggalkan Puteri Kuning seorang diri. Begitulah yang terjadi setiap hari, sampai ayah mereka pulang. Ketika sang raja tiba di istana, kesembilan puteri nya masih bermain di danau, sementara Puteri Kuning sedang merangkai bunga di teras istana. Mengetahui hal itu, raja menjadi sangat sedih. "Anakku yang rajin dan baik budi! Ayahmu tak mampu memberi apa-apa selain kalung batu hijau ini, bukannya warna kuning kesayanganmu!" kata sang raja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Raja memang sudah mencari-cari kalung batu kuning di berbagai negeri, namun benda itu tak pernah ditemukannya. "Sudahlah Ayah, tak mengapa. Batu hijau pun cantik! Lihat, serasi benar dengan bajuku yang berwarna kuning," kata Puteri Kuning dengan lemah lembut. "Yang penting, ayah sudah kembali. Akan kubuatkan teh hangat untuk ayah," ucapnya lagi. Ketika Puteri Kuning sedang membuat the, kakak-kakaknya berdatangan. Mereka ribut mencari hadiah dan saling memamerkannya. Tak ada yang ingat pada Puteri Kuning, apalagi menanyakan hadiahnya. Keesokan hari, Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. "Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!" katanya dengan perasaan iri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ayah memberikannya padaku, bukan kepadamu," sahut Puteri Kuning. Mendengarnya, Puteri Hijau menjadi marah. Ia segera mencari saudara-saudaranya dan menghasut mereka. "Kalung itu milikku, namun ia mengambilnya dari saku ayah. Kita harus mengajarnya berbuat baik!" kata Puteri Hijau. Mereka lalu sepakat untuk merampas kalung itu. Tak lama kemudian, Puteri Kuning muncul. Kakak-kakaknya menangkapnya dan memukul kepalanya. Tak disangka, pukulan tersebut menyebabkan Puteri Kuning meninggal. "Astaga! Kita harus menguburnya!" seru Puteri Jingga. Mereka beramai-ramai mengusung Puteri Kuning, lalu menguburnya di taman istana. Puteri Hijau ikut mengubur kalung batu hijau, karena ia tak menginginkannya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu raja mencari Puteri Kuning, tak ada yang tahu kemana puteri itu pergi. Kakak-kakaknya pun diam seribu bahasa. Raja sangat marah. "Hai para pengawal! Cari dan temukanlah Puteri Kuning!" teriaknya. Tentu saja tak ada yang bisa menemukannya. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil mencarinya. Raja sangat sedih. "Aku ini ayah yang buruk," katanya." Biarlah anak-anakku kukirim ke tempat jauh untuk belajar dan mengasah budi pekerti!" Maka ia pun mengirimkan puteri-puterinya untuk bersekolah di negeri yang jauh. Raja sendiri sering termenung-menung di taman istana, sedih memikirkan Puteri Kuning yang hilang tak berbekas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Suatu hari, tumbuhlah sebuah tanaman di atas kubur Puteri Kuning. Sang raja heran melihatnya. "Tanaman apakah ini? Batangnya bagaikan jubah puteri, daunnya bulat berkilau bagai kalung batu hijau, bunganya putih kekuningan dan sangat wangi! Tanaman ini mengingatkanku pada Puteri Kuning. Baiklah, kuberi nama ia Kemuning.!" kata raja dengan senang. Sejak itulah bunga kemuning mendapatkan namanya. Bahkan, bunga-bunga kemuning bisa digunakan untuk mengharumkan rambut. Batangnya dipakai untuk membuat kotak-kotak yang indah, sedangkan kulit kayunya dibuat orang menjadi bedak. Setelah mati pun, Puteri Kuning masih memberikan kebaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moral : Kebaikan akan membuahkan hal-hal yang baik, walaupun kejahatan sering kali menghalanginya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-5653913653690819442?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/5653913653690819442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=5653913653690819442' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/5653913653690819442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/5653913653690819442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/10/hikayat-bunga-kemuning.html' title='Hikayat Bunga Kemuning'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-4326119015011125032</id><published>2010-10-05T01:22:00.000-07:00</published><updated>2010-10-05T01:23:10.493-07:00</updated><title type='text'>Saudagar Jerami</title><content type='html'>Dahulu kala, ada seorang pemuda miskin yang bernama Taro. Ia bekerja untuk ladang orang lain dan tinggal dilumbung rumah majikannya. Suatu hari, Taro pergi ke kuil untuk berdoa. "Wahai, Dewa Rahmat! Aku telah bekerja dengan sungguh-sungguh, tapi kehidupanku tidak berkercukupan". "Tolonglah aku agar hidup senang". Sejak saat itu setiap selesai bekerja, Taro pergi ke kuil. Suatu malam, sesuatu yang aneh membangunkan Taro. Di sekitarnya menjadi bercahaya, lalu muncul suara. "Taro, dengar baik-baik. Peliharalah baik-baik benda yang pertama kali kau dapatkan esok hari. Itu akan membuatmu bahagia." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keesokan harinya ketika keluar dari pintu gerbang kuil, Taro jatuh terjerembab. Ketika sadar ia sedang menggenggam sebatang jerami. "Oh, jadi yang dimaksud Dewa adalah jerami, ya? Apa jerami ini akan mendatangkan kebahagiaan…?", pikir Taro. Walaupun agak kecewa dengan benda yang didapatkannya Taro lalu berjalan sambil membawa jerami. Di tengah jalan ia menangkap dan mengikatkan seekor lalat besar yang terbang dengan ributnya mengelilingi Taro di jeraminya. Lalat tersebut terbang berputar-putar pada jerami yang sudah diikatkan pada sebatang ranting. "Wah menarik ya", ujar Taro. Saat itu lewat kereta yang diikuti para pengawal. Di dalam kereta itu, seorang anak sedang duduk sambil memperhatikan lalat Taro. "Aku ingin mainan itu." Seorang pengawal datang menghampiri Taro dan meminta mainan itu. "Silakan ambil", ujar Taro. Ibu anak tersebut memberikan tiga buah jeruk sebagai rasa terima kasihnya kepada Taro. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Wah, sebatang jerami bisa menjadi tiga buah jeruk", ujar Taro dalam hati. Ketika meneruskan perjalanannya, terlihat seorang wanita yang sedang beristirahat dan sangat kehausan. "Maaf, adakah tempat di dekat sini mata air ?", tanya wanita tadi. "Ada dikuil, tetapi jaraknya masih jauh dari sini, kalau anda haus, ini kuberikan jerukku", kata Taro sambil memberikan jeruknya kepada wanita itu. "Terima kasih, berkat engkau, aku menjadi sehat dan segar kembali". Terimalah kain tenun ini sebagai rasa terima kasih kami, ujar suami wanita itu. Dengan perasaan gembira, Taro berjalan sambil membawa kain itu. Tak lama kemudian, lewat seorang samurai dengan kudanya. Ketika dekat Taro, kuda samurai itu terjatuh dan tidak mampu bergerak lagi. "Aduh, padahal kita sedang terburu-buru." Para pengawal berembuk, apa yang harus dilakukan terhadap kuda itu. Melihat keadaan itu, Taro menawarkan diri untuk mengurus kuda itu. Sebagai gantinya Taro memberikan segulung kain tenun yang ia dapatkan kepada para pengawal samurai itu. Taro mengambil air dari sungai dan segera meminumkannya kepada kuda itu. Kemudian dengan sangat gembira, Taro membawa kuda yang sudah sehat itu sambil membawa 2 gulung kain yang tersisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketika hari menjelang malam, Taro pergi ke rumah seorang petani untuk meminta makanan ternak untuk kuda, dan sebagai gantinya ia memberikan segulung kain yang dimilikinya. Petani itu memandangi kain tenun yang indah itu, dan merasa amat senang. Sebagai ucapan terima kasih petani itu menjamu Taro makan malam dan mempersilakannya menginap di rumahnya. Esok harinya, Taro mohon diri kepada petani itu dan melanjutkan perjalanan dengan menunggang kudanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba di depan sebuah rumah besar, orang-orang tampak sangat sibuk memindahkan barang-barang. "Kalau ada kuda tentu sangat bermanfaat," pikir Taro. Kemudian taro masuk ke halaman rumah dan bertanya apakah mereka membutuhkan kuda. Sang pemilik rumah berkata,"Wah kuda yang bagus. Aku menginginkannya, tetapi aku saat ini tidak mempunyai uang. Bagaimanan kalau ku ganti dengan sawahku ?". "Baik, uang kalau dipakai segera habis, tetapi sawah bila digarap akan menghasilkan beras, Silakan kalau mau ditukar", kata Taro. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bijaksana sekali kau anak muda. Bagaimana jika selama aku pergi ke negeri yang jauh, kau tinggal disini untuk menjaganya ?", Tanya si pemilik rumah. "Baik, Terima kasih Tuan". Sejak saat itu taro menjaga rumah itu sambil bekerja membersihkan rerumputan dan menggarap sawah yang didapatkannya. Ketika musim gugur tiba, Taro memanen padinya yang sangat banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Semakin lama Taro semakin kaya. Karena kekayaannya berawal dari sebatang jerami, ia diberi julukan "Saudagar Jerami". Para tetangganya yang kaya datang kepada Taro dan meminta agar putri mereka dijadikan istri oleh Taro. Tetapi akhirnya, Taro menikah dengan seorang gadis dari desa tempat ia dilahirkan. Istrinya bekerja dengan rajin membantu Taro. Merekapun dikaruniai seorang anak yang lucu. Waktu terus berjalan, tetapi Si pemilik rumah tidak pernah kembali lagi. Dengan demikian, Taro hidup bahagia bersama keluarganya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-4326119015011125032?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/4326119015011125032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=4326119015011125032' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/4326119015011125032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/4326119015011125032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/10/saudagar-jerami.html' title='Saudagar Jerami'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-8408131401125258911</id><published>2010-10-05T01:21:00.001-07:00</published><updated>2010-10-05T01:21:59.272-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Anak'/><title type='text'>Moni, Monyet Yang Licik</title><content type='html'>Siang itu angin berhembus sepoi-sepoi. Moni duduk di dahan sambil mengantuk. Tiba-tiba perutnya berbunyi keroncongan dan terasa lapar. Ia membayangkan betapa enaknya bila makan buah-buahan. Tetapi ia kemudian tersentak mengingat kata-kata temannya. Ia dikatakan sebagai si Serakah, si Rakus, si Tukang Makan, dan sebagainya. Bahkan ia terngiang kata-kata pak tani yang memarahinya. "Awas, kalau mencuri lagi! Kubunuh, Kau! Kalau kau ingin makan buah-buahan tanamlah sendiri! Bekerja dan berusahalah dengan baik!" kata petani dengan geram. Bulu kuduknya berdiri ketika ia teringat pernah dipukuli ketika mencuri pisang dan mangga di kebun pak tani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moni kemudian berpikir bagaimana cara mendapatkan makanan agar tidak dimarahi orang. "Ah, lebih baik saya mencari sahabat karibku! Mudah-mudahan ia dapat membantuku," kata Moni dalam hati. Ia kemudian turun dari pohon dan berjalan mencari katak sahabat karibnya. Setibanya di pematang sawah, sambil bernyanyi ia memanggil sahabat karibnya tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pung... ketipung ... pung! He... he... he...! Katak sahabatku,  mengapa engkau sudah lama tak muncul? Ini sahabatmu datang! Saya rindu sekali padamu! Muncullah ... muncullah!" Mendengar nyanyian tersebut katak muncul sambil bernyayi "Teot... teot! Teot... teblung! Ini aku si Katak datang!" Aku juga rindu padamu. Bagaimana aku muncul, bila kau sendiri tak muncul?" Kedua binatang tersebut kemudian berbincang-bincang untuk melepaskan kerinduannya. Pada kesempatan itu juga si Monyet menyampaikan maksudnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katak sahabatku, bagaimana kalau kita bekerja sama untuk menanam buah-buahan," ajak monyet. "Wah, saya setuju sekali. Tetapi buah apa ya yang paling enak dan paling mudah ditanam?" jawab Katak. "Lebih baik kita menanam pisang saja! Bibitnya mudah didapat dan  cara menanamnyapun mudah, bagaimana?" kata monyet sambil bertanya. "Baiklah, saya akan mencari bibitnya. Biasanya banyak batang pohon pisang yang hanyut di sungai. Mari kita ke tepi sungai!" jawab katak sambil mengajak monyet. Mereka kemudian ke tepi sungai sambil berbincang-bincang dengan akrabnya. Sesampainya di tepi sungai ia bermain-main sambil menunggu bila ada batang pisang yang hanyut. Benar juga! Tak lama kemudian ada sebatang pohon pisang yang hanyut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, itu dia!" Teriak katak sambil menunjuk batang pisang yang hanyut. "Mari kita seret ke tepi!" ajak moni. "Mari!" jawab katak. Mereka terjun ke sungai dan menyeret batang pisang ke tepi sungai. Sesampainya di tepi, mereka angkat batang pisang itu ke daratan. Mereka kemudian menunggu kalau ada batang pisang yang hanyut lagi tetapi tak kunjung datang. "Menunggu itu membosankan," kata monyet menggerutu. "Ya, kalau begitu besok kita ke sini lagi! Kita tunggu bila ada batang pisang yang hanyut lagi! Yang ini untukku," kata katak sambil memegang batang pisang. "Ah, jangan curang! Ini milik kita berdua. Dari pada menunggu sampai besok sebaiknya kita bagi saja batang pohon pisang ini sekarang," kata monyet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah, kita potong saja batang pohon pisang ini menjadi dua. Kamu bagian bawah sedang saya yang bagian atas" kata katak. "Ah, jangan curang! Yang dapat berbuah kan bagian atas! Saya sangat memerlukan buah itu dari pada kamu. Nanti yang bagian bawah juga dapat berbuah," kata monyet membujuk katak. "Baiklah, kita kan bersahabat. Seorang sahabat haruslah saling mengerti dan saling menolong. Kita tidak boleh bertengkar hanya karena perkara kecil. Bawalah yang bagian atas! Saya cukup yang bagian bawah saja," kata katak penuh perhatian. Mereka akhirnya membawa bagian masing-masing ke hutan. Moni membawa batang pisang bagian atas dan katak bagian bawah untuk ditanam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap sebulan sekali monyet mengunjungi katak. Mereka saling menanyakan tanamannya. "Bagaimana tanaman pisangmu?" tanya moni. "Ha... ha..., lihat saja itu! Subur bukan?! Tanamanku sangat subur. Daunnya begitu lebat." Jawab katak sambil menunjukkan tanamannya. "Bagaimana dengan tanamanmu?" tanya katak lebih lanjut. "Wah..., tanamanku juga demikian!" jawab moni membohongi temannya. Ia bohong karena tanamannya sudah mati. Batang bagian atas tak mungkin hidup bila ditanam. Bulan berikutnya moni datang lagi. Ia bertanya kepada katak tentang tanamannya. "Bagaimana tanamanmu?" tanya moni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, tanaman pisangku sangat subur, dan sekarang sudah berbuah. Bagaimana pula tanamanmu?" jawab katak sambil menanyakan tanaman si Moni. "Demikian juga tanamanku, sudah berbuah. Bahkan buahnya besar-besar," jawab moni berbohong. Mereka kemudian berbincang-bincang sambil bergurau. Setelah selesai, moni kembali ke hutan. Pada kunjungan berikutnya ternyata buah pisangnya sudah masak tetapi katak tidak dapat memetiknya karena tidak dapat memanjat pohon pisang tersebut. Katakpun meminta bantuan kepada moni yang sedang berkunjung. "Moni, tolong petikkan pisangku yang sudah masak itu!" pinta katak kepada moni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, dengan senang hati, mari kita ke sana!" jawab moni sambil mengajak katak. Monipun segera memanjat pohon pisang dan sesampainya di atas ia segera memetik dan mencoba memakannya. "Wah, ranum benar pisangmu!" teriak moni dari atas pohon pisang. "Hai moni, jangan kau makan sendiri saja. Cepat petikkan sesisir dulu untukku" teriak katak sambil memohon. "Ya, nanti dulu! Aku belum selesai memakannya. " sahut moni. Satu, demi satu dimakannya pisang tersebut oleh moni, setiap katak meminta ada saja jawaban si Moni. Katak tak pernah diberi. Bahkan si Katak hanya dilempari kulitnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu lebih baik makan kulitnya saja, Tak! Ini bagianmu, terimalah! kata moni. Katakpun berang dilecehkan oleh moni. Ia pun berkata  dalam hati untuk memberikan pelajaran kepada moni yang serakah tersebut. "Baiklah, habiskan saja pisangku. Aku sudah tak berminat lagi. Aku sudah kenyang makan nyamuk. Makanan utamaku kan nyamuk, bukan pisang seperti makananmu." kata katak dengan kesal. "Ha... ha... ha..., katak-katak..., salahmu sendiri kamu tak dapat memanjat. Kamu hanya dapat meloncat-loncat saja. Coba perhatikan saya! Saya dapat berjalan, meloncat dan memanjat. Makanankupun lebih banyak jenisnya daripada kamu. Kamu lebih baik makan nyamuk saja. Pisang ini sebenarnya untukku bukan untukmu," kata moni dengan congkak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dasar moni serakah! Sudahlah, jangan banyak bicara! Cepat habiskan  saja pisangku! Sebentar lagi batangnya akan saya tebang," kata katak dengan marah. Selesai berbicara katakpun mulai menebang batang pohon pisangnya. Moni segera mempercepat makannya. Tak terasa ia mulai kenyang dan mengantuk. Batang pohon pisang mulai bergoyang dan akan roboh tetapi moni tak dapat menahan kantuknya. Lebih-lebih goyangannya batang pohon pisang dianggapnya sebagai ayunan yang meninabobokkan. Akhirnya ia jatuh. Perutnya terkena ujung pohon kayu kering yang runcing dan badannya tertimpa batang pohon pisang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan moral : &lt;br /&gt;Janganlah menjadi seorang yang serakah, karena keserakahan bisa menyebabkan kesulitan/musibah pada diri kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-8408131401125258911?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/8408131401125258911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=8408131401125258911' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/8408131401125258911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/8408131401125258911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/10/moni-monyet-yang-licik.html' title='Moni, Monyet Yang Licik'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-6857736109341389262</id><published>2010-10-05T01:19:00.000-07:00</published><updated>2010-10-05T01:21:01.991-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Anak'/><title type='text'>Mia dan Si Kitty</title><content type='html'>Mia adalah seorang anak yang baik hati. Ia tinggal bersama orangtuanya di suatu desa.  Karena ramah dan baik hati, ia mempunyai banyak teman di lingkungan rumah maupun sekolahnya. Mia adalah anak terkecil diantara 4 bersaudara. Setiap harinya, Mia dan kakak-kakaknya selalu diajari kedisiplinan dan budi pekerti oleh orangtuanya. Mia sangat senang dengan binatang. Binatang yang ada dirumahnya, dipeliharanya dengan rajin. Sudah lama Mia ingin memelihara kucing, tetapi Ibunya melarang binatang peliharaan yang dipelihara di dalam rumah karena membuat dalam rumah kotor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Mia sedang pergi menuju sekolahnya. Ia pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Jarak antara rumah dan sekolahnya tidak terlalu jauh hanya 300 meter. Di tengah jalan, ia melihat seekor anak kucing yang masih kecil terjatuh ke dalam selokan. Mia merasa kasihan dengan anak kucing itu. Lalu ia mengangkat anak kucing itu dari selokan dan menaruhnya di tempat yang aman kemudian Mia melanjutkan perjalanannya ke sekolah. Bel tanda masuk berbunyi. Mia dan teman-temannya segera masuk ke kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolahnya, Mia termasuk anak yang cerdas. Ia selalu masuk dalam rangking 3 besar. Ia sering mengadakan kelompok belajar bersama teman-temannya di waktu istirahat maupun setelah pulang dari sekolah. Dalam kelompok belajar itu, mereka membahas pelajaran yang telah mereka dapatkan dan juga membahas pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru. Kriiingg... Bel tanda waktu pulang berbunyi! Mia dan teman-temannya segera bergegas membereskan buku-bukunya dan segera keluar ruangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perjalanan pulang, ketika sedang mengobrol dengan teman-temannya, Mia melihat anak kucing yang tadi pagi dilihatnya dalam selokan. Anak kucing itu mengeong-ngeong sambil terus mengikuti Mia. Mia tidak sadar ia diikuti oleh anak kucing itu. Sesampainya di rumah, ketika akan menutup pintu, Mia terkejut karena ada anak kucing mengeong sekeras-kerasnya. Mia baru menyadari kalau anak kucing yang ditolongnya, mengikutinya sampai rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mia mohon pada Ibunya, agar ia di izinkan memelihara kucing kecil itu.  "Tidak boleh!, nanti hewan itu membuat kotor rumah", ujar Ibu Mia. "Tapi bu, kasihan kucing ini! ia tidak punya tempat tinggal dan tidak punya orangtua", kata Mia. Setelah beberapa saat, akhirnya Ibu membolehkan Mia memelihara kucing dengan syarat binatang itu tidak boleh ditelantarkan dan jangan sampai mengotori rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, Mia memelihara anak kucing itu. Setiap hari ia memberi minum dan makan anak kucing itu. Lama-lama Mia menjadi sangat sayang dengan anak kucing itu. Mia memberi nama anak kucing itu Kitty. Semenjak dipelihara Mia, Kitty menjadi bersih dan gemuk, bulunya yang berbelang tiga membuatnya tambah lucu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Beberapa bulan kemudian, Si Kitty menjadi besar. Suatu hari, Mia melihat seekor burung kutilang yang tergeletak di halaman rumahnya. Mia mendekati burung kutilang itu dan mengangkatnya. Ternyata burung kutilang itu terluka sayapnya dan tidak bisa terbang. Mia merawat burung itu dengan penuh kasih sayang. Si Kitty merasa cemburu karena merasa Mia menjadi lebih sayang pada burung kutilang daripadanya. Padahal Mia tetap menyayangi si Kitty. Karena merasa tidak diperhatikan lagi, setiap Mia tidak ada, si Kitty selalu menakut-nakuti burung kutilang tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dirawat Mia selama seminggu, burung kutilang itu jadi sembuh. Beberapa hari kemudian, ketika Mia baru pulang dari sekolah, ia melihat pintu kandang burung kutilangnya terbuka dan ada bercak darah di bawah kandang burung kutilangnya. Mia berpikir jangan-jangan si Kitty memakan burung Kutilangnya. Ketika melihat si Kitty, Mia jadi lebih curiga karena pada mulut si Kitty terdapat bercak darah. Karena saking kesalnya, Mia mengambil sapu dan mengejar si Kitty untuk dipukul. Si Kitty segera berlari masuk ke kolong tempat tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika melihat ke kolong Mia sangat terkejut karena ada seekor ular yang sudah mati dibawah kolong tempat tidurnya. Akhirnya Mia sadar, si Kitty telah menyelamatkannya dengan menggigit ular tersebut. Mia baru ingat kalau ia lupa menutup pintu sangkar burungnya. Mia menyesal ketika ingat akan memukul si Kitty. Padahal kalau tidak ada si Kitty mungkin ular tersebut masih hidup dan bisa mencelakainya. Akhirnya Mia sadar akan kesalahannya dan memeluk si Kitty dengan erat. Sejak kejadian itu, Mia jadi lebih sayang dengan Si Kitty.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-6857736109341389262?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/6857736109341389262/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=6857736109341389262' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/6857736109341389262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/6857736109341389262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/10/mia-dan-si-kitty.html' title='Mia dan Si Kitty'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-4541932330121165594</id><published>2010-10-05T01:16:00.000-07:00</published><updated>2010-10-05T01:19:34.521-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Anak'/><title type='text'>Gonbe dan 100 Itik</title><content type='html'>Di sebuah desa, tinggal seorang ayah dengan anak laki-lakinya yang bernama Gonbe. Mereka hidup dari berburu itik. Setiap berburu, ayah Gonbe hanya menembak satu ekor itik saja. Melihat hal tersebut Gonbe bertanya pada ayahnya," Kenapa kita hanya menembak satu ekor saja Yah?", "Karena kalau kita membunuh semua itik, nanti itik tersebut akan habis dan tidak bisa berkembang biak, selain itu kalau kita membunuh itik sembarangan kita bisa mendapat hukuman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian, ayah Gonbe jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Sejak saat itu, Gonbe berburu itik sendirian dan menjualnya. Lama kelamaan, Gonbe bosan dengan pekerjaannya, ia mendapatkan sebuah ide. Keesokan hariya, Gonbe datang ke danau yang sudah menjadi es. Ia menebarkan makanan yang sangat banyak untuk itik-itik. Tak berapa lama, itik-itik mulai berdatangan dan memakan makanan yang tersebar. Karena kekenyangan, mereka tertidur di atas. Gonbe segera mengikat itik-itik menjadi satu. Ia mengikat 100 itik sekaligus. Ketika itik ke seratus akan di ikatnya, tiba-tiba itik-itik tersebut terbangun dan segera terbang. Gonbe yang takut kehilangan tangkapannya, segera memegang tali yang diikatkannya ke itik tersebut. Karena banyaknya itik yang diikat, Gonbe terangkat dan terbawa ke atas. Gonbe terus terbang terbawa melewati awan. Di awan tersebut Ayah dan anak halilintar sedang tidur dengan nyenyak. "Dugg!", kaki Gonbe tersandung badan ayah halilintar. Ayah halilintar terbangun sambil marah-marah, ia segera mengeluarkan halilintarnya yang kemudian menyambar tali-tali yang mengikat itik-itik itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gonbe jatuh ke dalam laut! Ia jatuh tepat di atas kepala Naga laut yang berada di Kerajaannya. Naga laut menjadi marah dan mulai memutar-mutar ekornya, lalu memukulkannya ke Gonbe. Gonbe terbang lagi dari dalam laut. Akhirnya Gonbe jatuh ke tanah dengan kecepatan tinggi. Akhirnya Gonbe jatuh ke atap jerami rumah seorang pembuat payung. "Kamu tidak apa-apa?", Tanya si pembuat payung sambil menolong Gonbe. "Maaf atap anda jadi rusak. Berilah pekerjaan pada saya untuk mengganti kerugian anda". "Kebetulan, aku memang sedang kekurangan tenaga pembantu", kata pembuat payung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu Gonbe menjadi rajin membuat payung. Suatu hari, ketika sedang mengeringkan payung di halaman, datang angin yang sangat kencang. Karena takut payungnya terbang, Gonbe segera menangkap payung tersebut. Tetapi payung tersebut terus naik ke atas bersama  Gonbe. Dengan tangan gemetaran Gonbe terus memegang payung sambil terus terbang dengan payungnya hingga melewati beberapa kota. Payung tersebut akhirnya robek karena tersangkut menara dan pohon-pohon. Gonbe pun jatuh. Untungnya ia jatuh tepat di sebuah danau. Gonbe merasa lega. Tidak berapa lama tiba-tiba kepala Gonbe di patuk oleh sekawanan hewan. "Lho ini kan itik-itik yang aku ikat dengan tali. Ternyata benar ya, kita tidak boleh serakah menangkap sekaligus banyak." Akhirnya Gonbe melepaskan tali-tali yang mengikat kaki-kaki itik tersebut dan membiarkan mereka terbang dengan bebas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Moral : Kita tidak boleh menjadi orang yang tamak dan serakah serta kikir. Cerita di atas menggambarkan adanya hukuman bagi orang yang tamak serta melanggar ketentuan yang sudah ada.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-4541932330121165594?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/4541932330121165594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=4541932330121165594' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/4541932330121165594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/4541932330121165594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/10/gonbe-dan-100-itik.html' title='Gonbe dan 100 Itik'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-5888678941101393959</id><published>2010-10-05T01:10:00.000-07:00</published><updated>2010-10-05T01:13:25.918-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Anak'/><title type='text'>Puteri Melati Wangi</title><content type='html'>Di sebuah kerajaan, ada seorang putri yang bernama Melati Wangi. Ia seorang putri yang cantik dan pandai. Di rumahnya ia selalu menyanyi. Tetapi sayangnya ia seorang yang sombong dan suka menganggap rendah orang lain. Di rumahnya ia tidak pernah mau jika disuruh menyapu oleh ibunya. Selain itu ia juga tidak mau jika disuruh belajar memasak. "Tidak, aku tidak mau menyapu dan memasak nanti tanganku kasar dan aku jadi kotor", kata Putri Melati Wangi setiap kali disuruh menyapu dan belajar memasak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil Putri Melati Wangi sudah dijodohkan dengan seorang pangeran yang bernama Pangeran Tanduk Rusa. Pangeran Tanduk Rusa adalah seorang pangeran yang tampan dan gagah. Ia selalu berburu rusa dan binatang lainnya tiap satu bulan di hutan. Karena itu ia di panggil tanduk rusa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Putri Melati Wangi berjalan-jalan di taman. Ia melihat seekor kupu-kupu yang cantik sekali warnanya. Ia ingin menangkap kupu-kupu itu tetapi kupu-kupu itu segera terbang. Putri Melati Wangi terus mengejarnya sampai ia tidak sadar sudah masuk ke hutan. Sesampainya di hutan, Melati Wangi tersesat. Ia tidak tahu jalan pulang dan haripun sudah mulai gelap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akhirnya setelah terus berjalan, ia menemukan sebuah gubuk yang biasa digunakan para pemburu untuk beristirahat. Akhirnya Melati Wangi tinggal digubuk tersebut. Karena tidak ada makanan Putri Melati Wangi terpaksa memakan buah-buahan yang ada di hutan itu. Bajunya yang semula bagus, kini menjadi robek dan compang camping akibat tersangkut duri dan ranting pohon. Kulitnya yang dulu putih dan mulus kini menjadi hitam dan tergores-gores karena terkena sinar matahari dan duri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sebulan berada di hutan, ia melihat Pangeran Tanduk Rusa datang sambil memanggul seekor rusa buruannya. "Hai Tanduk Rusa, aku Melati Wangi, tolong antarkan aku pulang," kata Melati Wangi. "Siapa ? Melati Wangi ? Melati wangi seorang Putri yang cantik dan bersih, sedang engkau mirip seorang pengemis", kata Pangeran Tanduk Rusa. Ia tidak mengenali lagi Melati Wangi. Karena Melati Wangi terus memohon, akhirnya Pangeran Tanduk Rusa berkata," Baiklah, aku akan membawamu ke Kerajaan ku". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sampai di Kerajaan Pangeran Tanduk Rusa. Melati Wangi di suruh mencuci, menyapu dan memasak. Ia juga diberikan kamar yang kecil dan agak gelap. "Mengapa nasibku menjadi begini ?", keluh Melati Wangi. Setelah satu tahun berlalu, Putri Melati Wangi bertekad untuk pulang. Ia merasa uang tabungan yang ia kumpulkan dari hasil kerjanya sudah mencukupi.Sesampainya di rumahnya, Putri Melati Wangi disambut gembira oleh keluarganya yang mengira Putri Melati Wangi sudah meninggal dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejak itu Putri Melati Wangi menjadi seorang putri yang rajin. Ia merasa mendapatkan pelajaran yang sangat berharga selama berada di hutan dan di Kerajaan Pangeran Tanduk Rusa. Akhirnya setahun kemudian Putri Melati Wangi dinikahkan dengan Pangeran Tanduk Rusa. Setelah menikah, Putri Melati Wangi dan Pangeran Tanduk Rusa hidup berbahagia sampai hari tuanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-5888678941101393959?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/5888678941101393959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=5888678941101393959' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/5888678941101393959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/5888678941101393959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/10/di-sebuah-kerajaan-ada-seorang-putri.html' title='Puteri Melati Wangi'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-7432961149192586572</id><published>2010-10-03T19:44:00.000-07:00</published><updated>2010-11-30T07:30:24.576-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel kebahasaan'/><title type='text'>Budaya Membaca Cabut Rasa Takut Kebebasan</title><content type='html'>Oleh: HE. Benyamine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis sangat mudah sebagaimana beberapa buku tentang penulisan yang memberi motivasi, sebenarnya mengasumsikan suatu keadaan dimana masyarakat telah hidup dalam budaya membaca. Membaca adalah kebutuhan pokok. Pendidikan lebih cenderung didekati dengan pendekatan pendidikan orang dewasa (andragogi), selain pendekatan pedagogi yang berlangsung saat ini. Sehingga, penekanan yang sering muncul adalah budayakan membaca; sebagai syarat yang sangat penting untuk mudah menulis. Budaya membaca inilah yang menjadi tantangan dalam penerapan isi buku-buku tentang motivasi menulis tersebut, yang perlu didengungkan dan didorong tumbuh berkembangnya budaya membaca.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa hasil riset sebagaimana diungkapkan Dr. Stephen D. Krashen bahwa kita belajar menulis lewat membaca, yang menunjukkan betapa pentingnya mambaca dalam memudahkan untuk menulis, karena membaca merupakan perbuatan menulis di otak. Hal ini juga tergambar dalam bukunya Jean-Paul Sartre, Kata-Kata (2000), dimana membaca sudah dibudayakan oleh keluarganya, terlebih kakeknya yang selalu memberikan berbagai buku dan tulisan, sehingga saat pertama menulis Sartre merasa sebagai plagiat karena banyak tulisan yang mengendap di otak dari hasil bacaan yang membudaya.&lt;br /&gt;Budaya membaca para pendidik (dosen/guru) tentu sudah seharusnya telah berkembang, sebagai kelompok masyarakat yang senang membaca dan menjadi kebutuhan, sehingga dapat menularkan pada anak didiknya. Sudah seharusnya, kelompok masyarakat yang berprofesi sebagai pendidik ini sudah berada dalam budaya membaca, sehingga kegiatan membaca sudah menjadi habit sebagaimana setiap hari melakukan kegiatan mengajar. Buku-buku yang memotivasi menulis menjadi penting dibaca oleh kalangan pendidik dan peserta didik, yang tidak perlu (harus) diikuti adalah gaya penulisannya. Melalui buku-buku motivasi penulisan tersebut, sangat jelas tergambar bagaimana pentingnya budaya membaca, yang menjadi syarat penting dan utama dalam menjadikan kegiatan menulis sebagai kebiasaan (habit) sebagaimana didefinisikan Stephen Covey sebagai titik pertemuan antara pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan keinginan (desire).&lt;br /&gt;Harapan mempunyai kemampuan menulis sangat mudah, tidak serta merta dapat diperoleh hanya dengan membaca buku-buku tentang menulis, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana sebab-sebab yang diuraikan dalam buku tersebut hingga bisa menulis sangat mudah yang perlu menjadi perhatian dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melakukan perbuatan berdasarkan harapan (raja’) lebih tinggi kedudukannya daripada perbuatan berdasarkan takut (khauf), sebagaimana Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin ungkapkan, yang menegaskan bahwa sebab-sebab yang menguatkan kepada harapan tersebut harus dijaga dan dijalani, karena bila sebab-sebab tersebut hilang maka harapan tersebut tidak ubahnya sebuah angan-angan belaka. Tentu saja sebab-sebab yang menguatkan harapan dalam mudah menulis adalah budaya membaca, yang harus dijaga dan dijalani sebagai budaya.&lt;br /&gt;Membangun kesadaran tentang potensi diri, sebagaimana gagasan Paulo Freire tentang pendidikan yang benar-benar membebaskan, yang mencabut parasit adanya perasaan takut kebebasan (fear of freedom) dalam masyarakat, juga merujuk pada budaya membaca. Jika budaya membaca tidak ada, maka sistem pendidikan apapun akan menjadikan orang terjebak pada sikap fanatik dan tertanam dalam bangunan yang menindas tapi tidak mau keluar karena takut keruntuhannya. Sehingga, perasaan takut kebebasan (fear of freedom) masih menjadi penghambat yang laten, yang memang sangat sulit untuk didobrak.&lt;br /&gt;Jadi, menulis sangat mudah merupakan pernyataan yang benar namun bergantung pada syarat penting akan budaya membaca. Kemudahan dalam menulis merupakan suatu proses yang panjang dan kerja keras, yang diikuti oleh berkembangnya budaya membaca pada diri seseorang. Banyak orang yang setelah membaca buku tentang motivasi menulis langsung tercerahkan, dan berpikiran bahwa menulis itu memang mudah, sebagaimana mudahnya membaca buku tersebut, tetapi tanpa melihat apa yang menjadi sebab kemudahan itu hanya membuat orang terbuai. Sudah seharusnya profesional pendidik (dosen/guru) untuk terlibat mendobrak tembok perasaan takut kebebasan dalam masyarakat, dengan mendorong tumbuh dan berkembangnya budaya membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Radar Banjarmasin, 12 April 2010: 3)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-7432961149192586572?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/7432961149192586572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=7432961149192586572' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/7432961149192586572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/7432961149192586572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/10/budaya-membaca-cabut-rasa-takut.html' title='Budaya Membaca Cabut Rasa Takut Kebebasan'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-6652477591469287093</id><published>2010-03-04T02:19:00.000-08:00</published><updated>2010-11-30T07:32:21.644-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Umum'/><title type='text'>Membudayakan Cinta Lingkungan Hidup Melalui Dunia Pendidikan</title><content type='html'>Oleh Sawali Tuhusetya (http://sawali.wordpress.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, Indonesia dikenal sebagai sebuah negeri yang subur. Negeri kepulauan yang membentang di sepanjang garis katulistiwa yang ditamsilkan ibarat untaian zamrud berkilauan sehingga membuat para penghuninya merasa tenang, nyaman, damai, dan makmur. Tanaman apa saja bisa tumbuh di sana. Bahkan, tongkat dan kayu pun, menurut versi Koes Plus, bisa tumbuh jadi tanaman yang subur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, seiring dengan berkembangnya peradaban umat manusia, Indonesia tidak lagi nyaman untuk dihuni. Tanahnya jadi gersang dan tandus. Jangankan tongkat dan kayu, bibit unggul pun gagal tumbuh di Indonesia. Yang lebih menyedihkan&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;, dari tahun ke tahun, Indonesia hanya menuai bencana. Banjir bandang, tanah longsor, tsunami, atau kekeringan seolah-olah sudah menjadi fenomena tahunan yang terus dan terus terjadi. Sementara itu, pembalakan hutan, perburuan satwa liar, pembakaran hutan, penebangan liar, bahkan juga illegal loging (nyaris) tak pernah luput dari agenda para perusak lingkungan. Ironisnya, para elite negeri ini seolah-olah menutup mata bahwa ulah manusia yang bertindak sewenang-wenang dalam memperlakukan lingkungan hidup bisa menjadi ancaman yang terus mengintai setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa bencana demi bencana terus terjadi? Bukankah negeri ini sudah memiliki perangkat hukum yang jelas mengenai Pengelolaan Lingkungan Hidup? Bukankah Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Pendidikan Nasional telah membangun kesepakatan bersama tentang pendidikan lingkungan hidup? Namun, mengapa korban-korban masih terus berjatuhan akibat rusaknya lingkungan yang sudah berada pada titik nadir? Siapa yang mesti bertanggung jawab ketika bumi ini tidak lagi bersikap ramah terhadap penghuninya? Siapa yang harus disalahkan ketika bencana dan musibah datang beruntun menelan korban orang-orang tak berdosa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini agaknya (nyaris) tidak ada lagi tanah di Indonesia yang nyaman bagi tanaman untuk tumbuh dengan subur dan lebat. Mulai pelosok-pelosok dusun hingga perkotaan hanya menyisakan celah-celah tanah kerontang yang gersang, tandus, dan garang. Di pelosok-pelosok dusun, berhektar-hektar hutan telah gundul, terbakar, dan terbabat habis sehingga tak ada tempat lagi untuk resapan air. Satwa liar pun telah kehilangan habitatnya. Sementara itu, di perkotaan telah tumbuh cerobong-cerobong asap yang ditanam kaum kapitalis untuk mengeruk keuntungan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Polusi tanah, air, dan udara benar-benar telah mengepung masyarakat perkotaan sehingga tak ada tempat lagi untuk bisa bernapas dengan bebas dan leluasa. Limbah rumah tangga dan industri makin memperparah kondisi tanah dan air di daerah perkotaan sehingga menjadi sarang yang nyaman bagi berbagai jenis penyakit yang bisa mengancam keselamatan manusia di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kita bisa banyak belajar dari kearifan lokal nenek moyang kita tentang bagaimana cara memperlakukan lingkungan dengan baik dan bersahabat. Meski secara teoretis mereka buta pengetahuan, tetapi di tingkat praksis mereka mampu membaca tanda-tanda dan gejala alam melalui kepekaan intuitifnya. Masyarakat Papua, misalnya, memiliki budaya dan adat istiadat lokal yang lebih mengedepankan keharmonisan dengan alam. Mereka pantang melakukan perusakan terhadap alam karena dinilai bisa menjadi ancaman besar bagi budaya mereka. Alam bukan hanya sumber kehidupan, melainkan juga sahabat dan guru yang telah mengajarkan banyak hal bagi mereka. Dari alam mereka menemukan falsafah hidup, membangun religiositas dan pola hidup seperti yang mereka anut hingga kini. Memanfaatkan alam tanpa mempertimbangkan eksistensi budaya setempat tidak beda dengan penjajahan. Namun, sejak kedatangan PT Freeport Indonesia, keharmonisan hubungan masyarakat Papua dengan alam jadi berubah. Saya kira masih banyak contoh kearifan lokal di daerah lain yang sarat dengan pesan-pesan moral bagaimana memperlakukan lingkungan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, berbagai peristiwa tragis akibat parahnya kerusakan lingkungan sudah telanjur terjadi. “Membangun tanpa merusak lingkungan” yang dulu pernah gencar digembar-gemborkan pun hanya slogan belaka. Realisasinya, atas nama pembangunan, penggusuran lahan dan pembabatan hutan terus berlangsung. Sementara itu, hukum pun makin tak berdaya menghadapi para “bromocorah” lingkungan hidup yang nyata-nyata telah menyengsarakan jutaan umat manusia. Para investor yang nyata-nyata telah membutakan mata dan tidak menghargai kearifan lokal masyarakat setempat justru dianggap sebagai “pahlawan” lantaran telah mampu mendongkrak devisa negara dalam upaya mengejar pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, hanya mencari “kambing hitam” siapa yang bersalah dan siapa yang mesti bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan hidup bukanlah cara yang arif dan bijak. Lingkungan hidup merupakan persoalan kolektif yang membutuhkan partisipasi semua komponen bangsa untuk mengurus dan mengelolanya. Pemerintah, tokoh-tokoh masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), semua warga masyarakat, dan komponen bangsa yang lain harus memiliki “kemauan politik” untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan hidup dari ulah tangan jahil para preman dan penjahat lingkungan. Hal itu harus dibarengi dengan tindakan hukum yang tegas terhadap pelaku kejahatan lingkungan hidup yang nyata-nyata telah terbukti menyengsarakan banyak umat manusia. Pedang hukum harus benar-benar mampu memancung dan memenggal kepala para penjahat lingkungan hidup untuk memberikan efek jera dan sekaligus memberikan pelajaran bagi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak kalah penting, harus ada upaya serius untuk membudayakan cinta lingkungan hidup melalui dunia pendidikan. Institusi pendidikan, menurut hemat saya, harus menjadi benteng yang tangguh untuk menginternalisasi dan menanamkan nilai-nilai budaya cinta lingkungan hidup kepada anak-anak bangsa yang kini tengah gencar menuntut ilmu. Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat setempat perlu terus digali dan dikembangkan secara kontekstual untuk selanjutnya disemaikan ke dalam dunia pendidikan melalui proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Pola dan gaya penyajiannya pun tidak bercorak teoretis dan dogmatis seperti orang berkhotbah, tetapi harus lebih interaktif dan dialogis dengan mengajak siswa didik untuk berdiskusi dan bercurah pikir melalui topik-topik lingkungan hidup yang menarik dan menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan hidup yang disemaikan melalui dunia pendidikan tidak harus menjadi mata pelajaran tersendiri, tetapi disajikan lintas mata pelajaran melalui pokok-pokok bahasan yang relevan. Dengan kata lain, lingkungan hidup tidak cukup hanya menjadi tanggung jawab guru Geografi atau IPA saja, misalnya, tetapi harus menjadi tanggung jawab semua guru mata pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa budaya cinta lingkungan hidup ini penting dikembangkan melalui dunia pendidikan? Ya, karena jutaan anak bangsa kini tengah gencar menuntut ilmu di bangku pendidikan. Merekalah yang kelak akan menjadi penentu kebijakan mengenai penanganan dan pengelolaan lingkungan hidup yang baik. Menanamkan nilai-nilai budaya cinta lingkungan hidup kepada anak-anak bangsa melalui bangku pendidikan sama saja menyelamatkan lingkungan hidup dari kerusakan yang makin parah. Dan itu harus dimulai sekarang juga. Depdiknas yang memiliki wewenang untuk menentukan kebijakan harus secepatnya “menjemput bola” agar dunia pendidikan kita mampu melahirkan generasi masa depan yang sadar lingkungan dan memiliki kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat dan bangsanya. Nah, bagaimana? ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-6652477591469287093?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/6652477591469287093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=6652477591469287093' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/6652477591469287093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/6652477591469287093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2010/03/membudayakan-cinta-lingkungan-hidup.html' title='Membudayakan Cinta Lingkungan Hidup Melalui Dunia Pendidikan'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-8894516643476277395</id><published>2009-12-01T06:07:00.000-08:00</published><updated>2010-11-30T07:33:17.442-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Umum'/><title type='text'>MODEL PEMBELAJARAN</title><content type='html'>Kemarin saya belajar kembali mengenai metode pembelajaran di palatihan peningkatan mutu profesi guru. Fasilitator memberikan materi berupa artikel yang berkaitan dengan pembahasaan. ada baiknya artikel ini saya bagikan dengan teman-teman. artikel ini dibuat oleh Akhmad Sudrajat. isinya sebagai berikut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;(1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.&lt;br /&gt;Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.&lt;br /&gt;Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.&lt;br /&gt;Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.&lt;br /&gt;Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.&lt;br /&gt;Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.&lt;br /&gt;Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.&lt;br /&gt;Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.&lt;br /&gt;Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-8894516643476277395?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/8894516643476277395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=8894516643476277395' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/8894516643476277395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/8894516643476277395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2009/12/model-pembelajaran.html' title='MODEL PEMBELAJARAN'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-2253496700729966300</id><published>2009-11-15T00:34:00.000-08:00</published><updated>2009-11-15T00:35:47.351-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel kebahasaan'/><title type='text'>Cara Belajar Membaca yang Efektif</title><content type='html'>oleh Dr. Suyatno&lt;br /&gt;Kita harus percaya bahwa anak-anak memiliki kemampuan belajar yang tidak tertandingi, karena banyak bukti sudah kita lihat dalam kehidupan sehari-hari mereka bisa menghafal iklan, nyeletuk ketika kita berbicara dengan orang lain, dan menyerap kata-kata yang kita ucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya 'How to Teach Your Baby to Read', Glen Doman mengatakan bahwa pada dasarnya kemampuan anak khususnya balita sangat luar biasa. Bahkan, kata Doman, otak anak yang separuhnya sudah dilakukan pembedahan Hemispherectomy (membuang separuh fisik otaknya) bisa punya kemampuan sama dengan anak yang otaknya utuh dan normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, dalam metode Doman, mengajar membaca pada anak balita itu mudah dan sederhana. Hanya saja, saking mudah dan sederhana itulah kita justeru seringkali mengabaikan, menunda, serta menyepelekannya, sehingga akhirnya waktu terlewat dan semua sudah terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah dan sederhana, namun bukan berarti bisa "seenaknya". Ada hal-hal perlu dilakukan dan penting dilakoni, yang tentu agar tujuan mengajari membaca pada anak-anak tercapai dengan hasil memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Boleh?&lt;br /&gt;- Jangan membuat anak menjadi bosan dengan maju terlalu cepat, maju terlalu lambat, serta terlalu sering memberi tes&lt;br /&gt;- Jangan memaksa anak, apapun bentuknya &lt;br /&gt;- Jangan tegang, sehingga Anda lebih baik menunda jika suasana tidak mendukung, baik pada Anda maupun si anak&lt;br /&gt;- Jangan dulu mengajarinya abjad, namun ajari ia kata-kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Harus?&lt;br /&gt;- Bergembiralah dan buat suasana hati anak senang dan nyaman menerima "pelajaran" dari Anda&lt;br /&gt;- Selalu ciptakan cara baru. Ingat, bagaimanapun jeleknya cara Anda mengajar, hampir bisa dipastikan bahwa ia akan belajar lebih banyak daripada tidak diajarkan sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode Glen Doman (Tahap I)&lt;br /&gt;Sebaiknya tunda dulu mengajarkan anak Anda tentang huruf, karena unsur terkecil dari sebuah bahasa adalah kata, bukan huruf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk kata adalah kongkrit, sedangkan huruf adalah abstrak. Sementara, mengajar anak akan lebih mudah pada hal-hal yang kongkrit, bukan hal-hal abstrak yang membuatnya berpikir terlalu dalam atas apapun yang Anda ajarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara mudah dan sederhana mengajarkan anak membaca melalui pengenalan kata adalah dengan menggunakan Metode Glen Doman. Simak langkahnya berikut ini;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Buat 15 kata dibagi dalam 3 set kategori berbentuk kartu dari karton dan spidol. Masing-masing terdiri Set Kategori A, Set Kategori B dan Set Kategori C yang berbeda&lt;br /&gt;2. Contoh, gunakan tema nama-nama dalam anggota keluarga di Set A (ayah, ibu, tante, kakek, nenek), nama buah di Set B (apel, pisang, jambu, jeruk, durian), dan nama hewan di Set C (ayam, itik, angsa, ikan, kuda)&lt;br /&gt;3. Ambil satu kartu yang paling depan/tumpukan karton pertama di Set A, sebutkan (bacakan) dan ajak anak menirukannya.&lt;br /&gt;-ingat, tak perlu jelaskan artinya tentang apa yang dibaca oleh si anak&lt;br /&gt;-tak lebih dari satu detik, ambil kartu dari belakang dan lakukan seperti yang pertama&lt;br /&gt;-perhatikan wajah anak ketika menyebutkan kata, amati kata yang disukainya dan yang tidak&lt;br /&gt;-jangan minta anak mengulang kata-kata yang kita bacakan tadi &lt;br /&gt;-setelah membaca lima kata, stop pelajaran ini. Peluk anak Anda dan puji dia dengan menunjukkan Anda bangga atas apa yang dilakukannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Di hari pertama pelajaran, lakukan untuk Set A sebanyak tiga kali (3x)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Hari kedua lakukan Set A = 3x, Set B = 3x&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Hari ketiga Set A = 3x, Set B = 3x, dan Set C = 3x&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Hari keempat sampai dengan keenam sama seperti hari ketiga&lt;br /&gt;-setiap kata dibaca maksimal antara 15 - 25 kali. Setelah sebanyak itu, kata harus diganti. Caranya, setelah hari keenam ambil 1 kata dari setiap Set dan gantilah dengan sebuah kata baru&lt;br /&gt;-setiap satu Set yang Anda bacakan selesai lansung diacak, hal ini supaya anak tidak bisa menebak urutan kata&lt;br /&gt;-jangan pernah mengulang kata yang sudah Anda bacakan, sehingga tidak salah Anda menandai tiap kata yang sudah Anda bacakan dengan pensil. Tanda ini juga bisa dijadikan patokan sudah berapa kali kata ini kita bacakan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-2253496700729966300?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/2253496700729966300/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=2253496700729966300' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/2253496700729966300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/2253496700729966300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2009/11/cara-belajar-membaca-yang-efektif.html' title='Cara Belajar Membaca yang Efektif'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-3935087089260453145</id><published>2009-11-15T00:31:00.000-08:00</published><updated>2009-11-15T00:32:48.852-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel kebahasaan'/><title type='text'>Mengajar Membaca dengan Bermain</title><content type='html'>oleh : dr. suyatno&lt;br /&gt;Mengenalkan membaca pada anak-anak tidak selamanya dengan metode yang serius dan monoton. Tanpa disadari, dengan bermain anak-anak bisa sekaligus dikenalkan untuk membaca buku dengan santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat tersebut dikemukakan oleh Kiswanti, pendiri Taman Bacaan Masyarakat WARABAL (Warung Baca Lebak Wangi) Parung, Bogor. Berkat kegigihannya membangun taman bacaan tersebut, Kiswanti diundang hadir sebagai narasumber, seminar "Lokakarya Sehari Membangun Budaya Baca Sejak Lahir" yang berlangsung di Jakarta, Kamis (16/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiswanti mengatakan, metode terbaik memperkenalkan buku pada anak-anak agar senang membaca sebenarnya tidak perlu dengan paksaan atau terlalu sistematis. "Anak-anak akan lebih terbuka dan antusias membaca buku apabila mereka merasa senang dan tidak tertekan melakukannya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga mengatakan, membacakan cerita dengan tidak menyelesaikannya sampai akhir dapat memancing emosional anak untuk lanjut bertanya. Hal itu sekaligus dapat mengukur tingkat antusiasme anak terhadap cerita yang dibacakan orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membacakan cerita untuk anak-anak, lanjut Kiswanti, juga harus disesuaikan dengan kondisi anak agar anak juga mencermati sekaligus menikmati alur cerita. Dengan suasana membaca yang mengasyikkan, maka anak akan merasa tertarik dengan buku-buku bacaan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Metode lain yang saya terapkan adalah bermain dengan membuat bentuk-bentuk huruf, tujuannya untuk memancing kreativitas anak dan melatih mereka mengingat bentuk huruf-huruf itu," tutur Iswanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiswanti juga menambahkan, semua benda dapat dijadikan media untuk memperkenalkan membaca bagi anak. Dia mencontohkan, bagi ibu-ibu yang kurang mampu membelikan anaknya buku, bisa menggunakan koran bekas yang kemudian dipotong-potong gambarnya. Potongan itu lalu dikumpulkan dan dijadikan sebuah cerita untuk anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam metode bermain ini peran ibu sangat penting, karena kreativitas ibu sangat dibutuhkan untuk membuat model atau tipe-tipe permainan sesuai yang digemari anak-anak mereka agar mereka semakin berminat untuk membaca," ujarnya. "Ibu adalah perpustakaan pertama bagi anak," tambahnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-3935087089260453145?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/3935087089260453145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=3935087089260453145' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/3935087089260453145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/3935087089260453145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2009/11/mengajar-membaca-dengan-bermain.html' title='Mengajar Membaca dengan Bermain'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-4498062301535161370</id><published>2009-11-15T00:25:00.000-08:00</published><updated>2010-11-30T07:34:08.342-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Umum'/><title type='text'>Tehnik Pembelajaran Sate Gambar</title><content type='html'>Oleh Suyatno&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inovasi harus tiada berhenti bagi seorang guru yang selalu maju meski berada dalam kondisi apapun. Itulah yang diharapkan dalam dunia persekolahan sehingga siswa dapat mengeluarkan potensi supernya yang membawa ke dunia kecerdasan yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu inovasi itu adalah penggunaan teknik pembelajaran yang beraneka ragam berdasarkan metode atau prosedur yang berdimensi pendekatan tertentu. Teknik sate gambar dapat digunakan untuk inovasi pembelajaran dengan metode apapun. Bagaimana sebenarnya teknik sate gambar itu?&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sate adalah potongan daging yang ditusuk oleh sebatang lidi, stick, bambu potongan kecil, gagang, atau apa saja namanya. Kata "Sate" merujuk pada gagang bukan pada yang ditusuk. Dengan demikian, ada sate kerang, sate kambing, sate tahu, sate usus, dan lainnya. Nah, sate gambar adalah gambar sesuatu yang diberi gagang sehingga dapat dipegang dalam jarak dekat dan mudah digeser dan digerakkan. Masih ingat wayang? Seperti itulah kira-kira sate gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pembelajaran apa saja, sate gambar dapat diterapkan. Misalnya, guru Geografi akan mengenalkan peta Indonesia tidak perlu menunjuk peta di papan secara klasikal. Guru itu dapat menggunting gambar pulau dari atlas kemudian ditempel di karton agar keras dan awet kemudian diberi gagang. Murid akan memegang sate gambar satu per satu berdasarkan pulau di Indonesia. murid tersebut lalu mengidentifikasi gambar pulau dan menyampaikan hasil identifikasinya ke kelompok atau kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pulau, guru biologi saat membelajarkan organ tubuh dapat menggunakan sate gambar organ tubuh untuk memperjelas pemahaman. Murid diberikan sate organ jantung, murid lain sate organ paru-paru, yang lain sate orhan usus. Murid mengidentifikasikan isi gambar dalam sate itu kemudian menyampaikan hasilnya. Lalu, murid satu bertemu dengan murid lain dalam kelompok untuk mengurutkan gambar berdasarkan susunan organ tubuh manusia. Contohnya, pemegang sate organ jantung bertemu dengan pemegang sate parau-paru, usus, ginjal, lambung, empedu, dan seterusnya. Dalam kelompok, mereka menghubungkan antarorgan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam teknik sate gambar ini, guru dapat menggunakan metode apa saja asal sesuai dengan sintaksnya. Kalau guru menggunakan metode CTL, cara penggunaannya sebagai berikut. Pertama, murid mendapatkan sate gambar sebagai model yang akan dicermati. Kedua, murid membentuk kelompok untuk menyatukan susunan organ tubuh dari aneka sate organ itu. Ketiga, murid berdiskusi tentang ciri, fungsi, prinsip kerja organ sebagai aplikasi konstruktivistik. Keempat, murid bertanya jawab berkaitan dengan susunan organ tubuh. Kelima, siswa menyimpulkan hasil diskusi dan melaporkan ke dalam kelas sebagai wujud inkuiri. Keenam, guru melakukan penilaian autentik atas hasil kerja siswa. Ketujuh, murid merefleksikan pembelajaran yang telah berlangsung.&lt;br /&gt;Begitu pula, metode kuantum dengan urutan TANDUR atau metode yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid secara induktif membangun konsep dari fakta yang ada. Guru tidak perlu ceramah tentang organ tubuh dan murid akan memahami dengan kuat. Selamat mencoba.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-4498062301535161370?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/4498062301535161370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=4498062301535161370' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/4498062301535161370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/4498062301535161370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2009/11/tehnik-pembelajaran-sate-gambar.html' title='Tehnik Pembelajaran Sate Gambar'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-4550875157251892019</id><published>2009-10-29T00:33:00.000-07:00</published><updated>2010-11-30T07:35:28.428-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Umum'/><title type='text'>Metodologi PAKEM</title><content type='html'>Oleh : Drs T. Taslimuharom, MP&lt;br /&gt;PAKEM adalah Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Disamping metodologi pembelajaran dengan nama atau sebutan “PAKEM”, muncul pula nama yang dikeluarkan di daerah Jawa Tengah dengan sebutan “PAIKEM Gembrot” dengan kepanjangan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, Gembira dan Berbobot. Disamping itu melalui program Workstation P4TK-BMTI Bandung tahun 2007, di Jayapura muncul pula sebutan&lt;br /&gt;“Pembelajaran MATOA” (diambil dari buah Matoa), kepanjangan Menyenangkan Atraktif Terukur Orang Aktif, yang artinya Pembelajaran yang menyenangkan, Guru dapat menyajikan dengan atraktif/menarik dengan hasil terukur sesuai yang diharapkan siswa(orang) belajar secara aktif .&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Active Learning,&lt;br /&gt;Proses belajar dapat dikatakan active learning dengan mengandung :&lt;br /&gt;1. Komitmen (Keterlekatan pada tugas),&lt;br /&gt;Berarti, materi, metode dan strategi pembelajaran bermanfaat untuk siswa(meaningful), sesuai dengan kebutuhan siswa (relevant) dan bersifat pribadi (personal)&lt;br /&gt;2. Tanggung jawab (Responsibility),&lt;br /&gt;Merupakan suatu proses belajar yang memberi wewenang pada siswa untuk krtitis, guru lebih banyak mendengar daripada bicara, menghormat ide-ide siswa, memberi pilihan dan memberi kesempatan pada siswa untuk memutuskan sendiri&lt;br /&gt;3. Motivasi,&lt;br /&gt;Motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik, dengan lebih mengembangkan motivasi intrinsik siswa agar proses belajar yang ditekuninya muncul berdasarkan, minat dan inisiatif sendiri, bukan karena dorongan lingkungan atau orang lain.&lt;br /&gt;Motivasi belajar siswa akan meningkat karena ditunjang oleh pendekatan belajar yang dilakukan guru lebih dipusatkan kepada siswa (Student centred approach), guru tidak hanya menyuapi atau menuangkan dalam ember, tetapi menghidupkan api yang menerangi sekelilingnya, dan bersikap positif kepada siswa.&lt;br /&gt;Active learning bisa dibangun oleh seorang guru yang gembira,tekun dan setia pada tugasnya, bertanggung jawab, motivator yang bijak, berpikir positif, terbuka pada ide baru dan saran dari siswa atau orang tuanya/masyarakat, tiap hari energinya untuk siswa supaya belajar kreatif, selalu membimbing, seorang pendengar yang baik, memahami kebutuhan siswa secara individual, dan mengikuti perkembangan pengetahuan.&lt;br /&gt;Pembelajaran Kreatif&lt;br /&gt;Pembelajaran kreatif adalah kemampuan untuk menciptakan, mengimajinasikan, melakukan inovasi, dan melakukan hal-hal yang artistik lainnya. Dikarakterkan dengan adanya keaslian dan hal yang baru. Dibentuk melalui suatu proses yang baru. Memiliki kemampuan untuk menciptakan. Dirancang untuk mesimulasikan imajinasi.&lt;br /&gt;Kreatifitas adalah sebagai kemampuan (berdasarkan data dan informasi yang tersedia) untuk memberikan gagasan-gagasan baru dengan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, yang menekankan pada segi kuantitas, ketergantungan dan keragaman jawaban dan menerapkannya dalam pemecahan masalah.&lt;br /&gt;Ciri-ciri Kepribadian Kreatif&lt;br /&gt;Berdasarkan survei kepustakaan oleh Supriadi (1985) mengidentifikasi 24 ciri kepribadian kreatif yaitu: (1) terbuka terhadap pengalaman baru, (2) fleksibel dalam berfikir dan merespons; (3) bebas dalam menyatakan pendapat dan perasaan;(4)menghargai fantasi; (5) tertarik kepada kegiatan-kegiatan kreatif; (6) mempunyai pendapat sendiri dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain; (7) mempunyai rasa ingin tahu yang besar; (8) toleran terhadap perbedaan pendapat dan situasi yang tidak pasti; (9) berani mengambil risiko yang diperhitungkan; (10) percaya diri dan mandiri; (11) memiliki tanggung jawab dan komitmen kepada tugas; (12) tekun dan tidak mudah bosan; (13) tidak kehabisan akal dalam memecahkan masalah; (14) kaya akan inisiatif;&lt;br /&gt;(15) peka terhadap situasi lingkungan; (16) lebih berorientasi ke masa kini dan masa depan dari pada masa lalu; (17) memiliki citra diri dan stabilitas emosional yang baik; (18) tertarik kepada hal-hal yang abstrak, kompleks, holistik dan mengandung teka-teki; (19) memiliki gagasan yang orisinal; (20) mempunyai minat yang luas; (21) menggunakan waktu luang untuk kegiatan yang bermanfaat dan konstruktif bagi pengembangan diri; (22) kritis terhadap pendapat orang lain; (23) senang mengajukan pertanyaan yang baik; dan (24) memiliki kesadaran etik-moral dan estetik yang tinggi.&lt;br /&gt;Sedangkan Kirton (1976) membedakan ciri kepribadian kreatif kedalam dua gaya berfikir : Adaptors dan innovators. Kedua gaya tersebut merupakan pendekatan dalam mengahadapi perubahan. Adaptors mencoba membuat sesuatu lebih baik, menggunakannya, ada yang menggunakan metode, nilai, kebijakan, dan prosedur. Mereka percaya pada standard dan konsesus yang diterima sebagai petunjuk dalam pengembangan dan implementasi ide-ide baru. Sedangkan innovators suka merekonstruksi masalah, berpikir .&lt;br /&gt;Mencermati pandangan pertama, yang mengartikan kreativitas sebagai kemampuan, maka yang dimaksud kemampuan di sini adalah kemampuan menggunakan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dilandasi oleh fakta dan informasi yang akurat dalam memecahkan atau mengatasi suatu masalah, dengan demikian kreativitas dalam pengertian kemampuan hanya mencakup dimensi kognitif. Ciri-ciri kreativitas tersebut belum sepenuhnya menjadi tolok ukur seseorang dapat disebut kreatif. Ciri lain yang harus dikembangkan yaitu ciri afektif menyangkut sikap dan perasaan seseorang, antara lain motivasi untuk berbuat sesuatu.&lt;br /&gt;Penyajian Pembelajaran,&lt;br /&gt;Penyajian dalam pembelajaran ini dapat dilakukan dengan, pemecahan masalah, curah pendapat, belajar dengan melakukan (learning by doing),menggunakan banyak metode yang disesuaikan dengan kontek, kerja kelompok.&lt;br /&gt;Para siswa menyelesaikan permasalahan, menjawab pertanyaan-pertanyaan, memformulasikan pertanyaan-pertanyaan menurut mereka sendiri, mendiskusikan, menerangkan, melakukan debat, curah pendapat selama pelajaran di kelas, dan pembelajaran kerjasama, yaitu para siswa bekerja dalam tim untuk mengatasi permasalahan dan kerja proyek yang telah dikondisikan dan diyakini agar terjadi ketergantungan yang positif dan tanggung jawab individu yang mendalam.&lt;br /&gt;Untuk keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran sesuai dengan tujuan yang diharapkan, sebelumnya siswa dilatih cara konsentrasi, ketelitian, kesabaran, ketekunan, keuletan , peningkatan daya ingat serta belajar dengan metode bayangan. Disamping itu siswa dapat melakukan “SSN” (Senyum, Santai dan Nikmat) yang artinnya siswa dapat melakukan dengan senyum (dalam hati) berarti senang dalam proses kegiatan pembelajaran, Santai berarti siswa dapat mengikuti kegiatan pembelajaran tidak tegang/stress serta siswa dapat menikmati kegiatan pembelajaran. Dengan proses tersebut akhirnya siswa dapat menguasai materi sesuai yang diharapkan dengan benar.&lt;br /&gt;Latihan ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara atau dalam bentuk permainan (games), misalnya menghitung huruf “a” pada satu (lebih) paragrap dengan beberapa kalimat, latihan membayangkan diri sendiri&lt;br /&gt;Disamping itu Guru harus selalu memberikan motivasi kepada semua siswa bahwa pelajaran tidak ada yang sulit, semua siswa akan mampu menguasai materi tersebut dengan baik. Hindarilah menakut-nakuti atau menyampaikan, bahwa pelajarannya sangat sulit, hal ini akan mengurangi motivasi siswa untuk belajar, seolah-olah kemampuan otaknya tidak mampu untuk menerimanya/seolah-olah otaknya tertutup untuk menerimanya, karena pelajaran sangat dipandang sulit.&lt;br /&gt;Dan berbagai cara/metode permainan yang dapat bermanfaat bagi perkembangan kemampuan otak siswa.&lt;br /&gt;OLEH : http://gurupkn.wordpress.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-4550875157251892019?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/4550875157251892019/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=4550875157251892019' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/4550875157251892019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/4550875157251892019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2009/10/metodologi-pakem.html' title='Metodologi PAKEM'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-999732366890281165</id><published>2009-10-25T23:25:00.000-07:00</published><updated>2010-11-30T07:37:00.367-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel sastra anak'/><title type='text'>Problematika Pengajaran Sastra di Sekolah</title><content type='html'>Oleh: Mahmud Jauhari Ali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah ramainya tuntutan guru untuk mendapatkan kesejahteraan yang layak bagi mereka, sudahkah mereka itu berkontemplasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya adalah merenungi atas hal yang telah mereka perbuat dalam dunia pendidikan, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Sastra merupakan bagian intergral dalam dunia pendidikan tersebut yang diajarkan di tiap jenjang pendidikan di Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajaran sastra mencakup ketiga genre sastra, yakni prosa fiksi, puisi, dan drama. Dalam&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; pengaplikasiannya, ketiganya disintesiskan dengan kegiatan menyimak dan membaca sebagai aktivitas reseptif siswa. Disintesiskan juga dengan kegiatan berbicara dan menulis bagi siswa, yang merupakan aktivitas produktif mereka. Hal itu berlangsung hingga pada tahap evaluasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengajaran sastra itu, terdapat beberapa problematika yang harus segera diatasi oleh guru bahasa dan sastra di sekolah. Hal itu kita pandang perlu, karena problematika pengajaran sastra menyebabkan kurang optimalnya pengajaran sastra di sekolah. Akhirnya, siswa pun kurang cerdas dalam hal bersastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak hanya mengharapkan output dalam pembelajaan sastra. Lebih dari itu, kita menginginkan outcome yang bagus. Contoh, proses belajar-mengajar terjadi dan akhirnya siswa memiliki pengetahuan tentang sastra. Banyak orang beranggapan bahwa contoh itu telah selesai. Padahal, dalam contoh itu hanya sampai pada output. Kita menginginkan siswa di lapangan dapat mengapresiasi, menganalisis, dan juga dapat memproduksi karya sastra sebagai outcome dalam pengajaran sastra di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, pengajaran sastra di sebagian besar sekolah hanya terjadi dalam ruang yang diapit dinding kelas. Hasilnya, daya imajinasi dan kreasi siswa kurang berkembang optimal. Misalnya, ketika siswa mendapatkan tugas membuat puisi berkenaan dengan alam. Namun, guru yang bersangkutan tidak mengajak mereka ke alam terbuka. Padahal di ruang tertutup dinding kelas, kurang mendukung dalam menumbuhkembangkan daya imajinasi dan kreasi mereka dalam proses penciptaan puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu merupakan salah satu problematika dalam pengajaran sastra di sekolah. Seharusnya, guru mengajak siswa keluar, ke alam terbuka dan membantu mereka dalam proses penciptaan karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problematika yang lain, sebagian besar guru bahasa dan sastra di sekolah kurang menumbuhkembangkan minat dan kemampuan siswa dalam hal sastra. Sebenarnya guru Bahasa dan Sastra Indonesia dapat mengusahakan karya sastra siswa dimuat di media massa, dalam bentuk buku sastra, melalui media elektronik yakni internet dan radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal terakhir ini sangat bagus dalam menumbuhkembangkan potensi sastra yang ada dalam diri siswa. Mereka akan tertantang untuk membuat dan memublikasikan karya sastra mereka secara luas dan kontinyu. Kenyataan yang lebih memprihatinkan, sebagian besar guru bahasa dan sastra tidak menjadi contoh sebagai orang yang aktif membuat dan memublikasikan karya sastra di media massa, dalam buku sastra, dan media elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, sebagian besar guru bahasa dan sastra di sekolah juga sangat kurang memperkenalkan sastrawan Kalimantan Selatan kepada siswa. Oleh karena itu, wajar jika sebagian besar siswa tidak mengenal sastrawan Kalimantan Selatan. Padahal, biodata dan karya sastrawan Kalimantan Selatan merupakan pengetahuan sastra yang harus dimiliki siswa di tiap jenjang pendidikan di sekolah. Seharusnya, guru bahasa dan sastra tidak hanya memperkenalkan sastrawan dari Pulau Jawa, Sumatera, atau dari pulau lainnya kepada siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kita ketahui, bahwa sebagian sastrawan Kalimantan Selatan juga sudah menjadi sastrawan nasional di Indonesia. Sebut saja dua contohnya, Jamal T Suryanata dan Arsyad Indradi. Karya sastrawan Kalimantan Selatan pun layak menjadi bahan pelajaran sastra di tiap jenjang pendidikan di provinsi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, siswa juga dapat membuat karya sastra berbahasa Banjar karena sastrawan Kalimantan Selatan juga ada yang menggunakan Bahasa Banjar dalam berkarya sastra. Bahasa Banjar pun akhirnya bertambah lestari. Problematika yang ketiga itu juga harus segera diatasi, agar pengajaran sastra di sekolah dapat berlangsung secara baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang tidak kalah memprihatinkannya dalam pengajaran sastra di provinsi ini, adalah berkenaan dengan sastra daerah Kalimantan Selatan. Banyak guru bahasa dan sastra yang kurang menyinggung apalagi membelajarkan sastra daerah Kalimantan Selatan, seperti mamanda, lamut, dan madihin kepada siswa. Padahal sastra daerah Kalimantan Selatan perlu sekali diajarkan dengan porsi yang memadai di semua sekolah. Hal itu sangat bagus dalam rangka melestarikan khazanah kekayaan sastra dan bahasa Banjar di provinsi ini. Problematika keempat itu merupakan fenomena yang sangat memprihatinkan. Sastra daerah Kalimantan Selatan seharusnya diajarkan oleh guru bahasa dan sastra kepada siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, saatnya guru bahasa dan sastra di sekolah mengatasi problematika pengajaran sastra seperti paparan di atas. Hal itu guna kemajuan sastra di provinsi kita. Bagaimana menurut Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengurus Komunitas Sastra Indonesia Cabang Kertak Hanyar&lt;br /&gt;Terbit di Banjarmasin Post, Senin, 2 Februari 2009 |&lt;br /&gt;sumber : http://arsyadindradi.blogspot.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-999732366890281165?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/999732366890281165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=999732366890281165' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/999732366890281165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/999732366890281165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2009/10/problematika-pengajaran-sastra-di.html' title='Problematika Pengajaran Sastra di Sekolah'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-2972057847050989605</id><published>2009-10-02T23:16:00.000-07:00</published><updated>2009-10-26T08:14:57.762-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel kebahasaan'/><title type='text'>ASPEK PENGAJARAN BAHASA INDONESIA</title><content type='html'>oleh : www.mbahbrata-edu.blogspot.com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. MENDENGARKAN&lt;br /&gt; Mendengarkan ialah mengarahkan perhatian dengan sengaja kepada suatu suara, atau menangkap pikiran orang berbicara dengan alat pendengaran kita, dengan tepat dan teratur. Mendengar dan mendengarkan itu berbeda. Mendengar dapat dilakukan setiap orang yang alat pendengarannya normal; dengan kata lain jika orang itu tidak tuli. Sedangkan mendengarkan membutuhkan kecakapan yang harus dipelajari dengan latihan-latihan yang benilang-ulang, kecakapan yang tidak dikuasai dengan cukup oleh setiap orang. Untuk mendengarkan dengan baik kita harus:&lt;br /&gt;a.       mengerti akan kata-kata yang dipakai,&lt;br /&gt;b.      memahami dan mengenal bentuk kalimatnya, jadi&lt;br /&gt;c.       menangkap isi dan maksud percakapan itu dengan teratur.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1.  Latihan-latihan Mendengarkan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Latihan-latihan mendengarkan itu perlu sekali diberikan pada anak-anak sejak anak-anak itu mula-mula duduk di bangku sekolah dasar. Kecuali mempunyai nilai formal (melatih fungsi pendengaran dan pemusatan perhatian) latihan-latihan mendengarkan itu besar sekali artinya untuk menambah perbendaharaan bahasa.&lt;br /&gt;Latihan-latihan mendengarkan itu dapat kita namakan sendi atau dasar bagi pengajaran bahasa. Oleh karena itu, latihan-latihan fnendengarkan harus diberikan di tiap-tiap kelas, terutama di kelas-kelas rendah. Latihan mendengarkan itu bukan saja semata-mata dilakukan untuk meneliti kepandaian siswa, tetapi juga selalu untuk membentuk pengertian. lidak semua kata-kata sama artinya, walaupun bunyinya sama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; d. METODE PEMBELAJARAN MEMBACA PRMULAAN&lt;br /&gt; 1.      Metode Eja (Spell Method)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Metode ejaan adalah metode yang paling terdahulu, yang sekarang sudah jarang/tidak terpakai lagi. Metode ini mengajarkan kepada anak-anak huruf-huruf dalam abjad, dengan naman-ya, bukan dengan bunyinya. Huruf-huruf ini dirangkaikan menjadi suku kata, dan dari suku kata menjadi kata. Contoh:&lt;br /&gt;de - a = da; el - i- el = lil; jadi: dalil,&lt;br /&gt;be - o = bo; te - o- el = tol; jadi: botol, dan sebagainya.&lt;br /&gt;(Cara mengajar menurut metode ini, ingatlah pada cara mengajar huruf Arab yang masih berlaku di surau-surau).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2.      Metode Bunyi (Klank Method)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam mengajar menurut metode bunyi, bukannya nama huruf yang diajarkan, melainkan bunyinya. Jalannya sama dengan metode eja. Contoh:&lt;br /&gt;d (ed) - a = da, w (ew) - a-1 (et) = dawat&lt;br /&gt;s (es) - a = sa, b (eb) - i -1 (et) = sabit&lt;br /&gt;Seperti halnya metode eja, metode bunyi pun sekarang sudah jarang/tidak dipergunakan lagi. Yang sering dipakai adalah gabungan dari metode bunyi dan suku kata. Contoh:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3.  Metode Lembaga Kata&lt;br /&gt;Metode lembaga kata dapat dikatakan sebagai peralihan antara metode bunyi dengan metode yang terbaru, yakni: metode global. Proses pelaksanaannya adalah kira-kira sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.  Menyajikan kepada para siswa sebuah kata yang tidak asing lagi bagi mereka. (Biasanya kata-kata itu dituliskan di bawah sebuah gambar).&lt;br /&gt;b.  Menganalisis atau menguraikan kata menjadi suku kata. Suku kata langsung ke bunyi huruf.&lt;br /&gt;c. Mengajarkan huruf dari tiap-tiap bunyi yang telah dipisahkan dari lembaga katanya.&lt;br /&gt;d. Hunif-huruf itu disintesis atau dirangkaikan menjadi suku dan kata.&lt;br /&gt;e. Kata-kata itu dirangkaikan menjadi pola kalimat sederhana.&lt;br /&gt; Jadi siswa mahir benar memainkan kartu huruf a, i, n menjadi beberapa kata seperti:  &lt;br /&gt;i ni      i in&lt;br /&gt;i ni       a an&lt;br /&gt;i ni       i ni&lt;br /&gt;i ni       i na&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;baru dikenalkan kartu lain seperti:&lt;br /&gt; Metode lembaga kata mendekati metodeanalitis - sintetis, karena setelah menguraikan (lihat a dan b) kemudian dihubungkan lagi. Metode ini dikembangkan oleh Dr. S. Pakasi tahun 68/70-an.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4.  Metode Global&lt;br /&gt;Metode global adalah metode yang melihat segala sesuatu merupakan keseluruhan. Penemu metode ini ialah seorang ahli ilmu jiwa dan ahli didik bangsa Belgia yang bernama Decroly. Penernuan metode ini berdasarkan atas hasil-hasil penyelidikan dari ilmu jiwa Gestalt. Adapun cara pelaksanaannya dapat disingkat sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.   Beberapa minggu yang pertama anak-anak diberinya kalimat-kalimat yang merupakan cerita singkat, urnumnya yang mudah-mudah dan berhubungan dengan diri anak-anak, yangsudah dikenal. Kalimat-kalimat itu ditulis dengan huruf-huruf tulis, yang tiap-tiap hari dapat diulanginya. Contoh:&lt;br /&gt;ini ibu ani&lt;br /&gt;ibu ani masak nasi&lt;br /&gt;ani makan nasi&lt;br /&gt;b.      Setelah beberapa lama, anak-anak hafal bunyi kalimat-kalimat itu dan dapat membedakan kata-kata yang sama atau hampir sama. Alangkah baiknya jika tiap-tiap kalimat disertai gambarnya.&lt;br /&gt;c. Setelah dapat membedakan kata-kata dalam kalimat-kalimat yang sudah diberikan (hal ini biasanya dengan tidak disadari), maka berangsur-angsur anak-anak itu akan dapat pula membedakan suku-suku kata (hafal). Kemudian mengerti huruf-huruf dengan bunyi sekaligus.&lt;br /&gt;d. Setelah hafal dan mengerti bunyi-bunyi huruf itu, dapat pula merangkaikannya menjadi kata-kata, dan dari kata-kata menjadi kalimat.&lt;br /&gt;Pelaksanaan dari metode ini sangat membutuhkan kecakapan dan pengalaman yang luas dari guru. (Lebih lanjut lihat Metodik Pengajaran Membaca dan Menulis Permulaan!).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5.  Metode SAS atau Struktur Analisa Sintesa&lt;br /&gt;Metode ini mirip dengan metode global meskipun tidak sama. Dalam metode global dimulai dari suatu unit pikiran atau suatu cerita. Siswa perlu menghafal beberapa kalimat dan dikenalkan banyak huruf sekaligus. Dalam metode SAS hanya membicarakan suatu hal. Misalnya ibu bacaannya berupa kalimat pendek, seperti:  &lt;br /&gt;ini   ibu&lt;br /&gt;ibu  ani&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari dua kalimat ini dipisah yang berupa suku kata:&lt;br /&gt;i-ni     i-bu&lt;br /&gt;i-ni     i-bu&lt;br /&gt;i-n- i  i-b-u&lt;br /&gt;ini    ibu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berikutnya tekanan pengajaran pada suku kata:&lt;br /&gt;ini              ani      bu  -»   b    u&lt;br /&gt;ibu          abu               bu&lt;br /&gt;bani         bibi    b   i   b  a&lt;br /&gt;banu        bina     bi     ba&lt;br /&gt; dst.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;E. PENGAJARAN MEMBACA LANJUT&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1.  Tujuan Pengajaran Membaca Teknik&lt;br /&gt;lujuan pengajaran membaca teknik ialah untuk memperbaiki dan melancarkan teknik membaca pada anak-anak. Artinya: melatih anak-anak dengan tepat dan mudah mengubah tulisan menjadi suara dengan memperhatikan ucapan, tekanan, dan irama. “Teknik membaca yang baik terutama terletak dalam soal menggerakkan pandangan mata”, demikian kata Emil Javal seorang sarjana Francis. Menurut penyelidikannya, gerak-gerak mata orang yang telah pandai membaca dapat dilukiskan sebagai berikut:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;a - b  :  sa.tu baris&lt;br /&gt;a’- b’ :  baris selanjutnya&lt;br /&gt;s : selang mencarnkan&lt;br /&gt;1-2,3 dst. : lompatan-lompatan mata.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lamanya selang mencarnkan memakan waktu 19/20 dari waktu membaca, sedang lompatan-lompatan mata hanya 1/20 dari waktu membaca. Dalam kegiatan ini yang bergerak adalah mata bukan kepala. Gunanya selang mencarnkan untuk menangkap isi dari yang dibaca ita.&lt;br /&gt;Pada saat mencarnkan, mata hanya dapat melihat dengan jelas satu dua huruf yang paling menarik perhatian; namun kita sudah dapat menangkap arti perkataan/kalimat itu. Sebab jiwa kita aktif menambah lengkapnya (proses asimilasi).&lt;br /&gt; 4.  Lamanya selang mencarnkan itu tergantung pada kemampuan jiwa untuk mengadakan proses asimilasi itu. Hal ini tergantung pula pada beberapa faktor:&lt;br /&gt;a. Latihan-latihan. &lt;br /&gt;b. Sifat bahan yang dibaca (mudah/sukar). &lt;br /&gt;c. Besarnya perhatian. &lt;br /&gt;Bagaimana cara anak yang belum mahir membaca? Menurutnya, gerak mata orang yang belum mahir membaca dapat dilukiskan sebagai benkut:&lt;br /&gt; Keterangan:&lt;br /&gt;lb  = lompatanbalik&lt;br /&gt;1   = lompatan mata amat kecil; jadi jumlah selang mencarnkan lebih banyak. Ini berarti makan waktu lebih banyak pula.&lt;br /&gt;2  = Ada lompatan-lompatan balik (lb) ke belakang pada selang mencarnkan (Apa sebabnya?). Ini pun makan waktu pula.&lt;br /&gt;3  = Proses asimilasi dengan sendirinya belum dapat berlangsung sebaik-baiknya (Apa sebabnya?).&lt;br /&gt;Membaca dengan teknik yang baik tidak hanya soal gerakan mata (soal lancar), tetapi meliputi pula tepatnya lagu, tekanan, dan lafalnya. Dengan demikian, tujuan membaca teknik dapat kita simpulkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.  Mengajarkan/melatih membaca dengan lancar dan jelas, dengan jalan:&lt;br /&gt;a.    membuat lompatan-lompatan mata yang besar.&lt;br /&gt;b.    mengurangi lompatan-lompatan balik.&lt;br /&gt;c.    memperhatikan isi bacaan sehingga proses asimilasi berlangsung dengan baik.&lt;br /&gt;2.    Mengajar membaca dengan tepat. (Ini juga dipengaruhi proses asimilasi).&lt;br /&gt;3.      Mengajar membaca dengan lagu yang tepat (seperti orang bercakap-cakap), tanda baca menunjukkan jalannya.&lt;br /&gt;4.    Mengajar membaca dengan ucapan yang tepat (lafal harus jelas).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2.  Bahannya&lt;br /&gt;a. Pilihiah bahan bacaan yang sederhana, baik susunannya maupun isinya. &lt;br /&gt;b. Dapat/boleh mengambil bahan yang telah dipercakapkan dalam pelajaran membaca dalam hati; tetapi sebaiknya hendaklah bahan yang baru (Mengapa?). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3.  Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan&lt;br /&gt;Dalam pelajaran membaca teknik ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian:&lt;br /&gt;a. Kurang melayani sifat individu anak-anak. &lt;br /&gt;b. Kurang memberi ato-aktivitas anak. &lt;br /&gt;c. Lekas menjernukan. &lt;br /&gt;d. Menghambat tempo/kecepatan dan usaha meresapkan isi bacaan itu. &lt;br /&gt;e. Nilai praktisnya kurang. &lt;br /&gt;Di samping itu ada pula keuntungan-keuntungannya, yaitu:&lt;br /&gt;a. Berguna untuk menikmati keindahan bahasa dan isi bacaan. &lt;br /&gt;b. Melatih lafal/ejaan, tekanan-tekanan, dan lagu bacaan. &lt;br /&gt;c. Memudahkan guru untuk mengontrolnya. &lt;br /&gt;Oleh karena itu, membaca teknik harus didahului oleh membaca dalam hati.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4.  Jalannya Pelajaran Membaca Teknik&lt;br /&gt;a. Melatih ucapan (lafal), tekanan suara dan lagu kalimat, yang telah dipilih guru dari bacaan itu. Misalnya di kelas I, siswa dibiasakan membaca dengan lafal dan intonasi: ini kaki kiki. &lt;br /&gt;b. Beberapa kata-kata yang sukar dibicarakan dalam kalimat, dibaca di papan tulis dengan teknik yang baik (no. I dan 2 ± 5 menit). &lt;br /&gt;c. Kitab bacaan dibuka, kemudian dibaca dalam hati ± 5 menit. &lt;br /&gt;d. Pertanyaan-pertanyaan tentang isi bacaan ± 2 menit. &lt;br /&gt;e. Kalau ada gambar dalam bacaan itu dibicarakan sebentar, agar perhatian siswa tidak berpindah-pindah kepada gambar itu ketika mendapat giliran membaca. &lt;br /&gt;f. Guru memberi contoh membaca dengan lagu/teknik yang baik. &lt;br /&gt;g. Giliran membaca untuk para siswa. Urnumnya pendek-pendek saja supaya banyak siswa yang mendapat giliran. Di kelas tinggi boleh agak panjang (± 10 sampai 15 menit). Pada saat ini guru menjaga ketertiban kelas. &lt;br /&gt;h. Sebagai selingan, dapat membicarakan gambar atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam membaca teknik ini mengutamakan penggunaan tanda baca dengan intonasi yang tepat. Indikator pencapaian tujuan adalah jika pendengar mengerti apa yang dibaca oleh pembaca.&lt;br /&gt;k. Peringatan:&lt;br /&gt;(1)   Di kelas-kelas tinggi lebih baik jika yang disuruh membaca itu ialah anak-anak yang telah diberi tugas untuk menyiapkan din.&lt;br /&gt;(2)   Giliran membaca sebaiknya jangan diberikan menurut urutan duduk/bangku anak-anak. (Mengapa?).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;F.  PENGAJARAN MEMBACA DALAM HATI&lt;br /&gt;1.  Tujuannya&lt;br /&gt;a. Melatih siswa menangkap arti bacaan itu dalam waktu yang singkat. &lt;br /&gt;b. Melatih siswa belajar sendiri, untuk memperoleh pengetahuan (nilai praktis). &lt;br /&gt;c. Melatih kesanggupan memusatkan perhatian dan pikiran kepada suatu soal (nilai formal), melatih anak untuk dapat mengambil kesimpulan dari apa yang dibacanya. &lt;br /&gt;2.  Bahannya&lt;br /&gt;Selain dari buku bacaan, boleh pula diambil dari buku-buku bacaan pelajaran, seperti: llmu Bumi, Sejarah, dan flmu Hayat. Bahkan dapat juga diambilkan dari majalah-majalah, surat-surat kabar, dan lain-lain. Jadi isinya tidak hanya cerita saja, tetapi juga yang mengandung pengetahuan.&lt;br /&gt;Bahan bacaan hendaklah yang mengandung kemungkinan untuk berpikir dan uraiannya pendek, serta bersifat zakelijk. Isi bacaan sesuai jiwa anak, supaya dapat menimbulkan dorongan ingin tahu secara spontan, dan tidak banyak mengandung kata-kata sulit bagi anak-anak. Misalnya bahan bacaan dapat diambil dari buku Lancar Berbahasa Indonesia 3, halaman 169, tentang upakarti. Upakarti = penghargaan pemerintah Indonesia yang diberikan kepada perajin -&gt; perajin = orang-orang yang membuat benda-benda jenis kerajinan tangan seperti keranjang rotan, sepatu, dan lain-lain. Guru menjelaskan semua kata-kata yang baru dikenal siswa.&lt;br /&gt;3.  Jalan Pelajaran Membaca Dalam Hati&lt;br /&gt;a. Menerangkan kata-kata/kalimat yang sukar dalam bacaan (± 3 menit), misalnya upakarti. &lt;br /&gt;b. Anak-anak membaca dalam hati ± 10 menit. Cara membaca yang benar yaitu tidak menggeleng-gelertgkan kepala. &lt;br /&gt;c. Buku ditutup, guru memberi pertclnyaan-pertanyaan ingatan, anak-anak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu (± 5 menit). Misalnya: apa yang dimaksud derigan upakarti? Siapa yang berhak menerima upakarti? (Lihat halaman 169-170). &lt;br /&gt;d. Kertas dibagikan kepada anak-anak. Buku bacaan boleh dibuka. Papan tulis yang telah berisi pertanyaan-pertanyaan pikiran dibalik, anak-anak harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara tertulis. &lt;br /&gt;e. Kertas/hasil pekerjaan anak dikumpulkan, untuk d.iperiksa guru di rumah. &lt;br /&gt;f. Bila masih ada waktu, pertanyaan-pertanyaan pikiran dibicarakan bersama-sama dalam kelas. &lt;br /&gt;Petunjuk-petunjuk Praktis&lt;br /&gt;a. Kedua macam pertanyaan (ingatan dan pikiran) hendaklah telah disiapkan guru di rumah dan telah dipikirkan masak-masak. &lt;br /&gt;b. Jumlah pertanyaan-pertanyaan ± 10 pertanyaan ingatan dan ± 10 pertanyaan pikiran. &lt;br /&gt;c. Pelajaran ini dimulai di kelas IV. Di kelas III pengajaran membaca dalam hati dapat juga diberikan, dengan mengingat: pertanyaan ingatan lebih banyak daripada pertanyaan pikiran. Sedangkan di kelas-kelas tinggi sebaliknya. &lt;br /&gt;d. Jawaban anak-anak tidak perlu merupakan kalimat-kalimat yang lengkap. Yang penting ialah anak-anak mengerti apa yang dibacanya. &lt;br /&gt;e. Dari semua macam membaca, membaca dalam hati adalah yang terpenting. Oleh karena itu, usahakan agar anak-anak sesudah tamat SD dapat menguasai kecakapan membaca dalam hati itu sebaik-baiknya. (Mengapa demikian?). &lt;br /&gt;f. Contoh SP Membaca Dalam Hati. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;G. PENGAJARAN MEMBACA SEBAGAI BAHASA&lt;br /&gt;1.  Tujuannya&lt;br /&gt;a. Menambah perbendaharaan bahasa pada anak-anak. &lt;br /&gt;b. Melatih penguasaan bahasanya. &lt;br /&gt;c. Mengajarkan sekedarnya tentang tata bahasa. &lt;br /&gt;2.  Bahannya&lt;br /&gt;a. Diambilkan dari bacaan yang tidak terlalu panjang, dan yang baik serta lancar bahasanya. Lihat Lancar Berbahasa Indonesia 3, halaman 110-112. &lt;br /&gt;b. Bacaan itu cukup mernuat bahan-bahan untuk menambah perbendaharaan bahasa anak-anak. &lt;br /&gt;c. Janganlah mencari bahan yang banyak mernuat bahasa/kata-kata asing, peribahasa-peribahasa, atau mernuat banyak bentuk-bentuk yang tidak banyak dipergunakan di dalam bahasa sehari-hari. &lt;br /&gt;3.  Jalannya Pelajaran Membaca Bahasa&lt;br /&gt;a. Bacaan dibaca dalam hati ± 5 menit. (Mengapa?). &lt;br /&gt;b. Buku ditutup, pertanyaan kontrol diajukan kepada anak-anak (± 3 menit). &lt;br /&gt;c. Guru atau seorang siswa membaca sebagian dari bacaan, misalnya sepertiga atau setengah halaman. &lt;br /&gt;d. Guru menerangkan kata-kata yang sukar, seperti: sinonim, pepatah, kalimat-kalimat, peribahasa, dan sebagainya. Pembicaraan berlangsung bersama para siswa. &lt;br /&gt;e. Setelah pembicaraan itu, seorang siswa membaca lagi sebagian, dan diterangkan/diadakan pembicaraan lagi. Demikian seterusnya dengan mengingat waktu. &lt;br /&gt;f. Kira-kira 10 menit/5 menit terakhir disediakan waktu bagi para siswa untuk mencatat pelajaran (hasil pembicaraan) di papan tulis. &lt;br /&gt;g. Contoh SP Membaca Sebagai Bahasa (kelas V). &lt;br /&gt;Membaca sebagai bahasa mi merupakan membaca percakapan atau membaca sebagai alat komunikasi. Indikator keberhasilan siswa dilihat dari cara membaca kalimat percakapan.&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Dalam pelajaran mi para siswa harus mempunyai “buku catatan membaca”. Ini diperlukan untuk mencatat hasil-hasil pelajaran itu, seperti: ungkapan-ungkapan yang bagus, sinonim-sinonim, perubahan-perubahan bentuk kalimat, dan sebagainya. Tiap-tiap ungkapan baru harus disertai pemakaiannya dalam bentuk kalimat.&lt;br /&gt;4.  Petunjuk-petunjuk Praktis&lt;br /&gt;a. Persiapan guru harus dilakukan di rumah dengan teratur dan teliti. &lt;br /&gt;b. Dalam buku persiapan hendaklah diterangkan/dinyatakan bagaimana cara menerangkan kata-kata dan ungkapan-ungkapan itu; misalnya dengan dramatisasi, lukisan-lukisan/gambar, cerita pendek, sinonim, dibuat kalimat, dengan alat peraga, dan sebagainya. &lt;br /&gt;c. Dalam menerangkan hendaklah para siswa turut aktif, jangan hanya guru saja yang bercakap-cakap. &lt;br /&gt;d. Sambil menerangkan/mempercakapkan isi bacaan itu, guru harus berusaha supaya catatan-catatan guru di papan tulis jelas dan tersusun secara sistematis, agar dapat dicatat oleh anak dengan baik. &lt;br /&gt;Ada baiknya pula jika dalam buku catatan anak-anak sebelum menyalin, harus menulis: pelajaran apa, halaman berapa, dan nomor atau hal apa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;H. PENGAJARAN MEMBACA EMOSIONAL&lt;br /&gt;1.  Tujuannya&lt;br /&gt;a. Mengajar anak-anak menikmati sendiri bermacam-macam keindahan bentuk isi dan bahasa bacaan. &lt;br /&gt;b. Kalau tujuan tersebut di atas ( a ) telah tercapai, maka hal ini akan besar pengaruhnya kepada pilihan mereka dalam mencari bacaan kelak. Mereka akan sering mengambil buku atau majalah pada waktu-waktu terluang. Hal ini pun akan sangat berguna untuk mereka sendiri dan masyarakat pada umumnya. &lt;br /&gt;2.  Bahannya&lt;br /&gt;Bagi anak, yang paling menarik perhatian ialah isi bacaan; sedangkan keindahan bentuk bahasa (bunyi dan irama), anak belum dapat menikmatinya. Oleh karena itu, bahan pelajaran membaca emosional hendaklah:&lt;br /&gt;a. Isinya indah atau bagus dan mudah dipahami anak-anak, serta dapat menggerakkan dalam perasaan mereka. &lt;br /&gt;b. Susunannya sederhana, yaitu menggunakan bahasa percakapan sehari-hari. Misalnya: lelucon, bagian-bagian cerita yang mengasyikkan, sajak-sajak sederhana, dan lain-lain. Lihat buku Lancar Berbahasa Indonesia jilid 3, halaman 124. Siswa menghayati “Menyesal”. &lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Latihan dramatisasi dan latihan visi merupakan alat yang penting untuk menghidupkan pelajaran. Keindahan isi bacaan lebih cepat dapat dinikmati kalau disertai latihan visi dan dramatisasi.&lt;br /&gt;Latihan visi dilakukan bila kita hendak melukiskan pengertian kata-kata, kalimat-kalimat dalam bentuk isyarat atau mirnik, perbuatan-perbuatan atau panto-mirnik. Juga dengan jalan menceritakan kembali bacaan itu dengan kalimat-kalimat/kata-kata sendiri.&lt;br /&gt;Disebut latihan dramatisasi bila dan bacaan itu anak-anak melakukan suatu sandiwara pendek. Pada latihan ini dapat ikut beberapa orang anak, sedangkan pada latihan visi hanya seorang anak saja. (Apakah faedah lain dari latihan visi dan dramatisasi itu?).&lt;br /&gt;3.  Jalan Pelajaran Membaca Emosional&lt;br /&gt;a. Guru bertanya kepada siswa apakah anak pemah merasa menyesal? Jika pemah apa sebabnya? Selanjutnya guru mulai membacakan pelajaran itu sebaiknya-baiknya, disertai dengan mirnik dan panto-mimik. &lt;br /&gt;b. Kata-kata yang sukar dan ungkapan-ungkapan diterangkan oleh guru. &lt;br /&gt;c. Guru menyusun latihan-latihan visi bersama dengan anak-anak, yang kemudian dibicarakan lalu dikerjakan. Bagian-bagian yang baik untuk dramatisasi juga perlu dilatihkan dan dipelajari oleh anak-anak. &lt;br /&gt;d. Seorang anak atau lebih membacakan pelajaran itu sekali lagi dengan baik. Anak-anak yang lain menutup bukunya untuk menikmatinya (mendengarkan). &lt;br /&gt;e. Contoh SP Pembelajaran Membaca Emosional. &lt;br /&gt;4.  Peringatan&lt;br /&gt;Pelajaran membaca emosional cukup diberikan 2 (dua) minggusekali. Pelajaran ini paling awal diberikan di kelas III. Tetapi tiap-tiap minggu sebaiknya diadakan satu jam pelajaran membaca bebas, yang bahannya dipilih mereka sendiri untuk dinikmatinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;l.   BERCAKAP-CAKAP&lt;br /&gt;Seperti telah diuraikan di muka, bercakap-cakap ialah termasuk kepada penguasaan bahasa aktif. Yang dimaksud dengan bercakap-cakap ialah melahirkan pikiran dan perasaan yang teratur, dengan memakai bahasa lisan.&lt;br /&gt;1.  Bercakap-cakap dan Bercerita&lt;br /&gt;Banyak calon dan guru-guru yang kurang memahami perbedaan antara kedua istilah tersebut dalam pengajaran bahasa. Olah karena itu, kerapkali mereka kurang dapatberhasil melaksanakannya. Sesungguhnya kedua pengertian itu memang berbeda, dan digunakan untuk pengajaran yang berbeda maksud serta pelaksanaannya. Bercakap-cakap termasuk ke dalam kelompok pengajaran bahasa. Di dalam pengajaran bercakap-cakap para siswa yang aktif melakukannya, dan memang tujuannya ialah melatih anak-anak supaya dapat melahirkan perasaan dan pikirannya dengan teratur, secara lisan. Sedangkan guru dalam hal ini hanyalah memimpin dan memberi petunjuk-petunjuk seperlunya. Bercerita kecuali merupakan mata pelajaran, juga merupakan bentuk mengajar yang dapat digunakan terhadap berbagai mata pelajaran. Di SD kerap kali bercerita itu dihubungkan dengan mata pelajaran budi pekerti. Pengajaran budi pekerti di SD urnumnya dilaksanakan/merupakan pengajaran bercerita. Dalam pengajaran bercerita guru yang aktif bercerita, para siswa mendengarkan. Tujuan pengajaran bercerita tergantung kepada isi dan cara melaksanakan/menyajikan bahannya.&lt;br /&gt;2.  Macam Bercakap-cakap&lt;br /&gt;Bercakap-cakap dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu bercakap-cakap spontan dan bercakap-cakap terpimpin.&lt;br /&gt;a. Bercakap-cakap spontan&lt;br /&gt;Bercakap-cakap spontan urnumnya dilakukan di kelas I SD dan biasanya dalam bahasa daerah. Untuk daerah yang tidak menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu, pokok percakapan harus timbul dari penghayatan para siswa sendiri. Misalnya pada suatu hari di kelas I ada seorang siswa membawa seekor burung yang baru ditangkapnya, dan ditunjukkannya kepada bapak/ibu guru. Hal itu dapat dijadikan sebagai bahan percakapan spontan di kelas itu. (Biarpun waktu itu sebenarnya bukan jam pelajaran bercakap-cakap. Mengapa?). Hal ini sangat sesuai dengan kondisi belajar yang diharapkan, yaitu bercakap-cakap spontan. Kalimat yang diucapkan siswa orisinal dan spontan.&lt;br /&gt;Anak itu disuruh menceritakan di muka kelas kepada teman-temannya tentang burung yang ditangkapnya. Sesudah itu, anak-anak lain mendapat giliran menceritakan sesuatu yang pernah dialaminya. Peningkatan kemampuan bercerita diamati dan dievaluasi oleh guru. Mungkin anak kelas I hanya dapat bercerita dalam dua kalimat. Misalnya: Burung si Ali. Bulu burung berwarna.&lt;br /&gt;1) Tujuannya&lt;br /&gt;Adapun tujuan pengajaran bercakap-cakap antara lain:&lt;br /&gt;a. Melatih siswa melahirkan isi hatinya (pikiran, perasaan, dan kemauannya) secara lisan dengan bahasa yang teratur dan kalimat yang baik. &lt;br /&gt;b. Memperbesar dorongan batin akan melahirkan isi hatinya. &lt;br /&gt;c. Memupuk keberanian bercakap-cakap pada anak-anak. &lt;br /&gt;d. Menambah perbendaharaan bahasa anak. &lt;br /&gt;e. Dari sudut psikologi humanismenya adalah memberikan kesempatan pada anak untuk menyatakan dirinya. &lt;br /&gt;(2) Bahannya&lt;br /&gt;Bahan bercakap-cakap antara lain:&lt;br /&gt;a. Pokok-pokok percakapan sebaiknya yang berasal dari dunia sekitar anak-anak. Dapat juga dipilih dari dunia orang dewasa yang telah dilihat anak, atau yang telah diketahuinya. Seperti untuk anak-anak di desa membicarakan tentang: pasar, sawah, penggilingan padi, sungai, perhelatan (pemikahan, sunatan, dan sebagainya). Sedang untuk anak-anak di kota: lalu-lintas, stasiun, kantor pos, pabrik-pabrik, perayaan hari-hari besar, dan lain-lain. &lt;br /&gt;b. Pokok percakapan harus bersifat individual. Umpama tentang “Ayamku”, bukan “Ayam”. &lt;br /&gt;c. Usahakan supaya ada unsur emosi dalam jiwa anak yang bercakap-cakap. Di dalam jiwa anak ada “sesuatu” yang mendorong untuk berkata-kata. Oleh karena itu, carilah bahan-bahan yang aktual, pergunakan tiap-tiap kejadian yang istimewa: di sekolah, di rumah, di kota, dan sebagainya, untuk menyatakan emosi dan memupuk dorongan akan melahirkan isi hati mereka. Seperti: Kakakku Menikah, Pasar Malam, Hari Kelahiran/Ulang Tahun, Pesta Sekolah, dan lain-lain. &lt;br /&gt;d. Di kelas-kelas rendah pembicaraan itu adalah suatu peristiwa yang dialaminya sendiri oleh anak-anak (lihat contoh di atas!). &lt;br /&gt;Di kelas-kelas tinggi boleh juga diambil pokok dari pelajaran lain (seperti: ilmu Bumi, Sejarah, ilmu Hayat) yang telah dipercakapkan. Tetapi dalam pelajaran ini jagalah supaya tujuannya tetap pelajaran bercakap-cakap dan bukan pelajaran flmu Bumi atau flmu hayat, dan sebagainya. Biasakan siswa menuliskan inti sari dari percakapan mereka. Contoh SP Bercakap-cakap Spontan. (Kelas D cawu 1).&lt;br /&gt;Bercakap-cakap spontan ini harus dibiasakan dan kelas 1. Penilaiannya melalui pengamatan. Untuk dinilai secara menyeluruh, kegiatan ini digabung dengan kegiatan menulis. Oleh karena itu, contoh SP ini dimulai di kelas H.&lt;br /&gt;b.  Bercakap-cakap terpimpin&lt;br /&gt;(1) Tujuannya&lt;br /&gt;Tujuan dari pelajaran ini adalah untuk membuat siswa berani menyatakan pendapatnya, menghilangkan rasa malu dan rasa ragu-ragu. Oleh karena itu, harus diusahakan supaya anak mengikuti dengan tertib.&lt;br /&gt;(2) Cara menyampaikan pelajaran&lt;br /&gt;Pelajaran ini dapat diberikan dengan cara:&lt;br /&gt;a. Setelah guru menceritakan sebuah cerita yang smgkat, menurut urutan-urutan yang tertentu, anak-anak menceritakan kembali cerita itu dengan teratur pula. &lt;br /&gt;b. Menceritakan deretan gambai-gambar (gambar seri) dari buku atau yang dibuat guru di papan tulis. &lt;br /&gt;c. Menceritakan kembali sebuah bacaan yang sudah dibaca. Dalam hal ini perhatikan baik tidaknya isi bacaan itu diceritakan mereka. &lt;br /&gt;d. Di kelas-kelas tinggi para siswa mengucapkan beberapa kalimat yang telah disusun guru di papan tulis sebagai kalimat percakapan. &lt;br /&gt;e. Membicarakan hal-hal yang menarik atau berita aktual saat itu dengan cara berpasangan. &lt;br /&gt;(3) Jalan pengajarannya&lt;br /&gt;Pelajaran ini banyak menggunakan aspek mendengarkan. Oleh karena itu, pada bercakap-cakap terpimpin contoh yang dilakukanxileh guru harus jelas dan mendorong siswa untuk berperan dalam percakapan.&lt;br /&gt;a. Menceritakan kembali suatu cerita singkat yang telah dibaca atau didengarnya. &lt;br /&gt;b. Semua siswa membaca paragraf I. Guru bertanya kepada siswa apa isi paragraf 1. Apa komentar siswa, dan sebagainya. &lt;br /&gt;c. Apa yang diucapkan siswa dituliskan di papan tulis. Mungkin berbeda. Beri kesempatan pada siswa untuk menyatakan pendapatnya. &lt;br /&gt;d. Kesimpulan yang disepakati bersama dituliskan di papan tulis. &lt;br /&gt;e. Baca seperti bahasa percakapan. &lt;br /&gt;f. Lanjutkan paragraf berikutnya, sampai selesai, sehingga merupakan ringkasan cerita yang diceritakan oleh anak. &lt;br /&gt;g. Berilah kesempatan kepada siswa untuk menyusun kembali atau memperbaiki cerita singkatnya. &lt;br /&gt;h. Siswa menceritakan kembali dengan bahasa percakapan. &lt;br /&gt;3.  Latihan-latihan Memperkaya Perbendaharaan Bahasa&lt;br /&gt;Keberanian dan kemahiran siswa bercakap-cakap dipengaruhi oleh perbendaharaan bahasanya. Oleh karena itu, latihan memperkaya perbendaharaan bahasa sangat penting. Latihan-latihan untuk memperkaya perbendaharaan bahasa itu dapat kita lakukan dengan jalan sebagai berikut:&lt;br /&gt;(1)   Yang amat penting ialah pengajaran lmgkungan (Zuakonjerwifs), yang biasanya dilakukan di kelas I, II, dan III. Seperti: mengunjungi pasar, rumah yang sedang dibangun, menual padi, waduk untuk pengairan sawah-sawah, kantor pos, stasiun kereta api, dan lain-lain.&lt;br /&gt;(2)   Mengajarkan nama-nama. Seperti: bermacam-macam bunyi, warna, gerakan badan, pakaian; gejala-gejala hari seperti panas, mendung/berawan, hujan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;(3)   Permainan perbendaharaan bahasa. Seperti: perlombaan menulis nama-nama barang di dapur, nama buah-buahan, barang-barang di toko, mencari oleh-oleh yang dapat dibeli di suatu toko tetapi huruf awal dari benda itu harus sama. Contoh: lbu berbelanja di toko Makmur. Yang dibeli mulai dengan huruf m yaitu: minyak goreng, mi, mihun, molen, dan seterusnya.&lt;br /&gt;(4)   Menghapalkan sajak-sajak. Di kelas-kelas rendah: dapat diberikan sajak-sajak yang memuat banyak hal yang dilakukan oleh anak-anak, atau yang dapat dipertunjukkan sebagai percakapan. Misalnya menghapalkan syair lagu “Bertepuk Tangan” -» Berlipat-lipat tangan, bertepuk sernuanya. Bertepuk berpasangan. Alangkah senangnya berteman. Di kelas-kelas tinggi: di samping hapal sajak-sajak itu, kita perhatikan pula keindahan bentuk bahasanya. Bahan dapat diambil dari syair lagu yang telah dinyanyikan anak. Misalnya “Burung Kutilang”. Memilih sajak-sajak itu harus dengan seksama sekali. Misalnya sajak “Aku” belum tepat untuk usia SD. Pilihiah sajak yang sesuai dengan perkembangan jiwa anak. Misalnya sajak “Kapal Udara” karya Maria Amin (Kesusasteraan Indonesia Masa Jepang. Editor H.B. Yasin, Balai Pustaka, 1928) sesuai watak siswa kelas V atau kelas VI.&lt;br /&gt;(5)   Memberikan latihan-latihan yang disenangi, seperti:&lt;br /&gt;a.       Mempergunakan kata-kata dalam kalimat-kalimat. Misalnya di kelas I dan ll baru mengucapkan kalimat: “Saya makan…. “(Lanjutannya diucapkan siswa sesuai apa yang diinginkan siswa).’ Di kelas III siswa melakukan percakapan bersambung. Siswa A berkata: “Saya sedang makan. Makan apa sekarang?” Si B meneruskan dengan: “Makan buah. Buah apa?” Dilanjutkan siswa berikutnya sampai semua mendapat giliran.&lt;br /&gt;b.      Membuat beberapa kalimat dan sebuah kata yang berbeda artinya. Lihat Lancar Berbahasa Indonesia 3, halaman 31. Dan kata bakar dapat disusun 5 kalimat yang berbeda artinya.&lt;br /&gt;c.       Mengisi kalimat-kalimat yang belum lengkap. Misalnya: Berjalanlah di sebelah kin supaya …&lt;br /&gt;d.      Mengatakan kalimat dengan cara lain. Misalnya: Saya perlu minum -&gt; Saya haus.&lt;br /&gt;e.       Dan sebagainya.&lt;br /&gt;Kalau kita simpulkan, maka cara-cara untuk menambah perbendaharaan bahasa ada 2 macam: a. Secara langsung, yaitu pada pelajaran:&lt;br /&gt;1.      Membaca Bahasa, di mana anak-anak mencatat di dalam buku catatannya pengertian-pengertian bani, sinonim atau padanan kata, lawan kata-kata, pemakaian kata dalam kalimat, dan sebagainya. Hal ini telah mulai sejak kelas 1. Contoh: Guni membuat kantong kartu seperti … dan seterusnya. Siswa menuliskan kata yang diketahuinya di kartu yang diberikanguru    lapil  labul  pbatui  dst. Siswa memasukkan dalam kantong yang sesuai. Siswa telah mempunyai buku kamus sederhana. Siswa menuliskan setiap kata-kata yang baru diketahuinya ke dalam buku itu. Kegiatan ini berlanjut dan kelas I sampai dengan kelas VI.&lt;br /&gt;2.      Tata Bahasa, di mana beberapa pelajaran tiap-tiap kata diberikan imbuhan untuk memberi idiom baru (lihat Lancar Berbahasa Indonesia 3, halaman 55). Dan kata-kata kecil dapat dikembangkan menjadi: kekedlan, terkedl, mengecilkan, dikecilkan, memperkecil, kecilkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;b. Secara tidak langsung, yaitu melalui pelajaran:&lt;br /&gt;1.      MembacaTeknik dan Membaca Dalam Hati.&lt;br /&gt;Pada saat membaca teknik, siswa menambah pengetahuan bahasa dan sudut perbedaan intonasi dapat mengubah arti kata.&lt;br /&gt;2.      Bercakap-cakap.&lt;br /&gt;Melalui percakapan siswa memahami gaya bicara.&lt;br /&gt;3.      Membaca bebas dirumah.&lt;br /&gt;4.      Pengajaran Lingkungan atau Pengajaran Alam Sekitar di kelas I, D, dan III. Pengajaran Proyek, Pengajaran Berprograma, di kelas IV, V, dan VI.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-2972057847050989605?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/2972057847050989605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=2972057847050989605' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/2972057847050989605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/2972057847050989605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2009/10/aspek-pengajaran-bahasa-indonesia.html' title='ASPEK PENGAJARAN BAHASA INDONESIA'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-4377392524259299791</id><published>2009-09-08T22:39:00.000-07:00</published><updated>2010-11-30T07:41:09.366-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Umum'/><title type='text'>Siaga Bencana Sekolah</title><content type='html'>Anak-anak merupakan salah satu kelompok rentan yang paling berisiko terkena dampak bencana. Kerentanan anak-anak terhadap bencana dipicu oleh faktor keterbatasan pemahaman tentang risiko-risiko di sekeliling mereka, yang berakibat tidak adanya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Salah satu upaya yang telah PMI lakukan untuk mengarusutamakan kesiapsiagaan bencana dan pengurangan risiko dalam pendidikan sekolah adalah melalui mobilisasi jaringan Palang Merah Remaja (PMR) dan relawan yang tersebar di 33 provinsi. Mulai 2006 PMI telah menjalankan program Sekolah Siaga Bencana. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Program ini adalah upaya PMI untuk mempromosikan konsep kesiapsiagaan bencana dan pengurangan risiko bagi anak dan remaja sekolah melalui pengembangan program pemanfaatkan pendidikan ekstrakurikuler yang diterima oleh PMR serta menggunakan pendekatan kelompok remaja sebaya. PMR, sebagai anggota remaja PMI mempunyai peran dan peluang memengaruhi kelompok sebayanya, baik di sekolah maupun luar sekolah, untuk meningkatkan ketrampilan hidup sehingga dapat mengurangi masalah kesehatan serta dampak yang ditimbulkan akibat bencana. Anak dan remaja bersama-sama bertukar informasi, mengidentifikasi masalah, merancang dan membuat kesepakatan solusi melalui kegiatan dan perilaku pengurangan risiko. Perilaku positif yang diawali sejak dini akan berdampak pada peningkatan kualitas hidup mereka di masa mendatang dan memberikan pengaruh kepada perilaku positif orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencapaian Program Sekolah Siaga Bencana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.       Konsep, strategi, dan pendekatan Sekolah Siaga Bencana telah diperkenalkan dan diintegrasikan dalam Program Pengurangan Risiko Terpadu Berbasis Masyarakat (PERTAMA) di 13 provinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.       Peran PMR sebagai peer leader (model), peer support (dukungan) dan peer educator (pendidik sebaya) untuk pengurangan risiko, serta memfasilitasi kegiatan-kegiatan pengurangan risiko pada anak dan remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Anak dan remaja telah dilibatkan dalam proses pengkajian, pengambilan keputusan, perencanaan, pelaksanaan kegiatan pengurangan risiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.       Mendukung sosialisasi strategi pendidikan remaja sebaya dalam kesiapsiagaan bencana dan pengurangan risiko, PMI telah memproduksi manual Ayo Siaga Bencana bagi PMR, panduan fasilitator Ayo Siaga Bencana serta media KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.       Di tingkat nasional, PMI telah memainkan peranan penting dalam Dewan Pengarah KPB serta aktif melakukan advokasi. Di tingkat kabupaten, PMI juga aktif melakukan advokasi dalam mengintegrasikan kesiapsiagaan bencana dan pengurangan risiko ini ke dalam kurikulum sekolah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-4377392524259299791?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/4377392524259299791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=4377392524259299791' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/4377392524259299791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/4377392524259299791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2009/09/siaga-bencana-sekolah.html' title='Siaga Bencana Sekolah'/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-2970052498868431185</id><published>2009-08-30T22:53:00.001-07:00</published><updated>2009-08-30T23:03:17.350-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SD Bertaraf Internasional'/><title type='text'></title><content type='html'>TUGAS DAN FUNGSI LEMBAGA TERKAIT&lt;br /&gt;DALAM PENYELENGGARAAN RINTISAN SD-BI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah Dasar Bertaraf intemasional (SD-BI) merupakan bentuk sekolah yang memerlukan daya dukung semua pihak, dalam hal perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan monitoring. Bentuk-bentuk dukungan tersebut antara lain adalah berupa pembinaan melalui pemberian bantuan tenaga, fasilitas, dana, dan manajemen. Beberapa lembaga terkait langsung yang memiliki tugas dan fungsi terhadap kelangsungan Rintisan SD-BI adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Komite Sekolah&lt;br /&gt;Tugas dan fungsi Komite Sekolah pada dasamya adalah sama dengan yang digariskan pada Kepmendiknas Nomor 44 tahun 2002, dan secara khusus dalam penyelenggaraan Rintisan SD-BI ini adalah:&lt;br /&gt;1. Memberikan arahan, bimbingan, dan petunjuk kepada sekolah dalam berbagai aspek demi keberhasilan Rintisan SD-BI bagi sekolahnya;&lt;br /&gt;2. Memberikan bantuan baik bersifat finansial maupun lainnya;&lt;br /&gt;3. Merupakan penghubung antara masyarakat orang tau anak dengan sekolah dalam hal berbagai kepentingan untuk kemajuan siswa;&lt;br /&gt;4. Membantu dalam hal monitoring terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan hasil-hasil penyelenggaraan Rintisan SD-BI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Dinas Pendidikan Kab /Kota&lt;br /&gt;Tugas dan fungsi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dalam penyelenggaraan Rintisan SD-BI di daerahnya adalah:&lt;br /&gt;1. Memberikan pembinaan dalam hal perencanaan penyelenggaraan RINTISAN SDBI, khsususnya dalam hal pemenuhan aspek-aspek yang termasuk dalam input sekolah;&lt;br /&gt;2. Membenkan pembinaan dalam pelaksanaan Rintisan SD-BI, khususnya dalam hal proses pembelajaran dan manajemen sekolah;&lt;br /&gt;3. Melakukan supervisi, monitoring, dan evaluasi terhadap pelaksanaan dan hasil Rintisan SD-BI;&lt;br /&gt;4 Memberikan bantuan dana setiap tahun secara rutin yang dianggarkan melalui APBD daerah kepada SD-BI di daerah masing-masing;&lt;br /&gt;5. Melaksanakan pembinanaan terhadap sekolah SD-SN yang telah memasuki tahun ketiga untuk dipersiapkan menjadi Rintisan SD-BI di daerah masing-masing;&lt;br /&gt;6. Memfasilitasi terwujudnya jalinan kerjasama antara SD-BI dengan sekolah lain baik di dalam maupun di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Dinas Pendidikan Propinsi&lt;br /&gt;Tugas dan fungsi Dinas Pendidikan Propinsi dalam penyelenggaraan Rintisan SD-BI di daerahnya adalah:&lt;br /&gt;1. Memberikan pembinaan dalam hal perencanaan penyelenggaraan Rintisan SD-BI, khususnya dalam hal pemenuhan aspek-aspek yang termasuk dalam input sekolah yang ada di setiap kabupaten/kota;&lt;br /&gt;2. Melakukan supervisi, monitoring, dan evaluasi terhadap pelaksanaan dan hasil-hasil Rintisan SD-BI pada masing-masing daerah Kabupaten/Kota;&lt;br /&gt;3. Memberikan bantuan dana setiap tahun secara rutin yang dianggarkan melalui APBD daerah kepada semua sekolah pelaksana Rintisan SD-BI di setiap Kabupaten/Kota;&lt;br /&gt;4. Melaksanakan pembinaan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota terhadap sekolah SD-SN yang telah memasuki tahun ketiga untuk dipersiapkan menjadi Rintisan SD-BI;&lt;br /&gt;5. Bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota memfasilitasi terwujudnya jalinan kerjasama Rintisan SD-BI dengan sekolah lain baik di dalam maupun di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Direktorat Pembinaan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar ( TK/SD )&lt;br /&gt;Tugas dan fungsi Direktorat Pembinaan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar (TK/SD) dalam penyelenggaraan Rintisan SD-BI adalah:&lt;br /&gt;1 Memberikan pembinaan dalam hal perencanaan penyelenggaraan Rintisan SD-BI khususnya dalam hal pemenuhan aspek-aspek yang termasuk dalam input sekolah bagi sekolah yang ditetapkan sebagai Rintisan SD-BI;&lt;br /&gt;2. Melakukan supervisi, monitoring, dan evaluasi terhadap peiaksanaan dan hasil-hasil Rintisan SD-BI pada sekolah-sekolah yang ditetapkan sebagai Rintisan SD-BI pada setiap tahunnya sebagai dasar pembinaan;&lt;br /&gt;3. Memberikan bantuan dana dan fasilitas pembelajaran setiap tahunnya kepada semua sekolah sebagai Rintisan SD-BI dalam jangka waktu tertentu;&lt;br /&gt;4 Melaksanakan pembinanaan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Propinsi dan Kabupaten/Kota terhadap SD-SN yang dipersiapkan menjadi Rintisan SD-BI;&lt;br /&gt;5. Bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Propinsi dan Kabupaten/Kota memfasilitasi terwujudnya jalinan kerjasama antara SD-BI dengan sekolah lain baik di dalam maupun di luar negeri;&lt;br /&gt;6. Memberikan motivasi kepada berbagai fihak untuk berperan aktif dalam penyelenggaraan Rintisan SD-BI di setiap daerah melalui berbagai strategi seperti sosialisasi, media cetak dan elektronik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-2970052498868431185?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/2970052498868431185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=2970052498868431185' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/2970052498868431185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/2970052498868431185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2009/08/tugas-dan-fungsi-lembaga-terkait-dalam.html' title=''/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-2620864578053374753</id><published>2009-08-30T22:51:00.000-07:00</published><updated>2009-08-30T23:03:17.351-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SD Bertaraf Internasional'/><title type='text'></title><content type='html'>BAB IV.&lt;br /&gt;PENGEMBANGAN SD- BI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Tahap Rintisan&lt;br /&gt;1. Standar Isi dan Kompetensi Lulusan&lt;br /&gt;a. Standar Isi&lt;br /&gt;Pada tahap ini, sekolah didampingi o!eh tenaga dari lembaga terkait dan relevan untuk melakukan persiapan pengembangan KTSP dalam bahasa Inggris dan melakukan adopsi dan adaptasi dengan kurikulum sekolah yang mempunyai reputasi internasional di negara maju sesuai dengan kondisi dan kesiapan sekolah. Persiapan tersebut diantaranya adalah melakukan suatu pemetaan terhadap isi kurikulum yang ada pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang ada pada kurikulum sekolah yang mempunyai reputasi internasional di negara maju. Hasil pemetaan kemudian dioperasionalkan dalam KTSP (termasuk silabus, RPP, bahan ajar), perangkat pembelajaran, dan perangkat pendukung lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat dua alternatif dalam pengembangan KTSP. Pertama adalah mengembangkan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan indikator dari mata pelajaran. Kedua adalah mengembangkan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) dari SKL tambahan, untuk dijadikan mata pelajaran tertentu. Cakupan dan kedalaman SK dan KD tersebut disesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing. Idealnya, sekolah mampu mengembangkan SK, KD, dan SKL sesuai dengan standar yang berlaku di sekolah bertaraf internasional. Hasil pengembangan dikembangkan menjadi silabus dan RPP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program Rintisan SD- BI menyelenggarakan pendidikan dengan menggunakan sistem paket atau sistem SKS. Dengan demikian seorang peserta didik program Rintisan SD- BI dinyatakan tamat dan lulus dari sekolah tersebut setelah menempuh SKS dengan jumlah tertentu yang sudah ditetapkan.&lt;br /&gt;Beban pembelajaran dilakukan dalam bentuk tatap muka di kelas, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Sekolah dapat menambah jumlah jam pelajaran per minggu sesuai dengan kebutuhan untuk diarahkan ke arah ciri internasional berdasarkan hasil pemetaan yang sudah dilakukan. Misalnya penambahan jumlah jam pelajaran untuk mata pelajaran Matematika, IPA dan bahasa Inggris.&lt;br /&gt;Rintisan SD-BI perlu menyusun kalender pendidikan yang meliputi permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, jadwal ujian, dan hari libur. Kalender pendidikan juga memperhatikan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional, dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan, Keputusan Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota, dan/atau keputusan organisasi penyelenggara pendidikan dalam menetapkan hari libur khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Standar Kompetensi Lulusan&lt;br /&gt;Pada tahap awal Standar Kompetensi Lulusan (SKL) minimal program Rintisan SD- BI yang harus dicapai adalah SKL yang tertuang dalam Permendiknas No 23 tahun 2006. Selanjutnya , secara bertahap komponen SKL yang telah ada dikembangkan dengan cara mengadaptasi dan mengadopsi atau menambahkan SKL yang mencerminkan ciri standar internasional. Untuk itu Rintisan SD- BI perlu menetapkan target-target yang harus dicapai pada setiap tahunnya selama proses persiapan sampai menuju taraf internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Proses Belajar Mengajar&lt;br /&gt;Proses belajar mengajar pada program Rintisan SD- BI harus mampu menghasilkan lulusan yang berkepribadian Indonesia dan memiliki kemampuan bertaraf internasional.&lt;br /&gt;Lulusan SD-BI mampu menunjukkan kesadaran hidup yang tinggi, bersikap dan berperilaku hidup yang positif, mampu berpikir logis, kritis, analitis dan kreatif, serta mampu memecahkan masalah secara inovatif.&lt;br /&gt;Untuk menghasilkan lulusan seperti tersebut di atas, pengembangan proses belajar mengajar pada program Rintisan SD BI dapat berpedoman pada lima prinsip proses belajar mengajar yaitu interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,dan memotivasi. Peserta didik dituntut untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis. Ke lima prinsip tersebut dapat dikembangkan dalam proses belajar mengajar yang bercirikan internasional.&lt;br /&gt;Proses belajar mengajar pada program Rintisan SD- BI harus mampu membekali siswa dengan keterampilan:&lt;br /&gt;a. Mengorganisasi belajar antara lain peserta didik mampu mengelola waktu dengan baik, menggunakan buku agenda, locker .&lt;br /&gt;b. Berkolaborasi antara lain berperan dan bertanggung jawab dalam kerja kelompok&lt;br /&gt;c. Berkomunikasi antara lain kemampuan mengkomunikasikan data atau diagram yang diberikan, melakukan presentasi.&lt;br /&gt;d. Menerapkan metode ilmiah, misalnya merumuskan masalah, menyusun hipotesa, menyusun desain percobaan, melakukan pengamatan, mengumpulkan data, melakukan analisis data, dan menarik kesimpulan.&lt;br /&gt;e. Melakukan evaluasi diri maupun kelompok terhadap kegiatan/ tugas/ proyek yang dilakukan.&lt;br /&gt;Di samping itu, proses belajar mengajar pada program Rintisan SD- BI juga harus mampu membekali peserta didik tentang (1) kesadaran terhadap peran dan tanggung jawab mereka sebagai anggota masyarakat dan (2) tanggap terhadap masalah pribadi, sosial, dan global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sumber Daya Manusia (SDM)&lt;br /&gt;Sumber daya manusia (SDM) pelaksana program Rintisan SD- BI terdiri dari pendidik dan tenaga kependidikan. Pendidik terdiri dari guru pembina mata pelajaran termasuk guru Bimbingan dan Penyuluhan. Pendidik harus mempunyai kualifikasi akademik yang ditunjukkan dengan ijazah/sertfikat, dan kompetensi yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Tenaga kependidikan di Rintisan SD-BI meliputi Kepala Sekolah, Pustakawan, Laboran, Teknisi (komputer, ICT dan laboratorium Bahasa), serta Tenaga Administrasi/Tata Usaha sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan pelaksana program Rintisan SD-BI harus memenuhi standar nasional pendidikan yang diperkaya dengan standar kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan yang bertaraf internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sarana dan Prasarana Sekolah&lt;br /&gt;Sarana dan prasarana merupakan fasilitas pendukung yang harus dimiliki untuk pencapaian target yang telah ditetapkan dalam SD- BI . Penentuan kebutuhan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana didasarkan pada hasil analisis kebutuhan dan analisis SWOT. Untuk mencapai target sarana dan prasarana SD-BI dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Biaya&lt;br /&gt;Program Rintisan SD-BI memerlukan input dan proses yang memadai untuk mencapai output yang bertaraf internasional, serta outcome yang berkualitas. Biaya yang memadai sangat diperlukan untuk mengembangkan dan mengelola input yang sesuai kualitas yang diinginkan sekolah, baik kurikulum, guru, sarana, prasarana, maupun fasilitas pendukung lainnya. Alokasi biaya yang cukup juga diperlukan untuk mendukung terselenggaranya proses pembelajaran program Rintisan SD-BI yang kreatif, inovatif, dan eksperimentatif.&lt;br /&gt;Ketersediaan biaya dalam penyelenggaraan SD-BI perlu diusahakan dengan melibatkan (a) pemerintah pusat; (b) pemerintah provinsi; (c) pemerintah kabupaten/kota, (d) masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembiayaan program Rintisan SD-BI diperlukan subsidi dari pemerintah, dan pemerintah daerah, dengan penerapan sistem block grant. Oleh karena itu penyelenggara program Rintisan SD-BI harus menyiapkan komponen-komponen berikut:&lt;br /&gt;a. Profil sekolah secara lengkap, akurat, dan faktual, serta mutakhir.&lt;br /&gt;b. Rencana strategis yang terukur.&lt;br /&gt;c. Rencana operasional tahunan (action plan)&lt;br /&gt;d. Sistem manajemen dan keuangan dengan menerapkan asas akuntabel, dan transparan.&lt;br /&gt;e. Sistem pengawasan, dan pelaporan menggunakan mekanisme yang efisien dan efektif,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan biaya dapat diatur sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Biaya dari pemerintah digunakan untuk pembenahan dan inovasi proses, perangkat pembelajaran, peningkatan mutu SDM, peningkatan sarana prasarana pendidikan.&lt;br /&gt;b. Biaya dari pemerintah propinsi digunakan untuk perawatan sarana, prasarana, dan fasilitas pendukung pembelajaran.&lt;br /&gt;c. Biaya dari pemerintah kabupaten/kota digunakan untuk biaya investasi (sarana dan prasarana).&lt;br /&gt;d. Biaya dari masyarakat digunakan untuk peningkatan kualifikasi dan kualitas para guru dan tenaga kependidikan&lt;br /&gt;e. Biaya dari instansi terkait atau sumber lain untuk peningkatan mutu SDM, pembenahan proses belajar mengajar (PBM), investasi, dan pembenahan lingkungan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Pengelolaan&lt;br /&gt;Secara umum pengelolaan merupakan suatu proses peningkatan unjuk kinerja secara bertahap dan berkesinambungan, serta berdasarkan pada prinsip-prinsip manajemen yang menuju kepada pengakuan internasional, yaitu dengan diraihnya sertifikat bermutu internasional. Pengelolaan program Rintisan SD-BI didasarkan pada sebuah perencanaan yang integral sebagai implementasi dari hasil analisis SWOT (strenghts, weaknesses, opportunities, and threats) yang dilakukan oleh sekolah bersangkutan. Oleh karena itu pengelolaan program Rintisan SD- BI didasarkan pada komponen indikator input, proses, dan output sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Indikator input antara lain program pengembangan sekolah, kurikulum, SDM, kapasitas dan kualitas siswa, dana, sarana dan prasarana belajar, legislasi dan regulasi, data dan informasi, organisasi dan administrasi, serta kultur sekolah.&lt;br /&gt;b. Indikator proses antara lain: variasi penerapan model pembelajaran, variasi penerapan media pembelajaran, efektivitas pembelajaran, mutu pembelajaran, keaktifan siswa dalam pembelajaran, inovasi dan kreativitas pembelajaran, serta penerapan ICT dalam pembelajaran.&lt;br /&gt;c. Indikator output antara lain prestasi belajar yang bersifat akademik dan non-akademik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir dari tahap Rintisan, perlu dilakukan evaluasi terhadap indikator yang telah dicapai. Hasil evaluasi ada tiga kemungkinan yang harus ditetapkan, yaitu: (1) program Rintisan tidak mencapai target dan sekolah ditetapkan masih berkategori mandiri atau sekolah standar nasional, (2) program Rintisan masih memerlukan tambahan waktu. dan (3) program Rintisan sudah mencapai hasil sesuai dengan RKS yang telah disahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap ini pengelolaan program Rintisan SD-BI sekurang-kurangnya dapat mencapai indikator-indikator berikut ini.&lt;br /&gt;a. SD terakreditasi secara nasional dengan kategori 'A' dan sertifikat akreditasi masih berlaku sekurang-kurangnya sampai tahun ke empat.&lt;br /&gt;b. Melaksanakan kuriklum sesuai dengan permen mendiknas no. 22 dan no. 23 tahun 2006 dan telah menerapkan KTSP yang dikembangkan sesuai kurikulum internasional.&lt;br /&gt;c. Jumlah guru yang berkualifikasi S-1 sudah 100 %&lt;br /&gt;d. Tersedia sekurang-kurangnya 75 % tenaga pengajar yang mampu mengajar mata pelajaran dengan bilingual.&lt;br /&gt;e. Memiliki pilihan sekurang-kurangnya satu sekolah mitra dari dalam maupun luar negeri yang memiliki reputasi internasional.&lt;br /&gt;f. Memiliki siswa berpotensi melanjutkan pendidikan ke luar negeri.&lt;br /&gt;g. Tersedia sarana dan prasarana yang mampu memenuhi rasio jumlah rombongan belajar dan jumlah siswa maksimal 1 : 28&lt;br /&gt;h. Tersedia buku referensi/sumber dengan rasio jumlah buku dan jumlah siswa sekurang-kurangnya 1 :10.&lt;br /&gt;i. Memiliki rencana kerja sekolah (RKS) lima tahunan, dan rencana operasional satu tahunan.&lt;br /&gt;J. Tersedia minimal 3 kelas yang dilengkapi dengan sarana multimedia.&lt;br /&gt;k. Tersedia laboratorium IPA, Laboratorium Komputer, dan Laboratorium Bahasa yang dilengkapi dengan peralatan dan bahan habis pakai yang memadai.&lt;br /&gt;l. Memiliki sistem administrasi keuangan yang transparan.&lt;br /&gt;m. Mempunyai fasilitas komunikasi telepon, faximile, dan internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan indikator di atas, pengelolaan Rintisan SD Bl lebih difokuskan pada aspek-aspek berikut.&lt;br /&gt;a. Menyusun struktur organisasi sekolah yang fisibel dan efisien dalam mekanisme pelaksanaannya.&lt;br /&gt;b. Menyusun profil sekolah yang didukung dengan dokumentasi yang valid dan mudah diakses.&lt;br /&gt;c. Menyusun panduan tugas pokok dan fungsi yang jelas untuk setiap warga sekolah.&lt;br /&gt;d. Menyusun panduan penggunaan setiap fasilitas peralatan.&lt;br /&gt;e. Menyusun sistem dokurnentasi yang efektif&lt;br /&gt;f. Menyusun rencana strategis jangka pendek, menengah dan panjang.&lt;br /&gt;g. Menyusun rencana opersional tahunan yang rnerupakan penjabaran dari rencana strategis.&lt;br /&gt;h. Menerapkan sistem administrasi dan keuangan yang efisien, dan efektif.&lt;br /&gt;i. Menyusun panduan kerjasama dengan pihak terkait untuk meningkatkan kualitas sekolah.&lt;br /&gt;j. Menerapkan sistem pengambilan keputusan yang tidak sentralistik.&lt;br /&gt;k. Menyusun rencana kerja pendampingan yang terukur.&lt;br /&gt;l. Menyusun sistem monitoring dan evaluasi yang baik.&lt;br /&gt;m. Menyusun sistem rekrutmen tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang bermutu.&lt;br /&gt;n. Menerapkan sistem pengawasan internal yang baik.&lt;br /&gt;o. Menyusun sistem pelaporan yang berkesinambungan.&lt;br /&gt;7. Lingkungan dan Kultur Sekolah&lt;br /&gt;Aspek lingkungan sekolah yang meliputi peningkatan pelaksanaan kebersihan, kerapihan, keamanan, keindahan, kerindangan, dan ketertiban harus menjadi kultur sekolah untuk mengarahkan dan menumbuhkan kedisiplinan anak. Di samping itu lingkungan sekolah harus bebas asap rokok, bebas narkoba, bebas kekerasan (bullying), bebas pornografi.&lt;br /&gt;Aspek kebersihan mencakup semua lingkungan sekolah, baik dalam dan luar ruangan. Sarana pendukung aspek kebersihan yang harus dipenuhi, antara lain (1) tempat sampah dalam jumlah yang memadai, (2) air yang mengalir lancar, khususnya untuk tempat ibadah, kamar mandi, WC, kantin sekolah, dan laboratorium IPA.&lt;br /&gt;Aspek kerapihan mencakup semua peralatan dan perlengkapan fasilitas sekolah, pakaian seragam siswa dan pakaian warga sekolah lainnya.&lt;br /&gt;Aspek keamanan menyangkut ketersediaan pagar sekolah serta petugas keamanan yang memadai termasuk pos penjagaan. Ketersediaan aspek keamanan tersebut diharapkan dapat menangkal tindak kejahatan, seperti pencurian dan/atau gangguan lain yang dapat mengganggu proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Aspek keindahan meliputi komponen luar maupun dalam gedung, jenis tanaman hias, warna cat gedung yang serasi dan tidak pudar, hiasan dinding, tulisan visi misi serta papan peringatan maupun tulisan motivasional yang terpasang serasi.&lt;br /&gt;Aspek kerindangan mencakup ketersediaan pepohonan pelindung yang rindang serta tempat duduk di bawah dan/atau sekitar pepohonan tersebut dalam jumlah yang memadai.&lt;br /&gt;Aspek Bebas Asap Rokok, Bebas Narkoba, Bebas Kekerasan (Bullying) dan Bebas Pornografi, perlu dibuat papan peringatan serta penegakan aturan termasuk sanksi dan hukuman bagi mereka yang melanggarnya.&lt;br /&gt;Selain aspek di atas perlu juga diperhatikan aspek disiplin mencakup peraturan sekolah tentang waktu belajar, yaitu peraturan jam masuk dan keluar sekolah serta peraturan administrasi lainnya seperti pembayaran uang sekolah dan lain-lain. Begitu juga mengenai aspek budaya baca menyangkut kebiasaan membaca bagi seluruh warga sekolah yang ditandai dengan adanya ruang perpustakaan yang kondusif, forum diskusi bedah buku atau penugasan kepada siswa untuk meringkas isi buku-buku yang dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Tahap Konsolidasi ( 2 Tahun)&lt;br /&gt;1. Kurikulum dan Bahan Ajar&lt;br /&gt;Pada tahap ini, sekolah melaksanakan dan meningkatkan kualitas hasil yang sudah dikembangkan pada tahap Rintisan. Oleh karena itu dalam tahap ini perlu dilakukan refleksi terhadap pelaksanaan kegiatan untuk keperluan penyempurnaan. Selain itu juga dilakukan realisasi program kemitraan dengan sekolah mitra dalam dan luar negeri serta lembaga sertifikasi pendidikan internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Proses Belajar Mengajar&lt;br /&gt;Pada awal tahap konsolidasi sekolah penyelenggara SD-BI telah memperoleh bekal yang cukup untuk menyelenggarakan proses pembelajaran bertaraf internasional, sesuai dengan program yang telah disiapkan pada tahap Rintisan.&lt;br /&gt;Tahap konsolidasi memberi kewenangan kepada sekolah penyelenggara untuk meiaksanakan proses belajar mengajar sesuai dengan yang telah dimodelkan, disimulasikan, dan diimplementasikan serta didiskusikan dan dievaluasi bersama tenaga pendamping yang telah memberikan kegiatan in-house training (IHT). Tenaga pendamping IHT pada tahap konsolidasi akan difungsikan sebagai tenaga profesional yang akan melaksanakan monitoring dan evaluasi terhadap proses belajar mengajar. Hasil kegiatan monitoring dan evaluasi digunakan sebagai bahan penyempurnaan/perbaikan proses belajar mengajar berikutnya. Kegiatan menyempurnakan/ memperbaiki proses belajar mengajar bersifat supervisi klinis untuk memberikan bimbingan/bantuan dan arahan secara langsung terhadap pemecahan masalah/kendala/hambatan. Dengan supervisi ini, diharapkan proses belajar mengajar dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar, sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;Kegiatan supervisi klinis dilaksanakan secara komprehensif dan integratif, dengan melibatkan guru dalam proses belajar mengajar bilingual, yaitu guru mata pelajaran.&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip dalam menjalankan supervisi, yaitu:&lt;br /&gt;a. Bimbingan kepada guru bilingual bersifat bantuan, bukan perintah atau instruksi.&lt;br /&gt;b. Hubungan supervisor dengan guru bersifat kolegial dan interaktif.&lt;br /&gt;c. Supervisi bersifat demokratis; kedua belah pihak mengemukakan pendapat secara bebas tetapi keduanya berkewajiban mengkaji pendapat pihak lain untuk mencapai kesepakatan.&lt;br /&gt;d. Supervisi berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan terbuka.&lt;br /&gt;e. Dalam pelaksanaan supervisi, semua pihak harus mengutamakan tugas dan tanggung jawab masing-masing.&lt;br /&gt;f. Umpan balik diberikan dengan segera dan objektif.&lt;br /&gt;g. Umpan balik harus bermanfaat untuk peningkatan proses pembelajaran bilingual bertaraf internasional serta memberi jalan keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penilaian&lt;br /&gt;a. Penilaian Hasil Belajar Siswa&lt;br /&gt;Penilaian dilakukan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dan telah memasukkan model-model penilaian yang dilakukan di sekolah Internasional. Model penilaian seperti ini dilakukan pada akhir semester, sementara ulangan harian tidak harus mengikuti model sekolah internasional (bersifat optional).&lt;br /&gt;b. Penilaian Program&lt;br /&gt;Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui ketercapaian dan kesesuaian antara rencana yang telah ditetapkan pada tahap pemberdayaan dengan proses dan hasil yang dicapai. Kegiatan penilaian ini meliputi pemantauan (monitoring) dan evaluasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sumber Daya Manusia ( SDM )&lt;br /&gt;Pada tahap ini dilakukan pemberdayaan SDM yang meliputi kegiatan:&lt;br /&gt;a. Mengadakan refleksi terhadap hasil kegiatan pada tahap Rintisan/ pendampingan.&lt;br /&gt;b. Menyusun program pemberdayaan SDM dengan melibatkan lembaga/ tenaga profesional independen dan atau instansi terkait sesuai bidangnya dari dalam negeri maupun luar negeri.&lt;br /&gt;c. Memberikan tugas mandiri kepada pelaksana program SD-BI dengan intensitas tugas dan porsi yang lebih besar dibandingkan pada tahap Rintisan, di bawah bimbingan dari tenaga/lembaga profesional independen dan atau instansi terkait sesuai dengan bidangnya baik dari dalam negeri maupun luar negeri.&lt;br /&gt;d. Melakukan uji kompetensi, sertifikasi, yang diselenggarakan oleh lembaga uji/sertifikasi bertaraf internasional, baik di dalam maupun luar negeri.&lt;br /&gt;e. Melakukan kegiatan evaluasi dan monitoring terhadap pencapaian kompetensi SDM secara ketat dan berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sarana Prasarana&lt;br /&gt;Pada tahap ini dilakukan pemberdayaan sarana dan prasarana yang telah ada atau telah terpenuhi pada tahap Rintisan. Optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana harus didukung dengan tertib dokumentasi dan tertib administrasi. Untuk meningkatkan fungsi dan usia teknis, sarana prasarana yang ada harus dirawat secara baik dan teratur agar selalu dalam kondisi siap pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Pembiayaan&lt;br /&gt;Pembiayaan program SD-BI masih menekankan pada subsidi dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, dengan penerapan sistem block grant. Oleh karena itu penyelenggara program SD-BI masih harus menyiapkan komponen berikut:&lt;br /&gt;a. Profil sekolah secara lengkap, akurat, dan faktual, serta mutakhir.&lt;br /&gt;b. Rencana kerja sekolah yang terukur pencapaian indikatornya.&lt;br /&gt;c. Rencana operasional tahunan dan action plan yang signifikan&lt;br /&gt;d. Sistem administrasi keuangan dengan menerapkan asas akuntabel dan transparan.&lt;br /&gt;e. Pengawasan dan pelaporan menggunakan mekanisme yang efisien dan efektif.&lt;br /&gt;f. Laporan tahunan pada tahap Rintisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan biaya dapat diatur sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Biaya dari pemerintah pusat digunakan untuk pembenahan dan inovasi proses, pembenahan perangkat pembelajaran dan sarana prasarana lainnya.&lt;br /&gt;b. Biaya dari pemerintah provinsi digunakan untuk perawatan sarana prasarana, dan fasilitas pendukung pembelajaran.&lt;br /&gt;c. Biaya dari pemerintah kabupaten/kota digunakan untuk biaya investasi.&lt;br /&gt;d. Biaya dari masyarakat digunakan untuk peningkatan kualifikasi dan kualitas guru dan tenaga kependidikan.&lt;br /&gt;e. Biaya dari instansi terkait dapat digunakan untuk investasi dan pembenahan lingkungan sekolah, maupun subsidi bagi peserta didik yang kurang mampu.&lt;br /&gt;f. Bantuan dari sekolah mitra dapat berupa pemutakhiran kurikulum maupun program- program pertukaran, baik peserta didik maupun guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Pengelolaan&lt;br /&gt;Pada tahap ini pengelolaan program konsolidasi SD- BI sekurang-kurangnya dapat mempertahankan pencapaian indikator-indikator pada tahap Rintisan dan mulai terjalin kerjasama yang aktif dengan sekolah mitra di negara maju dan lembaga sertifikasi pendidikan bertaraf internasional. Oleh karena itu pengelolaan program konsolidasi SD- BI lebih difokuskan pada aspek-aspek berikut.&lt;br /&gt;a. Mempunyai struktur organisasi sekolah yang fisibel dan efisien dalam mekanisme pelaksanaannya.&lt;br /&gt;b. Mempunyai profil sekolah yang didukung dengan dokumentasi yang valid dan mudah diakses.&lt;br /&gt;c. Mempunyai panduan tugas pokok dan fungsi yang jelas untuk setiap warga sekolah.&lt;br /&gt;d. Mempunyai panduan penggunaan fasilitas peralatan.&lt;br /&gt;e. Mempunyai sistem dokumentasi yang baik dan dapat merekam setiap fasilitas sekolah.&lt;br /&gt;f. Memiliki rencana strategis lima tahunan&lt;br /&gt;g. Memiliki rencana operasional tahunan yang merupakan penjabaran dari rencana strategis dengan indikator pencapaian yang terukur.&lt;br /&gt;h. Menerapkan sistem administrasi dan keuangan yang efisien dan efektif&lt;br /&gt;i. Mempunyai panduan kerjasama yang mampu meningkatkan kualitas sekolah.&lt;br /&gt;j. Menerapkan sistem pengambilan keputusan yang tidak sentralistik.&lt;br /&gt;k. Mempunyai rencana kerja pendampingan yang terukur.&lt;br /&gt;I. Mempunyai sistem monitoring dan evaluasi yang baik.&lt;br /&gt;m. Mempunyai sistem rekrutmen tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang bermutu.&lt;br /&gt;n. Menerapkan sistem pengawasan internal yang baik.&lt;br /&gt;o. Mempunyai sistem pelaporan yang berkesinambungan.&lt;br /&gt;p. Mempunyai mekanisme pencarian dana yang baik.&lt;br /&gt;q. Mempunyai sistem rekrutmen siswa yang berkualitas.&lt;br /&gt;r. Mempuyai lingkungan sekolah yang menyenangkan.&lt;br /&gt;s. Mempunyai sistem pembelajaran yang berstandar internasional&lt;br /&gt;8. Kesiswaan&lt;br /&gt;Pada tahap ini diharapkan pembinaan siswa sudah muiai mendekati profil siswa SD-BI.&lt;br /&gt;Pembinaan siswa meliputi seluruh aspek yaitu olah pikir, olah rasa, olah hati, dan olah fisik yang dikembangkan melalui kegiatan kurikuler, ko-kurikuler, dan ekstrakurikuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Lingkungan dan Kultur Sekolah&lt;br /&gt;Kultur sekolah sudah terbangun dan tertata menuju standar SD-BI yang meliputi (1) elemen kebersihan sebagai berikut: kebersihan WC, ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, tempat ibadah, kantin, dan halaman sekolah. (2) elemen kerapihan meliputi: ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, tempat ibadah, kantin, halaman sekolah, ruang kantor, ruang kepala sekolah, ruang TU, ruang guru serta pakaian warga sekolah. (3) elemen keamanan meliputi: ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, tempat ibadah, kantin, halaman sekolah, ruang kantor, ruang kepala sekolah, ruang TU, ruang guru serta pakaian warga sekolah. (4) elemen keindahan meliputi: gedung, taman, dan ruang. (5) elemen kerindangan meliputi: pohon pelindung dan tempat duduk yang memadai. (6) elemen ketertiban meliputi siswa, guru, dan seluruh warga sekolah lainnya ; (7) elemen kekeluargaan meliputi hubungan yang harmonis antar warga sekolah, menghargai dan memberdayakan sesuai dengan tugas dan fungsi maing-masing. (6) elemen bebas asap rokok dan narkoba meliputi: tersedianya papan peringatan dan diterapkannya sanksi. (7) elemen disiplin meliputi disiplin waktu belajar dan tata tertib sekolah. (Cool elemen kebiasaan membaca sudah membudaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tahap Kemandirian (mulai tahun ke 6)&lt;br /&gt;1. Kurikulum dan Bahan Ajar&lt;br /&gt;Pada tahap kemandirian, sekolah dapat secara mandiri melaksanakan kurikulum dan bahan ajar program SD-BI yang dikembangkan sejak pada tahap Rintisan dan konsolidasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Proses Pembelajaran&lt;br /&gt;Sekolah sudah mulai mandiri menjadi SD-BI . Dengan berbekal pada hasil tahap Rintisan dan tahap konsolidasi yang telah dilalui, diharapkan sekolah mampu mengembangkan pembelajaran bilingual sepenuhnya, dengan memperhatikan kelima prinsip pembelajaran yaitu interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penilaian&lt;br /&gt;Penilaian pada tahap ini masih tetap mencakup dua tujuan utama: (a) penilaian hasil belajar siswa dan (b) penilaian program. Kedua jenis penilaian ini berfungsi sebagai strategi pengumpulan data dalam rangka pemantauan dan pengambilan keputusan baik yang berhubungan dengan siswa maupun pelaksanaan program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Penilaian Hasil Belajar Siswa&lt;br /&gt;Pada tahap kemandirian Penilaian sudah menggunakan Bahasa Inggris secara penuh dengan materi sesuai KTSP yang sudah dikembangkan. Penilaian dilaksanakan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen yang mengacu kepada standar internasional, misalnya Cambridge dan Victoria, yang digunakan baik pada ujian harian maupun ujian akhir. Pengembangan instrumen dapat dilakukan sendiri, dengan mengadaptasi dan mengadopsi dari sekolah bertaraf internasional lainnya atau menggunakan secara langsung instrumen dari sekolah yang diacu sebagai mitra, atau menggunakan tes yang berstandar internasional.&lt;br /&gt;Untuk penilaian hasil belajar tahap akhir, Siswa harus mengikuti Ujian Akhir Sekolah Bertaraf Nasional (UASBN) dan uji sertifikasi internasional (sesuai kurikulum yang diikuti).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Penilaian Program&lt;br /&gt;Penilaian program merupakan bagian integral dalam pengembangan program SD- BI . Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui ketercapaian dan kesesuaian antara rencana yang telah ditetapkan dengan proses dan hasil yang dicapai. Kegiatan penilaian ini meliputi kegiatan pemantauan (monitoring) dan evaluasi.&lt;br /&gt;Kegiatan monitoring dan evaluasi juga dilakukan oleh pihak eksternal seperti Depdiknas, Dinas Pendidikan Provinsi, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, dan Lembaga Sertifikasi Pendidikan Internasional.&lt;br /&gt;Dalam melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi perlu mengacu pada hal-hal berikut:&lt;br /&gt;1). Pemantauan ditujukan untuk memberikan peringatan dini apabila terjadi penyimpangan terhadap input dan proses penyelenggaraan program SD- BI .&lt;br /&gt;2). Penilaian ditujukan untuk mengetahui kesesuaian hasil nyata program SD- BI dengan hasil yang diharapkan.&lt;br /&gt;3). Instrumen penilaian yang digunakan bervariasi sesuai dengan aspek program yang akan diukur. Penilaian program juga dapat mengacu pada hasil pengukuran pencapaian hasil belajar dan kepribadian siswa. Hasil penilaian ini dapat digunakan untuk mengukur dan memantau profil siswa, juga sebagai bahan refleksi untuk perbaikan proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;4). Penilaian program ini harus memperhatikan prinsip sekolah sebagai suatu sistem yang mencakup aspek input, proses, dan output.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pendidik dan Tenaga Kependidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pendidik/Guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar kualifikasi akademik dan kompetensinya sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Memiliki kualifikasi akademik keguruan minimal S-1&lt;br /&gt;2) Memiliki latar belakang keilmuan sesuai dengan mata pelajaran yang diemban.&lt;br /&gt;3) Memiliki sertifikat profesi pendidik sesuai jenjang satuan pendidikan tempat tugasnya (nasional dan internasional).&lt;br /&gt;4) Memiliki kesanggupan untuk mengembangkan potensi diri secara berkelanjutan.&lt;br /&gt;5) Memiliki kinerja tinggi baik secara individu maupun dalam kelompok.&lt;br /&gt;6) Mampu menggunakan media /surnber belajar berbasis lCT dalam PBM.&lt;br /&gt;7) Mampu melaksanakan PBM dalam Bahasa Inggris secara efektif (TOEFL ≥ 450)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Tenaga Kependidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar kualifikasi akademik dan kompetensinya sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Kepala Sekolah&lt;br /&gt;a). Memiliki kualifikasi akademik keguruan minimal S-2.&lt;br /&gt;b). Memiliki sertifikat sebagai kepala sekolah.&lt;br /&gt;c). Memiliki kemampuan manajemen berbasis sekolah.&lt;br /&gt;d). Memiliki jiwa kepemimpinan visioner dan situasional.&lt;br /&gt;e). Memiliki jiwa kewirausahaan.&lt;br /&gt;f). Mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris secara efektif (TOEFL ≥ 500)&lt;br /&gt;g). Mampu menggunakan ICT&lt;br /&gt;h). Memiliki pengalaman kerja sebagai kepala sekolah minimal lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Pustakawan&lt;br /&gt;a). Memiliki kualifikasi akademik minimal D-3Perpustakaan&lt;br /&gt;b). Memiliki pengalaman kerja minimal 3 tahun.&lt;br /&gt;c). Mampu mengembangkan profesi sebagai pustakawan secara berkelanjutan.&lt;br /&gt;d). Mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris secara efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). Laboran IPA&lt;br /&gt;a). Memiliki kualifikasi akademik minimal SMA&lt;br /&gt;b). Bidang keilmuan: IPA.&lt;br /&gt;c). Memiliki kompetensi utama sebagai pelaksana tugas dan fungsi laboran.&lt;br /&gt;d). Memiliki pengalaman kerja minimal 3 tahun.&lt;br /&gt;e). Mampu mengembangkan profesi sebagai laboran.&lt;br /&gt;f). Mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris secara efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4). Teknisi Laboratorium komputer, dan Bahasa&lt;br /&gt;a). Memiliki kualifikasi akademik minimal D-3 teknik elektronika.&lt;br /&gt;b). Memiliki kompetensi sebagai pelaksana tugas dan fungsi teknisi laboratorium&lt;br /&gt;c). Memiliki pengalaman kerja minimal 3 tahun.&lt;br /&gt;d). Mampu mengembangkan profesi sebagai teknisi laboratorium.&lt;br /&gt;e). Mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris secara efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5). Teknisi ICT&lt;br /&gt;a). Memiliki kualifikasi akademik minimal D-3, komputer/teknik informatika&lt;br /&gt;b). Memiliki kompetensi utama sebagai pelaksana tugas dan fungsi tenaga teknisi komputer (hard ware dan soft ware).&lt;br /&gt;c). Memiliki pengalaman kerja minimal 3 tahun.&lt;br /&gt;d). Mampu mengembangkan profesi sebagai teknisi laboratorium komputer.&lt;br /&gt;e). Mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris secara efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6). Tata Usaha&lt;br /&gt;a). Kepaia Tata Usaha&lt;br /&gt;(1). Memiliki kualifikasi akademik minimal S-1 Administrasi Pendidikan.&lt;br /&gt;(2). Memiliki kompetensi utama sebagai pelaksana tugas dan fungsi kepaia Tata Usaha.&lt;br /&gt;(3). Memiliki pengalaman kerja minimal 3 tahun.&lt;br /&gt;(4). Mampu mengembangkan profesi sebagai tenaga administrasi.&lt;br /&gt;(5). Mampu berkomunikasi dalam bahasa inggris secara efektif.&lt;br /&gt;(6). Mampu menggunakan ICT dalam pelaksanaan tugasnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Tenaga Administrasi Keuangan dan Akuntansi&lt;br /&gt;(1). Memiliki kuaiifikasi akademik minimal D-3 Akutansi&lt;br /&gt;(2). Memilki kemampuan mengoperasikan komputer&lt;br /&gt;(3). Memiliki kompetensi utama sebagai pelaksana tugas dan fungsi tenaga administrasi keuangan dan akuntansi.&lt;br /&gt;(4). Memiliki pengalaman kerja minimal 3 tahun.&lt;br /&gt;(5). Mampu mengembangkan profesi sebagai tenaga administrasi keuangan dan akuntansi&lt;br /&gt;(6). Mampu borkomunikasi dalam Bahasa Inggris secara efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c). Tenaga Administrasi Kepegawaian&lt;br /&gt;(1). Memiliki kualifikasi akademik minimal D-3 Manajemen (SDM)&lt;br /&gt;(2). Memilki kemampuan mengoperasikan komputer&lt;br /&gt;(3). Memiiiki kompetensi utama sebagai pelaksana tugas dan fungsi tenaga administrasi kepegawaian.&lt;br /&gt;(4). Memiliki pengalaman kerja minimal 3 tahun.&lt;br /&gt;(5). Mampu mengembangkan profesi sebagai tenaga administrasi kepegawaian&lt;br /&gt;(6). Mampu berkomunikasi dalam Bahasa inggris secara efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d). Tenaga Administrasi Akademik&lt;br /&gt;(1). Memiliki kualifikasi akademik minimal D2 Administrasi&lt;br /&gt;(2). Memiliki kemampuan untuk mengoperasikan komputer.&lt;br /&gt;(3). Memiliki kompetensi utama sebagai pelaksana tugas dan fungsi tenaga administrasi akademik.&lt;br /&gt;(4). Memiliki pengalaman kerja minimal 3 tahun.&lt;br /&gt;(5). Mampu mengembangkan profesi sebagai tenaga administrasi akademik&lt;br /&gt;(6). Mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris secara efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f). Tenaga Administrasi Kesekretariatan&lt;br /&gt;(1). Memiliki kualifikasi akademik minimal SLA bidang administrasi perkantoran&lt;br /&gt;(2). Memiliki kemampuan untuk mengoperasikan komputer.&lt;br /&gt;(3). Memiliki kompetensi utama sebagai pelaksana tugas dan fungsi tenaga administrasi kesekretariatan.&lt;br /&gt;(4). Memiliki pengalaman kerja minimal 3 tahun.&lt;br /&gt;(5). Mampu mengembangkan profesi sebagai tenaga administrasi kesekretariatan&lt;br /&gt;(6). Mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris secara efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 . Sarana dan Prasarana&lt;br /&gt;Setiap Sekolah Dasar Bertaraf Internasional berkewajiban memiliki dan memelihara sarana dan prasarana pendidikan yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkesinambungan. Keberhasilan tersebut ditandai dengan pencapaian indikator kinerja dalam memenuhi Standar Sarana dan Prasarana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap kemandirian SD-BI harus sudah memiliki sarana dan prasarana yang lengkap serta mampu mendayagunakan secara optimal. Berikut ini adalah sarana dan prasarana yang seharusnya sudah dimiliki SD-BI&lt;br /&gt;a. Tanah dengan luas minimal 7.000 m2&lt;br /&gt;b. Ruang kelas dengan luas minimal 56 m2, kapasitas 28 orang siswa yang dilengkapi satu set peraltan ICT (1 set PC/laptop, 1 buah LCD, 1 buah Screen projector)&lt;br /&gt;c. Perpustakaan&lt;br /&gt;Memiliki ruang baca yang cukup memadai, minimal mampu menampung 5% dari jumlah seluruh siswa di sekolah; memiliki koleksi yang meliputi buku teks pelajaran dalam bentuk cetak atau digital dengan rasio 1 : 1 (1 buku untuk 1 siswa); buku referensi minmal 20 judul; buku bacaan fiksi dan nonfiksi minimal 850 judul ( 40 % fiksi dan 60 % nonfiksi); jurnal, majalah yang terpilih secara periodik minimal 2 buah. Selain itu tersedia sistem katalog yang berbasis komputer dan bertaraf internasional; memiliki komputer untuk perpustakaan, termasuk untuk multimedia minimal 5 buah, dan tersedia akses internet.&lt;br /&gt;d. Laboratorium IPA , Bahasa, dan IPS.&lt;br /&gt;Sekolah harus memiliki 1 unit Lab.IPA , 1 unit Lab. Bahasa dan 1 unit Lab. IPS. Setiap laboratorium harus dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan sesuai dengan spesifikasi dan kebutuhan pembelajaran praktik/ praktikum.&lt;br /&gt;e. Laboratorium komputer&lt;br /&gt;Memiliki ukuran minimal sama dengan ruang kelas, dan ber AC. Jumlah komputer minimal sesuai dengan jumlah siswa ( maks. 28 siswa / rombongan belajar), dilengkapi software yang selalu di update. Memiliki teknisi komputer untuk membantu pelaksanaan pembelajaran dan perawatan, serta memiliki sistem penjaminan keselamatan kerja dalam lab. Komputer.&lt;br /&gt;f. Ruang penunjang lainnya seperti ruang kesenian, ruang multimedia, ruang keterampilan teknik/wokshop, ruang keterampilan/PKK, ruang UKS, dan fasilitas olahraga yang dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan sesuai anak SD.&lt;br /&gt;g. Kantin&lt;br /&gt;Memiliki satu unit kantin yang dilengkapi dengan mebeler yang disesuaikan dengan kebutuhan, dan dapat menampung siswa/pejajan secara memadai. Lingkungan yang sehat dan bersih, dengan menu makanan yang bergizi, segar, dan harga terjangkau.&lt;br /&gt;h. Auditorium/Serbaguna&lt;br /&gt;Tersedia ruang untuk pertemuan dan kegiatan siswa ( misalnya pentas seni, pertemuan dengan orangtua siswa, wisuda, teater, pameran hasil karya siswa, dll.) dengan ukuran yang memadai dan ber AC, dilengkapi dengan mebeler dan peralatan yang memadai, memiliki sistem penjaminan keselamatan yang memadai bagi pengguna, dan memiliki tenaga teknisi dengan jumlah yang memadai untuk membantu pelaksanaan kegiatan dan perawatan,&lt;br /&gt;i. Fasilitas Olahraga&lt;br /&gt;Memiliki fasilitas olahraga dengan ukuran yang memadai dan dapat digunakan oleh berbagai jenis kegiatan olahraga. Memiliki tenaga teknisi, dan sistem penjaminan keselamatan bagi pengguna.&lt;br /&gt;j. Pusat Sumber Belajar Guru&lt;br /&gt;Memiliki ruangan yang memadai dan dilengkapi dengan komputer, akses internet untuk guru dengan rasio 1 : 5 serta dilengkapi dengan media pembelajaran. Tersedia buku referensi cetak dan digital bagi guru mata pelajaran; memiliki mebeler bagi guru untuk menyimpan referensi, hasil karya, dan termasuk untuk kelompok diskusi serta memiliki sistem penjaminan keselamatan kerja di dalam ruang.&lt;br /&gt;k. Penunjang administrasi sekolah&lt;br /&gt;Memiliki ruangan dengan ukuran yang memadai, dilengkapi mebeler untuk berbagai jenis administrasi. Memiliki komputer dengan jumlah yang memadai, dan adanya sistem penjaminan keselamatan kerja.&lt;br /&gt;l. Poliklinik Sekolah/ruang UKS&lt;br /&gt;Memiliki ruangan dengan ukuran yang memadai dan ber AC, memiliki bahan dan peralatan untuk P3K, tersedianya tenaga medis yang profesional, dan sistem penjaminan keselamatan kerja.&lt;br /&gt;m. Toilet&lt;br /&gt;Ruangan dengan ukuran dan jumlah yang memadai, terpisah antara laki-laki dan perempuan. Memiliki sistem sanitasi yang baik dan memadai, sehingga kebersihan dan kesehatan terjamin. Volume air cukup memadai dan mendukung sistem sanitasi, dan memiliki tenaga untuk perawatan toilet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;n. Tempat bermain, kreasi, dan rekreasi.&lt;br /&gt;Tersedianya tempat bermain, kreasi, dan rekreasi dengan luas yang memadai, bisa mendukung kreativitas siswa, adanya taman dan pohon-pohon yang rindang, serta tempat duduk yang nyaman.&lt;br /&gt;o. Tempat beribadah&lt;br /&gt;6. Pengelolaan Sekolah&lt;br /&gt;Mutu Sekolah Dasar Bertaraf Internasional dijamin dengan pengelolaan yang menerapkan manajemen berbasis sekolah. Keberhasilan tersebut ditandai dengan pencapaian indikator kinerja kunci minimal, yaitu memenuhi Standar Pengelolaan.&lt;br /&gt;Selain itu, keberhasilan tersebut juga ditandai dengan pencapaian indikator kinerja kunci tambahan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Meraih sertifikat ISO 9001 versi 2000 atau sesudahnya dan ISO 14000;&lt;br /&gt;b. Merupakan sekolah multi-kultural;&lt;br /&gt;c. Menjalin kemitraan dengan sekolah bertaraf internasional di luar negeri;&lt;br /&gt;d. Bebas narkoba dan rokok;&lt;br /&gt;e. Bebas kekerasan (bullying);&lt;br /&gt;f. Menerapkan prinsip kesetaraan gender dalam segala aspek pengelolaan sekolah; dan&lt;br /&gt;g. Meraih prestasi tingkat nasional dan internasional pada berbagai kompetisi sains, matematika, teknologi, seni, dan olah raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap kemandirian sekurang-kurangnya dapat mempertahankan pencapaian indikator pada tahap konsolidasi dan mulai terjalin kerjasama yang aktif dengan sekolah mitra diluar negeri, maupun lembaga sertifikasi pendidikan bertaraf internasional. Oleh karena itu pengelolaan pada tahap kemandirian lebih difokuskan pada aspek-aspek berikut:&lt;br /&gt;a. Mempunyai struktur organisasi sekolah yang fisibel dan efisien dalam mekanisme pelaksanaannya.&lt;br /&gt;b. Mempunyai prestasi sekolah yang didukung dengan dokumentasi yang valid dan mudah diakses.&lt;br /&gt;c. Mempunyai panduan tugas pokok dan fungsi yang jelas untuk setiap warga sekolah.&lt;br /&gt;d. Mempunyai panduan penggunaan setiap fasilitas peralatan.&lt;br /&gt;e. Mempunyai sistem dokumentasi yang efektif dan dapat rnerekam setiap penggunaan sarana, prasarana, maupun fasilitas peralatan oleh setiap pengguna.&lt;br /&gt;f. Memiliki rencana strategis lima tahunan.&lt;br /&gt;g. Memiliki rencana operasional tahunan (action plan} yang merupakan penjabaran dari rencana strategis dengan indikator pencapaian yang terukur.&lt;br /&gt;h. Menerapkan sistem administrasi dan keuangan yang efisien, efektif, dan ekonomis.&lt;br /&gt;i. Mempunyai panduan kerjasama yang mampu meningkatkan kualitas sekolah.&lt;br /&gt;j. Menerapkan sistem pengambilan keputusan yang tidak sentralistik, namun berdasarkan sistem penugasan yang terencana.&lt;br /&gt;k. Mempunyai rencana kerja pendampingan yang terukur.&lt;br /&gt;l. Mempunyai sistem monitoring dan evaluasi yang baik.&lt;br /&gt;m. Mempunyai sistem rekrutmen pendidik dan tenaga kependidikan yang bermutu.&lt;br /&gt;n. Menerapkan sistem pengawasan internal yang baik.&lt;br /&gt;o. Mempunyai sistem pelaporan yang berkesinambungan.&lt;br /&gt;p. Mempunyai mekanisme pencarian dana yang baik.&lt;br /&gt;q. Mempunyai sistem rekrutmen siswa yang berkualitas.&lt;br /&gt;r. Mempuyai lingkungan sekolah yang menyenangkan.&lt;br /&gt;s. Mempunyai sertifikat yang bertaraf internasionai.&lt;br /&gt;t. Mempunyai sistem pembelajaran yang berstandar internasionai.&lt;br /&gt;u. Memiliki dokumen alumni lulusan sekolah.&lt;br /&gt;v. Mempunyai sistem manajeman keuangan yang mandiri yang didasarkan pada kinerja dan lingkungan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. PEMBIAYAAN&lt;br /&gt;Mutu Sekolah Dasar Bertaraf Internasional dijamin dengan pembiayaan yang sekurang-kurangnya terdiri atas biaya investasi, biaya operasional, dan biaya personal. Keberhasilan tersebut ditandai dengan pencapaian indikator kinerja minimal, yaitu memenuhi Standar Pembiayaan.&lt;br /&gt;Keberhasilan tersebut juga ditandai dengan pencapaian indikator kinerja kunci tambahan, yaitu menerapkan model pembiayaan yang efisien untuk mencapai berbagai target.&lt;br /&gt;Pada tahap ini pembiayaan program SD-BI masih memerlukan subsidi dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, dengan penerapan sistem block grant dengan persentase yang lebih ke pemerintah daerah. Oleh karena itu penyelenggara program SD-BI masih harus menyiapkan komponen-komponen berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Profil sekolah secara lengkap, akurat, dan faktual, serta mutakhir.&lt;br /&gt;b. Rencana stratejik yang terukur pencapaian indikatornya.&lt;br /&gt;c. Rencana operasional tahunan yang sudah signifikan dan jelas tahapan-tahapan pencapaian targetnya.&lt;br /&gt;d. Sistem manajemen administrasi dan keuangan sudah menerapkan asas akuntabel, berbasis kinerja, dan transparan&lt;br /&gt;e. Pola pemantauan, pengawasan, dan pelaporan menggunakan mekanisme yang efisien, efektif, dan ekonomis.&lt;br /&gt;f. Laporan tahunan pada tahap Rintisan maupun tahap konsolidasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas, maka biaya dapat diperoleh dengan sistem block grant yang relevan dengan rencana kinerja tahunan yang sudah disusun. Penggunaan biaya dapat diatur sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Biaya dari pemerintah pusat digunakan untuk pembenahan dan inovasi proses dan perangkat pembelajaran.&lt;br /&gt;b. Biaya dari pemerintah provinsi digunakan untuk perawatan sarana, prasarana, dan fasilitas pendukung pembelajaran.&lt;br /&gt;c. Biaya dari pemerintah kabupaten/kota digunakan untuk biaya investasi.&lt;br /&gt;d. Biaya dari masyarakat digunakan untuk peningkatan kualifikasi dan kualitas para guru dan tenaga kependidikan.&lt;br /&gt;e. Biaya dari instansi terkait dapat digunakan untuk investasi dan pembenahan lingkungan sekolah, atau subsidi bagi peserta didik yang kurang mampu.&lt;br /&gt;f. Bantuan dari sekolah mitra dapat berupa pemutakhiran kurikulum maupun program-program pertukaran, baik peserta didik maupun guru.&lt;br /&gt;g. Biaya-biaya kerjasama maupun sponsor yang tidak mengikat dapat digunakan untuk pencitraan sekolah dan biaya publikasi, serta biaya investasi dan penyelenggaraan Sekolah Dasar Bertaraf Internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. KESISWAAN&lt;br /&gt;Pada tahap ini seluruh potensi, bakat, minat, dan kreativitas, serta kebutuhan siswa telah dapat dikembangkan dan terlayani dengan baik. Profil akhir peserta didik lulusan SD-BI memiliki karakter sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Kemampuan mengembangkan jati diri sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia serta integritas moral dan akhlak yang tinggi.&lt;br /&gt;b. Kemampuan belajar sepanjang hayat secara mandiri yang ditunjukkan dengan kemampuan mencari, mengorganisasi, dan memroses informasi untuk kepentingan kini dan nanti serta kebiasaan membaca dan menulis dengan baik.&lt;br /&gt;c. Pribadi yang bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan yang ditunjukkan dengan kesediaan menerima tugas, menentukan standar dan strategi yang tepat, serta konsisten dalam menyelesaikan tugas tersebut, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya.&lt;br /&gt;d. Kemampuan berpikir secara deduktif, induktif, ilmiah, kritis, kreatif, inovatif, dan eksperimentatif untuk menemukan ide-ide baru.&lt;br /&gt;e. Penguasaan tentang diri sendiri sebagai pribadi (intra-personal/ kualitas pribadi).&lt;br /&gt;f. Penguasaan materi pelajaran yang ditunjukkan dengan kelulusan ujian akhir nasionai dan sertifikat internasional untuk mata pelajaran yang dikompetisikan secara internasional (Matematika dan IPA).&lt;br /&gt;g. Penguasaan teknologi dasar (konstruksi, manufaktur, transportasi, komunikasi).&lt;br /&gt;h. Dapat bekerjasama dengan pihak-pihak lain (interpersonal) secara individual, kelompok/kolektif (lokal, nasionai, regional, dan global).&lt;br /&gt;i. Kemampuan mengkomunikasikan ide dan informasi kepada pihak lain dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.&lt;br /&gt;j. Kemampuan mengelola kegiatan (merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, mengkoordinasikan, dan mengevaluasi).&lt;br /&gt;k. Kemampuan mengidentifikasi, mengorganisasi, merencana, dan mengalokasikan sumber daya, baik sumber daya manusia maupun sumber daya selebihnya yaitu sumber daya alam, uang, peralatan, perbekalan, waktu, dan bahan.&lt;br /&gt;l. Kemampuan memecahkan masalah dan mengambil keputusan.&lt;br /&gt;m. Terampil menggunakan ICT.&lt;br /&gt;n. Memahami budaya/kultur bangsa-bangsa lain (lintas budaya bangsa).&lt;br /&gt;o. Kepedulian terhadap lingkungan sosial, fisik, dan budaya.&lt;br /&gt;p. Menghasilkan karya yang bermanfaat bagi diri sendiri dan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Lingkungan dan Kultur Sekolah&lt;br /&gt;SBI menumbuhkan dan mengembangkan lingkungan dan budaya/kultur yang kondusif bagi peningkatan efektivitas sekolah pada umumnya dan efektivitas pembelajaran pada khususnya, yang dibuktikan oleh pembelajaran berpusat pada pengembangan peserta didik, iingkungan belajar yang kondusif, penekanan pada pembelajaran, profesionalisme, harapan tinggi, keunggulan, respek tehadap setiap individu warga sekolah; keadilan, kepastian, budaya korporasi atau kebiasaan bekerja secara kolaboratif/kolektif, kebiasaan menjadi masyarakat belajar, wawasan masa depan (visi) yang sama, perencanaan bersama, kolegialitas, tenaga kependidikan sebagai pembelajar, budaya masyarakat belajar, pemberdayaan bersama, serta kepemimpinan transformatif dan partisipatif.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-2620864578053374753?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/2620864578053374753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=2620864578053374753' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/2620864578053374753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/2620864578053374753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2009/08/bab-iv.html' title=''/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-4035063523156681575</id><published>2009-08-30T22:48:00.000-07:00</published><updated>2009-08-30T23:03:17.351-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SD Bertaraf Internasional'/><title type='text'></title><content type='html'>BAB III&lt;br /&gt;STANDAR PELAKSANAAN DAN PENJAMINAN MUTU&lt;br /&gt;PROGRAM RINTISAN SD- BI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar Pelaksanaan dan penjaminan mutu SD BI adalah kriteria tertentu untuk menetapkan komponen-komponen pendidikan pada jenjang pendidikan SD-BI. Setiap sekolah harus memenuhi standar minimum yang telah ditetapkan oleh Badan Akreditasi Sekolah (BAS). Karena standar yang digunakan untuk mengakreditasi sekolah adalah standar minimum yaitu standar yang mengacu pada standar nasional pendidikan, maka SD-BI harus mempunyai standar yang lebih tinggi. Standar bukanlah sesuatu yang bersifat statis melainkan bersifat dinamis sejalan dengan perkembangan dan tuntutan mutakhir pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan Akreditasi dilakukan dengan membandingkan kondisi sekolah yang nyata dengan kriteria (standar) yang telah ditetapkan. Mengingat sekolah sebagai sistem tersusun dari komponen yang saling terkait maka standar yang dimaksud harus disusun berdasarkan komponen- yang ada.&lt;br /&gt;Selanjutnya secara berturut-turut dikemukakan standar untuk masing-masing komponen.&lt;br /&gt;A. Kurikulum dan Proses Belajar Mengajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kurikulum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar kurikulum dibuat untuk memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa apa yang diajarkan di sekolah benar-benar konsisten dengan prinsip dan tujuan pendidikan nasional. Standar kurikulum tetap mengacu pada Permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi dan nomor 23 tentang standar kompetensi lulusan. Sekolah dapat mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dengan menerapkan muatan mata pelajaran setara atau lebih tinggi dari muatan mata pelajaran yang sama pada sekolah yang mempunyai reputasi internasional.&lt;br /&gt;Selain itu, sekolah juga harus melaksanakan kurikulum muatan lokal sebagai upaya pelesterian dan pengembangan berbagai aspek yang menjadi ciri dan potensi daerah tempat sekolah berada. Semua ini dikemas sehingga silabus yang dikembangkan dan alokasi waktu yang dirumuskan benar-benar menjamin bahwa KTSP yang dikembangkan dan muatan lokal terlaksana dengan baik.&lt;br /&gt;Sekolah dasar bertaraf internasional harus meningkatkan kinerja antara lain :&lt;br /&gt;a. Sistem administrasi akademik berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di mana setiap saat siswa bisa mengakses transkripnya masing-masing.&lt;br /&gt;b. Muatan mata pelajaran setara atau lebihbtinggi dari muatan pelajaran yang sama pada sekolah unggul dari sekolah salah satu negara OECD dan atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulanntertentu dalam bidang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar Kurikulum : Sekolah melaksanakan KTSP yang dikembangkan dengan muatan mata pelajaran setara atau lebih tinggi dari muatan mata pelajaran yang sama pada sekolah beraraf internasional lainnya dan melaksanakan kurikulum muatan lokal sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam pelaksanaannya sekolah berpegang pada dokumen kurikulum lengkap dan silabus yang dikembangkan mengacu kepada dokumen kurikulum tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Proses Belajar Mengajar (PBM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses belajar mengajar adalah serangkaian aktivitas yang terdiri dari pererencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Ketiga hal tersebut merupakan rangkaian utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan PBM adalah penyusunan rencana tentang materi pembelajaran, bagaimana melaksanakan pembelajaran, dan bagaimana melakukan penilaian. Termasuk dalam perencanaan ini juga adalah memilih media pendidikan dan alat peraga pendidikan, fasilitas, waktu, tempat, harapan-harapan, dan perangkat informasi yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan PBM adalah kejadian/peristiwa interaksi antara pendidik dan peserta didik yang diharapkan menghasilkan perubahan pada peserta didik, yaitu dari belum mampu menjadi mampu, dari belum terdidik menjadi terdidik, dari belum kompeten menjadi kompeten. Tingkat efektivitas pembelajaran sangat dipengaruhi oleh perilaku pendidik dan perilaku peserta didik. Perilaku pendidik yang efektif, antara lain, mengajarnya jelas, menggunakan variasi metode pengajaran, menggunakan variasi media/alat peraga pendidikan, antusiasme, memberdayakan peserta didik, menggunakan konteks/lingkungan sebagai sarana pembelajaran, menggunakan pertanyaan yang membangkitkan, dan sebagainya. Sedang perilaku peserta didik, antara lain, motivasi/semangat belajar, keseriusan, perhatian, kerajinan, kedisiplinan, keingintahuan, pencatatan, pertanyaan, senang melakukan latihan soal, dan sikap belajar yang positif. Agar proses belajar mengajar ini berlansung secara efektif dan efisien, harus disesuaikan dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Peningkatan kinerja dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan melaksanakan hal-hal berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) proses pembelajaran pada semua mata pelajaran menjadi teladan bagi sekolah/madrasah lainnya dalam pengembangan akhlak mulia, budi pekerti luhur, kepribadian unggul, kepemimpinan, jiwa entrepreneural, jiwa patriot, dan jiwa inovator;&lt;br /&gt;2) diperkaya dengan model proses pembelajaran sekolah unggul dari salah satu negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan;&lt;br /&gt;3) menerapkan pembelajaran berbasis TIK pada semua mata pelajaran;&lt;br /&gt;4) pembelajaran mata pelajaran kelompok sains, matematika, dan inti kejuruan menggunakan bahasa Inggris, senicntara pembelajaran mata pelajaran lainnya, kccuali pelajaran bahasa asing, harus menggunakan bahasa Indonesia; dan&lt;br /&gt;5) pembelajaran dengan bahasa Inggris untuk mata pelajaran kelompok sains dan matematika untuk SD/MI baru dapat dimulai pada Kelas IV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi PBM adalah suatu proses untuk mendapatkan informasi tentang hasil pembelajaran. Fokus evaluasi pembelajaran adalah pada hasil, baik hasil yang berupa proses maupun produk. Informasi hasil pembelajaran ini kemudian dibandingkan dengan hasil pembelajaran yang telah ditetapkan (standar kompetensi lulusan). Jika hasil nyata pembelajaran sesuai dengan hasil yang ditetapkan, maka pembelajaran dapat dikatakan efektif. Sebaliknya, jika hasil nyata pembelajaran tidak sesuai dengan hasil pembelajaran yang ditetapkan, maka pembelajaran dikatakan kurang efektif. Pendidik harus menggunakan berbagai jenis alat evaluasi sesuai karakteristik kompetensi yang harus dicapai siswa dan menerapkan standar kelulusan yang lebih tinggi dari Standar Kompetensi Lulusan menurut SNP. Unuk ini penilaian harus diperkaya dengan model penilaian sekolah unggul dari negara anggota OECD dan atau dari negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan dialam bidang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar PBM : Sekolah memiliki bukti bahwa (1) guru melakukan perencanaan yang dibuktikan misalnya dengan dokumen satuan pembelajaran; (2) guru menggunakan berbagai variasi strategi, pendekatan, dan metode pembelajaran yang mampu memberdayakan dan meningkatkan efektivitas pembelajaran; (3) tingkat efektivitas perilaku mengajar guru (kejelasan mengajar, keantusiasan mengajar, dsb.) dan perilaku belajar siswa (semangat, keseriusan, kerajinan, dsb.) di kelas bersinergi; (4) penggunaan variasi alat evaluasi sesuai dengan kompetensi yang harus dicapai oleh siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Administrasi/Manajemen Sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar administrasi/manajemen sekolah meliputi: (1) perencanaan sekolah, (2) implementasi manajemen sekolah, (3) kepemimpinan sekolah, (4) pengawasan, dan (5) ketatalaksanaan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Perencanaan Sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah harus memiliki rencana yang akan dicapai dalam jangka pendek (rencana strategis) yang dijadikan acuan dalam rencana operasional tahunan. Dalam rencana strategis ini wawasan masa depan (visi) dijadikan pemandu bagi rumusan misi sekolah. Visi dan misi dijadikan acuan dalam merumuskan tujuan sekolah. Kegiatan sekolah idealnya dilakukan berdasarkan atas tujuan sekolah yang dirumuskan secara jelas dan operasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar perencanaan : Sekolah memiliki rencana strategis dengan rumusan visi, misi, dan tujuan yang jelas, yang digunakan sebagai pemandu/referensi bagi pengembangan program sekolah. Rencana kerja sekolah disusun berdasarkan hasil evaluasi program sebelumnya yang dituangkan dalam rencana operasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Manajemen sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen sekolah adalah pengelolaan sekolah yang dilakukan untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien. Dua hal yang merupakan inti dari manajemen sekolah adalah aspek dan fungsi. Manajemen dipandang sebagai aspek meliputi kurikulum, tenaga/sumberdaya manusia, siswa, sarana dan prasarana, dana, dan hubungan masyarakat. Manajemen dipandang sebagai fungsi meliputi pengambilan keputusan, perumusan tujuan, perencanaan, pengorganisasian, pembagian tugas, pelaksanaan tugas , pengkoordinasian, pembinaan, dan pengawasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah suatu model manajemen yang bertolak dari kemampuan, kesanggupan, dan kebutuhan sekolah, dengan catatan bahwa apa yang dilakukan oleh sekolah harus tetap dalam koridor kebijakan pendidikan nasional. Oleh karena itu, MBS diperbolehkan adanya keragaman dalam pengelolaan sekolah yang didasarkan atas kekhasan sekolah itu sendiri. Dalam MBS, semua kegiatan harus dikaitkan dengan tujuan yang akan dicapai (peningkatan kualitas, produktivitas, efektivitas, efisiensi, relevansi, dan inovasi) dan dilakukan menurut prinsip-prinsip MBS meliputi kemandirian, kemitraan/partisipasi, semangat kebersamaan, tanggungjawab, transparansi/ keterbukaan, keluwesan/ fleksibilitas, akuntabilitas, dan sustainabilitas. Mengingat MBS berprinsip pada partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, maka keterlibatan masyarakat melalui Komite Sekolah merupakan upaya yang harus dilakukan. Tingkat partisipasi masyarakat dapat dilihat dari besar kecilnya dukungan mereka terhadap sekolah, baik berupa finansial, jasa (pemikiran, keterampilan), dan material.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar Manajemen sekolah : Manajemen sekolah dilaksanakan menurut aspek dan fungsi manajemen secara utuh. Aspek manajemen sekolah yang dimaksud meliputi kurikulum, pendidik dan tenaga pendidikan, siswa, sarana dan prasarana, dana, dan hubungan masyarakat. Manajemen sekolah dilaksanakan dengan perinsip kemandirian, partisipasi, semangat kebersamaan, tanggungjawab, transparansi, fleksibelitas, akuntabilitas, dan sustainabilitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kepemimpinan&lt;br /&gt;Bertolak dari tugas dan fungsi pemimpin sekolah, maka kepemimpinan sekolah dapat didefinisikan sebagai berikut. Kepemimpinan sekolah adalah kapasitas pemimpin sekolah dalam memahami dan mengembangkan dirinya, menciptakan dan mengartikulasikan (visi, misi, tujuan, sasaran, dan strategi sekolah), meyakini bahwa sekolah adalah tempat untuk belajar, mempengaruhi, memberdayakan, memobilisasi, membimbing, membentuk kultur, memberi contoh, menjaga integritas, berani mengambil resiko sebagai pionir dalam pembaruan (kemauan untuk mengetahui yang belum diketahui, melakukan inovasi dan eksperimentasi agar menemukan cara-cara baru untuk mengerjakan sesuatu), memotivasi, mendudukkan sumberdaya manusia lebih tinggi dari pada sumberdaya lainnya (uang, peralatan, perlengkapan, bahan, perbekalan, dsb.), menghargai orang lain atas kontribusinya, dan bertindak secara proaktif dalam kerangka untuk mencapai tujuan sekolah secara optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar Kepemimpinan : Pimpinan sekolah adalah pemimpin yang bisa diterima oleh seluruh warga sekolah, bersifat terbuka dan melakukan pendelegasian tugas dengan baik. Guru diberi kesempatan untuk mengembangkan diri dan karir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pengawasan&lt;br /&gt;Pengawasan merupakan salah satu fungsi penting dalam manajemen sekolah. Dalam pelaksanaan pengawasan termasuk melihat apakah semua kegiatan berjalan lancar dan semua sumber daya dimanfaatkan secara optimal, efektif dan efisien. Pengawasan dilakukan secara berkala dan tepat sasaran sehingga hasilnya dapat digunakan untuk melakukan perbaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar Pengawasan : Pimpinan melaksanakan pengawasan berkala secara menyeluruh terhadap seluruh kegiatan yang dilaksnakan di sekolah termasuk pada kegiatan dikelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ketatalaksanaan sekolah&lt;br /&gt;Penyelenggaraan sekolah akan berjalan lancar jika didukung oleh adminsitrasi/ketatalaksanaan yang efisien dan efektif. Secara umum, administrasi sekolah dapat diartikan sebagai upaya pengaturan dan pendayagunaan seluruh sumberdaya sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkup administrasi sekolah meliputi administrasi hasil belajar, proses belajar mengajar, kurikulum, ketenagaan, kesiswaan, sarana dan prasarana, keuangan, dan hubungan sekolah-masyarakat. Sekolah harus mengadministrasi semua kegiatan pada masing-masing lingkup administrasi tersebut secara rinci dan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar Ketatalaksanaan : Sekolah memiliki administrasi/ketatalaksanaan yang rapi, efisien dan efektif pada lingkup proses belajar mengajar, kurikulum, ketenagaan/kepegawaian, kesiswaan, sarana dan prasarana (perpustakaan, peralatan, perlengkapan, bahan, tata persuratan dan kearsipan, dsb.), keuangan, dan hubungan sekolah-masyarakat. Sekolah memiliki informasi dan data yang mudah diakses oleh warga sekolah maupun pihak lain.&lt;br /&gt;C. Organisasi Kelembagaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Organisasi&lt;br /&gt;Sekolah sebagai organisasi mempunyai karakteristik sebagai berikut, (1) filosofi dan tujuan (visi dan misi); (2) struktur organisasi yang disertai pembagian kerja yang jelas sesuai tugas pokok dan fungsi; (3) hirarki otoritas yang memberikan rantai komando, (4) kewenangan yang disertai tanggungjawab, (5) koordinasi upaya yang dilakukan secara sadar, (6) aturan, prosedur, dan mekanisme kerja yang konsisten untuk menjamin standar kinerja, kepastian, keadilan, dan kemanfaatan kerja,&lt;br /&gt;Organisasi sekolah yang baik mampu menampilkan tiga hal: (1) memperkecil ketidakpastian internal dan eksternal sekolah; (2) meningkatkan kemampuan sekolah untuk melakukan kegiatan/aktivitas melalui cara-cara seperti misalnya departementalisasi, specialisasi, pembagian kerja dan pendelegasian kewenangan; dan (3) bisa menjaga semua kegiatan sekolah tetap terkoordinasi untuk mencapai tujuan, dan tetap memiliki fokus meskipun dihadapkan pada keanekaragaman situasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar Organisasi: Sekolah memiliki struktur organisasi yang dapat menjamin: (1) kelancaran program sekolah, (2) kegiatan yang terorganisir, terkoordinir, dan terintegrasi secara konsisten; (3) kepastian, keadilan, dan kemanfaatan bagi warga sekolah; dan (4) akuntabilitas internal dan eksternal. Secara eksplisit dan jelas, struktur organisasi sekolah memiliki hirarki kewenangan/otoritas, tanggungjawab, rantai komando, pembagian tugas dan fungsi yang jelas, aturan, prosedur kerja, mekanisme kerja, upaya yang terkoordinir, hubungan interaktif, dan alur akuntabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Regulasi Sekolah&lt;br /&gt;Sekolah merupakan satuan dan jenis lembaga pendidikan yang secara legal diakui oleh publik karena itu sekolah harus memiliki sejumlah dokumen legal dan persyaratan yang harus dipenuhi. Dokumen dan persyaratan yang dimaksud dapat diperoleh dari pemerintah daerah, antara lain SK pendirian sekolah, status sekolah, dan dokumen-dokumen terkait lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah memerlukan lingkungan belajar yang aman, tertib, teratur, dan nyaman sehingga proses belajar dapat berlangsung secara efektif. Untuk mencapai hal itu, sekolah harus diatur dan dioperasikan berdasarkan ketentuan-ketentuan (regulasi sekolah) yang mampu menjamin ketertiban, keadilan, dan kepastian. Regulasi sekolah memiliki dua sifat, yaitu yuridis dan normartif. Regulasi sekolah yang bersifat yuridis diwujudkan dalam bentuk ketentuan-ketentuan (peraturan-peraturan) sekolah yang bersumber pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Contohnya antara lain kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan, spesifikasi sarana prasarana, prosedur kerja. Sedangkan regulasi sekolah yang bersifat normatif diwujudkan dalam bentuk tata tertib sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar: Sekolah memiliki dokumen resmi sebagai lembaga legal untuk menyelenggarakan satuan dan jenis pendidikan yang sah. Sekolah memiliki dan menerapkan regulasi sekolah seperti tata tertib, baik yang bersifat yuridis maupun normatif. Penegakan regulasi sekolah diterapkan secara adil dan teratur terhadap semua warga sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Sarana dan Prasarana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana dan prasarana pendidikan yang memenuhi tuntutan pedagogik diperlukan untuk menjamin terselenggaranya proses pendidikan yang bermakna, menyenangkan, dan memberdayakan sesuai karakteristik mata pelajaran dan tuntutan pertumbuhan dan perkembangan daya fisik, daya pikir, dan daya kalbu peserta didik.&lt;br /&gt;Prasarana pendidikan meliputi (1) ruang kelas, luas minimum 56 m2 ; (2) ruang laboratorium (komputer, IPA, Bahasa) luas minimum 56 m2 ; (3) ruang perpustakaan/pusat sumber belajar; (4) ruang praktek (PTD, Ketrampilan PKK &amp; Jasa); (5) ruang tempat ibadah; (6) ruang multimedia; (7) ruang unjuk seni budaya; (Cool ruang UKS/klinik; (9) KM/WC ; (10) gudang; (11) tempat olahraga, bermain, berkreasi dan rekreasi; (12) kebun sekolah dan lahan parkir&lt;br /&gt;Sarana pendidikan meliputi perabot sekolah, media pendidikan, peralatan pendidikan, buku sekolah, bahan/material praktek, sarana pendidikan jasmani dan olahraga, fasilitas kesehatan dan keselamatan bagi peserta didik dan penyelenggara pendidikan, dan sarana serta prasarana lain sesuai tuntutan program-program pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar Sarana Prasarana Pendidikan, Sekolah menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi tujuan sekolah dan tuntutan pedagogik yang diperlukan untuk menjamin terselenggaranya proses pendidikan yang bermakna, menyenangkan, dan memberdayakan sesuai tuntutan karakteristik mata pelajaran, pertumbuhan dan perkembangan daya fisik, daya pikir, dan daya kalbu peserta didik.&lt;br /&gt;Prasarana yang dimaksud: 1. Lahan, meliputi lahan bangunan sekolah, lahan praktek, lapangan upacara dan olah raga, kebun sekolah, lahan parkir, 2. Gedung yang terdiri atas ruang kelas,ruang perpustakaan, ruang laboratorium , ruang pimpinan, ruang guru, tempat beribadah, ruang UKS, jamban/WC, gudang, ruang sirkulasi.&lt;br /&gt;Sarana yang dimaksud: 1. Perabot sekolah, antara lain meja dan kursi guru, meja dan kursi murid, lemari, papan tulis, meja multimedia, papan statistik. 2. Sarana pembelajaran, antara lain peralatan pendidikan/alat peraga, buku sekolah, media pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Ketenagaan&lt;br /&gt;1. Pendidik&lt;br /&gt;Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, dan melakukan pembimbingan dan pelatihan.&lt;br /&gt;Setiap pendidik berkewajiban: (1) memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya; (2) menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; dan (3) mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan. Selain itu pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kewajiban seperti di atas maka pendidik harus meningkatkan kemampuan profesional yang meliputi kemampuan intelektual, integritas kepribadian dan interaksi sosial baik di lingkungan kerja maupun di masyarakat. Berkaitan dengan hal ini, sekolah harus memberikan kondisi dan layanan bagi pengembangan pendidik. Sebagai konsekwensi dari kewajiban yang diemban, maka pendidik berhak memperoleh perlindungan hukum, pembinaan karir, penghasilan dan jaminan kesejahteraan yang pantas dan memadai, penghargaan yang sesuai dengan tugas dan prestasi kerja, dan kesempatan untuk menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas pendidikan untuk menunjang kelancaran tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar pendidik: Sekolah memiliki pendidik yang jumlahnya cukup/memadai yang ditunjukkan oleh kelayakan rasio guru-siswa (khusus pendidik). Kualifikasi minimum untuk pendidik pada tingkat pendidikan dasar adalah lulusan sarjana kependidikan atau lulusan sarjana non-kependidikan ditambah sertifikat akta mengajar dari perguruan tinggi yang terakreditasi. Sekolah memiliki pendidik yang spesialisasinya relevan dengan mata pelajaran yang diajarkan. Pendidik menguasai TIK dan memilki kompetensi berbahasa inggris baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tenaga Kependidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah selain memerlukan pendidik juga memerlukan tenaga kependidikan yang bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan.&lt;br /&gt;Secara umum, tenaga kependidikan di sekolah bertugas melaksanakan perencanaan, pembimbingan, pengelolaan, pengawasan, pelayanan teknis dan kepustakaan, penelitian dan pengembangan hal-hal praktis yang diperlukan untuk meningkatkan mutu proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Mengingat pentingnya peran tenaga kependidikan bagi pengembangan sekolah, maka sekolah harus memiliki tenaga kependidikan yang cukup dengan kualifikasi/kemampuan yang memadai, tingkat relevansi yang tinggi, dan kinerja yang tinggi. Dalam melaksanakan tugasnya tenaga kependidikan harus bisa bekerjasama dengan pendidik, terutama dalam memberikan pelayanan kepada peserta didik.&lt;br /&gt;Tenaga kependidikan harus meningkatkan kemampuan profesional yang meliputi kemampuan intelektual, teknis, integritas kepribadian dan interaksi sosial baik di lingkungan kerja maupun di masyarakat. Berkaitan dengan hal ini, sekolah harus memberikan kondisi dan layanan bagi pengembangan tenaga kependidikan. Sebagai konsekwensi dari kewajiban yang diemban, maka tenaga kependidikan berhak memperoleh perlindungan hukum, pembinaan karir, penghasilan dan jaminan kesejahteraan yang pantas dan memadai, penghargaan yang sesuai dengan tugas dan prestasi kerja, dan kesempatan untuk menggunakan sarana prasarana dan fasilitas pendidikan untuk menunjang kelancaran tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar: Sekolah memiliki tenaga kependidikan yang kompeten untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Sekolah menilai kinerja tenaga kependidikan yang unsur-unsurnya harus terkait dengan tugas pokok dan fungsinya. Sekolah memberi kondisi dan layanan esensial bagi pengembangan tenaga kependidikan dan bagi peningkatan kinerja.&lt;br /&gt;F. Pembiayaan/Pendanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah menyediakan dana yang cukup dan berkelanjutan untuk menyelenggarakan pendidikan. Untuk itu, sekolah berkewajiban menghimpun, mengelola, dan mengalokasikan dana untuk mencapai tujuan. Dalam menghimpun dana, sekolah perlu memperhatikan semua potensi sumber dana yang ada seperti subsidi pemerintah, sumbangan masyarakat, orangtua siswa, hibah, dan sumbangan dunia usaha dan industri. Pengelolaan dana pendidikan di sekolah harus dilakukan secara transparan, efisien, dan akuntabel sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah. Dana pendidikan di sekolah dialokasikan berdasarkan prinsip keadilan (equity/fairness) dan pemerataan (equality) yaitu tidak diskriminatif terhadap anggaran biaya yang diperlukan untuk masing-masing kegiatan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar: Sekolah menyediakan dana pendidikan yang cukup dan berkelanjutan untuk menyelenggarakan pendidikan di sekolah. Sekolah menghimpun dana dari potensi sumber dana yang bervariasi. Sekolah mengelola dana pendidikan secara transparan, efisien, dan akuntabel sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah. Dalam mengalokasikan dana pendidikan, sekolah berpegang pada prinsip keadilan dan pemerataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Peserta Didik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Penerimaan Siswa Baru dan Pengembangan Siswa&lt;br /&gt;Peserta didik adalah warga masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Dalam lingkup sekolah, peserta didik adalah siswa, yang merupakan salah satu input yang sangat penting bagi berlangsungnya proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tataran input, setidaknya ada enam hal yang harus diperhatikan oleh sekolah yaitu seleksi siswa baru, penyiapan belajar siswa, pembinaan/pengembangan, pembimbingan, pemberian kesempatan, dan evaluasi hasil belajar siswa. Seleksi calon siswa dimaksudkan untuk memperoleh siswa baru yang memiliki daya pikir, daya kalbu, dan daya fisik/raga yang diperlukan untuk sukses belajar. Penyiapan belajar siswa, baik mental maupun pisik, merupakan salah satu faktor dominan yang sangat berpengaruh pada kualitas proses pembelajaran. Pembinaan dan pengembangan siswa, seperti misalnya, intelektual, spiritual, emosi, dan rasa merupakan tugas penting sekolah. Pemberian kesempatan kepada siswa dalam berbagai upaya sekolah seperti misalnya pengembangan kepemimpinan siswa, pengambilan keputusan, dan perencanaan rekreasi, adalah merupakan contoh pemberian kesempatan kepada siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar: Penerimaan siswa baru didasarkan atas kriteria yang jelas, tegas dan dipublikasikan. Siswa memiliki tingkat kesiapan belajar yang memadai, baik mental maupun fisik. Sekolah memiliki program yang jelas tentang pembinaan, pengembangan, dan pembimbingan siswa. Sekolah memberi kesempatan yang luas kepada siswa untuk berperanserta dalam penyelenggaraan upaya sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Keluaran&lt;br /&gt;Keluaran sekolah mencakup output dan outcome. Output sekolah adalah hasil belajar yang merefleksikan seberapa baik peserta didik mampu mengikuti proses pembelajaran. Idealnya, hasil belajar harus mengekspresikan tiga unsur kemampuan, yaitu daya pikir, daya kalbu, dan daya pisik. Pertama, kemampuan daya pikir tidaklah semata-mata hanya Ujian Akhir Sekolah Bertaraf Nasional (UASBN), akan tetapi harus juga mengukur kemampuan berpikir ganda, seperti berpikir kritis, kreatif, mengukur prestasi belajar berupa nalar, eksploratif, diskoveri, dan berpikir sistem. Kedua, hasil belajar harus juga mengukur kemampuan daya kalbu, yang pada dasarnya adalah mengukur kualitas batiniyah/karakter manusia, seperti misalnya iman dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kasih sayang, kejujuran, kesopanan, toleransi, tanggungjawab, keberanian moral, komitmen, disiplin diri, dan estetika. Ketiga, hasil belajar harus juga mengukur daya fisik, yang meliputi keterampilan olahraga (atletik, sepakbola, badminton, dsb.), kesehatan (daya tahan, bebas penyakit), dan kesenian (musik, visual, teater, dan kriya). Oleh karena itu, tidaklah cukup jika hasil belajar hanya diukur dengan hasil tes berupa nilai akhir UASBN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Outcome adalah dampak jangka panjang dari output/hasil belajar, baik dampak bagi tamatan maupun bagi masyarakat. Idealnya, hasil belajar selalu terkait erat dengan outcome. Dalam kenyataan, tidak selalu demikian karena outcome dipengaruhi oleh banyak faktor di luar hasil belajar. Sekolah yang baik mempersiapkan dan memberikan kesempatan/akses kepada tamatannya untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan dapat mengembangkan diri dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar Keluaran: Sekolah menghasilkan output/hasil belajar yang memadai dalam prestasi akademik dan prestasi non-akademik (olah raga, kesenian, keagamaan, keterampilan kejuruan, dsb.). Sekolah menggunakan alat evaluasi yang relevan untuk mengukur hasil belajar ganda (prestasi akademik dan prestasi non-akademik), yang dibuktikan oleh tingkat validitas, reliabilitas, obyektivitas, dan otentisitas yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Peran Serta Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekwensi logis dari otonomi pendidikan sangat jelas, yaitu pendidikan tidak lagi semata-mata merupakan kewenangan dan tanggungjawab pemerintah, tetapi masyarakat juga harus berperanserta secara aktif dalam penyelenggaraan pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan tidak lagi semata-mata oleh pemerintah (swadaya pemerintah), akan tetapi juga oleh masyarakat. Pendidikan berbasis masyarakat adalah pendidikan yang diarahkan, dimiliki, dan didukung oleh masyarakat yang dilayani oleh institusi pendidikan (sekolah). Masyarakat memiliki peran penting dalam penyelenggaraan pendidikan, sebagai mitra, penasehat, pendukung, maupun pengontrol pendidikan di sekolah. Hubungan sekolah dengan masyarakat sudah merupakan keharusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kerangka itu, Pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional telah menerbitkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044 Tahun 2002 tentang Pembentukan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Esensi kelembagaan ini adalah bahwa masyarakat memiliki peran sebagai pemberi pertimbangan (advisor), pendukung (supporter), penghubung (mediator), dan pengontrol (controller).&lt;br /&gt;Standar: Peranserta masyarakat meliputi partisipasi warga sekolah dan masyarakat. Hubungan antara sekolah-masyarakat, baik menyangkut substansi maupun strategi pelaksanaanya, ditulis dan dipublikasikan secara eksplisit dan jelas. Sekolah melibatkan dan memberdayakan masyarakat dalam pendidikan di sekolah melalui : (1) berbagai media komunikasi (media tertulis, pertemuan, kontak langsung secara individual, dsb.); (2) pelaksanaan visi, misi, tujuan, kebijakan, rencana, program, dan pengambilan keputusan bersama; (3) kontrak sosial antara sekolah dan masyarakat; dan (4) model-model partisipasi masyarakat sesuai tingkat kemajuan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Lingkungan dan Kultur Sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Lingkungan Sekolah&lt;br /&gt;Lingkungan sekolah adalah eksternalitas sekolah yang berpengaruh terhadap penyelenggaraan sekolah dan karenanya harus diinternalisasikan ke dalam penyelenggaraan sekolah. Sekolah yang mampu menginternalisasikan lingkungan ke dalam penyelenggaraan sekolah akan membuat sekolah sebagai bagian dari lingkungan. Lingkungan umumnya terdiri dari: tuntutan pengembangan diri dan peluang masa depan, dukungan pemerintah dan masyarakat terhadap pendidikan, kebijakan pendidikan, landasan hukum, kemajuan ipteks, nilai dan harapan masyarakat terhadap pendidikan, tuntutan otonomi, dan tuntutan globalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar Lingkungan: Sekolah mengidentifikasi, responsif, tanggap, dan peka terhadap dinamika lingkungan dan secara jelas menginternalisasikan ke dalam rumusan visi, misi, tujuan, sasaran, dan strategi pengembangan sekolah.&lt;br /&gt;2. Kultur Sekolah&lt;br /&gt;Kultur/budaya sekolah adalah karakter atau pandangan hidup (a way of life) sekolah yang merefleksikan keyakinan, nilai, norma, simbol, dan tradisi/kebiasaan yang telah dibentuk dan disepakati bersama oleh warga sekolah. Hasil-hasil penelitian menyimpulkan bahwa budaya sekolah sangat berpengaruh terhadap efektivitas sekolah. Artinya, makin kondusif budaya sekolah, makin efektif sekolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kultur sekolah yang perlu ditumbuhkan dan dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas sekolah antara lain berpusat pada pengembangan peserta didik, lingkungan belajar yang kondusif, penekanan pada pembelajaran, profesionalisme, harapan tinggi, keunggulan, respek terhadap setiap individu warga sekolah, keadilan, kepastian, budaya korporasi atau kebiasaan bekerja secara kolaboratif/kolektif, kebiasaan menjadi masyarakat belajar, wawasan masa depan (visi) yang sama, perencanaan bersama, kolegialitas, pendidik dan tenaga kependidikan sebagai pembelajar, budaya masyarakat belajar, pemberdayaan bersama, dan kepemimpinan transformatif dan partisipatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar: Sekolah menumbuhkan dan mengembangkan budaya/kultur yang kondusif bagi peningkatan efektivitas sekolah pada umumnya dan efektivitas pembelajaran pada khususnya, yang dibuktikan oleh penerapan setiap sub budaya sekolah sebagaimana uraian di atas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5911846975105935363-4035063523156681575?l=jufeys17.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jufeys17.blogspot.com/feeds/4035063523156681575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5911846975105935363&amp;postID=4035063523156681575' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/4035063523156681575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5911846975105935363/posts/default/4035063523156681575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jufeys17.blogspot.com/2009/08/bab-iii-standar-pelaksanaan-dan.html' title=''/><author><name>M. Jazuli Rahman, S. Pd</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01884280221731302112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_py12GFZKTRU/SekfBWt4OTI/AAAAAAAAAFI/-Rh1wUGkMMI/S220/ghfh.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5911846975105935363.post-1850729261437127419</id><published>2009-08-30T22:46:00.001-07:00</published><updated>2009-08-30T23:01:50.643-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SD Bertaraf Internasional'/><title type='text'></title><content type='html'>BAB II&lt;br /&gt;KONSEP DASAR PENYELENGGARAAN&lt;br /&gt;PROGRAM RINTISAN SD - Bl&lt;br /&gt;A. Pengertian SD -BI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah Dasar Bertaraf Internasional (SD-BI) adalah Sekolah Dasar yang dalam proses penyelenggaraan dan pengelolaan telah memenuhi seluruh aspek standar nasional pendidikan yaitu standar isi, standar kompetensi lulusan, standar proses, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pembiayaan, standar pengelolaan, dan standar penilaian serta diperkaya dengan melakukan penguatan, pengayaan, pengembangan, perluasan dan pendalaman. Sehingga SD-BI memiliki standar yang lebih tinggi dari Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan lulusannya memiliki kemampuan daya saing di forum Internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SD-BI merupakan sekolah dasar yang sudah memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan mengacu pada standar salah satu negara anggota OECD dan atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan. Hal ini dilakukan dengan cara :&lt;br /&gt;a) Adaptasi yaitu penyesuaian unsur-unsur tertentu yang sudah ada dalam SNP dengan mengacu pada stndar salah satu negara anggota OECD dan atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan.&lt;br /&gt;b) Adopsi yaitu penambahan unsur-unsur tertentu yang belum ada dalam SNP dengan mengacu pada stndar salah satu negara anggota OECD dan atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki kemampuan daya saing iternasional bermakna bahwa siswa dan lulusan SD-BI antara lain dapat (a) melanjutkan pada satuan pendidikan yang bertaraf internasional baik di dalam maupun di luar negeri; (b) mengikuti sertifikasi bertaraf internasional yang diselenggarakan oleh alah satu negara OECD dan atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu di bidang pendidikan; (c) meraih medali tingkat internasional pada kompetisi sains dan matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sekolah yang telah ditunjuk sebagai penyelenggara Rintisan SD-BI perlu menjalin kerjasama (networking) dengan sekolah lain yang telah memiliki reputasi internasional baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu bentuk kerjasama lain dapat dilakukan dengan lembaga pendidikan tinggi (universitas) sebagai mitra dalam pengembangan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Visi dan Misi SD- BI&lt;br /&gt;Rintisan SD-BI dalam mengembangkan sekolah menuju SD-BI harus mempunyai suatu visi dan misi yang dapat menggambarkan keinginan sekolah pada masa yang akan datang. Visi dan misi sekolah ini harus mengacu kepada visi dan misi dari Departemen Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi dan misi SD-BI harus memiliki implikasi bahwa penyiapan manusia bertaraf internasional memerlukan upaya-upaya yang dilakukan secara intensif, terarah, terencana, dan sistematik agar dapat mewujudkan bangsa yang maju, sejahtera, damai, dihormati, dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Visi yang mencirikan wawasan kebangsaan, memberdayakan seluruh potensi kecerdasan dan meningkatkan daya saing global perlu dijabarkan ke dalam misi. Selanjutnya misi dijadikan dasar dalam menyusun dan mengembangkan rencana, program, dan kegiatan yang spesifik (Specific), dapat diukur (Measurable), dapat dicapai (Achievable), realistik (Realistic), dan memiliki kurun waktu jangkauan yang jelas (Time Bound). Misi direalisasikan melalui kebijakan, rencana, program, dan kegiatan yang disusun secara cermat, tepat, dan berbasis kepada kebutuhan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Perencanaan Program Rintisan SD- BI&lt;br /&gt;Perencanan program Rintisan SD-BI yang merupakan realisasi dari misi, dituangkan dalam Rencana Kerja Sekolah (RKS). Langkah-langkah penyusunan RKS terdiri atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Evaluasi Diri&lt;br /&gt;Sekolah Rintisan SD-BI perlu melakukan evaluasi diri untuk mengetahui tingkat kesiapan. Evaluasi diri dilakukan dengan membandingkan antara kondisi ideal yang diinginkan dengan kondisi nyata sekolah saat ini. Melalui evaluasi diri akan diketahui kekuatan dan kelemahan setiap komponen sekolah. Hasil evaluasi diri digunakan sebagai dasar untuk menyusun Rencana Kerja Sekolah (RKS) yang meliputi Rencana Strategis (Rencana Kerja Sekolah dalam kurun waktu sampai 5 tahun) dan Rencana Kerja Tahunan/Rencana Opersional.&lt;br /&gt;2. Penyusunan RKS&lt;br /&gt;Rencaca Kerja Sekolah (RKS) disusun oleh Tim Pengembang SD-BI dan diketahui Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. RKS disusun berdasarkan kebutuhan sekolah, dan berdasarkan renstra kabupaten/kota, propinsi serta renstra pusat (Depdiknas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Pelaksanaan Program Rintisan SD-BI&lt;br /&gt;Rintisan sekolah dasar bertaraf internasional merupakan masa transisi dalam mempersiapkan diri menuju sekolah bertaraf internasional. Untuk ini yang harus dilaksanakan oleh sekolah meliputi :&lt;br /&gt;1. Pengembangan Kurikulum&lt;br /&gt;Kurikulum disusun berdasarkan standar isi dan standar kompetensi lulusan yang ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Pengembangan kurikulum SD-BI meliputi standar kompetensi, tujuan, perangkat Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan dan bahan ajar yang kualitasnya bertaraf internasional serta pengembangan instrumen penilaian siswa. Bahan ajar meliputi buku teks pelajaran, buku pegangan guru, LKS (Lembar Kerja Siswa), buku referensi (sumber), buku pengayaan, dan bahan ajar elektronik dalam bentuk e-learning, video cassette, compact disc, audio cassette, dan digital video disc, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pengembangan Sistem Penilaian&lt;br /&gt;Penilaian pada program Rintisan SD- BI mencakup dua tujuan utama: (a) penilaian hasil belajar dan (b) penilaian program. Kedua jenis penilaian ini berfungsi sebagai strategi pengumpulan data dalam rangka pemantauan maupun pengambilan keputusan tentang siswa dan pelaksanaan program.&lt;br /&gt;a. Penilaian Hasil Belajar&lt;br /&gt;Sekolah perlu mengembangkan instrumen penilaian autentik yaitu penilaian yang diperoleh dari proses pembelajaran yang dapat mengukur ketiga ranah, yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif. Hasil belajar siswa dapat diukur melalui ujian sekolah, ujian akhir sekolah berstandar nasional dan ujian internasional. Ujian sekolah dan ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) bersifat wajib. Ujian internasional, untuk mendapatkan ijasah/sertifikat internasional, bersifat opsional/pilihan namun sekolah harus memfasilitasi siswa yang ingin mengikuti ujian tersebut.&lt;br /&gt;1). Prinsip Penilaian&lt;br /&gt;Pelaksanaan penilaian hasil belajar siswa peserta didik didasarkan pada data sahih yang diperoleh berdasarkan prinsip-pinsip penilaian melalui prosedur dan instrumen yang memenuhi persyaratan. Prinsip penilaian mengacu kepada standar penilaian meliputi (a) mendidik; (b) terbuka; (c) transparan; (d) menyeluruh; (e) terpadu; (f) obyektif; (g) berkesinambungan; (h) adil; dan (i) menggunakan acuan kriteria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Mekanisme Penilaian:&lt;br /&gt;a) Penilaian dilakukan oleh dua pihak, yaitu guru dan sekolah.&lt;br /&gt;b) Penilaian oleh guru dilaksanakan untuk mengumpulkan data dan membuat keputusan tentang siswa mengenai unit Kompetensi Dasar.&lt;br /&gt;c) Penilaian oleh sekolah dilakukan untuk mengumpulkan data tentang siswa menyangkut ketercapaian Standar Kompetensi Seluruh Mata Pelajaran.&lt;br /&gt;d) Penilaian dilakukan dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Keberhasilan/kelulusan ditetapkan dengan menggunakan Nilai Batas Ambang Kompetensi (NBAK) ideal, 75%. Siswa yang tidak mencapai NBAK diberikan program remidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). Prosedur Penilaian.&lt;br /&gt;Prosedur penilaian harus dirancang secara cermat, meliputi kegiatan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a) Pada saat mengembangkan silabus, pendidik mengembangkan indikator pencapaian penguasaan Kompetensi Dasar dan teknik penilaian yang relevan;&lt;br /&gt;b) Pada saat mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran, pendidik melengkapi contoh instrumen penilaian.&lt;br /&gt;c) Pada saat mengembangkan instrumen untuk ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas, pendidik terlebih dahulu menyusun kisi-kisi yang memuat indikator yang representatif terhadap indikator-indikator yang ada di dalam silabus.&lt;br /&gt;d) Pada saat suatu teknik penilaian akan diterapkan, pendidik harus memberitahukan terlebih dahulu kepada peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan ulangan, baik ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, maupun ulangan kenaikan kelas dilaksanakan dengan prosedur yang benar yang menjamin azas-azas penilaian sebagaimana sudah ditetapkan dalam prinsip penilaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Instrumen Penilaian&lt;br /&gt;a) Pengembangan instrumen penilaian dilakukan dengan prosedur yang benar sesuai dengan kaidah pengembangan setiap jenis instrumen.&lt;br /&gt;b) Instrumen yang digunakan dalam ulangan akhir semester dan ulangan kenaikan kelas dianalisis baik secara kualitatif maupun kuantitatif, memenuhi persyaratan sebagai instrumen beracuan kriteria.&lt;br /&gt;c) Instrumen yang digunakan bervariasi sesuai dengan kompetensi yang akan diukur. Strategi asesmen seperti performance test, portofolio, test paper and pencil, asesmen authentics, dsb. serta instrumen lain dapat dikembangkan oleh sekolah, termasuk standar penilaiannya.&lt;br /&gt;d) Pola penilaian yang berbentuk studi kasus/problem solving sangat sesuai diterapkan pada sekolah dasar bertaraf internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Penilaian Program&lt;br /&gt;Penilaian program bertujuan untuk mengetahui ketercapaian dan kesesuaian antara rencana yang telah ditetapkan dengan proses dan hasil yang dicapai. Kegiatan penilaian ini meliputi kegiatan monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh pihak eksternal seperti Depdiknas, Dinas Pendidikan Provinsi, dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.&lt;br /&gt;Dalam melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi perlu mengacu pada hal-hal berikut:&lt;br /&gt;1). Pemantauan bertujuan untuk memberikan peringatan dini apabila terjadi penyimpangan terhadap input dan proses penyelenggaraan program Rintisan SD- BI . Sedangkan evaluasi bertujuan untuk mengetahui kesesuaian hasil nyata program Rintisan SD- BI dengan hasil yang diharapkan.&lt;br /&gt;2). Instrumen monitoring dan evaluasi yang digunakan bervariasi sesuai dengan aspek program yang akan diukur. Penilaian program juga dapat mengacu pada hasil pengukuran pencapaian hasil belajar siswa yang dapat digunakan untuk mengukur dan memantau kemunculan profil siswa. Hasil ini juga dapat digunakan sebagai bahan refleksi untuk perbaikan proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;3). Dalam monitoring dan evaluasi program Rintisan SD- BI harus memperhatikan prinsip sekolah sebagai suatu sistem yang mencakup aspek input, proses, dan output.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengembangan Sarana Prasarana Pendidikan&lt;br /&gt;a. Pengembangan Perpustakaan Sekolah&lt;br /&gt;Perpustakaan sebagai pusat sumber belajar, memegang peranan penting dalam mengembangkan pengetahuan siswa dan guru. Oleh karena itu perpustakaan perlu dilengkapi dengan (a) buku pelajaran berbahasa Inggris; (b) buku referensi diutamakan berbahasa Inggris; (c) buku bacaan yang umumnya berbahasa Inggris; (d) jurnal nasional dan internasional, buletin, koran, majalah; dan (e) perangkat audio visual. Perpustakaan diharapkan dapat membantu siswa memperluas dan memperdalam pengetahuan, melahirkan kreatifitas, serta membantu kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, mengharuskan perpustakaan dilengkapi dengan fasilitas komputer dan internet/ICT yang memungkinkan warga sekolah mendapatkan berbagai informasi yang disediakan di alam maya. Perpustakaan harus menerapkan sistem komputerisasi/ digital dalam mencari katalog buku. Ruang perpustakaan harus kondusif untuk belajar dan nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pengembangan Laboratorium IPA&lt;br /&gt;Pembelajaran yang baik adalah berdasarkan pengalaman dan atau pengamatan terhadap gejala peristiwa alam baik melalui kejadian sesungguhnya maupun berupa model melalui eksperimen/percobaan. Oleh karena itu setiap sekolah harus memiliki ruang laboratorium IPA, yang dilengkapi dengan peralatan dan bahan praktikum yang memadai untuk menunjang proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pengembangan Laboratorium Bahasa&lt;br /&gt;Dalam pembelajaran bahasa terdapat empat keterampilan dasar, yaitu mendengar atau menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Idealnya, pembelajaran bahasa asing dalam hal ini adalah Bahasa Inggris, dilakukan oleh pembicara (native speaker). Kehadiran native speaker dapat diwakilkan dalam bentuk suara native speaker yang direkam di dalam audio cassete, CD, VCD atau media rekam yang lain, yang dapat disimak dengan fasilitas laboratorium bahasa. Dengan demikian keterampilan menyimak peserta didik dapat ditingkatkan.&lt;br /&gt;d. Pengembangan Laboratorium Multimedia.&lt;br /&gt;Laboratorium multimedia adalah laboratorium yang mampu memfasilitasi beberapa aktivitas praktikum sekolah dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Aktivitas praktikum biasanya dilayani oleh laboratorium konvensional (IPA, Bahasa, dan Komputer) tetapi dapat juga dilayani oleh laboratorium multimedia dengan menggunakan teknologi multimedia dan simulasi komputer. Laboratorium multimedia berisi seperangkat komputer berikut perangkat audio visual yang saling terintegrasi, dilengkapi dengan program aplikasi yang sesuai untuk memberikan layanan tambahan terhadap laboratorium konvensional.&lt;br /&gt;Fungsi pokok laboratorium multimedia adalah untuk melayani kegiatan interaksi antara guru-siswa, penayangan video pembelajaran, latihan mata pelajaran interaktif (online), simulasi kasus berbasis multimedia, operasionalisasi e-Audio Book, operasionalisasi e-Book, dan menyediakan ensiklopedi digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Pengembangan Laboratorium Komputer.&lt;br /&gt;Laboratorium komputer digunakan untuk pembelajaran Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) atau Information &amp; Communication Technology (ICT). Selain itu juga dapat digunakan untuk pembelajaran mata pelajaran lain. Lab. Komputer dilengkapi dengan komputer minimum 28 unit, dan beberapa unit printer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Guru (Teacher Resource &amp; Reference Centre)&lt;br /&gt;Pusat Sumber Belajar Guru merupakan pusat kegiatan untuk pengembangan guru secara individual dan kelompok melalui diskusi atau latihan, dan workshop dalam bentuk Kelompok Kerja Guru (KKG). Oleh karena itu Pusat Sumber Belajar Guru juga perlu dilengkapi dengan fasilitas komputer dan internet/ICT. Kegiatan guru ini selain untuk menambah wawasan pengetahuan, juga diarahkan untuk membahas masalah-masalah yang dihadapi guru dalam pembelajaran, berlatih menggunakan alat, penyusunan RPP, silabus, KTSP, dan persiapan untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Pengembangan prasarana lainnya&lt;br /&gt;Prasarana lain yang perlu dipersiapkan adalah ruangan yang belum ada dan diperlukan sebagai penunjang untuk kelancaran keterlaksanaan kegiatan pendidikan di sekolah. Ruangan ini meliputi (1) ruang kepala sekolah; (2) ruang guru; (30 ruang TU (4) ruang BP; (5) ruang UKS; (6) ruang kesenian; (7) ruang PTD; (Cool ruang ibadah; (9) ruang serbaguna; (10) KM/WC; (12) ruang koperasi; dan (13) gudang. Selain ruangan, prasarana lain yang harus dikembangkan adalah lapangan upacara, lapangan olahraga, lapangan bermain/rekreasi sehingga tersedia dalam jumlah memadai, berfungsi, dan terawat dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan&lt;br /&gt;Pengembangan pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan oleh sekolah bekerjasama dengan lembaga pendidikan di luar sekolah yang memiliki kewenangan dan kompetensi yang relevan.&lt;br /&gt;Pada tahap Rintisan, sekolah penyelenggara program SD- BI menyiapkan pendidik dan tenaga kependidikan yang meliputi kegiatan:&lt;br /&gt;a. Melakukan pemetaan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan dari segi kuantitas dan kualitas yang ada di sekolah tersebut.&lt;br /&gt;b. Mengadakan sosialisasi tentang rekruitmen pendidik dan tenaga kependidikan program kepada pendidik dan tenaga kependidikan yang berpotensi.&lt;br /&gt;c. Melakukan kegiatan pelatihan melalui mekanisme in-house training dengan melibatkan instansi terkait untuk memenuhi tuntutan kompetensi minimal pendidik dan tenaga kependidikan seperti kompetensi penggunaan Bahasa Inggris, ICT, dan kompetensi profesional (Pedagogik, Managerial, Administrasi, Aspek Teknis).&lt;br /&gt;d. Merintis program kerjasama dengan lembaga sertifikasi pendidikan internasional.&lt;br /&gt;e. Memberi kesempatan kepada pendidik dan tenaga kependidikan yang telah siap untuk mengikuti uji kompetensi, sertifikasi, yang diselenggarakan oleh lembaga sertifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pengembangan Sumber Pembiayaan&lt;br /&gt;Sumber pembiayaan program Rintisan SD-BI berasal dari orang tua siswa, Komite Sekolah, masyarakat, Pemerintah Kabupaten/Kota, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Pusat. Sekolah harus mampu menggalang dana terutama dari masyarakat sehingga apabila dana dari pemerintah tidak ada maka dana dari masyarakat dan sumber-sumber lain yang relevan diharapkan dapat untuk membiayai kegiatan pengembangan sekolah menuju SBI.&lt;br /&gt;Dana dari komite sekolah, masyarakat, pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi lebih difokuskan untuk pengembangan sarana dan prasarana pendidikan, sedangkan dana dari pemerintah lebih difokuskan untuk kegiatan peningkatan mutu pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Pengembangan Kesiswaan&lt;br /&gt;a. Penerimaan Siswa Baru&lt;br /&gt;Siswa di SD-BI haruslah siswa-siswa pilihan yang memiliki potensi cukup baik, kompetensi dan kecerdasan yang tinggi untuk mengikuti proses pembelajaran yang dikembangkan oleh sekolah. Hal ini didasari oleh tuntutan kurikulum bertaraf internasional, yang akan mempersiapkan siswa agar mampu berkompetisi secara global. Beberapa kemampuan yang perlu dipersiapkan antara lain kemampuan berkomunikasi dalam Bahasa Inggris (bahasa asing), kemampuan dalam sains, kemampuan dalam bidang teknologi, dan kemampuan lain yang bersifat karya-karya inovatif dan kreatif. Oleh karena itu, sekolah dapat menerapkan kriteria khusus bagi calon siswa baru.&lt;br /&gt;Dalam Proses penerimaan siswa baru harus transparan dan dilakukan seleksi dengan mempertimbangkan :&lt;br /&gt;a) Nilai hasil proses pembinaan dan pengembangan dari taman kanak kanak&lt;br /&gt;b) Hasil Achievement test, meliputi kemampuan berbahasa.&lt;br /&gt;c) Hasil Tes Psikologi (Psychotest), meliputi : Intelegensi (Intelegence Quotion), harus di atas rata-rata; Minat dan Bakat (Aptitute Test), harus cukup tinggi, dan Kepribadian (Personality Test), harus baik.&lt;br /&gt;d) Hasil Wawancara dengan calon siswa dan orang tua calon siswa. Wawancara dimaksudkan untuk mengetahui tingkat minat calon siswa dan dukungan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pembinaan Kesiswaan&lt;br /&gt;Pembinaan kesiswaan dimaksudkan untuk mengembangkan seluruh potensi siwa secara maksimal, baik potensi akademik maupun non-akademik. Pola pembinaannya dilakukan melalui kegiatan intra kurikuler, extra dan ko-kurikuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Pengembangan Kelembagaan&lt;br /&gt;Pengelolaan program Rintisan SD- BI harus menerapkan prinsip partisipatif dan visioner. Sekolah harus menentukan arah program Rintisan SD- BI dengan jelas, termasuk dengan tahapan-tahapan pelaksanaannya, sehingga warga sekolah paham dan terpandu oleh pentahapan itu. Penerapan arah dan pentahapan ini dilakukan dengan melibatkan warga sekolah semaksimal mungkin, sesuai dengan potensinya. Dengan demikian apa yang diputuskan dan dirumuskan dapat menjadi milik semua warga sekolah yang pada gilirannya akan mendukung dalam implementasi.&lt;br /&gt;Pengelolaan program Rintisan SD- BI dalam aspek manajemen menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan dan akuntabilitas. Sedangkan pelaksanaan administrasi sekolah yang meliputi administrasi proses pembelajaran, kurikulum, ketenagaan, kesiswaan, sarana prasarana, dan keuangan, dilakukan secara rapi, efisien dan efektif serta diarahkan untuk menerapkan Paket Aplikasi Sekolah (PAS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Pengembangan Lingkungan dan Kultur Sekolah&lt;br /&gt;Pengembangan lingkungan sekolah yang perlu mendapat perhatian dalam rangka untuk menumbuhkan kedisiplinan dan tanggung jawab yang tinggi bagi seluruh sekolah adalah peningkatan program kebersihan, ketertiban, kerapihan, keamanan, keindahan, kerindangan, bebas asap rokok, bebas narkoba, dan anti kekerasan (bullying). Dalam hal Kultur sekolah yang perlu ditumbuhkan dan dikembangkan antara lain budaya baca dengan menciptakan lingkungan iklim akademik yang kondusif, saling peduli dan menghargai antar warga sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Kolaborasi dengan Lembaga Pendidikan lain.&lt;br /&gt;Sekolah yang telah melaksanakan program Rintisan SD-BI perlu melakukan kolaborasi/kerjasama dengan cara memilih sekolah mitra di luar negeri, misalnya menerapkan model sister school, twin programs, atau nama lainnya sesuai kesepakatan dengan sekolah mitra. Kerjasama dapat juga dilakukan dengan perguruan tinggi/universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Monitoring dan Evaluasi Program Rintisan SD- BI&lt;br /&gt;Monitoring dilakukan untuk mengetahui ketercapaian program dan memantau apakah program berjalan sesuai jalur yang direncanakan sebagaimana terdapat dalam rencana kerja sekolah (RKS) SD-BI serta memperoleh informasi terkait faktor-faktor pendukung dan penghambat. Evaluasi dilaksanakan untuk menilai ketercapaian program sesuai dengan rencana yang tertulis dalam RKS SD-BI yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Pembinaan oleh Lembaga Terkait&lt;br /&gt;Pembinaan yang diiakukan oleh lembaga terkait didasarkan pada penyelen
